Rumah kami kembali sepi setelah Mama dan yang lainnya pulang. Aku tersenyum kecil mengingat kebersamaan kami semua beberapa saat lalu sambil mencuci beberapa gelas dan piring. Jarang sekali kami semua bisa berkumpul di rumah ini. Biasanya hanya bisa di rumah Mama, itu juga kalau yang lainnya punya waktu luang. Terkadang Mba Kila ada, tapi Bima nggak ada atau sebaliknya. Rumah kami memang nggak sebesar rumah Mama, walaupun isinya nggak jauh beda sih. Itu juga semuanya Mama yang beli. Revan cuma ngeluarin duit beli rumahnya aja, isinya Mama semua yang beliin. Terkadang aku capek sendiri mikirin harus pakai cara apa lagi balas jasa ke Mama. Dari dulu, dari sebelum aku menikah sama Revan, bahkan belum kenal Revan sama sekali, Mama selalu aja baik ke aku. Perhatiannya pe

