Esok harinya, kelas di pagi hari hening seperti biasa. Hari ini hari sabtu, terhitung besok minggu dan senin adalah hari pertama ujian semester.Seisi kelas Kristi kompak menunduk melihat buku yang terbentang di atas meja. Terlihat rajin sekali hingga rasanya kepala Kristi jadi sakit melihatnya.
"Duh, gue jadi eneg di kelas." Kristi mengeluh lalu keluar kelas dan duduk di teras depan kelas sendiri seraya meminum yogurth. Di ujung koridor Dina dan Raka muncul. Keduanya tampak berbincang seru. Melihat itu, Kristi jadi teringat kejadian semalam.
"Pagi Kris!"
"Pagi!"
"Kok gak di dalem?"
"Males Din, liat aja yang di dalem udah kayak patung semua."
Dina tergelak. Gadis itu lalu masuk ke kelas dan kembali keluar seraya membawa kotak bekal.
"Ada sandwich nih, buatan gue," ujar Dina dan mengulurkan kotak bekal yang sudah dibuka ke hadapan Kristi.
"Wuah!! Makasih Dinaa!" Kristi berseru senang. Ia lalu mengambil sepotong sandwich yang terlihat paling menggoda dan memakannya. "Wihhhh enakkkkkk!!!" Pekik Kristi kemudian. Dan dalam sekejap sepotong sandwich itu lenyap masuk ke dalam perut Kristi.
"Makan apaan sih pagi-pagi? Wah sandwich!!" Rara yang baru muncul langsung saja menyambar sepotong sandwich dari kotak bekal dan melahapnya.
"Eh! Belum ditawarin malah main ambil aja lo Ra!" Kristi protes.
"Biarin!" Rara balas mencibir. "Boleh kan Din?" lalu tersenyum manis pada Dina.
"Boleh. Boleh."
Semuanya berjalan lancar sampai jam pulang sekolah. Kristi dan Rara sama sekali tidak membicarakan hal itu di sekolah. Keduanya kompak diam.
"Bentar ya, kita nunggu Raka dulu." Begitu kata Dina di parkiran.
Rara dan Kristi hanya mengangguk saja. Sesuai rencana hari ini sepulang sekolah mereka akan mendaftar les di tempat les Raka. Rara sengaja membawa motor hari ini untuk mempermudah pulang pergi ke tempat les. Kristi akan menumpang dengan Rara. Sedangkan Dina, berdua dengan Raka.
Tak lama, Raka pun datang. Cowok itu menyapa Kristi dan Rara. Lalu tampak terkejut saat Dina menceritakan kalau Rara dan Kristi akan ikut mereka pergi mendaftar les juga. Namun, setelahnya cowok itu malah menyuruh Rara dan Kristi untuk merekomendasikan tempat les itu ke teman-teman lainnya. Seketika, Rara dan Kristi dibuat saling pandang.
Sesudah itu mereka berempat pun pergi menuju tempat les. Di perjalanan Kristi bicara pada Rara.
"Ra, kayaknya Raka emang gak niat selingkuh dari Dina deh."
"Iya ya? Dia kayak santai aja gitu kita ikut daftar di tempat dia les."
"Iyaa. Kayaknya si ceweknya yang emang ngedeketin, tapi si Raka udah biasa aja."
"Bisa jadi tuh."
Obrolan mereka terpaksa berhenti saat Raka membelokkan motornya di tempat les tujuan mereka. Rara pun ikut memberhentikan motornya di sebelah motor Raka. Lalu ke empatnya berjalan masuk bersamaan.
Tempat les mereka berupa gedung tiga lantai yang di cat ungu seluruh bagian luar gedung. Sedangkan, untuk bagian dalam dibiarkan putih bersih seperti di rumah sakit. Selama menunggu resepsionis yang sedang istirahat makan siang, Raka bercerita tentang tempat les ini.
Kata Raka setiap lantai terdapat tujuh kelas dan dua wc serta satu meja resepsionis dan lobi kecil. Lobi kecil digunakan untuk ruang tunggu tiap pergantian kelas. Lalu jadwal les tergantung pada berapa jumlah mata pelajaran yang diambil dan satu hari satu mata pelajaran.Setelah sibuk mendengar cerita Raka dan melakukan sesi tanya jawab singkat, resepsionis sudah kembali dari istirahat makan siang. Ke empatnya serempak beranjak dari duduk dan mendekati meja reseosionis. Raka sebagai orang dalam yang sudah les di sini, menjadi yang pembicara Dina, Rara dan Kristi.
Lalu, mereka bertiga diberi lembar pendaftaran dan dibolehkan untuk membawanya kembali esok hari beserta uang pendaftaran. Karena hari ini Raka ada jadwal les, cowok itu pun berpamitan dan berlalu menuju lantai dua. Bersamaan dengan itu seorang gadis lewat di depan mereka bertiga. Dia melirik ke arah Dina dan menatap Dina cukup lama, membuat Kristi dan Rara yang melihatnya gemas ingin mencolok mata gadis itu. Dina yang dilirik tak sadar karena gadis itu masih melihat punggung Raka yang baru hilang di belokan pada ujung lorong.
"Itu cewek yang semalem," bisik Kristi pada Rara.
"Kayaknya dia tau sama Dina deh cara liatnya ke Dina udah kayak mau ngajak perang. Untung Dina gak sadar." Rara balas berbisik.
"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Dina yang sudah mengalihkan atensinya pada Kristi dan Rara.
Keduanya malah jadi kelabakan. Dan cepat-cepat Kristi bersuara, "Kita minum dulu yuk! Gue liat ada kafe di samping sini." Dan Dina pun hanya menurut saja diseret Kristi ke kafe tepat di samping gedung les ini.
**
Di tengah terik matahari yang menyengat, Amal dan teman-temannya asik mengoper bola. Setelah tadi diajari trik baru oleh Bapak pelatih, tim sepak bola pun segera mencobanya di latihan rutin siang ini. Meskipun panas menyengat, tim sepak bola tak patah semangat. Sekitar satu jam kemudian, Bapak pelatih menyuruh tim untuk berhenti dan berkumpul di tengah lapangan. Serta memberi amanat dan nasihat seperti biasanya, lalu latihan pun diakhiri.
"Gilaa! Pas lari-lari tadi gak kerasa panasnya di kepala gue, baru pas berdiri dengerin Bapak pelatih, kepala gue rasanya kebakar," ujar Dion salah satu teman Amal yang segera berteduh ke pinggir lapangan serta menyiramkan air dalam botol mineral ke kepalanya.
Seperti adegan cowok-cowok ganteng yang selesai berolahraga lalu menyiram kepalanya dengan air sembari mengibas-ngibaskan rambutnya lalu menyugar rambut ke belakang. Namun, Dion tidak masuk dalam tipikal cowok-cowok ganteng seperti di drama romantis. Hanya saja yang barusan cowok itu lakukan memang sering ada di adegan drama romantis.
Sedangkan Amal segera duduk dan bersandar di batang pohon. Ia telah menghabiskan sebotol air mineral. Ia lebih suka menghidrasi bagian dalam tubuhnya daripada bagian luar. Toh, kalau di dalam sudah terhidrasi bagian luar juga akan mengikuti.
"Tumben gak ada Kristi? Lagi marahan ya?" Dion iseng bertanya, cowok itu sudah duduk di sebelah Amal dengan ujung-ujung rambut yang basah.
"Marahan apaan! Orang lain ngira gue pacar Kristi kalau lo ngomong gitu."
Dion hanya tergelak. "Soalnya gak biasa aja lo sendiri gak ada Kristi. Kan kalian kemana-mana selalu berdua."
"Dia pergi daftar les."
"Les? Rajin amat."
"Iya. Gak kayak lo!"
"Ck. Ngaca! Lo juga."
Keduanya pun tergelak.
"Udah ah, gue mau balik. Laper." Amal lalu bangkit dari duduknya dan mulai menggoes sepedanya.
Seperti biasa setelah dari lapangan, Amal selalu lewat gerbang belakang. Karna lebih dekat. Hari ini pun, Amal juga lewat gerbang belakang.
"Kris, tutup gerbangnya. Eh, kok Kristi. Udah jelas dia gak ada." Amal nyengir sendiri, lalu ia turun dari sepedanya dan menutup gerbang.
"Bener kata Dion. Gue kemana-mana selalu bareng Kristi. Sampai dia gak ada aja, gue malah ngerasa dia selalu ada deket gue." Amal bergumam sendiri seraya mulai menggoes sepedanya.
Beberapa meter di depan, di trotoar yang dilindungi rindangnya pepohonan. Fina duduk sendirian di bangku kayu yang biasanya menjadi tempat mangkal bakso keliling tiap malam sembari menundukkan kepala.
Amal pun berhenti. "Kenapa di sini?" Amal turun lalu bertanya tanpa basa basi.
"Eh? Oh? Hah? Bang Amal?" Fina terkejut bukan main. Gadis itu bahkan beringsut mundur dari duduknya dan hampir saja terjengkang jika ia tak refleks maju lagi ke depan, karna bangku kayu itu tidak ada sandaran.
"Apaan sih! Kayak abis liat setan aja."
Fina pun nyengir. Ia jadi salah tingkah.
"Kenapa duduk di sini? Biasanya lo nungguin Bang Rafdan di gedung olahraga kan?"
"Biasanya iya. Sekarang gak dibolehin Bang Rafdan nunggu di sana."
"Oh. Pantesan. Abang lo emang pendendam banget ya." Amal terkekeh sebentar. Ia sudah tau soal Fikri yang menyatakan perasaan pada Fina, padahal hari itu rencananya Fikri hendak menembak Kristi. Namun, untung saja karna Amal berhasil membawa Kristi pergi ke waterboom, Kristi pun terselamatkan. Meski, gantinya malah Fina. Amal ingat, Bang Rafdan ngamuk-ngamuk saat cowok itu menceritakan semuanya pada Amal.
"Hehe." Fina hanya memberi kekehan garing saja. Ia jadi gugup serta kikuk duduk bersebelahan Dengan Amal seperti ini. "Oh iya Bang, soal coklat waktu itu, lo masih marah?"
"Coklat? Gue udah lupa malahan."
Jadi, sebenarnya Fina dan Amal sudah saling kenal sejak Amal mengenal Rafdan. Karena Amal sering pergi main ke rumah Rafdan, dari sanalah perasaan Fina timbul.
"Oh gitu ya." Fina menanggapinya dengan tertawa, padahal dalam hatinya ia ingin berteriak kencang dan sekalian memukul Amal saking sebalnya. Padahal, butuh persiapan yang lama untuk memberanikan diri memberi Amal coklat secara langsung seperti waktu itu. Tapi, Amal malah sudah melupakannya. Fina jadi tertampar kenyataan untuk yang kesekian kalinya lagi. Amal memang bukan untuknya.
"Kenapa lo nunggu di sini? Nunggu di dalem aja. Di kelas kek, di pos satpam kek."
"Ck. Males. Disini adem. Gak ada orang."
"Karena gak ada orang bukannya malah aman tapi bahaya. Mana tau ada orang jahat yang mau nyulik lo?"
"Ciee khawatir gue diculik ya?"
"Bodolah!" Amal pun beranjak dari duduknya. Seketika ia ingat pada salah satu pemain bola sekolah sebelah yang melawan timnya saat pertandingan persahabatan bulan lalu. "Oh, iya. Lo kenal anak sekolah sebelah?"
"Yang mana? Banyak temen gue anak sana soalnya."
"Yang cowok."
"Masalahnya ya Bang, temen gue di sana tuh cowok semua."
"Astaga. Susah ya nanya sama lo. Udahlah gue mau balik."
"Oh, oke."
Amal sudah siap untuk menggoes sepedanya. Tapi, ia tahan dan kembali menoleh pada Fina. "Gue sebagai temennya Bang Rafdan gak mau lo kenapa-napa di sini sendirian, mending lo masuk deh."
Fina tertawa kecil. "Iya iya bawel lo Bang! Udah sana!"
Setelahnya Amal pun benar-benar pergi dengan sepedanya. Bersamaan dengan itu sepeda motor matic berhenti di depan Fina. Pengemudi sepeda motor itu, membuka helmnya lalu menyapa Fina. "Halo Fin, apa kabar?"
"Loh, Rendra?"
**
Sebelum Amal keluar dari gerbang belakang, Rendra si nomor punggung 23 tim sepak bola sekolah sebelah yang menjadi lawan tanding tim sepak bola Amal sedang duduk-duduk di luar warnet yang tak jauh dari tempat Fina duduk.
Karna sekolah Rendra tepat di belakang warnet yang ia kunjungi hari ini untuk memprint gambar dari internet sebagai tugas makalah, tak sengaja Rendran melihat Fina yang sedang duduk seorang diri.
Niatnya sih ingin menghampiri Fina, namun selang ia menyimpan hasil printnannya ke dalam jok motor, Amal sudah duduk di samping Fina.
"Itu yang namanya gak kenal sama Fina? Bacot lo gede ya Mal." Rendra mendumel sendiri, ia teringat ketika pertandingan persahabatan waktu itu. Untungnya, Amal hanya sebentar saja di sana. Rendra pun lalu melajukan motornya ke arah Fina.
"Ngapain lo di sini sendirian?"
"Nungguin Abang. Lo abis dari mana?"
"Dari warnet situ tuh, abis ngeprint. Tugas biasa."
"Wah, sampai sekarang gue masih gak nyangka muka preman kayak lo ini mikirin tugas juga."
"Makanya jangan liat covernya doang." Rendra cemberut. Melihat itu membuat Fina gemas sendiri.
"Gimana sekolah lo? Seru?"
"Seru. Lo gimana?"
"Gak seru!! Gue malah ditembak orang gak jelas yang main asal tembak aja!"
"Waduhh siall banget lo Fin!"
"Apa lo bilang?" Fina pun beranjak dari duduknya untuk menarik pipi Rendra. Si empunya pipi hanya bisa meringis seraya mengusap-usap bekas merah di pipinya.
"Loh Fina? Ngapain di sini? Lagi pacaran ya?" Tiba-tiba saja, Fikri muncul dan sudah berdiri tak jauh dari Fina dan Rendra.
Fina berdecak pelan. Raut mukanya langsung berubah. "Kalo iya kenapa? Ada urusan apa lagi Kakak sama aku?"
"Galak banget sih," ucap Fikri sembari terkekeh. Lalu cowok itu pun berlalu menyebrang jalan menuju fotocopy-an yang merupakan rumahnya.
"Jadi, itu cowok yang nembak lo?"
Fina mendesis gemas, dan mengangguk yang kontan membuat Rendra tergelak puas. Dan berujar. "Sumpah Fin, lo apes banget!"
**