Malam ini, aku terbangun karena haus. Tenggorokanku terasa kering, dan setelah meraba nakas, aku baru sadar botol airku kosong. Dengan langkah pelan, aku membuka pintu kamar, berusaha tidak menimbulkan suara. Rumah sudah gelap, hanya lampu temaram di lorong yang menyala redup. Aku hampir sampai di ujung tangga ketika suara pelan dari ruang tengah membuat langkahku terhenti. Itu suara Bianca. Awalnya aku tidak berniat menguping, sungguh. Tapi nada suaranya berbeda, bukan nada manja atau menyebalkan seperti biasanya. Ada sesuatu yang retak di sana. “Kita nggak bisa terus begini, Ma!” desisnya, terdengar tertekan. “Dia masih aja datang! Padahal Om Pratama sudah kasih kita semua yang kita mau!” Aku refleks menahan napas. Lisa menjawab dengan suara lebih rendah, tapi tegas. “Pelankan sua

