Tetap di tempatmu, calon Grand Duchess Aldrich

1903 Words
Sebelum ke lapangan Eilaria turun menuruni tangga dengan baju olahraganya yang berwarna biru dongker, dengan auranya yang acuh tak acuh serta tatapan matanya yang datar membuat kesan elegan dirinya semakin terlihat. “Lady, apa kamu yakin?, ini adalah daerah milik Grand Duke, jika kita membuat pertandingan di sini tanpa persetujuan dan sepengetahuan Grand Duke bukankah itu akan menjadi suatu masalah?,” Tanya Zia dengan nada ragu. Eilaria hanya menjawab,”Aku tidak peduli.” Zia menghela nafas gusar, jika Grand Duke marah dan menganggap Lady-nya buruk karena pertandingan tak berguna ini, Lady-nya bisa-bisa gagal untuk dapat terpilih menjadi Grand Duchess Aldrich. Saat sudah sampai di lapangan, mata Eilaria melirik ke arah papan panah lalu dengan malas dirinya berjalan mendekat ke samping Anabella. “Yo,” sapa Anabella dengan senyum manisnya. Eilaria tidak membalas dan segera menyiapkan anak panah serta busurnya. Anabella yang di acuhkan merasa kesal, namun dia tidak berkomentar apapun dan segera menyiapkan anak panah serta busur miliknya juga. Tak! Busur pertama Eilaria mengenai sasaran, begitu juga dengan Anabella. Para pelayan dan Lady lain yang ikut menonton merasa kagum, namun di hati mereka juga tersimpan rasa was-was karena takut gagal terpilih, walaupun mereka sudah mengetahui jika salah satu putri Marquess itu lah yang akan terpilih. Saat Eilaria berbalik untuk mengambil anak panah selanjutnya, mata tajamnya tidak sengaja melihat dua pria dengan pakaian bangsawan dan satu tukang kebun. Saat melihat lencana yang di pakai pria berbaju ungu, Eilaria sedikit merasa terkejut, namun setelah itu kedua sudut bibirnya naik sedikit. ‘Grand Duke?,’ batinnya. Eilaria kembali berbalik ke arah papan panah dan menarik anak panahnya setelah itu menembak papan panah dengan tepat sasaran. “Kamu boleh juga,” Ujar Anabella. Eilaria tidak menjawab apapun dan segera mengambil anak panah yang baru, namun saat matanya melirik ke arah tempat Grand Duke berada tadi, dia sudah tidak melihat Grand Duke dan hanya melihat Alex yang berjalan mendekat dengan baju berwarna biru dongker. “Permisi para Lady terhormat,” Suara Alex yang tiba-tiba menyapa membuat para Lady terkejut. Anabella yang melihat Alex tiba-tiba merasa senang dan antusias,”Tuan Alex?, apa Grand Duke sudah kembali?.” Alex yang melihat Anabella bertanya segera mengangguk dengan senyum manisnya,”Benar Lady, sekarang Grand Duke meminta para Lady untuk menemuinya di ruang kerja.” Anabella mengangguk dan segera berjalan ke arah ruang kerja Arthur, sedangkan Eilaria tetap memasang ekspresi acuh tak acuh dan mengikuti langkah Anabella yang sudah berjalan di depan. Alex yang menyadari Eilaria tidak begitu terkejut dengan kepulangan Grand Duke secara tiba-tiba dan melihat ekspresi Eilaria yang lebih acuh tak acuh serta tidak peduli membuat Alex terus memperhatikannya. Saat ini Alex terus menatap ke arah Eilaria dengan waspada, mengingat Eilaria berasal dari keluarga Velyns yang merupakan salah satu keluarga bangsawan yang mendukung Raja. Saat pintu ruangan kerja Arthur di buka, Eilaria masuk dan matanya segera menatap ke arah Arthur. Namun saat ini dia tidak bisa melihat wajah Arthur karena pria itu duduk di kursi kerjanya dengan menghadap ke jendela belakang dan memunggungi mereka. “Grand Duke, para Lady sudah di sini,” Alex memberi pengumuman kecil. “Tahu,” Suara berat yang dingin menjawab ucapan Alex dengan singkat. Hati para Lady merasa berdebar kencang karena gugup, sedangkan Eilaria berdebar karena merasa aura Arthur sangat berbahaya. Apalagi saat mendengar Arthur menjawab Alex singkat dengan suara beratnya yang dingin, hal ini membuat Eilaria merasa bahwa Grand Duke sangat sangat sulit untuk di monopoli dengan rencananya. Namun seberapa besar hatinya merasa gugup dan takut, ekspresi Eilaria masih dingin dan datar, namun saat ini kedua alisnya diam-diam sedikit menyatu. “Para Lady, silahkan perkenalkan diri kalian,” Pelayan wanita tua meminta mereka untuk memperkenalkan diri dengan senyum hangatnya. Tangan kiri wanita itu memegang papan jalan yang di atasnya terdapat selembar kertas, serta tangan kanannya memegang sebuah pena. Perkenalan di mulai dari bangsawan dengan gelar Earl hingga Marquess. Sampai tiba saatnya Eilaria memperkenalkan diri. “Salam Grand Duke, saya adalah Eilaria Vlyns, Marquess Velyns.” Arthur segera memutar kursinya dan menatap mata Eilaria yang dingin dengan tatapan yang sama dingin,”Saya cukup terkejut saat mengetahui keluarga Velyns mengirim putri mereka kemari.” Saat melihat wajah tampan namun dingin milik Arthur, Eilaria memantapkan hatinya untuk tetap membalas tatapan Arthur,”Apa pemilihan ini di larang untuk keluarga Velyns?, maaf Duke, saya mendengar pemilihan ini di buka secara umum untuk bangsawan Marquess hingga Baron.” Melihat Eilaria membalas ucapannya dengan lancar dan dingin membuat senyum Arthur muncul,”Lady tidak salah mendengar informasi, saya hanya ingin memberi tahu kalian tentang keterkejutan hati saya, tidak lebih.” Eilaria hanya membalas dengan senyum tipis matanya terus menatap Arthur dingin. “Baiklah saya akan memberikan pertanyaan kepada para Lady, pertanyaan ini khusus dari Grand Duke. Oleh karena itu para Lady tolong menjawab dengan benar dan sungguh-sungguh,” Kepala pelayan wanita memulai saat melihat kode dari Arthur. Jantung para Lady mulai merasa gugup dan semakin deg-deg an. “Jika para Lady sedang berada di titik terendah kehidupan, apa yang akan kalian lakukan?, berjuang atau menyerah?. Serta sebaliknya, jika kalian berada di titik tertinggi kehidupan, apa yang ingin kalian lakukan?.” Kepala pelayan wanita telah melemparkan jawaban, para Lady sedikit termenung untuk berpikir. Kepala pelayan memberikan waktu berpikir selama dua menit, hingga waktu habis dan kepala pelayan meminta para Lady menjawab dari putri bangsawan Earl. Saat mendengarkan jawaban dari masing-masing Lady, mata Arthur terpejam dan kedua tangannya menopang dagunya dengan punggung telapak tangannya. Hampir semua jawaban para Lady sama, yaitu jika mereka jika berada di titik terendah, mereka lebih memilih berjuang. Mereka memilih menjawab ini bukan tanpa alasan, tetapi karena mereka berpikir Arthur pasti menyukai tipe yang optimis dari pada pesimis dan menyerah begitu saja. Dan di pertanyaan kedua, para Lady lain juga menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu bersedekah dan membantu rakyat Norvenia yang tidak mampu secara ekonomi. “Lady Eilaria, sekarang giliran Anda,” kepala pelayan mempersilahkan Eilaria menjawab. Eilaria maju sedikit dan menjawab,”Untuk pertanyaan pertama, saya tidak memilih berjuang atau pun menyerah, tetapi saya memilih mati. Untuk pertanyaan kedua, saya tidak memilih untuk bersedekah, tetapi menyimpan harta itu untuk diri saya sendiri dan keluarga saya. Alasa-,” belum sempat Eilaria melanjutkan omongannya, Anabella sudah memotong. “Aku sedikit terkejut saat mengetahui fakta jika putri Marquess Velyns adalah orang yang sangat pesimis dan pelit.” Chapter 4. Tetap di tempatmu, calon Grand Duchess Aldrich “Apakah sopan memotong omongan orang lain?, putri Marquess Robert,” Balas Eilaria tanpa menatap Anabella. Anabella membalas dengan senyum sinisnya,”Setidaknya saya memiliki hati yang lebih baik dari pada kamu. Dengan pemikiran pesimis dan hati seperti itu, kamu masih berani mengikuti pemilihan ini?.” Alex yang melihat Eilaria dan Anabella mulai berdebat ingin segera menegur mereka, namun diam-diam Arthur mengirimkan pesan telepati kepada Alex untuk tetap diam. Eilaria tersenyum dingin dan membalas ucapan Anabella,”Bagaimana mungkin Lady Anabella bisa berpikiran seperti itu?, saya bahkan belum selesai mengucapkan kalimat saya untuk menjelaskan dan Lady sudah memotong begitu saja?.” Anabella mulai merasa kesal, kebiasaan kecil alis kirinya naik saat marah pun sudah dia lakukan tanpa sadar sembari menjawab,”Mengapa nada bicaramu terkesan marah?, Lady, saya tidak ada niat untuk menyinggung perasaanmu.” Eilaria kini menoleh untuk menatap Anabella dengan tatapan dinginnya,”Hanya Malaikat baik hati yang tidak akan marah dengan ucapanmu, namun aku bukan malaikat. Mungkin kamu berkata jika tidak ada niat untuk menyinggung perasaanku, namun saat kamu memotong ucapanku bukankah itu sudah menjadi salah satu niatmu?. Karena sebelum kamu memotong, kamu mempunyai pilihan untuk melakukannya atau tidak, setelah kamu memutuskan, kamu pastinya sudah berniat untuk melakukan apa yang telah kamu putuskan.” Saat ini ruang kerja Arthur mendadak panas, semua orang diam dan menyimak perdebatan Eilaria dan Anabella, menunggu siapa yang akan menang. Saat Anabella ingin membalas, Eilaria segera menyelak,”Untuk apa kamu urusi dan berkomentar tentang jawabanku?, yang memutuskan siapa yang akan menjadi Grand Duchess Aldrich adalah Grand Duke Aldrich, bukan kamu,” Setelah itu mata Eilaria beralih menatap Arthur. Arthur yang mendengar ini segera membuka matanya yang tadi terpejam dan menjwab,”Apa alasan Lady menjawab dengan jawaban seperti itu?, bisa jelaskan?.” Eilaria mengangguk dan menjawab,”Untuk pertanyaan pertama, alasan mengapa saya menjawab seperti itu karena untuk apa berjuang?. Jika berjuang itu hanya akan menambah kesusahan hidup, jika berhasil, bukankah ada kalimat yang mengatakan kehidupan seperti roda yang berputar?. Untuk apa berjuang jika nanti ujungnya kita akan kembali ke bawah?. Jika menyerah, kalimat itu terdengar sangat rendah, saya lebih menyukai mati. Karena setelah mati, kita bisa melepaskan belenggu permasalahan dunia. Dan untuk pertanyaan kedua, para Lady menjawab dengan sangat baik hati dan memikirkan rakyat, saya hargai dan kagumi hal itu. Namun apakah kalian akan mendonasikan seluruh harta ke rakyat?, bagaimana dengan sanak saudara?. Kalian terlalu fokus untuk mendapatkan rasa suka dan dukungan, sampai lupa kepada keluarga sendiri?. Bukankah yang harus kita utamakan lebih dahulu adalah orang-orang terdekat?, menurut saya jika ada seorang pemimpin yang berkata “Rakyat adalah nomor satu di hati saya” atau “Rakyat harus di utamakan lebih dulu!” itu adalah omong kosong, karena sejatinya setiap manusia pasti mempunya rasa egois walaupun sedikit.” Eilaria menjelaskan semuanya dengan panjang lebar. Arthur yang mendengar ini merasa sangat terhibur, oleh karena itu dia berkata,”Saya sangat kagum dengan pemikiran Anda, Lady.” Eilaria tersenyum singkat,”Sebuah kehormatan tersendiri bagi saya karena mendapatkan pujian Anda.” Anabella yang mendengar Arthur memuji Eilaria merasa tidak senang. Tadinya dia berniat untuk segera membalas setelah Eilaria selesai menjelaskan, namun hal itu dia batalkan karena Arthur sudah memuji alasan Eilaria. Jika dia tetap berkomentar, maka sama saja dengan menilai pemikiran dan pendapat Arthur adalah buruk. “Lady Anabella, apa Anda masih mempunyai keluhan?,” Tanya Arthur, siapa pun yang mendengar ini merasa jika Arthur tengah menyindir Anabella karena terlalu banyak komentar tadi. Anabella yang di tanya seperti ini merasa malu, dia segera menunduk dan menjawab,”Tidak Duke, jika menurut Anda bagus, maka saya pasti juga berpendapatkan hal yang sama.” Arthur tidak menjawab apa pun, namun dirinya segera berdiri sambil berkata,”Saya sudah memutuskan, sebenarnya ini adalah pemilihan tanpa tes. Tanpa pertanyaan itu saya sebelumnya sudah memutuskan siapa yang akan menjadi Grand Duchess saya.” Hati para peserta sekali lagi merasa gelisah dan gugup. Anabella sudah tersenyum dan mengangkat kepalanya dengan percaya diri, sedangkan Eilaria tetap tanpa ekspresi dan menatap Arthur dengan dingin sambil menunggu jawaban Arthur. Mata Arthur menatap dingin ke arah Eilaria,”Eilaria Velyns, kamu yang akan menjadi Grand Duchess saya.” Deg! Eilaria mengepalkan tangannya, dia memaksakan senyum kemudian membungkuk sembari mengangkat kecil gaun roknya,”Sebuah kehormatan yang sangat besar untuk Eilaria dapat menjadi Grand Duchess Anda,” Setelah itu badannya kembali tegak. Anabella yang mendengar jawaban Arthur melotot kaget dan berkata,”Grand Duke, apa Anda tidak salah pilih dan menilai?.” Saat pertanyaan ini sampai ke telinga Arthur, pria itu segera menatap Anabella tajam,”Apa pilihan dan penilaian saya harus di bicarakan dengan Anda terlebih dahulu?. Anabella Robert, Jangan hanya karena Ayahmu, Steven Robert adalah salah satu pendukung saya dengan gelar bangsawan Marquess kamu bisa menjadi seenaknya di sini. Memaksa Lady Eilaria untuk bertanding memanah di lapangan saya, bukankah kamu sudah terlalu angkuh dan semena-mena?, tolong sadar akan posisimu. Ini adalah kediaman saya, Grand Duke Aldrich.” Setelah mengatakan sesuatu yang kejam bagi Anabella, Arthur memerintahkan Alex untuk membawa keluar para Lady. Namun saat Eilaria hendak berbalik, Arthur menghentikan langkahnya dengan berkata,”Tetap di tempatmu, calon Grand Duchess Aldrich.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD