Dion duduk di kursi yang ada didepannya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Elena semalam.
Dion membolak-balikan kartu hitam yang ada ditangannya berulang kali! dia masih benar-benar tidak percaya.
Erick yang ada didepan Dion dia juga ikut menatap kartu hitam yang ada ditangan Bosnya.
Dia ingin tau kenapa Dion sejak datang ke Apartemen hanya menatap kartu yang ada ditangannya.
"Tuan, apa kartu yang anda pegang dari Nona??" tanya Erick dengan sangat penasaran.
Hemm..
Dion yang berdahem mendengar apa yang ditanyakan Erick! yang menjadi pertanyaan Erick saat ini masalahnya apa dengan kartu Elena.
"Aku sangat penasaran dengan Elena!" ucap Dion dengan sangat tiba-tiba setelah dia berdahem
"Penasaran maksud anda?? dalam hal apa Tuan??" tanya Erick
"Apa semua barang yang aku pesan sudah datang??" tanya Dion mengalihkan pembicaraan
"Maksud anda jam tangan, mobil dan ikat pinggang??" tanya Erick memastikan apa yang ditanyakan Dion
Emmm..
Dion menganggukkan kepalanya dengan pelan, dia memang menggunakan uang Elena untuk membeli beberapa jam tangan, beberapa ikat pinggang dan satu mobil sport keluaran terbaru.
"Sudah Tuan! tadi malam, hanya beberapa yang lain belum Ready" sahut Ercik
"Menurut kamu! apa semua barang yang aku beli tidak memerlukan banyak uang??" tanya Dion
Erick menautkan kedua alisnya mendengar apa yang Dion katakan! tentu saja banyak menguras banyak uang.
Apalagi yang Dion beli adalah barang-barang brand dari salah satu brand ternama yang namanya saja sudah sangat mendunia.
Belum lagi ikat pinggang yang Dion beli! dua brand ternama dan masing-masing lebih dari 4!.
Dan yang paling menguras uang adalah Mobil sport keluaran terbaru yang hanya ada dua di dunia dan salah satunya sudah dimiliki putri bangsawan yang ada di Luar Negeri.
Satu lagi sudah menjadi milik Dion dimana harganya yang tidak akan perna habis dimakan orang biasa sampai 7 turunan.
Sekarang Dion dengan santainya bertanya apa barang yang dia beli tidak menguras uang Elena.
Hah..
Erick membuang napas lelah, kalau dia mengingat satu saja barang yang Dion beli beberapa hari yang lalu.
Jam tangan dengan berlian yang menghiasi! sudah mencapai miliaran, hanya 1 jam tangan saja.
Belum jam-jam yang lain, belum ikat pinggang yang harganya ratusan juta!. "Tuan, kalau anda bertanya sama saya! tentu saja lebih baik saya buat tabungan masa tua saya" sahut Erick dengan lesu
Erick bukan tidak suka mampu beli barang-barang yang bermerk, dia sangat mampu! bahkan apa yang dia pakai setiap hari dari brand ternama.
Tapi Erick membelinya saat dia ingin beli, tidak setiap ada keluaran terbaru! seperti Dion yang sangat suka dengan barang mewah.
Jangankan jam tangan dan ikat pinggang, boxer yang dia kenakan dan tidak terlihat saja harganya jutaan.
"Tuan! kenapa tiba-tiba anda bertanya seperti itu??" heran Erick
"Aku hanya penasaran saja! kenapa Elena tidak mempermasalahkan apa yang aku beli" sahut Dion dengan sangat jujur pada Asisten pribadinya.
"Jadi yang membuat anda terus menatap kartu hitam yang anda pegang! anda memikirkan itu??" tanya Erick tidak percaya dengan apa yang Dion pikirkan.
"Kenapa memangnya??" Dion malah balik bertanya bukannya menjawab apa yang Erick tanyakan.
Hemsss..
Erick mendengus dia tidak lagi menjawab apa yang Dion katakan! dia dengan sangat lelah memberikan berkas yang dia bawa dari kantor pada Dion.
Dion menerima beberapa berkas yang Erick berikan, dia menatap berkas dengan tatapan bertanya tanpa membukanya.
"Apa??" tanya Dion
"Tuan! dua paman anda ternyata sudah menggelapkan uang setiap bulannya dengan jumlah yang tidak kecil! yang meraka ahlikan ke perusahaan cangkang kosong" ucap Erick
"Kenapa buru-buru! satu sudah ada didalam! Elena sudah bertindak, tapi aku meminta untuk menundahnya! aku sudah tau semua dari Elena, tapi bukan itu yang ingin aku dengar dari kamu!" sahut Dion panjang lebar
Erick diam mendengar apa yang dikatakan Dion, dia mencoba mengingat apa yang diinginkan Dion padanya.
Lama Erick diam, Dion pun tidak ingin mengingatkan sang Asisten yang tampak sangat memikirkan apa yang diinginkan Dion.
"Maksud anda keadaan Paman anda??" tanya Erick dengan sangat hati-hati
Hemm..
Dion hanya berdamem, dia merasa mulutnya sudah terasa sangat kebas setelah mengatakan beberapa kata saja sejak dia datang sampai sekarang.
"Paman anda masuk Rumah sakit sejak tadi pagi Tuan" sahut Erick
Dion mendongak menatap Erick dengan rasa penasaran, baru beberapa hari, minggu, bulan pamannya sudah masuk ke Rumah sakit.
"Tuan Besar mengalami infeksi disaluran pembuangan Tuan! karena sering digunakan" lirih Erick dengan sangat ngeri
Apa yang dilakuakn Elena sama sekali tidak manusiawi! bahkan dia yang tidak ikut punya masalah, dia bahkan menyiksa terlalu kejam.
"Bukan hanya itu Tuan! saya dengar barangnya disiram air keras oleh salah satu tahannya yang punya gangguan" lanjut Erick
"Apa itu ula Elena??" tanya Dion
"Bukan Tuan! tapi tahanan yang menyiram Tuan Besar memang benar-benar punya riwayat mental" sahut Erick
Dion menarik napas dalam lalu dia keluarkan secara perlahan, dia tidak bisa bayangkan bagaimana penderitaan yang dialami Pamannya.
Tapi dia merasa sangat puas dengan penderitaan Pamannya, dia akhirnya bisa membalaskan rasa sakitnya setelah belasan tahun lamanya.
"Apa Nenek dan Kakek tau??" tanya Dion mengkhawatirkan kedua orang tua yang selalu saja membela anak mereka.
"Tau Tuan!" sahut Erick
"Bagaimana respon mereka??" kepo Dion dengan memasukkan kartu hitam yang tadi dia mainkan ke dalam dompet hitam
"Tuan dan Nyonya Besar! mereka tidak ingin tau, mereka hanya mengeluarkan uang untuk biaya Rumah sakit!" sahut Erick
Dion menganggukkan kepalanya dengan pelan, dia paham dengan apa yang dikatakan Erick.
Kini dia tau meskipun dua anak mereka sudah membuat kesalahan besar sampai menghilangkan nyawa! akan tetap dibela meskipun dalam diam.
"Sudah lah! biarkan saja para orang tau menyayangi dua anaknya!!" sahut Dion dengan beranjak dari duduknya
"Aku pulang dulu! aku harus menjemput Velia yang ada di sekolah" ucap Dion dengan melangkah meninggalkan Erick yang sangat syok dengan apa yang dikatakan Erick.
"Anda sekarang jadi driver??" tanya Erick
Dion tidak menjawab, dia benar-benar pergi meninggalkan Erick yang masih ada didalam ruang kerja Dion.
Erick membuang napas lelah, dia melangkah ke arah sofa dimana depan sofa sudah banyak tumpukan berkas yang harus dia selesaikan.
"Hah, nasib jari babu orang kaya!!" lirih Erick
Dion pura-pura mati, sedangkan Erick harus berjuang mati-matian untuk kembali membangunkan perusahaan yang menjadi rebutan.
Meskipun menggerutu Erick tetap saja mengerjakan perkerjaannya sampai dia merasa kantuk dan lelah!.
Sedangkan Dion dia menjemput anak Elena dengan senyum! dia merasa sangat pantas menjadi Ayah dari anak Elena. "Tuhan! tempel benang jodoh ku dengan milik Elana!" lirih Dion dengan sangat memelas.