Revan duduk dengan gaya elegan di atas kursinya sebagai pemimpin rapat bulanan di perusahaan. Matanya menatap lurus kedepan, pada salah satu anak buahnya yang sedang melakukan presentasi di depannya. Ditangannya ada sebuah pena yang sengaja dia ketuk-ketukkan secara pelan keatas meja hingga semakin lama, suara itu mulai mengganggu kegiatan di ruangan itu. Orang-orang mulai mencuri lirik padanya. Sedang Revan sama sekali tidak menyadari. Dia terlalu fokus. Tapi bukan pada apa yang sedang di sampaikan di dalam rapat tersebut, melainkan pada apa yang terjadi sejak kemarin malam. Hal yang telah dia lakukan bersama Calista. Revan masih mengingatnya. Bahkan hal sekecil apa pun seperti t**i lalat kecil yang ada di sekitar p****g Calista masih bisa dia ingat. Apa lagi bagai

