20. Rara Sama Fakhri Balikan

1536 Words
Esok paginya, sekolah dihebohkan karna kedatangan lamborghini yang berhenti di gerbang depan sekolah saat sekolah sedang ramai-ramainya. Fakhri yang kebetulan dari parkiran ikut berbaris bersama siswa lainnya mengerumuni gerbang dengan kepala melongok ingin tahu siapa yang akan keluar dari dalam lamborghini itu. "Kenapa Papi nyuruh Om bawa mobil ini sih?" Dea menoleh pada sopirnya yang ia panggil Om. Melihat kerumunan siswa di luar, Dea jadi semakin gugup saja. Sudah lama ia tak sekolah formal karna harus homeschooling, ia jadi takut melihat kerumunan siswa seperti ini. "Maaf Non. Tapi Papi Non yang bilang kalau mobil ini punya Non, jadi ya saya harus turutin perintah Papi Non." "Ih, pokoknya besok jangan bawa mobil yang ini. Aku bakal bilang ke Papi." "Baik Non." Sialnya kerumunan siswa malah semakin banyak, meskipun Dea sudah diam menunggu di dalam mobil dan berharap kerumunan itu bubar. Agaknya sia-sia saja dan Dea menyesal kenapa tidak dari tadi saja ia keluar. "Kalau gitu kita pergi aja deh Om, nanti balik lagi pas udah jam masuk." "Baik Non." Baru saja sopir Dea menghidupkan mesin mobil, Rara pun muncul dengan dibonceng Abangnya. Seketika Dea ingin menangis, terharu sekali dengan kedatangan Rara. Melihat kerumunan siswa di depan gerbang dan lamborghini yang memicu kerumunan tersebut, Rara dibuat geleng-geleng kepala. Ia pun melangkah mendekat namun, Fakhri malah menahan tangannya "Mau kemana lo?" "Ck. Bukan urusan lo!" Rara menepis tangan Fakhri dan kembali berjalan mendekati pintu lamborghini. Rara tersenyum dan mengetuk kaca pintu mobil, dan saat itulah baru Dea berani keluar dari mobilnya. Gadis itu menunduk malu mendapat semua mata yang tertuju padanya. Membuat Rara tertawa kecil dan menggandeng tangan Dea lalu cepat-cepat membawa gadis itu masuk ke dalam sekolah. "Astaga! Malu banget," ujar Dea sembari menutup wajahnya. "Lo harus biasain diri De. Jangan malu lagi." Rara mengambil ponselnya, untuk mengirim chat Kristi agar segera ke depan ruang tata usaha, dimana ia dan Dea berada sekarang. Tak lama, Kristi muncul di ujung koridor bersama Dina. Gadis itu berlari kecil seraya menarik tangan Dina. "Dea!!! Akhirnya kita satu sekolah!!" Kristi berseru senang. Lalu ia menarik Dina mendekat dan memperkenalkan gadis itu "De, kenalin ini Dina." Dea dengan malu-malu mengulurkan tangannya dan Dina dengan segera menjabat tangan Dea. "Gue Dina." "Gue Dea. Salam kenal Dina." "Iyaa, santai aja Dea. Gak usah malu." "Gak bisa, gue malu ketemu orang baru." Dea merengek lagi. "Haduh pusing gue sama Dea. Tadi pagi aja dia bikin sekolahan heboh dateng pake lamborghini." "Iya De?" Kristi bertanya memastikan. Dea hanya mengangguk, lalu menunduk. "Emang ya yang sekolah di sini gak bisa liat yang mahal-mahal. Lo tau gak si Fakhri juga ikutan liat si Dea. Gue takut kalau nanti Fakhri mepet-mepetin si Dea. Awas aja!" Rara tampaknya punya dendam dengan Fakhri. Kristi hanya meringis pelan. Setelahnya, Dea dipanggil dan gadis itu masuk ke ruang tata usaha. Ketiganya menunggui Dea sampai gadis itu keluar ruang tata usaha. Kira-kira sekitar sepuluh menit Dea pun keluar dari ruang tata usaha. "Dapat kelas mana De?" Tanya Rara begitu Dea keluar. "Kelas IPS 2." "Yah, kok gak IPA sih?" Kristi cemberut. "Kata Papi, gue harus ambil IPS biar nyambung sama kuliah bisnis nanti." "Haduhhh, udah mikir kuliah aja." Seloroh Rara. "Tapi, IPS 2 kan kelasnya Amal, otomatis lo sama Fakhri sekelas dong." "Fakhri itu siapa?" "Dia tuh jametnya sekolahan De. Jangan mau dideketin dia ya." Nasehat Rara. Ketiganya lalu mengantar Dea ke kelas IPS 2. Sepanjang perjalanan menuju kelas IPS, Rara tak henti-hentinya menasehati Dea dengan berbagai petuah. "Kris, kenapa sih si Rara kayak anti banget sama Fakhri?" Dina bertanya penasaran, karna sejak tadi Rara tak berhenti menyuruh Dea untuk jauh-jauh dari Fakhri. Kristi tertawa kecil, lalu ia merangkul Dina agar lebih mendekat dan mengecilkan suaranya supaya tidak terdengar oleh Rara, "Jadi sebenernya dulu itu Fakhri sama Rara pernah pacaran." ** Kira-kira saat Masa orientasi murid baru, Rara yang terkenal melawan kakak pembina osis yang menjadi pembimbing kelompoknya diberi hukuman saat hari terakhir mos. Ia di suruh duduk di tengah-tengah murid peserta mos yang duduk melingkarinya. Saat itu, Rara di guyur air bersih dan tepung. Bukan sampai di situ, Rara bahkan hendak di lempari telur kalau saja Fakhri tidak membuat ulah. Di barisan paling belakang, Fakhri tiba-tiba berdiri dan berseru. "Apaan sih ini! Ini kan hari terakhir mos kenapa masih ada perpeloncoan gini? Gimana sih panitia mosnya, gak becus gini?" Karena omongan Fakhri, Rara yang tadinya menjadi bahan tontonan disuruh pergi untuk membersihkan diri dan pulang lebih awal. Sebagai gantinya Fakhri yang dibuat menjadi tontonan muris mos lainnya. Esok harinya, Rara menemui Fakhri untuk berterima kasih. Dan sejak itu keduanya pun dekat. Tidak butuh waktu lama hingga Amal dan Kristi mendengar kalau mereka berdua sudah pacaran dan beakstreet. Karena saat itu Rara yang baru masuk SMA diwanti-wanti Abangnya supaya tidak pacaran dulu dan lebih mementingkan pelajaran. Namun, seiring berjalannya waktu. Fakhri yang ramah dan lebih sering didekati gadis lain membuat Rara resah, dan dari sana pertengkaran mereka dimulai. Hingga ke duanya sama-sama lelah dengan hubungan mereka lalu putus. Sejak putus dari Fakhri, Rara sama sekali belum memiliki pacar hingga saat ini. Dan melihat Fakhri yang sering gonta ganti pacar, membuat Rara semakin kesal saja. Namun, sampai hari ini baik Amal ataupun Kristi sama-sama tidak tahu penyebab putusnya hubungan Rara dan Fakhri. Kelas IPS 2 langsung hening saat Rara masuk, lalu memperkenalkan Dea di depan kelas. Tidak ada yang menyuruh Rara untuk melakukan itu, sebab yang harus melakukannya kan ketua kelas IPS 2. Tapi, terserah Rara sajalah hendak melakukan apa. Setelahnya Dea memperkenalkan diri sendiri. Dan seisi kelas yang mayoritas laki-laki langsung bersiul-siul genit. Untungnya, ada Rena yang sifatnya sebelas dua belas dengan Rara mengamit Dea untuk duduk di sebelahnya. Karna kebetulan Rena harus duduk dengan murid laki-laki sebab tidak kebagian kursi saat hari pertama sekolah karna ia sakit. Rara sempat bicara dulu dengan Rena, bak seorang Kakak yang meminta untuk dijagai Adiknya. Setelah itu Rara pun membawa Dea kmebali keluar kelas. Rara kembali bicara pada Dea. "De, kita kan lagi ujian semester nih lo mau gak nungguin kita di perpus? Kita sebentar aja kok ujiannya. Palingan jam sepuluh udah selesai." Dea mengangguk. "Oke kalau gitu, gue ke perpus dulu. Lewat situ kan?" Dea menunjuk ke arah koridor di depan kelas IPS 2 yang terdapat papan penunjuk jalan menuju perpustakaan. "Iya De. Lo tinggal ikutin aja petunjuknya, pintu perpus warna biru ya." Rara memberitahu. Setelahnya mereka berpisah di sana. Namun, ada yang janggal selama Rara di dalam kelas, Kristi memerhatikan Fakhri yang diam saja. Entah karna apa cowok itu tampak tidak bersemangat. Padahal, ia rajanya buaya, tidak bisa lihat yang bening sedikit langsung sergap. Tapi kali ini beda. Cowok itu tadi memang melihat ke depan, Kristi kira awalnya Fakhri melihat Dea. Namun, ternyata cowok itu memerhatikan Rara. Dari lirikan matanya yang Kristi perhatikan mengikuti langkah Rara keluar kelas. Kristi jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan ke dua orang itu malam tadi. Sebab semalam, saat Kristi menghubungi Rara lewat panggilan suara, gadis itu seperti sedang berada di luar dan tergesa mematikan sambungan telepon. Lalu beberapa menit setelah panggilan suara itu, Kristi kembali melakukan panggilan video. Nah, saat itulah Kristi mendapati Rara dengan piyama dan sisa make up tipis di wajah gadis itu yang belum terhapus. "Udah yuk, kita ke kelas," sahut Rara dan berjalan lebih dulu. Rambut Rara yang panjangnya sebahu tersibak saat gadis itu melewati Kristi, dan saat itu tanpa sengaja Kristi melihat anting dengan untaian bintang di telinga Rara. Bentuk bintang itu serupa dengan liontin bintang yang dulunya pemberian Fakhri waktu mereka masih pacaran. Kecurigaan Kristi semakin kuat saja. ** Bu Dewi yang mengawas ujian kali ini tampak sibuk dengan ponselnya. Karena kelas Kristi tak ada yang membuat suara alias hening-hening saja, Bu Dewi dan pengawasujian kemarin sering kali tidak memerhatikan murid-murid yang sedang mengisi lembar jawaban. Rara yang duduk di sebelah Kristi tampak sudah selesai mengisi lembar jawabannya. Gadis itu terlihat bosan dan menguap beberapa kali. "Bagi yang sudah selesai boleh keluar, tapi jangan bersuara ya." Bu Dewi sepertinya menangkap Rara yang menguap.Setelah itu Rara dan tiga murid lainnya keluar kelas, sebelumnya mereka mengumpulkan lembar jawaban ke meja pengawas. Selang lima menit kemudian, Dina pun beranjak dari duduknya. Ia juga mengumpulkan lembar ujiannya lalu keluar kelas. Sebelum itu saat lewat depan meja Kristi, Dina berbisik. "Fighting Kris!" Kristi hanya tersenyum menanggapi. Sebenarnya lembar jawaban Kristi sudah penuh terisi. Namun, di soal isian nomor tiga, ia kelupaan satu kalimat penting yang sudah ia hapal. Makanya, Kristi berusah sebisa mungkin untuk mengingat satu kalimat itu.Tiba-tiba saat sedang fokus menggali ingatannya, ponsel di saku rok Kristi bergetar. Pecah sudah fokus Kristi dan ia menyerah untuk mengingat lagi. Kristi pun beranjak bangkit dari duduknya dan mengumpulkan lembar ujian ke meja pengawas. Sesampainya di luar kelas, tidak ada Dina ataupun Rara sama sekali. Agaknya dua orang itu pergi ke perpustakaan menemui Dea. Jadi, Kristi pun berjalan menuju perpustakaan seraya mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari Dina. From Dina : Gue liat Rara sama Fakhri di ujung koridor kelas kita tadi Kris, abis itu mereka pergi berdua. To Dina : Kalau lo sekarang dimana? From Dina : Gue di perpus sama Dea. Lo udah selesai ujian? Sini aja Kris ke perpus To Dina : Oke Din! Kalau ceritanya jadi seperti itu, berarti memang ada apa-apa dengan Fakhri dan Rara Kristi jadi penasaran. Apakah Rara dan Fakhri balikan? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD