Sahabat jadi Cinta?

1056 Words
          Gevilda baru sampai di kelasnya setelah berusaha mati-matian membujuk Pak Satpam untuk membuka gerbang sekolah yang sudah tertutup untuknya karena jam sudah menunjukkan pukul 06.40. Keterlambatannya hari ini disebabkan oleh Gabro yang mencari gara-gara dengannya saat masih berada di rumahnya. Mungkin dewi fortuna tengah berpihak pada Gevilda hari ini karena tanpa diduga, pak satpam dengan senang hatinya membuka gerbang untuk dia.         Keberuntungannya berlanjut saat guru yang mengajar mata pelajaran pertama di kelasnya belum tiba di kelas. Gevilda berkali-kali mengucap rasa syukur, kemudian ia menghempaskan bokongnya ke tempat duduk dengan keadaan seragam yang banjir keringat dan tatanan rambut yang berantakan. Kondisi Gevilda saat ini persis seperti orang yang habis jogging di pagi hari.         “Tumben banget telat. Gak bareng Gabro?” Anisa, teman sebangku sekaligus ladang curhatnya itu menempatkan diri tepat di sebelah Gevilda yang memasang wajah kusut.         Gevilda menghela nafas lelahnya. “Jangan sebut nama itu cowok dulu. Lagi kesel gue sama dia.” Cewek itu mulai menegakkan tubuhnya dan bersandar ke kursi. Ia membuka tas miliknya dan mencari apa saja yang ada di dalamnya untuk ia gunakan sebagai kipas.         Anisa terkekeh. Terkadang ia bingung dengan Gabro dan Gevilda yang ‘katanya’ berstatus sebagai sahabat itu. Sebagai orang yang berpengalaman tentang cinta dan sakit hati, Anisa tak percaya dengan hipotesa Gevilda yang selalu mengatakan bahwa ia dan Gabro itu murni sebagai sahabat saja, tak berikat dengan perasaan.         Ya, sekarang cowok sama cewek yang baru dekat beberapa hari saja bisa saling jatuh cinta, apalagi yang sudah bertahun-tahun dekat dan sudah saling mengetahui sifat baik maupun buruk masing-masing seperti Gabro dan Gevilda ini? Cowok dan cewek lagi. Rasanya begitu mustahil untuk Anisa.         Dan anehnya lagi, setiap Anisa mengungkit masalah persahabatan dengan cinta dan membanding-bandingkannya dengan hubungan persahabatan Gabro dan Gevilda, Gevilda selalu saja mengalihkan topik pembicaraan tersebut seolah tak ingin mendengarkan pemikiran Anisa yang beranggapan jika diantara cowok dan cewek itu tak ada yang namanya persahabatan. Kebanyakan kasus seperti itu biasanya selalu berujung dengan sebuah cinta. Entah hanya satu pihak saja yang merasakannya atau keduanya.         “Heran gue, dikit-dikit berantem. Nanti semenit kemudian romantis-romantisan kayak orang pacaran. Saling peduli, saling marah juga kalau salah satunya deket sama seseorang. Yang kayak gitu masih lo bilang persahabatan secara murni, Gev?”         Gevilda menoleh ke arah Anisa yang tengah menatapnya serius. Seperti yang dikatakan Anisa, Gabro dan Gevilda selalu melalui hari-hari dengan adu mulut, tetapi itu tak berlangsung lama. Berjeda beberapa menit, keduanya kembali berbaikan dan bercanda tawa bersama. Perihal saling marah karena ada salah satu diantara mereka dekat dengan seseorang juga pernah terjadi.         Saat itu ada kabar berhembus bahwa Gabro dekat dengan salah satu kakak kelas yang menjadi incaran laki-laki yang ada di sekolahnya. Gevilda yang mendengar kabar dari teman kelas Gabro itu dengan tanpa sebabnya memanas seketika. Ia pun langsung menghampiri Gabro yang saat itu tengah bersama sang kakak kelas di kantin.         Ia memaki Gabro habis-habisan dan menyarankan kepada kakak kelas tersebut untuk menjauhi Gabro karena cowok itu playboy, suka menebar pesona ke banyak wanita. Padahal kenyataannya tak seperti itu.         Jangan pikir Gabro tak pernah melakukan hal yang sama pada Gevilda. Pernah kejadian di mana kelas Gevilda berada dipelajaran olahraga dan saat itu tengah melakukan pengambilan nilai untuk praktek bola basket. Karena basic Gevilda bukanlah cewek pecinta olahraga, ia tak menguasai cara men-dribble bola basket hingga Bapak Pandu—guru dibidang olahraga—menyuruh salah satu teman laki-laki di kelasnya yang berstatus sebagai kapten basket agar mengajari Gevilda teknik dribble.         Ketika tangan Gevilda masih saja kaku dalam men-dribble bola basketnya, mau tak mau cowok itu meletakkan tangannya di atas tangan Gevilda dan menuntun cewek itu untuk menggiring bola basketnya dengan perlahan. Hal tersebut tentu mengundang perhatian dari teman-teman kelasnya hingga bersorak ke arah mereka berdua.         Dan entah dari mana datangnya Gabro saat itu, tiba-tiba Gevilda sudah melihat temannya itu tersungkur di lapangan akibat bogeman mentah yang diberikan Gabro secara tiba-tiba. Ia melihat kilatan penuh amarah di mata Gabro saat menatap cowok itu. Melihat semua kejadian tersebut, Gevilda maupun Gabro masih saja beranggapan bahwa persahabatan mereka tak melibatkan perasaan sama sekali? Oh, ayolah!         “Gue sama Gabro real cuma sebatas sahabat, Nis. Itu cuma asumsi lo doang karena kebanyakan novel yang lo baca alurnya kayak gitu.” Gevilda memasang wajah acuh tak acuhnya dan menjadikannya sebagai perisai ketika dirinya merasa takut akan apa yang selama ini Anisa katakan itu benar adanya.         Anisa tak berkata apa-apa lagi. Ia memilih untuk memainkan ponselnya sejenak sembari menunggu kedatangan guru Bahasa Indonesia yang menjadi mata pelajaran pertama untuk mengawali pagi yang cerah ini.         Ketika keheningan mulai terjadi antara Anisa dan Gevilda, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang begitu familiar di telinga Gevilda tengah menyerukan namanya dari ambang pintu kelas. Gevilda pun mendongakkan kepalanya guna memastikan seseorang tersebut. Dan benar saja, itu adalah Gabro. Dia sedang berjalan menuju ke meja Anisa dan Gevilda dengan sebuah tangan yang memegang sebuah es krim.         “Masih ngambek lo?” Gabro mendudukkan dirinya di atas meja Gevilda. “Atau mau ngomelin gue? Makanya, kalau mau berangkat sekolah bareng gue jangan kebanyakan molor dan bertele-tele. Entar gue tinggalin kayak tadi gimana? Lo juga ‘kan yang susah,” oceh Gabro sepanjang rel kereta api yang enggan untuk Gevilda tanggapi. Cewek itu hanya diam dengan segala pemikirannya yang telah berkelebat ke mana-mana.         Saat Gevilda masih setia dengan diamnya, Gabro menghela nafas lelahnya lalu memberikan es krim rasa coklat yang ia beli dengan sengaja di sebuah mini market karena tahu Gevilda akan marah seperti ini jika ia menjahilinya. Ya, itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi Gevilda dan amarahnya akan selalu berhenti jika Gabro memberikan sebuah es krim rasa coklat kesukaannya.         “Nih, gue beliin es krim coklat kesukaan lo.” Gabro mengulurkan tangannya yang terdapat es krim itu ke arah Gevilda, tetapi selama beberapa detik, Gevilda tak kunjung juga menerima es krim tersebut. Gabro pun berdecak. Dengan begitu cepat ia mengalih tempatkan es krim tersebut ke tangan Gevilda yang membuat si empunya tangan tersentak. “Gitu aja kok susah,” ucapnya pelan namun masih dapat didengar oleh Gevilda.         “Susah? Maksud lo gue nyusahin?” Gevilda bertanya dengan nada kesal yang membuat Gabro gemas sendiri. Cowok itu dengan tanpa rasa bersalahnya bangkit dari duduknya dengan cengiran lebar lalu mengusap pelan pucuk kepala Gevilda.         “Nggak, lo gak nyusahin. Jangan marah lagi, ya?” cowok itu mengakhiri ucapannya dengan senyuman lalu beranjak pergi dari kelas Gevilda.         Kepergian Gabro dari kelasnya membuat ritme jantung Gevilda kembali normal. Gevilda tak tahu pasti apa yang selama ini bergelenyar di hatinya ketika ia diperlakukan seperti itu oleh Gabro. Yang dapat Gevilda pastikan, itu hanyalah sebuah rasa keterjutan semata. Atau kemungkinan yang bisa terjadi, itu adalah sebuah rasa yang biasa orang sebut cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD