Kirana muntab. “Dan kamu pikir kamu udah sangat memikirkan gimana perasaanku? Jaga bicaramu, Willy Kuncoro! Dia bukan pengamen, tapi musisi!” “Persetan dengan apalah itu sebutannya. Tapi yang jelas aku masih suamimu, Rana. Apa kamu sengaja berniat mempermalukan aku di hadapan seluruh pegawai Tuesday Café, huh?” “Apa?” dengkus Kirana. Habis sudah kesabarannya. Kirana benar-benar sudah lelah dan malam ini Willy sama sekali tidak membantu Kirana untuk sekadar mengurangi rasa capai yang dia derita. Willy justru menambah beban dalam benaknya. Kirana duduk di sisi ranjang dengan perasaan yang kian hancur. Tetes air mata jatuh menuruni gaun malam warna hitam yang membungkus tubuh ramping itu. “Suami, katamu? Kamu bahkan nggak ada, Wil, saat aku melahirkan Kima! Dan kamu masih berani menyebut

