Kembali ke beberapa hari saat Fakhri menolong Clara dari Devina and the genk.
"Anjir, kenapa si Fakhri sok kayak pahlawan sih." Setelah melihat langsung Fakhri yang menggendong Clara ala bridal style di depan matanya tadi di sekolah, Rara jadi uring-uringan sendiri malam ini. Ia sesekali melihat ponselnya, seperti menunggu kabar dari seseorang. Selain itu televisi di ruang keluarga yang ia hidupkan sama sekali tak ia tonton.
"Dek, tvnya kasian banget dianggurin kayak kamu." Reno, Kakak laki-laki Rara nomor dua bicara asal dan duduk di sebelah Rara seraya mengganti channel.
"Ck. Apaan sih Abang, ngajak gelud banget!" Rara jadi sewot.
"Haduh cepet banget naik darahnya. Lagi pms ya?"
"Bukan tuh, biasa lagi galau sama si Fakhri." Rian berceletuk. Kakak Rara yang nomor satu itu pun ikut duduk di sebelah Rara. Alhasil, sekarang Rara duduk di antara ke dua Abangnya.
Hubungan Rara dan Fakhri yang awalnya backstreet akhirnya ketahuan oleh ke dua Abang Rara, Karena saat itu Rara salah posting instastory di first akunnya yang ia kira itu adalah second akunnya yang biasa ia gunakan untuk stalking. Alhasil, di hari itu juga Rara kena sidang ke dua Abangnya. Rara kira ia akan dimarahi dan disuruh memutuskan hubungan dengan Fakhri, namun nyatanya ke dua Abangnya hanya bilang jika nilai ujian tengah semester nanti tidak boleh turun. Bahkan, saat Rara putus dari Fakhri ke dua Abangnya memberinya semangat dan dukungan moral, meskipun diselingi ejekan.
"Aduhhh belum move on juga? Sesusah itu ya move on." Reno kembali bicara, karna tayangan tv yang ia tonton sedang menayangkan iklan komersil.
"Ck. Abang mana tau. Abang gak bakal ngerti."
"Iya deh. Cewek kan emang rumit. Susah dimengerti."
Rian yang tampak prihatin, mengelus rambut Rara dan menarik gadis itu untuk bersandar padanya. "Jangan sedih ya, kamu masih punya Abang kok."
Begitulah malam itu terjadi hingga terlelap pun Rara masih memikirkan soal Fakhri. Esoknya. Ketika Rara pulang mengantar Kristi setelah dari tempat les, ia pergi menuju restoran yang menjual makanan seafood. Malam ini, Rian katanya ingin makan-makanan laut. Makanya, selagi Rara di luar sekali saja ia yang belikan daripada memesan lewat aplikasi pesan antar. Nah, di restoran itu Rara tidak sengaja bertemu Fakhri yang juga hendak membeli makanan untuk di bawa pulang sama sepertinya.
Setelah menyebut pesanannya, Rara pun memilih duduk di meja depan kasir dengan dua kursi sembari sok menyibukkan diri dengan ponselnya serta berharap agar Fakhri tidak duduk di kursi satu lagi. Namun, harapan Rara tidak terwujud. Memang sih ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Fakhri duduk di depannya, mereka terpisah meja bulat kecil di tengah.
"Ra, sombong banget sih." Fakhri mulai bicara duluan, mulutnya gatal kalau harus diam saja.
"Lo ngomong sama gue?"
"Enggak! Gue ngomong sama meja!" Fakhri sewot.
"Ohhh....."
"Oh doang?"
"..."
"Ra, kita kan janji meskipun udah putus kita tetep bakal temenan."
"Lo percaya omongan bulshit kayak gitu?"
"Ck. Gue percaya apapun itu dari lo."
"Gak usah sok gombal buaya rawa! Gak mempan."
Fakhri cemberut. Padahal ia serius soal itu. Lebih tepatnya sih, serius untuk tiap hal yang menyangkut Rara.
"Ra lo kangen gak ke waterboom?" Fakhri mencomot asal topik obrolan setelah mereka berdua sama-sama diam dalam beberapa saat. Dulu, saat mereka masih pacaran sempat beberapa kali pergi ke waterboom sebagai tempat kencan mereka.
"Banget, tapi gak sama lo ya. Gue pengen deh pergi sebelum ujian besok, tapi Abang-abang gue pada sibuk."
"Oke deh."
"Apaan sih? Gak jelas."
Fakhri diam-diam mengulum senyum. Sebab ide cemerlang muncul begitu saja di kepalanya. Esok harinya, hari sabtu pagi di parkiran sekolah. Reno yang tidak ada kelas hari sabtu membolehkan Rara membawa motornya ke sekolah. Rara kalau sudah sibolehi bawa motor, ia akan sengaja pergi lebih lambat dari biasanya. Supaya bisa dapat tempat parkir di luar, soalnya kalau kepagian motor akan di tata rapi oleh satpam sekolah hingga mentok di dekat pagar dan jadi deretan pertama. Akan susah kalau ingin pulang cepat dengan kondisi motor terjepit seperti itu. Namun, entah sial atau beruntung Rara bertemu dengan Fakhri di parkiran. Cowok itu juga memarkirkan motor di sebelah Rara.
"Pagi Rara cantik."
Rara melengos dan turun dari motornya hendak pergi cepat-cepat ke kelas. Namun, sepertinya takdir berkata lain. Tali tas Rara tersangkut di besi jok motor. Alhasil Rara harus balik lagi dan melepaskan sendiri tali tasnya.
"Kualat lu, makanya kalo disapa bales nyapa. Bukan malah pergi gitu aja." Fakhri terkekeh.
"Males gue nyapa lu. Liat lu aja males."
"Haduhh apa dosa hamba ya tuhan sampai Rara jadi seperti ini pada hamba," ujar Fakhri dramatis.
"Ck. Sinting."
"Jangan kesel-kesel gitu dong cantik. Masih pagi tau." Fakhri lalu merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sesuatu seraya berseru. "Tarraaaa!!" dan mengibas-ngibaskannya di depan wajah Rara.
"Apaan nih?"
"Liat aja."
Rara pun menerimanya. Itu adalah tiket waterboom edisi terbatas beli satu dapat satu.
"Lo dapat darimana?"
Fakhri tersenyum pongah. "Hmm, ada deh."
"Wah keren. Jarang-jarang loh ada yang bisa dapet."
"Ya jarang lah, gue kan harus nyogok orang yang jual tiketnya," ujar Fakhri dalam hati.
"Jadi, gimana? Mau pergi bareng gue?"
"Mau!"
Maka yang terjadi terjadilahh. Hari minggu, pagi-pagi sekali Fakhri menjemput Rara di rumah gadis itu. Kepergian mereka membuat dua Abang Rara meledek habis-habisan.
"Katanya udah putus? Kok pergi berduaan?"
"Otw balikan tuhh!!"
"Cieeee... Cieee..."
Begitulah keributan yang terjadi di rumah Rara, pagi hari minggu. Gadis itu dengan segera menarik Fakhri keluar dan masuk ke mobil, serta bergegas untuk pergi. Seharian penuh mereka habiskan di waterboom. Rara terlihat senang sekali. Dia benar-benar menghabiskan semua stresnya di waterboom.
"Gimana? Seneng gak?"
"Banget. Thanks ya Fakhri udah ajak gue ke sini." Rara menjawab seraya tersenyum lebar.
"Gue bisa kok ajak lo ke tempat lain dimana pun itu asal lo seneng."
"Ada hal terselubung deh dari omongan lo."
Fakhri tergelak. Ia berenang mendekati Rara yang sudah duduk di tepi kolam. "Terserah lo sih mau anggap gimana. Cuma, gue masih Fakhri yang dulu, Fakhri yang sama kayak Fakhri yang lo sayang dulu."
"Halah, enteng banget tu mulut ngomong."
Fakhri hanya tertawa kecil, lalu ia melompat naik dan duduk di samping Rara. Cowok itu menunjuk ke sebrang kolam di tepian sana ada sepasang kekasih yang terlihat mesra. Lalu berujar, "Liat deh ada orang pacaran."
"Terus?"
"Kalau kita gak pacaran?"
"Ck. Gak jelas lo." Rara pun kembali masuk ke kolam renang. Gadis itu berenang menuju tangga di sisi lain kolam, lalu ia naik dan pergi meninggalkan Fakhri.
Sekitar jam lima sore mereka berada di perjalanan menuju pulang. Rara hanya diam sembari melihat kendaraan lain di luar mobil. Agaknya gadis itu lelah, atau ia sedang memikirkan sesuatu. Fakhri juga cuma diam dan fokus menyetir. Namun, karena biasanya ia tak bisa berhenti bicara saat ada orang di sebelahnya, mulut Fakhri jadi gatal.
"Ra, kita makan dulu ya. Lo kan tadi cuma makan mie rebus doang tadi siang. Ini udah sore loh."
"Terserah lo aja." Rara menjawab lesu tanpa melihat ke arah Fakhri.
Fakhri hanya melirik sekilas pada Rara dan membelokkan setirnya ke kiri menuju tempat makan yang biasanya mereka kunjungi sehabis dari waterboom. Lesehan Pecel Pak Dudun. Itu nama tempat makan yang sering mereka kunjungi. Berupa warung tenda sederhana dengan tempat duduk lesehan dan bangku serta meja jika tidak ingin lesehan. Selain menjual pecel ayam dan lele, Lesehan Pecel Pak Dudun juga menjual ayam bakar, menu kesukaan Rara tiap kali ke sini.
"Gue udah pesen kayak biasa," ujar Fakhri lalu duduk di depan Rara. Mereka berdua memilih duduk di tempat duduk lesehan paling ujung, tepat seperti dulu.
Rara hanya mengangguk. Gadis itu tetap diam. Enggan bicara sepertinya.
"Ra, lo sakit?" Fakhri yang khawatir mencoba menempelkan punggung tangan ke dahi Rara, namun Rara segera menjauh. Seketika suasana jadi akward antara keduanya.
"Sorry." Fakhri berujar lirih.
"Sebenernya lo anggap gue apa sih?" tanya Rara tiba-tiba.
"Eh? Kok? Nanya begitu?"
Rara jadi malu. Ia mengalihkan pandangannya dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sekalian saja Rara memposting foto di waterboom tadi yang Fakhri potret dengan ponselnya, tentu saja hasil potret yang paling bagus yang akan Rara posting. Tak lama setelah Rara memposting foto itu, tiba-tiba saja ada dm masuk dari Dean. Masih ingat bukan? Dean sepupunya Raka pacar Dina.
Dean_prt Abis dari waterboom ya Ra?
Rarachan_ Iya, Dean
"Udah di posting aja tuh poto," sahut Fakhri. Cowok itu juga sibuk dengan ponselnya, ia sedang melihat postingan Rara serta komentar yang masuk. Hingga ada satu komentar cowok yang membuat Fakhri penasaran. Ia pun bertanya, "Dean_ptr itu siapa?"
"Bukan siapa-siapa. Kenapa?"
"Kenapa apanya? Dia komen lo cantik di postingan lo, dia pasti ada apa-apanya sama lo kan?"
"Ck. Kalau iya kenapa?"
Fakhri mendengus. Ia lalu mengklik profil Dean serta melihat postingan foto cowok itu.
"Masih gantengan gue," gumam Fakhri pelan. Namun, Rara masih mendengarnya.
"Gantengan juga dia."
"Terus lo suka?"
"Kalau iya kenapa? Kalau enggak kenapa?"
Fakhri berdecak. "Lo gak capek ya Ra berantem terus sama gue. Kita baikan ya?"
"Ogah!"
Fakhri ingin kembali menyahut, namun pesanan mereka keburu datang. Jadi, Fakhri menahan rasa kesalnya dengan si Dean-dean itu yang sudah mendekati Rara. Awas saja, Fakhri tidak akan tinggal diam.
**