Matahari telah memunculkan diri dengan malu-malu dari balik daun-daun pepohonan yang seakan mengintrupsi seluruh umat manusia yang melihatnya untuk bangun dari bunga tidurnya . Namun, tidak bagi Gevilda. Perempuan yang menginjak masa remaja itu semakin mengeratkan pelukannya pada sebuah guling yang berada tepat di sampingnya tanpa rasa bersalah sedikit pun padahal sedari tadi sudah membuat sang Mama mengomel sepanjang rel kereta api.
“VILDA, BANGUN!” teriak Hanna—Mama Gevilda—tepat di telinga anak perempuannya yang masih terlelap tidur. Teriakan yang sudah berkali-kali Hanna lakukan itu tak jua menghasilkan hasil. Buktinya Gevilda anteng-anteng saja dan masih setia dengan tidurnya.
Hanna menghela nafas lelahnya. Ia pun memilih untuk turun ke lantai bawah guna memanggil seseorang yang ia yakini bisa membuat anak semata wayangnya itu bangun dalam sekejap. “Saatnya kamu yang beraksi.” Hanna berucap pada seseorang itu dengan raut putus asa yang membuat seseorang tersebut tersenyum lebar.
Inilah yang dia tunggu-tunggu.
Seseorang yang memakai seragam putih abu-abu dengan baju yang keluar dari celananya itu kini mulai menapaki anak tangga satu per satu menuju kamar Gevilda. Dasar tukang kebo! Batin seseorang tersebut dalam hati.
Hal ini sudah menjadi hal yang biasa untuk ia hadapi sebelum berangkat ke sekolah. Sifat kebo yang dimiliki Gevilda ini memang tak pernah hilang. Dari bocah sampai segede gajah, Gevilda masih saja bermalas-malasan untuk bangun pagi. Padahal hari ini adalah hari aktif sekolah.
Sesampainya di depan kamar Gevilda, seseorang itu langsung masuk tanpa permisi dengan membuka pintu kamar cewek itu pelan-pelan. Ia berjalan jinjit agar Gevilda tak terganggu dengan alam bawah sadarnya tersebut. Ketika seseorang itu telah berada tepat di hadapan kedua kaki Gevilda yang sedikit menjuntai dari kasur, seseorang tersebut tanpa menunggu lebih lama lagi langsung menarik kaki tersebut dengan amat kuat hingga tubuh Gevilda sedikit demi sedikit merosot ke lantai.
BRAK!
“Aduh!” Gevilda mengaduh kesakitan sambil mengusap punggung dan bokongnya secara bergantian. Matanya yang lebar pun dengan senang hati terbuka dan mencari keberadaan seseorang yang dengan teganya membuatnya seperti ini. “GABRO! DI MANA LO!” Gevilda berteriak sekeras mungkin sampai cowok bernama Gabro itu muncul dari balik pintu kamarnya.
“Kenapa? Sakit?” tanya Gabro tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Gevilda langsung naik pitam lalu dengan susah payah membangunkan diri dari dinginnya lantai. “Lo itu gak punya hati banget, ya? Badan gue udah berapa kali sih, lo remukin, Bro.”
Gabro mengendikkan kedua bahunya. “Gak tahu. Makanya kalau badan lo nggak mau gue remukin lagi jangan susah dibangunin tidur.” Gabro menjeda ucapannya lalu berjalan mendekat ke arah Gevilda yang masih menatapnya horror. “Cepetan mandi terus jangan lupa cuci muka lo. Ilernya banyak banget, tuh.” Setelah berucap demikian, Gabro memutar badannya menghadap luar kamar Gevilda lalu berjalan dengan santai sambil mengunyah permen karetnya.
Ia menghiraukan Gevilda yang meneriakkan namanya dari dalam kamar seperti orang gila yang sering ia jumpai di pinggir jalan. Bagaimana tidak ia katakan seperti orang gila? Rambut yang ruwet-nya luar biasa dengan wajah kucel seperti tak mandi berhari-hari sudah cukup untuk mengatakan bahwa Gevilda seperti orang gila.
Sepeninggal Gabro yang sudah melaksanakan aksi kejahilannya hari ini, Gevilda dengan ogah-ogahan membersihkan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah itu sambil mendumel tak jelas. Sebenarnya Gevilda sudah memberitahu sang Mama jika tak ingin lagi berangkat bareng ke sekolah dengan Gabro yang selama ini menjadi sahabatnya sedari kecil. Karena jika ia berangkat sekolah bersama Gabro, otomatis ia tak bisa molor lebih lama lagi.
Namun, Hanna malah menentang keinginan tersebut karena menurut wanita berumur tersebut, tindakan Gabro sudah benar dan patut cukup membantunya dalam misi membangunkan Gevilda yang kebiasaan molornya tidak bisa dihilangkan.
Setelah selesai dengan beberes kamarnya, Gevilda menguncir rambut hitamnya lalu melirik ke arah jam dinding yang saat itu telah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit yang artinya kurang lebih dua puluh menit lagi pagar sekolah akan ditutup. Tanpa pikir panjang lagi, Gevilda langsung lari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan cepat kilat. Cukup dengan sepuluh menit, Gevilda sudah terlihat lebih fresh lalu memakai seragam putih abu-abunya dengan cepat.
Untuk wajah, Gevilda tak pernah memberikan riasan yang macam-macam terkecuali bedak bayi dan segores liptint di bibirnya. Gevilda memang bukan tipe cewek yang gila make-up. Dia lebih suka berpenampilan senatural mungkin daripada mencoret-coret wajahnya dengan berbagai macam kosmetik yang bisa saja membuat wajahnya menua atau pun jerawatan.
“Oke, ready!” Gevilda langsung menyampirkan tasnya ke bahu dan memasang kaos kaki putihnya dengan secepat kilat. Kalau dia gerak lambat, bisa-bisa ia ditinggal oleh si manusia jahil itu dan berakhir terlambat dengan uang saku yang sedikit terkuras karena membayar ojek online.
Ah, itu mimpi buruk bagi Gevilda.
“Gabro, gue udah siap!” seru Gevilda sambil menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Namun, orang yang ia serukan namanya tak terlihat diseluruh penjuru rumah tersebut. Gevilda pun menghampiri Hanna yang sedang berkutat dengan sayur mayur yang siap dimasak.
“Ma, Gabro mana?”
Hanna menoleh ke arah Gevilda yang terlihat ngos-ngosan seperti habis lari marathon. “Gabro udah di luar. Kamu sih kelamaan! Makanya—“
Gevilda langsung menmotong pembicaraan Hanna dengan cara mencium punggung tangan wanita satu orang anak tersebut. “Assalamualaikum!” ucapnya lalu berlari ke arah luar rumah dengan tergesa tanpa menunggu sahutan dari Hanna terlebih dahulu yang membuat wanita berumur itu tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya.
“Waalaikumsalam,” sahut Hanna kemudian kembali berkutat dengan sayur mayur yang ada di hadapannya.
Sedangkan di luar rumah, Gevilda menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari keberadaan Gabro yang dikhawatirkan telah berangkat terlebih dahulu ke sekolah. Karena keberadaan cowok itu belum juga ia temukan, Gevilda kini mengecek pekarangan rumahnya yang biasa dipakai untuk memarkir kendaraan.
Gevilda langsung mengelus d**a dan menghembuskan nafas lega ketika melihat Gabro yang sedang mengecek sesuatu di motor ninjanya. “Gue kira lo berangkat duluan.”
Gabro mendongakkan kepalanya ke arah Gevilda, kemudian berdiri sambil menepuk-nepukkan tangannya seakan ada sebuah debu yang menempel di sana. “Udah?”
Cewek berambut hitam sebahu itu mengangguk. “Iya, yuk berangkat!” ajak Gevilda semangat dan berjalan mendekati motor ninja Gabro berniat naik ke atasnya. Namun, baru selangkah Gevilda beranjak dari tempatnya, Gabro menarik tas Gevilda dengan kuat hingga cewek tersebut terhuyung ke belakang.
“Apa, sih?!” Gevilda melepaskan tangan Gabro dari tasnya.
“Lo mau berangkat sekolah pakai kaos kaki doang?”
Gevilda langsung menurunkan pandangannya dan mendapati kakinya yang masih mengenakan kaos kaki saja. Ia menepuk jidat dengan kesal. Bagaimana bisa ia lupa dengan hal sepele seperti ini?
“Gue ambil sepatu dulu, lo tunggu di sini.” Gevilda langsung ngacir ke dalam rumahnya kembali dan mengambil sepatu converse miliknya.
Setelah memakainya dengan asal karena terburu-buru, Gevilda kembali berlari ke arah luar rumah untuk menemui Gabro dan berangkat bersamanya. Namun, seiringan dengan keluarnya ia dari rumah, deru motor ninja milik Gabro terdengar dengan nyaringnya dan melesat menjauh dari kediaman Gevilda.
Cewek yang telah banjir keringat karena lari-lari tak jelas barusan hanya memandang kepergian Gabro dengan raut putus asa. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu berteriak sekencang mungkin berharap sang empunya nama kembali. “GABRO! BALIK GAK LO?!” teriakannya itu hanya disahuti dengan keheningan yang membuat Gevilda terduduk lemas di lantai.
Gabro sialan! Rutuk Gevilda dalam hati.