13. Minggu-minggu Menuju Ujian

1925 Words
Kelas Kristi yang tergolong kelas unggul mulai terasa kalau memang cocok di cap sebagai kelas unggul adalah saat minggu-minggu menuju ujian. Sekitar sepuluh hari lagi akan ada ujian semester ganjil. Maka tak heran lagi jika sepagi ini Kristi tiba di kelas tak ada terdengar obrolan dimana pun. Semua yang sudah datang sibuk menekuni buku pelajaran masing-masing. Ada juga tempat duduk kosong yang hanya ada tas pemiliknya saja, biasanya mereka belajar di perpustakaan. Kristi melangkah santai menuju tempat duduknya. Ia sudah tak heran lagi melihat teman sekelasnya sibuk belajar.Setelah meletakkan tas, Kristi mengeluarkan buku paketnya. Hari ini ia akan melanjutkan hapalan yang ia lakukan semalam. Suasana kelas yang kondusif seperti ini, cocok sekali untuk belajar. Kristi merasa bersyukur bisa masuk kelas ini. Sejak semester awal, Kristi merasa nilai-nilainya meningkat. Persaingan bersih di kelasnya memang sudah diacungi jempol oleh banyak guru. Bukan sibuk sendiri belajar, tapi terkadang mereka juga belajar secara kelompok. Apalagi untuk pelajaran dengan rumus-rumus rumit, seperti matematika dan fisika. Untuk materi yang hanya perlu di hapal, Kristi bisa dengan mudah mengingatnya namun kuncinya hanya satu yaitu harus sering mengulang. Karna kalau hanya sekali saja percuma hapalan itu akan hilang begitu mulai ujian. Kristi lalu mengeluarkan buku catatan rumus matematikanya. Ia juga mengeluarkan buku paket matematika dari laci meja. Sebab sepuluh hari menuju ujian ini, Kristi sengaja meninggalkan buku paketnya di laci meja supaya tidak repot harus membawanya bolak balik ke sekolah. Kristi membuka lembar bukunya. Isinya tertulis penuh dengan rumus-rumus dan contoh soal. Juga ada beberapa lembar yang dicoret besar-besar. Hari ini Kristi ingin belajar matematika dengan Rara. Namun, sudah hampir jam tujuh Rara juga belum datang. Selagi menunggu Rara, Kristi membolak balik lembar bukunya. Hingga ia tiba di halaman paling belakang dengan sketsa gambar wajah yang mirip Kristi serta beberapa kalimat. Isinya begini : Semangat ya Kris!! Gue tau lo selalu pusing kalau udah ketemu matematika. Tapi, gue juga tau kalau lo itu gak mudah menyerah. Tiap kali ada soal yang susah lo pasti bakal cari penyelesaiannya mati-matian. Habis ujian nanti gue mau ajak lo jalan-jalan sekalian refresing abis ujian. Tentuin kita mau pergi kemana ya, gue tunggu! From, Amal Kristi tertawa kecil. Tulisan itu adalah tulisan Amal dan sketsa gambar wajah itu adalah gambarnya Amal. Amal memang pandai menggambar dan Kristi harap saat kuliah nanti cowok itu mengambil jurusan seni. Kristi jadi teringat saat semalam Amal main ke rumahnya. Cowok itu datang sembari membawa bakso bakar tepat saat Kristi sedang emosi karna soal matematika yang belum terpecahkan. Namun, Kristi tak tahu kapan Amal menulis ini. Rasanya senang sekali dan Kristi jadi lebih semangat. Sebelum kembali belajar, Kristi memotret gambar dan tulisan dari Amal lalu ia mempostingnya di instastory seraya membuat caption 'Semangat Pagi!!' "Kris, Rara belum datang ya?" Dina muncul di ambang pintu. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Kristi lalu duduk di bangku Rara. Kristi menggeleng. "Belum, tumben banget tuh anak telat, gak biasanya." Sebab biasanya dalam minggu-minggu ujian seperti ini, Rara akan datang lebih pagi. Tapi, kali ini berbeda. Kristi jadi khawatir. Dina mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Gadis itu lalu membukanya ternyata ada risoles goreng hangat. "Makan Kris, gue sengaja bawa buat lo sama Rara." "Wuah!! Makasih!!" "Sama-sama." Kemudian Dina beranjak bangkit dan kembali ke tempat duduknya didekat pintu kelas. Tak lama kemudian, Rara datang. Dengan wajah lesu dan mata bengkak. Sontak membuat Kristi semakin khawatir. Setelah Rara duduk di kursinya Kristi segera menempelkan punggung tangan di dahi Rara, memeriksa suhu tubuh gadis itu. Tapi, Rara tidak demam. Suhu tubuhnya normal. "Lo kenapa?" tanya Kristi pelan. Karna kalau keras-keras akan mengganggu teman lainnya yang sedang belajar. Rara menoleh. Ada genangan air di matanya. "Dean Kris, Dean udah punya pacar." Sesudahnya Rara pun terisak dengan menutup mulutnya sendiri. Kristi jadi kasihan, karena sudah seminggu ini Dean dan Rara dekat setelah dikenalkan langsung oleh Raka pada Dean. Kalau tidak salah pada malam minggu kemarin, mereka double date. Dina dengan Raka, lalu Rara dengan Dean. Meskipun Rara dan Dean masih tahap pendekatan. Dari curhatan Rara, Dean itu manis sekali. Katanya Dean selalu di sisi Rara tiap kali mereka berpapasan dengan orang banyak sebab bioskop di malam minggu ramai sekali. Saat nonton film pun, Rara tak sengaja menyentuh tangan Dean. Seperti adegan klise ketika sama-sama mengambil popcorn. Reaksi Dean yang tersenyum hingga ke dua lesung pipinya muncul membuat Rara menggila. Sampai-sampai Kristi perlu menjauhkan ponselnya dari telinga karna Rara memekik kesenangan. Tapi, lihatlah hari ini, dimana Rara terlihat sedih. "Ha? Gimana ceritanya?" Kristi menarik Rara ke pelukannya ia menepuk-nepuk bahu Rara. "Gue semalem ngestalk akunnya dia. Terus ada tag baru dari cewek. Gue liat captionnya pake emot hati, terus Dean juga bales pake emot hati." "..." Rara menjauh dari Kristi, ia mengambil tisu sepack yang memang sudah dipersiapkan dalam tasnya lalu ia mengeluarkan ingusnya. "Terus gue tanya lewat dm. Dia bales dan cerita kalau itu emang ceweknya. Kemaren pas dia deket sama gue katanya dia lagi berantem sama ceweknya. Terus, semalem dia minta maaf karna gak pernah bilang apa-apa ke gue soal dia yang udah punya pacar." "Terus lo maafin gak?" "YA ENGGAK LAH!" Seruan Rara membuat teman lainnya mendelik pada gadis itu. Kristi pun menarik Rara keluar sembari membawa sepack tisu dan juga Dina. Di taman samping dekat parkiran yang sudah sepi karna bagian sini sudah dipenuhi motor, Kristi mendudukkan Rara di bangku semen. Dina lalu duduk di sebelahnya seraya mengusap-usap bahu Rara. "Gue cuma read dm nya dia." "Terus?" "Dia dm lagi." "Apa katanya?" "Katanya kita boleh tetep temenan kan?" "Wah, cowok k*****t!!" Kristi jadi emosi sendiri. "Huaaaa terus gue gimana! Masa baru punya gebetan eh malah udah jadi mantan gebetan. Nasib percintaan gue kok gini amat sih." "Sabar ya Ra. Gue juga gak tau sepupunya Raka ternyata udah punya pacar. Nanti gue tanyain ke Raka deh, ada gak temen dia yang masih jomblo." Dina mencoba menenangkan. "Yang ganteng juga ya Din." Tapi, Rara tetap saja konsisten. Harus ganteng. Kristi pernah menanyakan hal itu, kenapa Rara menekankan sekali harus ganteng untuk setiap cowok yang dekat dengannya. Kata Rara sih, kalau ganteng itu kita jadi bakal semangat waktu liat mukanya pas lagi capek mau itu karna tugas atau ada masalah. "Tapi kan ada cowok yang manis, enak diliat juga." Waktu itu Kristi memamerkan seorang aktor berwajah manis yang sedang digandrungi kaum hawa. "Bagi gue ya Kris, cowok manis itu cocok jadi Kakak laki-laki bukan jadi pacar. Lo kan tau Abang gue, Bang Fadil, dia manis, terus kalem, Abang-able pula lagi. Jadi, gue rasa gue perlu yang ganteng buat jadi pacar soanya selama gue hidup, gue selalu bareng yang manis-manis." Sejak saat itu Kristi paham kenapa Rara selalu menekankan tipe ganteng untuk tiap cowok yang dekat dengannya, karena Rara sudah puas diberi tampilan yang manis-manis setiap harinya . 'Kalau gak ganteng, kelaut aja!' begitu motto Rara. Isakan Rara sudah berhenti. Kini, mereka bertiga sedang di wc perempuan. Rara sibuk mengeluarkan ingus dari hidungnya, sedangkan Dina sibuk membenahi rambutnya. Dan Kristi hanya diam melihat ke dua temannya. "Oh iya, kalian berdua udah daftar les?" "Les?" Rara menoleh pada Dina. "Bukannya masih jauh banget gak sih, kan kita masih kelas dua." "Gapapa kali. Kan bahasan di les masih pelajaran kelas dua juga. Paling ditingkatin lebih tinggi aja." Rara tak menanggapi lagi, karna ia sedang membasuh wajah. Dina pun lalu melirik Kristi dari kaca, ia meminta pendapat Kristi. "Kalau gue sih ayok aja. Lumayan loh buat bekal kelas tiga nanti," sahut Kristi. Lalu ia bertanya. "Lo udah daftar Din?" "Belum. Tapi gue ada brosurnya. Ada di tas gue. Bang Raka sama temennya Bang Rafdan juga les di sana." "Oke kalau gitu, gue mau liat brosurnya dulu. Mana tau kan ketemu yang ganteng-ganteng. Lumayan, dapat ilmu terus dapat pacar." Rara nyengir. Untungnya gadis itu sudah kembali bersemangat. ** Tidak seperti hari-hari yang telah lewat, Fakhri seharian ini tampak murung. Di istirahat ke dua ini Amal mengajak Fakhri ke gedung olahraga. Tadinya Amal menyuruh Fakhri untuk ikut serta bermain futsal, namun cowok itu menolak dan lebih memilih duduk di tribun penonton. Fakhri tampak melamun, Amal jadi khawatir Fakhri kerasukan penunggu pohon besar di belakang gedung. Sibuk melamun seharian, Fakhri malah enggan melakukan apapun. Ia malas kemana-mana. Bahkan ke gedung olahraga saja Fakhri perlu diseret-seret Amal. Setelah mengetahui dengan jelas kalau Clara tidak benar-benar suka padanya, hati Fakhri jadi remuk redam. Padahal Fakhri sudah berniat betul-betul kalau Clara akan menjadi penantian terakhirnya. Namun, ia malah ditemui oleh pengkhianatan. Fakhri kecewa, marah dan sedih. Jadi, ini yang namanya karma. Inilah akhirnya balasan yang harus Fakhri terima karena selama ini selalu bermain-main dengan banyak hati perempuan. Pintu gedung olahraga yang tadinya tertutup, kini terbuka. Suaranya cukup keras, hingga membuat Fakhri bangun dari lamunanya. Agaknya yang membuka pintu benar-benar mengerahkan seluruh tenaga. Suara langkah terburu-buru terdengar mendekat ke arah Fakhri. Fakhri masih acuh, ia malas menoleh. Rasa ingin tahunya sudah hilang, seolah semangat hidupnya juga sebentar lagi akan lenyap. "Bang Fakhri, tolong Clara Bang. Gue mohon!!" suara itu terdengar memohon disela napas yang terputus-putus. Fakhri menoleh. Mendapati seorang gadis mendekatinya. Dengan peluh berjatuhan di dahi, ia memegang lutut dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Clara? Gue gak ada urusan lagi sama dia." Fakhri menjawab dingin. Amal di lapangan sudah berhenti memainkan bola, pemain futsal yang lain pun ikut mengalihkan atensi pada Fakhri. "Please Bang, gue mohon. Gue gak tau harus minta tolong ke siapa. Karna gue tau lo pacarnya Clara." "Gue bukan pacarnya dia." "Please Bang!" Gadis itu adalah Fina. Rambutnya yang diikat ekor kuda acak-acakan, peluh membanjiri dan wajahnya pucat. Amal pun mendekat. Agaknya ini situasi darurat. Melihat bekas cakaran di lengan gadis itu. Agaknya Clara sedang dalam bahaya. "Woi sadar! Dengerin dia. Lo kalau lagi patah hati rasa kemanusiaan lo gak harus ilang!" Amal membentak Fakhri, sampai urat-urat lehernya terlihat. Fina yang melihat itu semua dibuat meneguk saliva. Amal terlihat semakin keren di matanya. Mendapat bentakan seperti itu, Fakhri langsung bangkit berdiri. Seolah otaknya baru saja dialiri listrik dan membuat ia tersadar. Persetan dengan ia yang telah dikhianati, Clara tetap perlu bantuan. Fakhri lalu menoleh pada Fina, wajahnya mengeras. "Clara ada dimana?" ** Di luar wc perempuan tampak ramai murid-murid berkumpul, melongokkan kepala ingin tahu ribut-ribut apa yang sedang terjadi di dalam wc perempuan.Sedangkan untuk murid-murid yang beruntung mendapat barisan paling depan, sudah mengetahui kalau Gengnya Devina sedang melabrak adik kelas. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, bagai dengung lebah. Kristi, Rara dan Dina hanya berdiri memerhatikan dari ujung lorong kelasnya. "Itu loh Kris, cewek yang kemarin lewat depan kita terus ada bekas cupang di lehernya." Rara yang memilik indera pendengaran lebih tajam dan sudah menganalisa dari omongan orang-orang, memberi info pada dua temannya. "Wah, parah. Jadi kak Devina ini pacarnya Bang Deon?" Dina menyahut segera. "Iya Din!!! Kenapa sih orang-orang ini sibuk pas lagi deket-deketnya sama ujian." Rara pun mulai mengomel sendiri. Kristi geleng-geleng kepala tak habis pikir. Disituasi gawat darurat seperti ini ia yang tak tahu apa-apa hanya bisa diam menonton. Tiba-tiba, suara langkah kaki dengan cepat mendekat dari arah belakang Kristi. Rara yang sadar segera menarik Kristi menepi dan membiarkan Fakhri lewat diikuti Amal dan seorang gadis lainnya. Amal berhenti didekat Kristi. Ia menarik Kristi ke arahnya. Cowok itu terlihat tegang. Rara sendiri sampai takut melihatnya. "Amal ada apa?" "Sst, diem aja." Fakhri langsung membelah kerumunan. Ia menerobos masuk ke dalam wc perempuan. Berteriak marah dan kemudian kembali keluar dengan menggendong Clara yang sudah basah kuyup menuju ruang UKS diikuti Fina. "Wah, Fakhri penyelamat!!" Kristi berseru spontan. "Diem Kristi." Amal memerintah. Cowok itu lalu membawa Kristi, megekori Fakhri sembari menggandeng tangan Kristi. Kristi menurut saja. Namun, Fina yang melihat itu merasa dirinya kembali sakit hati karna dipaksa melihat kenyataan kalau dirinya tak akan pernah bisa menjadi pacar Amal. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD