11. Fakhri Kena Karma?

2224 Words
"Kristi! Kristi!" Rara berseru heboh memanggil Kristi saat Kristi baru saja muncul dari ujung koridor kelas. Dina di sebelah Rara juga sibuk melambaikan tangan menyuruh Kristi mendekat. Kristi menatap keduanya heran. Ia mempercepat langkah. Namun, keduanya tampak tak sabaran. Mereka dengan segera mendekat ke arah Kristi serta menyeret gadis itu untuk menepi. Pagi ini di koridor depan kelas Kristi banyak murid yang berlalu lalang. Kebanyakan adalah murid yang membawa sepeda motor ke sekolah. Karna tempat parkir dengan kelas Kristi terhitung lumayan dekat. Karena koridor ramai, dan selalu saja ada yang lewat di depan mereka. Rara dan Dina lalu membawa Kristi ke tempat lain. Ke tempat yang lebih sepi. Yaitu gedung olahraga indoor. Sepagi ini tidak ada satupun orang di gedung olahraga indoor. Apalagi di lantai satu dimana terdapat dua kolam renang besar. Bau kaporit tercium di udara. Untungnya jendela besar di ke dua sisi dinding terbuka lebar dan udara bisa masuk sehingga bau kaporit tidak terlalu menyengat. Rara menarik Kristi masuk ke dalam dan berhenti di antara dua kolam renang besar. Sedangkan Dina masih berdiri di pintu memastikan tidak ada orang yang melihat mereka berada di sana. Setelahnya, ia menutup pintu serta bergabung dengan Rara dan Kristi. "Kalian ngapain bawa gue ke sini?" tanya Kristi penasaran sekali. Ia sejak tadi sudah melontarkan pertanyaan yang sama, namun baik Dina dan Rara seolah tuli dan mengabaikan apapun itu yang keluar dari mulut Kristi. "Sorry Kris. Soalnya ini masalah penting." Dina mendekat, memegang lengan Kristi merasa bersalah. "Emang kenapa? Ada masalah penting apa?" "Soal Kak Fikri." Rara menyahut. "Kak Fikri? Kenapa sama Kak Fikri?" Rara mendesah panjang. Dari ekspresi wajahnya menjelaskan kalau ia meragu hendak memberi tahu Kristi atau tidak. "Ck. Rara. Ini masih pagi, jangan terlalu mikir. Nanti kepala lo pusing pas pelajaran matematika pagi ini." Dina di sebelah Kristi tergelak. Sedangkan Rara nyengir. "Oh iya, gue lupa kalau ada matematika entar." "Yaudah, cepetan ngomong. Ada apa sama Kak Fikri." "Oke. Gue gak bakal mikir lagi. Jadi, dari info yang valid dan narasumber terpercaya." Rara melirik Dina, memberitahu kalau narasumber terpercaya itu adalah Dina. Kristi ikut melirik Dina. Ia memiringkan kepala masih tak paham. "Jadi, karna kemaren Dina datang sebagi suporter tim basket sekolah. Dian ngeliat langsung pake mata kepalanya sendiri Kak Fikri nembak cewek." "Nembak cewek? Siapa?" "Nama ceweknya Fina. Adik kelas kita sekaligus adeknya Bang Rafdan. Lo tau kan Kris, Bang Rafdan yang tinggi, ganteng dan senyum adem?" "Iya gue tau." "Nah. Bang Rafdan gak terima, Fina ditembak Fikri. Alhasil Bang Rafdan marah terus udah mau tonjok-tonjokan tapi si Fina ngelerai." "Terus... Terus?" Kristi jadi semakin ingin tahu kelanjutan ceritanya. "Habis ngelerai. Si Fina ngomong gini ke si Fikri. 'Kak pernah nyo minuman yang udah expired gak?' terus si Fikri malah ngejawab. 'Belum, kenapa tuh?' dan si Fani bilang, 'Basi! Basi banget sampe aku mau muntah liat kelakuan gak tau malu Kakak!!' abis itu si Fina bawa pergi Bang Rafdan dari sana" Rara tergelak di akhir kalimat. "Sumpah ya Kris. Abis Fina pergi sama Bang Rafdan, si Fikri jadi malu abis. Dia di sorakin suporter tim basket lawan. Gue juga ikut nyorakin. Karma tu dasar orang suka caper." Dina juga tertawa. Kristi malah tercenung. Ia perlu beberapa waktu untuk mencerna perkataan dari ke dua temannya "Gila. Keren deh si Fina." "Keren?" "KEREN?" Baik Rara dan Dina terkejut dengan reaksi Kristi. Meskipun tetap saja yang paling heboh adalah Rara. "Kris lo gak sakit kan?" Rara menempelkan punggung tangan pada dahi Kristi. "Kayaknya kita perlu bawa Kristi ke uks deh Ra." Dina berujar khawatir. "Iya ya." Rara pun menyahut setuju. "Ck. Kalian lebay deh. Gue gak sakit." Rara jadi gemas sendiri. "Terus, kenapa reaksi lo begitu?" "Begitu gimana?" "Lo kayak biasa aja denger kabar Fikri nembak cewek lain. Lo gak cemburu?" Kristi diam. Ia berpikir. Mencari perasaannya yang dikenal sebagai rasa cemburu itu. Namun, semakin Kristi berusaha dan memaksakan rasa cemburu itu datang, semakin sakit kepala Krisiti. Ia menggeleng. Menyerah. Ia sama sekali tak cemburu. Dan rasa cemburu tak bisa dibuat-buat. Intinya sekarang Kristi sama sekali tidak suka dengan Fikri. "Wahh! Sia-sia dong kita nyeret lo ke sini dan gue udah mendramatisir suasana." Rara terlihat kesal. "Mungkin, Kristi udah gak suka sama Kak Fikri lagi, Ra. Bagus dong. Itu keputusan yang tepat." Dina menepuk-nepuk bahu Kristi bangga. "Apa jangan-jangan lo udah sadar sama perasaan lo sendiri ke Amal ya Kris?" Rara nyengir, ia puas mendapati wajah merah Kristi. "Asal aja lo ngomong ya Ra!! Sini lo!" Rara pun langsung keluar gedung olahraga. Ia berlari menghindari kejaran Kristi. ** Di kelas Amal, Fakhri tampak lebih bahagia dari biasanya. Ia terlihat lebih sering tersenyum dari biasanya. Ia juga lebih sering tertawa dari biasanya. Dan itu semua membuat Amal jengah. Bukannya dia iri melihat Fakhri bahagia, hanya saja cowok itu terlalu lebay dan melebih-lebihkan. Amal saja heran kenapa ia bisa punya teman seperti Fakhri. "Stt Mal, lo harus tau alasan gue sesenang ini." Fakhri berbisik. Karna guru Kewarganegaraan sedang menerangkan materi di depan kelas. "Ck. Gue gak mau tau," balas Amal ketus. "Meskipun lo gak mau tau, gue tetep bakal kasih tau." "Sialan lo." Amal menggeram. "Jadi, gue udah jadian sama Clara. Lo pasti gak tau Clara siapa kan? Dia cewek yang ngasih gue coklat waktu valentine. Itu loh yang bawa temen terus temennya ngasih lo coklat. Jangan bilang lo udah lupa." "Gak penting. Ngapain diinget." "Anjir. Pokoknya gue udah jadian sama Clara." "Hmm." "Terus nih ya tadi malem, Clara bilang gini ke gue." Fikri berhenti sebentar, agaknya ia kembali menghayal ke kejadian tadi malam seraya tersenyum-senyum membuat Amal hendak muntah. "Dia bilang kalau dia udah lama suka sama gue, tapi baru berani ngasih gue coklat pas valentine kemarin. Terus tau gak lo apa yang lebih wow nya?" "..." "Dia cium gue." "..." "Bukan di pipi, bukan di kening. Tapi di bibir." Amal menoleh, ia sangsi apakah itu benar atau hanya bualan. Namun, saat mendapati Fakhri tersenyum begitu lebar. Agaknya yang cowok itu bilang memang kenyataan. "Hati-hati, mana tau dia mau nularin sariawannya." "ANJIR!" Fakhri memekik tak terima ciuman yang diberikan Clara padanya dicap sebagai penularan sariawan oleh Amal. "Fakhri! Ananda silahkan KE.LU.AR!!" Bu Fina sebagai guru pengampu pelajaran Kewarganegaraan dengan suara lantang menyuruh Fakhri keluar kelas karna sudah mengganggu kelasnya. Semua murid tertawa, mengejek Fakhri. Namun, Amal hanya diam saja seolah tak terjadi apa-apa. Dan itu membuat Fakhri semakin kesal. Kenapa sih Amal tidak mengerti sama sekali. Ini si Clara loh yang menciumnya duluan secara sukarela pula. Bukan Fakhri yang merengek minta ciuman. Tentunya hal ini adalah suatu kebanggaan tersendiri untuk Fakhri. Namun, Amal dengan tega bilang kalau Clara ingin menularkan sariawan padanya. Sialan sekali bukan? Entah kenapa Fakhri bisa punya teman seperti Amal yang tidak punya perasaan sama sekali. Disuruh keluar kelas, Fakhri jadi bingung hendak melakukan apa. Ia lalu melangkah menjauhi kelas dahulu dan mengarah ke kantin sekolah yang tak jauh dari kelasnya. Kantin ini adalah kantin belakang yang paling sering dikunjungi anak IPS. Bisa dibilang kantin ini adalah tongkrongannya anak IPS. Kalau guru BK sih menamai kantin ini adalah sarang penyamun. Fakhri langsung duduk dan mengambil permen tangkai untuk ia emut. Fakhri sudah tobat merokok semenjak Kakak laki-lakinya diopname Kanker paru-paru stadium tiga. Tenang saja, Kakak Fakhri kini sedang menjalani rehabilitasi setelah operasi. Di kantin belakang ini hanya ada satu penjual makanan saja. Namanya Pak Mardi. Selain menjual mie rebus, lontong gulai dan nasi goreng, Pak Mardi juga menjual snack dan permen. Tak lupa ada rokok juga yang disembunyikan untuk jaga-jaga kalau nanti terjadi razia dadakan oleh sekolah. Snack dan permen terletak di bagian luar kantin di mana Fakhri Berdiri seraya mengambil kacang atom dari rentengannya. Posisi Fakhri berdiri terhalang etalase kaca tempat makanan yang dibuat istri Pak Mardi disimpan. Selain itu tumpukan mie instant juga menutupi setengah kaca etalase. Alhasil orang yang berada di dalama kantin dan sedang duduk-dudk tidak menyadari kehadiran Fakhri. Begitu pula dengan Fakhri yang tidak tahu menahu ada orang lain di dalam kantin, sampai ia mendengar namanya disebut-sebut. "Gimana sama si Fakhri?" suara berat dan serak mennyebut nama Fakhri lebih dulu. Itu adalah suara laki-laki. "Udah gue cipok. Anjir sih dia kaku banget, kayak yang baru pertama cipokan." Suara gadis lalu menyahut setelahnya. Fakhri mulai merasa tak enak. Namun, ia memasang telinganya dengan baik. Untuk siapa pun yang mereka bicarakan, entah kenapa Fakhri merasa tersinggung. "Mana nih hp nya? Gue udah relain bibir gue buat cium dia." "Bentar. Ini hp lo. Tapi... " Fakhri tidak mendengar lanjutan kalimatnya. Dengan penasaran Fakhri melangkah lebih dekat ke etalase. Ia berjinjit hingga dapat melihat ke dalam kantin lewat kaca etalase yang tidak tertutup mie instan. Di sana ada Clara, pacar barunya dengan seorang murid laki-laki yang tidak Fakhri kenal. Serta ada dua teman laki-laki itu yang duduk bersebrangan meja dengan Clara. Murid laki-laki itu menaruh kotak ponsel baru, agaknya itu hp yang laki-laki itu maksud di atas meja. Lalu ia mendekat dan menarik Clara untuk lebih dekat dengannya. Fakhri melihat cowok itu berbisik di telinga Clara. Clara hanya tertawa kecil dan memukul d**a cowok itu. Kemudian ke duanya semakin mempersempit jarak hingga... Fakhri segera berbalik. Ia meninggalkan uang untuk membayar permen dan kacang atomnya di atas meja. Lalu ia berlari menjauh dari kantin itu. ** Jam istirahat pertama sudah tiba. Seluruh murid keluar dari kelas seolah baru saja bebas dari penjara. Seperti kelas Kristi yang sudah kosong melompong padahal baru saja denring bel tanda istirahat berhenti berdering. Ya, maklum sih. Setelah pelajaran matematika dari jam pertama sampai sebelum istirahat membuat semua isi kepala satu kelas serasa dibakar. Saking panasnya dengan rumus-rumus rumit nan panjang tak terkira yang harus di catat dan di aplikasikan pada pekerjaan rumah yang harus di kumpul minggu depan. "Untung dikumpul minggu depan, kalau dikumpul besok gue nyerah, gua gak bakal dateng ke sekolah." Rara mengeluh. Selama kelas tadi gadis itu benar-benar dibuat kelimpungan oleh guru matematika. Karna, sebenarnya Rara adalah murid kesayangan Bu Ningsih, guru matematika. Namun, hanya saja murid kesayangan pun akan sakit kepala jika dihadapi rumus rumit matematika itu sendiri. "Kalau lo gak dateng pas pelajaran matematika, siapa dong yang bakal maju ke depan?" Seloroh Dina. "Ck. Udahlah capek gue sama matematika. Gue perlu yang dingin-dingin." Rara segera mempercepat langkahnya, ke dua tangannya tak luput menyeret Dina dan Kristi ikut serta. Sesampainya di kantin, mereka bertiga langsung antri di depan stand yang menjual bakso. Hari ini Rara akan mentraktir dari uang hasil menjual coklat-coklat yang Kristi dapat sebagai hadiah valentine. Dina juga ikut ditraktir. Saat tiba digiliran mereka untuk memesan, Rara memberikan uang pada Kristi untuj bayaran bakso mereka. Sedangkan ia pindah ke stand minuman dingin, sudah tidak tahan karna kepalanya panas setelah melihat rumus-rumus matematika. Pesanan bakso mereka sudah siap tanpa menunggu lama. Karna Rara masih antri di stand minuman, maka Kristi yang mengambil alih membawa mangkuk bakso Rara dan miliknya sendiri dengan dua tangan. Dina berjalan di depan memimpin menuju meja kosong. Kristi sudah terlatih membawa dua mangkuk bakso sekaligus dengan dua tangannya, tentunya ada piring plstik kecil sebagai alas di bawah mangkuk supaya tak terlalu panas. Sebab sejak kecil Kristi seringkali membantu Ibunya mengeluarkan kue-kue dari oven dan tangannya terlatih menyeimbangkan nampan kue pada dua tangannya. Dina mendapat meja kosong dengan empat kursi. Kristi langsung duduk di sebrang Dina. Ia sudah tak sabar ingin menyantap Baksonya. Kristi lalu menuangkan saus dan sambal ke dalam mangkuknya ada dengan takaran yang wajar. Kristi suka pedas namun, ia masih sayang lambungnya. Sebab setelah makan bakso mercon yang dibelikan ayahnya kemarin, Kristi harus dua kali bolak balik ke wc. Rara datang beberapa menit kemudian, dengan tiga gelas es jeruk. Ia lalu duduk di samping Dina. "Kris! Lo liat Fakhri gak?" Amal datang lalu duduk di samping Kristi. Cowok itu makan semangkuk mie rebus. Entah kenapa Kristi jadi tergiur dengan mie rebus milik Amal. "Enggak. Bukannya biasa bareng lo ya?" "Itu dia. Tadi dia bikin ulah sama Bu Hani makanya disuruh keluar. Tapi, sampai sekarang gue gak liat mukanya." Amal yang peka menggeser mangkuk mie rebusnya ke depan Kristi. Membiarkan gadis itu mencoba sesendok. Kristi bersorak senang, ia juga menggeser mangkuk baksonya, memberi Amal sesendok juga. Kegiatan mereka berdua ini, seketika membuat Rara dan Dina iri luar biasa. Keduanya berdeham mengejek dan berujar, "Udah kayak pasangan mamah muda sama papah muda ya." "Iyaaa, duh kapanya bisa kayak gitu juga." Lalu keduanya kompak tergelak. "Sinting!" Kristi mendelik sebagai balasan. "Eh Ra! Ra! Itu kan Bang Deon yang nembak lo minggu lalu!" Dina menyenggol lengan Rara dan menunjuk ke stan gorengan dimana Deon dan rombongannya duduk di sana. "Udah ada gandengan aja. Padahal pas nembak gue dia bilang 'Abang gak bisa pacaran kalau enggak sama kamu Ra' dasar buaya!" Rara pun berkata penu murka. Namun, hanya sebentar karna ia kembali sibuk memakan baksonya. Rombongan Deon adalah sekelompok siswa berandalan kelas tiga IPS. Sebulan yang lalu, Deon mengejar-ngejar Rara dan menembak gadis itu tepat minggu lalu. Rara menolak, selain karna ia memang tak ingin berpacaran, Rara juga tak suka dengan Deon yang notabenenya berandalan sekolah. Amal tau siapa Deon. Cowok itu mantan tim sepak bola sekolah. Dikeluarkan karena merokok di dalam kamar ganti sembari menjelek-jelekkan Bapak Pelatih yang saat itu mendengar langsung Deon menjelek-jelekkannya, alahasil Deon didepak dari tim sepak bola sekolah. Amal biasanya tak tertarik dengan urusan orang lain. Namun, karena ia tidak bisa menemukan Fakhri di manapun, Amal sejak tadi mengedarkan pandangan ke sepenjuru kantin. Hingga matanya menangkan rombongan Deon di depan stan gorengan. Bukan Deon yang membuat Amal tertarik, namun gadis yang dirangkul Deon. Itu Clara. Pacar Fakhri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD