Sejak pagi, Clara sudah was-was dan hendak bolos saja kalau tidak dipaksa Fina masuk ke dalam kelas. Semalam, ia sudah mengantar ponsel baru yang diberi Deon ke rumah cowok itu. Clara tak langsung menemui Deon sebab Deon sedang tidak di rumah. Jadi, Clara hanya menitipkan ponsel tersebut ke asisten rumah tangga Deon.
Sebagai gantinya, Clara mengirim chat ke Deon memberitahu kalau ia sudah mengembalikan ponsel baru tersebut ke rumah cowok itu. Namun, chat Clara tak dibaca.
"Lo udah balikin hpnya kan?" tanya Fina saat jam istirahat pertama. Keduanya makan siang di kelas, Fina sengaja membawa bekal lebih banyak untuk dimakan berdua dengan Clara.
"Udah."
"Tapi, kenapa lo keliatan takut gitu."
"Soalnya gue gak ketemu langsung sama Bang Deon. Gue pengennya ketemu langsung terus bilang kalau kita udah gak ada urusan lagi, cuma dia malah gak di rumah semalem."
"Ck. Udah lo chat?"
"Udah. Tapi gak dibaca."
"..."
"Fin, gue takut kalau pacarnya Bang Deon ngebully gue."
Dan ketakutan Clara benar-benar menjadi kenyataan. Tepat saat jam istirahat ke dua, Devina and the gank datang serta menyeret Clara keluar kelas. Fina menahan Clara, namun karna kalah banyak Fina menyerah setelah ia berhasil menampar kuat pipi salah satu gadis dari geng Devina.
Fina segera berlari mencari pertolongan dan hanya nama Fakhri yang terngiang-ngiang di kepalanya. Saat tiba di kelas Fakhri, salah satu teman cowok itu memberitahu kalau Fakhri dibawa Amal ke gedung olahraga. Makanya, Fina berlari kencang menuju gedung olahraga mencari Fakhri.
Setelah perdebatan dan bentakan dari Amal, Fakhri pun beranjak pergi menuju wc perempuan dimana tempat kejadian perkara penindasan Devina and the gank. Fakhri dengan gagahnya menyibak kerumunan orang-orang. Serta mendorong Devina yang sedang menjambak rambut Clara hingga tersungkur, lalu menggendong Clara ala bridal style dan membawa gadis itu menuju ruang UKS.
Seketika pandangan Fina yang selama ini selau menganggap Fakhri hanya cowok buaya berubah total. Apalagi setelah melihat tatapan mata Fakhri yang penuh pengertian pada Clara. Cowok itu bahkan meminjamkan seragamnya untuk dipakai Clara sementara, sebab seragam gadis itu benar-benar basah dan tembus pandang.
Di dalam lemari yang ada di ruang UKS terdapat seragam baru yang berlebih untuk murid baru angkatan Fina dan Clara.
Clara pun mengganti seragamnya. Sedangkan Fakhri pergi mengurus administrasi seragam baru yang dipakai Clara ke ruang tata usaha. Lalu Amal dan Kristi menunggu di luar ruang UKS. Dan Fina tetap di dalam menemani Clara.
"Ra, Bang Fakhri keren banget tau, apalagi pas gendong lo."
"Iya. Dia baik banget. Padahal gue udah jahat sama dia." Clara menjawab lirih.
Fina mendesah panjang. Ia tahu kalau Clara sudah berbuat salah. Namun, ia berharap Fakhri akan memaafkan gadis itu.
"Gue mau lo minta maaf ke Bang Fakhri abis ini."
"Iya. Gue bakal minta maaf."
**
Di luar, ekspresi Amal masih saja datar. Ia menggenggam tangan Kristi erat sejak tadi dan tidak menyadari ada hati yang retak melihat keduanya dari balik kaca ruang UKS.
"Gue keinget lo pernah diposisi Clara dulu, Kris." Amal menoleh, menatap sendu Kristi.
"Itu udah lama banget Amal. Kok bisa ke inget sih?"
Dulu, sewaktu Kristi kelas dua SMP. Gadis itu pernah menjalin hubungan dengan Kakak kelas yang cukup populer. Namanya Ari. Ia terkenal karna wajahnya yang tampan serta kepintarannya. Awalnya, hubungan Kristi dan Ari berjalan secara diam-diam. Hingga ada seseorang yang tahu dan menyebarkan berita kalau mereka berpacaran.
Tepat saat itu Ari sedang ikut olimpiade ke luar kota dan waktu itu juga Amal sedang bertanding karate antar sekolah di sekolah lawan. Entah kenapa saat hari itu pas sekali Amal dan Ari tidak ada di sekolah. Dan salah satu pentolan sekolah yang dikenal suka menindas siapa pun yang menggaggunya, mendatangi Kristi. Menanyai apakah Kristi berpacaran dengan Ari. Karena semua orang sudah tahu, Kristi tidak bisa mengelak. Alhasil Kristi diseret ke wc perempuan.
Waktu itu hanya Rara yang berani menahan para penindas itu membawa Kristi. Selain Rara, teman-teman yang lain hanya bisa melihat saja. Namun, Rara yang kalah jumlah juga tidak bisa menolong Kristi. Alhasil sampai guru BK datang, Kristi baru bisa diselamatkan. Banyak bekas luka lebam di tubuh Kristi. Ia basah kuyup dan bau. Entah air apa yang disiramkan ke badan Kristi. Esok harinya Kristi tidak datang ke sekolah. Si penindas dikeluarkan dari sekolah beserta teman-temannya.
Amal yang baru tahu esok harinya benar-benar marah dan memukuli Ari melampiaskan amarahnya. Serta meminta Ari untuk memutuskan hubungannya degan Kristi. Seja saat itu, Amal berhenti ikut karate. Ia menjadi super protective terhadap Kristi. Pergi dan pulang sekolah selalu bersama Kristi. Dari situlah sikap protective Amal berawal.
"Ya namanya juga keinget." Amal memainkan jemari Kristi dalam genggamannya.
"..."
"Besok kalau mau pacaran kasih tau gue dulu ya siapa calon pacar lo. Gue gak mau lo malah kayak dulu lagi."
"Iya Amal."
"Bagus."
Amal lalu mengusak puncak rambut Kristi dengan gemas.
"Aduh malah asik-asik!"
Amal lalu berbalik dan mendapati Fakhri sudah berada di depan ruang UKS lagi. Agaknya urusan dengan administrasi seragam baru Clara sudah selesai.
"Asik-asik apaan! Lo tuh yang sering asik-asik!" Amal berseru segera.
Fakhri mendekat ke pintu ruang UKS, ia hendak membukanya namun urung.
"Si Clara kayaknya udah selesai ganti baju. Lo masuk aja."
"..."
"Kalian perlu ngomong berdua. Selesain masalah lo berdua. Biar gue sama Kristi yang ngomong ke guru BK soal Clara dan izinin dia buat gak masul kelas."
Setelah itu, Amal dan Kristi pergi meninggalkan Fakhri sendirian di depan pintu ruang UKS.
Bukannya masuk, Fakhri malah dibuat termenung. Hingga pintu terbuka dari dalam dan Fina pun muncul.
"Clara udah selesai ganti baju kok Bang. Abang bisa masuk."
"Ah, iya."
"Gue harus balik ke kelas. Kalau Abang gak masalah boleh gue minta tolong jagain Clara?"
"..."
"Gue tau ini kurang ajar karena Clara udah buat salah besar sama lo Bang. Tapi, gue mohon Abang bisa dengerin penjelasan Clara dulu."
"Oke."
"Thanks ya Bang." Fina tersenyum dan segera pergi meninggalkan Fakhri yang lagi-lagi sendiri di depan pintu ruang UKS.
Cukup lama Fakhri menimbang-nimbang untuk masuk atau tidak, namun setelah dipikir lagi toh tidak ada salahnya bukan ia masuk dan mendengar penjelasan dari Clara. Jadi, Fakhri pun menekan kenop pintu lalu melangkah masuk.
**
Clara sedang menyisir rambutnya. Ia menemukan sprai pewangi dari dalam lemari UKS, lalu menyemprotkan ke rambutnya. Karena rambutnya basah dan lepek, Clara jadi kesal sendiri penampilannya tampak buruk di mata Fakhri.
Suara langkah yang mendekat membuat Clara berhenti menggerakkan sisirnya. Lalu ia berujar, "Fin lo balik?"
Clara takut kalau Devina yang datang dan kembali menindasnya. Tapi, itu tidak mungkin kan? Gadis itu pasti sedang di ruang BK sekarang. Clara tahu dari Fina yang memberitahunya.
Ada satu nama yang melintas dalam benaknya. Ia tahu ia pasti jadi gadis yang tidak tahu malu kalau berharap benar-benar dia yang datang, namun Clara tak bisa berbohong. Ia memang berharap Fakhri yang datang. Sangat berharap.
"Emm. Kak Fakhri?"
Langkah itu berhenti. Clara jadi semakin gugup.
"Bener Kak Fakhri ya?"
Karena tempat tidur yang Clara tempati sekarang ditutupi gorden putih, ia tak bisa melihat siapa yang ada di luar. Namun, ia bisa mendengar langkah kaki itu menuju tempat tidur di sebelah tempat tidurnya.
"Kalau beneran Kak Fakhri. Aku mau minta maaf. Udah jahat banget sama Kakak."
"..."
Tak ada tanggapan sama sekali, Clara jadi gemas sendiri. Ia lalu memutuskan untuk turun dari tempat tidur, lalu menyingkap tirai dan mendekati Fakhri yang terkejut mendapati kehadirannya. Mereka saling tatap. Hingga Fakhri memalingkan wajah. Clara jadi sedih dan ia mulai menangis. Padahal saat ditindas oleh Devina tadi, ia sama sekali tak menangis. Namun, di depan Fakhri ia malah tersedu-sedu seperti ini.
"Maaf Kak. Aku gak bermaksud nyakitin hati Kakak. Maaf."
Fakhri tetap diam tak menanggapi.
"Maaf Kak. Maaf."
Dan Clara terus saja mengulang Kata maaf dengan air mata yang keluar seperti tak ada habisnya.
**
"Kris, gue ada perlu dulu ke lapangan. Lo mau ikut gue atau nunggu di pos satpam aja?"
Sepulang sekolah saat keluar kelas, Kristi menemukan Amal sudah berdiri di depan kelasnya. Kristi berpikir sebentar, daripada menunggu di pos satpam sendirian lebih baik ia ikut Amal saja ke lapangan. Setelah kejadian Clara yang ditindas Kakak kelas, Kristi jadi takut kena amukan gengnya Devina. Karna Devina dikeluarkan dari sekolah sedangkan teman-temannya kena skors selama seminggu.
Kristi takut sebab ia dan Amal tadi yang menyatakan sebagai saksi atas kejadian yang menimpa Clara langsung ke ruang BK dan disaksikan oleh para tersangka. Takutnya malah Kristi dicari oleh mereka dan mereka pun membalaskan dendam.
"Gue ikut lo aja," jawab Kristi.
"Oke. Kalau gitu kita ambil sepeda dulu terus langsung aja ke belakang sekolah."
Kristi menurut, mengekori Amal. Lalu mereka naik sepeda dan Amal mengarahkan sepedanya ke belakang sekolah, tepat di mana lapangam sepak bola berada.
Amal menaruh sepedanya di bawah pohon besar yang memiliki daun lebat dan lumayan untuk tempat Kristi berteduh. Pohon itu letaknya tak jauh dari tim sepak bola yang juga sedang duduk-duduk berkumpul di bawah pohon.
"Di sini dulu ya, gue mau ke sana." Amal berujar.
Kristi hanya mengangguk, lalu ia duduk lesehan di rerumputan. Sebelum pergi meninggalkan Kristi sendiri, Amal mengusak rambut gadis itu yang mengundang sorakan dari teman satu timnya.
"Cie cie Amal!!!" Kira-kira begitulah sorakannya. Kristi hanya tertawa kecil menanggapi teman setim Amal, ia sudah terbiasa mendapati sorakan seperti itu.
Ia lalu membuka tasnya, membuka buku catatan rumus matematikanya dan mulai mempelajari soal-soal yang ada. Ditambah angin sepoi-sepoi di bawah pohon yang melindungi dari panas matahari, Kristi jadi semakin fokus belajar.
Waktu pun tak terasa telah berlalu. Amal kembali ke arah Kristi dan duduk di depan gadis itu.
"Cewek, sibuk banget sih!"
"Ck. Apa sih Amal?" Kristi mendongak, ia mendelik sebal.
Amal malah ngakak. "Abisnya dari tadi sibuk aja sama tuh buku. Belajar apa sih?"
Amal lalu mengambil alih buku Kristi, tak peduli gadis itu yang memukulnya dengan membabi buta.
"Astaga Kristi. Di siang hari panas-panas begini lo malah belajar matematika. Gue yakin banget sekarang kabel-kabel di dalam kepala lo udah hampir putus saking panasnya."
Kristi lalu merebut bukunya dari tangan Amal. I bersungut-sungut. "Gak usah drama deh Amal!"
Amal malah tergelak. Ia lalu menarik Kristi untuk segera berdiri. "Kalau gitu, abis ini kita ke kedai es krim yuk. Itu tuh yang ada di gang mawar, baru buka."
"Wahhh!!! Beneran nih?"
"Iya beneran!"
"Ayok! Ayok!"
Lalu Amal pun menaiki sepedanya, diikuti Kristi di jok belakang. Ke duanya bersepeda melewat belakang sekolah. Tapat saat itu ada dua orang yang memerhatikan mereka dari sebrang jalan.
"Itu Amal sama Kristi ya Dek?" Rafdan yang sedang menyeruput esnya bertanya pada Fina di sebelahnya.
"Iya Bang."
"Kristi cantik ya."
Fina mengernyit, ia lalu menoleh pada Rafdan. "Abang suka sama Kak Kristi?"
"Hm gak sih. Cuma kan dia emang cantik. Kamu gak mikir gitu?"
"Iya sih, Kak Kristi cantik. Pantes aja Bang Amal suka sama Kristi." Fina berujar sedih.
"Duh, sedih banget gue dengernya. Move on Dek. Abang kan udah bilang dari awal, kalau Amal emang gak cocok sama kamu. Lagian ya kalau dari yang Abang liat, Amal sama Kristi itu emang salinh suka. Kayaknya karena mereka udah temenan dari kecil."
"Temen dari kecil?"
"Iya. Mereka temenan dari kecil. Makanya lengket terus kalau kemana-mana."
Dan seketika Fina semakin sadar kalau Amal tidak akan pernah melirik ke arahnya.
**