Sumpah Setia

1305 Words
”Tetap di tempatmu, calon Grand Duchess Aldrich.” ------- Eilaria berbalik dan menatap Arthur dingin. "Apa ada sesuatu, Duke?" Arthur menyeringai sebentar, kemudian kembali memasang wajah dinginnya sambil berkata,"keluarga Velyns tidak mungkin mengirim putri mereka kemari dengan cuma-cuma." Eilaria tersenyum tipis. "Apa Duke sedang memikirkan sesuatu tentang keluarga saya? Jika iya, itu hanya perasaan Duke." Arthur menaikkan alis kirinya,"Anda yakin?" Eilaria menggigit bibir bawahnya diam-diam, kemudian dia menghela nafas sambil memejamkan matanya lalu kembali membuka matanya dan menatap Arthur. Kedua sudut bibirnya terangkat. "Sangat tidak seru! saya bahkan belum memulai permainan babak pertama, namun sudah harus mengaku." Arthur tersenyum tipis, namun setelah itu dia memasang wajah serius. "Cepat katakan rencana apa yang kamu miliki. Jika itu merugikan saya, maka saya tidak akan segan untuk membunuh kamu dan keluarga Velyns yang lain. Jangan kamu pikir hanya karena Raja adalah orang yang saat ini duduk di singgasana dia tidak berani saya gertak." Eilaria tersenyum manis. "Duke tidak perlu khawatir, saya akan menjelaskan semuanya tapi dengan satu syarat." Arthur menaikkan alis kirinya lagi. "Katakan itu." Eilaria berjalan ke arah jendela, matanya menatap pemandangan di luar sembari menjawab,"Lindungi keluarga bangsawan Velyns dari Raja, maka keluarga Velyns akan senang hati membantu anda untuk menekan Raja. Atau bahkan jika anda memiliki ambisi untuk duduk di takhta, keluarga Velyns akan bersedia mendukung anda di garis depan." Arthur tertawa ringan, namun saat di dengar oleh telinga mana pun, itu terdengar mengerikan. "Keluarga Velyns telah mengabdi kepada keturunan Raja selama berabad-abad, bagaimana mungkin saya akan percaya dengan kata-katamu? Apa jaminannya?" Eilaria berbalik dan menatap Arthur, kedua tangannya ke belakang dan menurunkan resleting pakaiannya setengah. "Saya bersedia memberikan kehidupan dan tubuh saya. Saya bersedia membantu anda sampai takhta. Saya bersedia melahirkan keturunan anda. Saya bersedia memberikan nyawa saya kepada anda, asalkan anda mau melindungi keluarga Velyns." Eilaria tidak mempunyai cara lain selain menggunakan cara ini agar Arthur percaya pada kata-katanya. Sekarang dia tidak peduli dengan harga dirinya, Eilaria hanya peduli dengan keselamatan keluarga Velyns. Saat ini mungkin keluarga Velyns masih aman dan bahagia di permukaan, namun bagian dalamnya sudah menghitam. Jika Eilaria tidak segera mendapatkan kepercayaan Arthur, maka di masa depan tidak ada lagi manusia dengan marga Velyns. Arthur menatap dingin ke arah Eilaria. Pria ini tengah menilai kejujuran dari kata-kata Eilaria. Arthur menyeringai. "Hanya itu? Kamu pikir dengan menjatuhkan harga dirimu saya akan percaya? Bahkan jika kamu benar-benar melepas seluruh kain yang ada di tubuhmu, itu masih kurang." Eilaria menggigit bibir dalamnya, kedua sudut alisnya menyatu kesal. Eilaria segera berjalan mendekat ke arah meja kerja Arthur dan mengambil gunting. Ujung pisau gunting dia arahkan ke pergelangan tangan kirinya sambil berkata,"Saya bersedia untuk menumpahkan darah saya di sini. Duke, keluarga Velyns benar-benar telah bergantung kepada anda. Kami akan tunduk kepada anda jika anda mau menerima kami." "Jika tidak?" Arthur bertanya dengan senyum dinginnya, tatapannya seperti mencemooh Eilaria dan seluruh keluarga Velyns. Eilaria,"jika tidak? Maka kami terpaksa bertahan sendiri." Eilaria memberi jeda sebentar dan melanjutkan,"Tolong Duke memberi saya dan keluarga Velyns muka, saya tahu perkataan ini sedikit kasar untuk orang yang tengah mengemis seperti ini. Namun Duke, kami adalah keluarga bangsawan Marquess, kami rela melupakan gelar kami dan memohon kepada anda. Apakah ini tidak cukup untuk anda? Lupakan itu. Jika Raja benar-benar ada di balik mengapa saya kemari dan mengikuti pemilihan, apakah Raja membiarkan pengikutnya memohon seperti ini kepada musuhnya?" Arthur menyeringai,"Lady benar-benar wanita dengan lidah yang fasih. Eilaria, saya bersedia membantu kamu jika kamu mau menyayat pergelangan tangan kamu." "Untuk mendapatkan kepercayaan saya, harus dibayar dengan darah," Lanjut Arthur. Eilaria menarik nafas dalam. Matanya menatap dingin ke arah ujung pisau gunting dan pergelangan tangannya. Saat ini bukan waktunya untuk egois. Saat ini, bukan waktunya untuk memikirkan apakah pisau gunting itu sakit atau tidak. Saat ini bukan waktunya memikirkan harga dirinya. Namun saat ini yang harus dipikirkan adalah keselamatan keluarganya, keluarga Velyns. Eilaria menempelkan ujung pisau gunting ke pergelangan tangannya, saat ini Arthur juga tiba-tiba berkata,"Saya butuh luka yang dalam, bukan hanya goresan." Eilaria merasa kesal. Arthur benar-benar pria tanpa perasaan. Laki-laki itu tidak pernah memandang gender untuk menyiksa dan mempersulit. Eilaria menekan ujung pisau ke pergelangan tangannya, darah segar mengalir keluar. Crack Eilaria menggeser ujung gunting ke kanan untuk memperpanjang lukanya. Dia saat ini berusaha keras untuk menghindari urat. Arthur menatap Eilaria dengan dingin, seolah tidak ada darah atau apapun di depannya. Pria itu juga nampak biasa saja seolah darah adalah hal biasa dan setiap hari selalu melihat cairan berwarna merah itu. Saat Eilaria masih sibuk menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, dia terkejut saat Arthur tiba-tiba berdiri dengan kain bersih berwarna putih. Arthur berjalan mendekat dan menarik lembut tangan kiri Eilaria yang sudah berlumuran darah, lalu pria itu membalut luka dalam itu dengan kain putih. "Saya tidak tahu jika kamu benar-benar serius. Entah makanan jenis apa yang dikonsumsi oleh keluarga Velyns, sehingga wanita muda seperti kamu berani menumpahkan darah seperti ini." Eilaria menatap Arthur yang sibuk membalik lukanya sambil menjawab,"Jika tidak seperti ini maka tidak ada masa depan yang cerah untuk keluarga Velyns, hanya anda satu-satunya harapan kami." Arthur terkekeh, tangannya masih sibuk membalut luka. "Saya masih terkejut karena hari di mana singa dan salah satu pilar penopang Raja akan menyerahkan kesetiaannya kepada saya." Eilaria menatap serius ke arah Arthur,"Selama anda mau menjadi pelindung keluarga Velyns, maka aku akan memberitahukan semua kelemahan dan aib Raja kepada anda. Saya akan membantu anda di balik layar hingga anda bisa menggapai takhta." Arthur selesai membalut luka Eilaria dan segera menatap mata dingin Eilaria dengan tatapan yang sama. "Kamu-" Eilaria memotong kalimat Arthur dengan,"Saya akan berada di samping anda, tidak peduli itu di mana, saya tetap di samping anda. Neraka, surga, lembah beracun, penjara, ruang eksekusi, saya akan tetap mendukung anda, seluruh keluarga Velyns adalah pilar anda! Bersama kita menyingkirkan Raja dan menjadi Raja dan Ratu Norvenia yang baru." Eilaria mengambil dua langkah mundur lalu berlutut,"Saya mewakili seluruh keluarga Velyns untuk bersumpah setia kepada anda, Grand Duke Aldrich." Arthur menyeringai. "Bangkit," lalu dia berbalik memunggungi Eilaria. "Kembali ke kamarmu dan minta pelayan untuk memanggil dokter." Eilaria tidak langsung berdiri, melainkan menjawab,"Apa anda bersedia melindungi dan menerima sumpah setia kami?" Arthur mengangguk. "Saya bersedia." Eilaria merasa senang, sampai senyum di bibirnya terbentuk. Saat ini hatinya perlahan mulai merasa lega, keluarga Velyns akan selamat. Eilaria bangkit lalu menjinjing rok gaunnya sedikit sambil berkata,"Terimakasih, saya pamit undur diri." Lalu dia berjalan keluar dari ruang kerja Arthur. Eilaria bahkan sampai melupakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Wajahnya yang tadi hanya menampilkan kesuraman, kini sedikit-sedikit mulai berseri cerah. Saat Eilaria Keluar, Alex membungkuk sedikit ke arah Eilaria, begitu juga Eilaria yang membalas Alex. Saat Eilaria telah pergi lumayan jauh, Alex masuk dan bertanya,"Duke, apa anda yakin untuk memilih Lady Eilaria sebagai Grand Duchess?." Arthur mengangguk pelan. "Sepertinya keluarga Velyns diam-diam tengah berada di ujung tanduk." Alex mengelus dagunya. "Aku masih terkejut saat mendengar ini, Raja berniat menyingkirkan keluarga Velyns? Bukankah keluarga Velyns sudah mengabdi selama berabad-abad dengan keturunan Raja?" Arthur tersenyum tipis. "Wajar saja, pengaruh keluarga Velyns di Norvenia hampir menyaingi pengaruh Keluarga kerajaan. Raja menyingkirkan keluarga Velyns untuk tindak pencegahan." Alex menghela napas, namun kemudian matanya memancarkan kegirangan. "Saya tidak sabar untuk melihat konflik seperti apa yang akan kita hadapi!" * Eilaria merasa perasaannya baik, namun ekspresinya kembali dingin saat Anabella tiba-tiba muncul di depannya. "Menyingkir," Ujar Eilaria dingin. Anabella mengangkat tangan kanannya. Pa!! Tamparan keras mendarat di pipi Eilaria, wajah Eilaria sampai terhempas ke samping karena tamparan keras itu. Eilaria tersenyum tipis, kemudian kembali menatap Anabella dan mengangkat tangan kanannya. Pa!! Eilaria membalas tamparan Anabella dua kali lebih ganas. "Kamu!" Anabella melotot marah ke arah Eilaria. Eilaria menatap dingin Anabella,"Saya akan menjadi Grand Duchess Aldrich, jika kamu bertindak tidak sopan, maka aku tidak akan segan untuk berbuat kasar." Lalu Eilaria berjalan pergi, saat melewati Anabella, Eilaria menabrak bahu Anabella dengan bahunya secara sengaja. Anabella mengepalkan tangannya dan berbalik menatap punggung Eilaria yang perlahan menjauh. "S*alan!" Teriaknya sambil mengacak rambutnya kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD