"Maksud lo gak bermaksud nyakitin hati gue itu gimana?" Fakhri bertanya dengan nada datar. Ia mengepalkan kuat tangannya. Dan sedikit menyesal karna mendapati Clara tampak semakin bersalah.
"Ma-maaf. Aku minta maaf."
"Jangan ngomong maaf terus dari tadi. Lo kira gue budeg apa? Sampai lo harus bilang maaf terus."
Semua yang Fakhri pendam pun akhirnya keluar begitu saja dengan lancarnya. Clara dibuat diam tak bisa berkata-kata. "Gue tau ini semua karma buat gue yang emang gak serius sama semua hubungan yang pernah gue jalani. Cuma gue ngelakuin itu ada alasannya dan disaat gue ketemu lo, gue rasa lo yang terakhir, tapi kayakny enggak deh." Fakhri tertawa lirih di akhir kalimatnya. Ia lalu mengalihkan pandangam, enggan melihat Clara.
"Urusan gue sama lo udah selesai sampai di sini. Gue harap lo dapat yang lebih baik dari gue, tentu aja harus lebih baik." Fakhri pun melirik Clara sebentar sebelum kembali berujar, "Kalau gitu gue pergi dulu. Gue harap ini terkahir kalinya kita ketemu."Dan Fakhri benar-benar pergi meninggalkan Clara sendiri di ruang UKS.
Clara menahan isakannya sejak tadi dan saat pintu tertutup ia baru melepaskan isakannya. Ia menangis tersedu-sedu. Sampai ke dua bahunya terguncang. Dan sesekali ia menggumam namun kurang jelas sebab isakannya membuat ia terbata-bata.
"Ma... maaf....k-ak..."
**
"Temen kamu itu gimana?" tanya Rafdan pada Fina.
Keduanya sudah berhenti di depan toko buku. Fina turun dari jok belakang motor Rafdan seraya menyerahkan helm ia berujar, "Gak gimana-gimana. Dia aku suruh minta maaf sama Bang Fakhri."
"Iya emang harus minta maaf." Setelah menggantung helm di atas motor, Rafdan pun merangkul Fina dan berjalan masuk ke dalam toko buku.
Hari ini Rafdan hendak membeli buku kumpulan soal-soal. Karena ia sudah kelas tiga dan sebentar lagi dihantui ujian-ujian. Sedangkan Fina, ia rencananya hendak melihat-lihat saja namun ia malah tergiur mendapati novel horror yang sinopsis belakang sampulnya ia baca.
Setelah memikirkan lebih uang jajan dalam minggu ini serta merengek pada Rafdan minta tambahan uang alhasil Fina jadi membeli novel horror itu.
"Nanti sampe rumah aku ganti uang Abang ya!" Fina sangat senang mendapat novel horror itu, akhirnya setelah sekian lama ia menambah koleksi novel miliknya.
Rafdan hanya berdeham sebagai tanggapan. Keduanya pun berjalan beriringan keluar toko buku. Semakin gelap, toko buku semakin ramai saja. Pengunjung yang datang jadi lebih banyak saat matahari sudah hilang di ufuk barat. Termasuk couple satu ini, Amal dan Kristi. Entah kenapa Fina merasa sematan istilah couple pada Amal dan Kristi terdengar cocok.
Keduanya pun berpapasan di pintu toko buku. Tak disangka-sangka.
"Loh Amal!" Rafdan menyapa.
"Loh Bang!" Dan keduanya pun tos ala laki-laki.
Sedangkan Kristi melambaikan tangan dan tersenyum pada Fina. "Halo Fina," sapanya.
"Eh, halo Kak." Fina membalas kikuk.
"Abis dari dalem ya Bang?" tanya Amal basa-basi.
"Iya nih, mau pulang juga. Kalau gitu kita duluan ya."
Setelahnya Rafdan dan Fina pun meninggalkan toko buku. Dalam perjalanan pulang, Fina hanya diam dan menundukkan kepala, ia sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Hingga tak sadar Rafdan sudah memberhentikan motornya.
"Turun dek."
Fina mendongak dan tidak mendapati rumah mereka, melainkan sebuah kedai es krim yang ramai pembeli. Fina mengernyit bingung, "Loh ini bukan rumah kita Bang!"
"Iya Abang tau. Tapi turun dulu deh, masa kamu gak mau es krim."
"Ini judulnya Abang traktir aku?"
Rafdan mengangguk dan membuat Fina tersenyum lebar. Gadis itu segera turun dari motor.
"Wah, dalam rangka apa Abang baik banget hari ini?"
"Dalam rangka memperbaiki hati kamu yang sakit."
Fina mengerjap, tak bisa berkata-kata.
"Abang tau kok dari pulang sekolah tadi kamu murung terus, mikirin Amal kan?"
Akhirnya Fina nyengir, ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "Iya Bang. Kok Abang tau?"
"Tau lah kan kamu Adeknya Abang. Udah deh gak usah mikirin Amal terus, mending kamu pesen terus abisin jangan sampe si bocah di rumah tau kamu abis makan es krim."
Fina Semakin senang tentu saja. Mendengar ia dibolehi berbuat curang dan tidak memberitahu Adik bungsu mereka di rumah adalah suatu bentuk kesenangan tersendiri. Maka, malam itu Fina dan Rafdan segera menghabiskan es krim mereka sebelum mendapat telepon dari Ibu mereka yang menyuruh untuk segera pulang.
**
Kristi memeriksa dan membaca sekali lagi lembar-lembar brosur tempat les yang ia dapat. Satu dari Dina, satu dari minimarket ujung jalan, dan satu lagi ia dapat dari halte bus. Di brosur itu tertera tempat les yang berbeda dengan keuntungan dan kelebihan yang juga berbeda. Melihat ketiganya membuat Kristi bingung dan sakit kepala.
"Gue harus pilih yang mana ya Mal?" Kristi beringsut untuk duduk di sebelah Amal yang asik memainkan game di ponsel cowok itu.
"Terserah lo mau yang mana."
"Ck. Lo sama sekali gak membantu."
"Yah! Gue kalah! Gara-gara lo nih Kris!" Amal marah, cowok itu beranjak dari duduknya dan melangkah menjauh dari Kristi menuju pagar pembatas rooftop.
Sore ini, ke duanya sedang duduk-duduk di rooftop rumah Amal. Karena baru selesai di renovasi, rooftopnya jadi lebih keren. Seperti rooftop yang ada di kafe-kafe. Di dindingnya terdapat lukisan dan mural yang tentu saja Amal sendiri mendesign itu semua. Selain itu rooftopnya juga dihiasi bunga-bunga dan dekorasi tempat sofa setiga yang sedang tren. Sudah cocok kalau dibuatkan kafe saja, namun Mama Amal bilang rooftop ini hanya untuk tempat bermain dan belajar untuk Amal dan Kristi saja. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolak?
Kristi mendesah pelan. Ia menyandarkan kepala sepenuhnya ke sandaran sofa membuat ia bisa melihat jingganya langit, awan yang berwarna pink dan burung-burung yang terbang menuju pulang.
Entah kenapa setiap di rooftopnya Amal, Kristi merasa tentram dan damai. Kalau seperti ini ia tidak bisa stress sama sekali.
"Kris udah tau mau kemana abis ujian nanti?"
"Belum juga mulai ujian Mal."
"Ya mungkin aja kan lo udah ada rencana."
"Ada sih."
"Kemana?"
"Ke rooftopnya Amal!! Asli di sini asik banget, adem, bisa liat sunset kalo malem juga bisa liat bintang terus kalau dari sini... " Kristi lalu beranjak dari duduknya dan melangkah ke pagar pembatas rooftop, "gue bisa gampang manggil Abang batagor yang lewat."
"Bang!! Batagor!!" seruan Kristi itu membuat Abang batagor di bawah sana mendongak lalu mengacungkan jempol serta menepikan gerobaknya.
"Nah tuh kan!!" Kristi tergelak lalu segera turun.
Amal pun ngakak, ada-ada saja hal tak terduga yang dilakukan oleh Kristi.
Kristi bersenandung kecil menuruni anak tangga rumah Amal. Sampai ia tiba di lantai satu tepat toko bunga berada, Kristi manahan langkahnya sebentar. Ia melirik ke arah kasir, ada seorang pelanggan perempuan menunggu buket bunga yang sedang dirangkai Mama Amal.
Dia memakai gaun selutut berwarna biru cerah. Rambutnya panjang sepunggung, berwarna hitam kelam. Wangi parfumenya membuat Kristi iri dan berpikir pasti perempuan itu memakai parfume mahal. Melihat dari belakang saja sifat feminisme Kristi sedikit terguncang.
Sesudahnya Kristi pun langsung melangkah keluar menuju Abang batagor yang sedang menunggu.
"Bang, batagornya lima ribu ya."
"Kris! Gue juga." Amal tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Kristi. Cowok itu merangkul Kristi dan satu tangannya mengusak rambut Kristi.
"Satu lagi ya Bang, lima ribu juga," ujar Kristi pada Abang batagor. "Mana duit lo?" lalu ia menadahkan tangan di depan Amal.
Amal pun menyerahkan selembar uang lima ribu pada Kristi. Cowok itu masih saja merangkul Kristi. Namun, kenapa Kristi rasa kali ini ia jadi gugup ya karna dirangkul Amal? Degup jantungnya berdetak cepat dan Kristi jadi sedikit berkeringat. Lalu ia mendorong Amal menjauh dan malah mendapati perempuan bergaun biru cerah itu berdiri di depan toko seraya menatap lurus-lurus ke arahnya. Seketika Kristi paham kenapa detak jatungnya jadi tidak normal, pasti karna merasa terancam ditatap sebegitunya oleh gadis itu. Namun rasa-rasanya Kristi pernah melihat tatapan yang serupa. Tapi, dimana ya?
**
"Jadi kamu udah tau mau les dimana?" Mama Kristi Bertanya saat selesai makan malam dan tengah duduk-duduk sembari menonton tv di ruang keluarga.
"Belum Ma." Kristi menggeleng.
"Coba Ayah liat brosurnya."
Kristi lalu berlari ke kamarnya dan kembali dengan tiga brosur yang sudah lecek.
"Hmm, sebenernya Kristi boleh ikut les gak Ma?"
"Kalau menurut Mama sih gak masalah. Asal pelajarannya yang emang susah banget. Kayak Matematika sama Fisika, kan kamu sering ngamuk tiap ngerjain tugas di rumah."
Kristi nyengir. Mamanya valid sekali.
"Kalau menurut Ayah terserah di Kristinya. Selagi kamu gak kecapean buat ngejar les abis pulang sekolah ya gapapa. Di brosurnya Ayah liat les dimulai jam 4 sore. Paling telat kamu pulang sekolah jam 2 siang berarti masih punya waktu. Kalau Ayah gak sibuk bisa anter kamu juga."
"Makasih Ayah."
"Jadi, kamu mau les dimana?"
Pertanyaan itu masih menggantung di kepala Kristi. Ia hanya menanggapi pertanyaan orang tuanya dengan alasan hendak menanyakan pada Rara dan Dina dulu.Karna pusing harus memilih tempat les, Kristi memutuskan untuk mengambil ponselnya dan membaca novel online dari author favoritnya. Namun, sebelum itu panggilan masuk dari Amal muncul membuat Kristi harus pending dulu membaca novel online.
"Halo Mal."
"Turun gih, temenin gue ke toko buku."
"Elo ke toko buku?"
"Ck. Buruan, gue udah ijin sama emak lo nih. Gue udah di bawah."
"Oke boss."
Setelah panggilan diputus, Kristi pun bergegas mengganti celan pendeknya dengan jeans panjang lalu mengambil jaket sebagai luaran, tak lupa Kristi menyisir rambutnya dan mengikat menjadi ekor kuda.
Kemudian Kristi pun turun, mendapati Amal sudah duduk di ruang keluarga bersama Ayahnya.
"Udah? Yuk ke buru malem."
"Iya."
Keduanya pun pergi, tentunya setelah berpamitan.
"Lo beneran mau beli buku Mal? Abis mimpi apa sih, heran gue!"
"Ck. Lo ngehina gue banget ya."
"Kan emang kenyataannya gitu lo anti buku-buku club."
"Apaan sih pake club-club segala." Amal tertawa lepas. Kristi pun tergelak.
Perjalanan menuju toko buku sedikit terhambat karena lalu lintas yang padat. Amal menginjak gasnya pelan lalu beberapa meter ke depan menginjak rem lagi.
"Gue males kalau macet gini." Amal curhat.
"..."
"Lutut gue sering sakit nahan gas, terus nahan rem mulu."
"..."
"Kris lo kok diem aja?"
"Gue gak tau mau bales apa karna gue gak ngerti caranya nyetir. Makanya gue diem."
"Lain kali gue harus ajarin lo bawa mobil deh."
"Boleh tuh."
Setelah bisa maju agak lebih jauh dari posisi tadi, mobil Amal berhenti lagi tepat di sebelahnya gerobak sate sedang ramai dikunjungi pembeli.
Kristi yang melihat itu lantas berseru, "Wah, ada sate Mal!"
"Lo mau?"
"Enggak."
"Terus kenapa ngomong ada sate?"
"Cuma mau ngomong aja."
Amal berdecak. "Cimi mii ngiming iji." Dan menirukan ucapan Kristi tadi dengan mengganti huruf vokal menjadi haruf i.
"Ih Amal nyebelin!" Dan cowok itu mendapat satu pukulan di lengannya. Namun, lagi-lagi Amal hanya tergelak. Mobil kembali melaju dan akhirnya terbebas dari macet lokal saat Amal membelokkan setir ke kiri. Cowok itu mendesah lega.
Toko buka dengan lambang huruf G besar tampak dari kejauhan. Amal lalu menyalakan lampu sein kiri dan memarkirkan mobilnya di pelataran parkir depan toko. Setelah itu, ke duanya pun jalan beriringan.
"Loh Amal!"
"Loh Bang!" Amal kaget saat mendapati Rafdan dan Adiknya di depan toko buku.
Amal pun melakukan tos ala laki-laki dengan Rafdan. Sedangkan Kristi tersenyum manis dan menyapa Fina.
"Abis dari dalem ya Bang?"
"Iya nih, udah mau pulang juga. Kalau gitu kita duluan ya." Rafdan pun berlalu dengan Adiknya.
"Amal lo kenal cewek yang sama Bang Rafdan?" tanya Kristi saat mereka sudah masuk ke dalam toko buku.
"Kenal. Dia Adeknya Bang Rafdan."
Kristi tampaknya terkejut. Dan berseru seolah tak percaya. "Oh dia Adeknya Bang Rafdan!!"
"Kenapa? Lo sempet ngira dia pacarnya Bang Rafdan ya?"
Kristi menggeleng. "Enggak kok, gue yang gak ngira ternyata Fina yang suka sama lo itu Adeknya Bang Rafdan." Dan melanjutkan kalimat itu di dalam hati.
"Masa?" Amal mengerlingkan matanya, menatap jahil Kristi. "Ck. Emang kenapa sih?"
"Ya gue takutnya lo malah suka sama Bang Rafdan."
Keduanya menaiki eskalator menuju lantai dua dan berdiri bersisisan.
"Emang kenapa kalau gue suka?"
"Ya gak boleh lah!"
"Kenapa gak boleh?"
"Eh!" Amal menutup mulutnya. Dalam hati ia mengutuk diri sendiri karna kelepasan bicara. Ia lalu mengedarkan pandangan menghindari tatapan Kristi.
Seketika ia baru ingat tujuannya ke toko buku. "Astaga gue kan cuma mau beli penbrush, kenapa malah naik ke lantai dua."
"Oh jadi lo mau beli penbrush, kenapa gak bilang sih?" Kristi lalu menarik Amal untuk kembali menuruni eskalator yang untungnya ada di sebelah eskalator naik.
Amal pun akhirnya bisa bernapas lega. Karna Kristi sepertinya tidak memikirkan ucapannya tadi lagi.
**