Author Pov.
Cheril melangkah dengan pasti menuju Gedung fakultas bisnis, banyak orang memandangnya, memang selama Cheril kuliah disini entah kenapa dia menjadi pusat perhatian, padahal dia merasa tidak begitu cantik, kenapa orang orang memandanginya, atau ada yang aneh dengan pakaiannya?.
“Cherilll…” Cheril menoleh ketika namanya di panggil. Anggika, perempuan itu menghampiri Cheril dengan langkah tergesa gesa.
“Apa apa?.” Tanya Cheril.
“Lo tau enggak, malam minggu kemarin, gue hang out sama Elthan dia bawa cewek baru, gila enggak sih, dia salah satu model di agensi ternama, lo pasti sakit hati banget di campakin Elthan.” Cerita Anggika, mereka sambil berjalan ke lantai dua, karena kelas mereka pagi ini di lantai dua.
“Enggak juga, berarti dia emang main main sama gue, kalau dia emang beneran suka sama gue baru di tolak satu kali pasti belum nyerah dong?.” Benar juga apa kata Cheril, kalau memang Elthan suka sama dia pastinya dia akan mengejar Cheril walau di tolak berkali kali, tapi ini baru di tolak satu kali aja udah nyari gantinya.
“Cheril yang bener aja, secara Elthan itu anak orang kaya pewaris utama, mana mungkin dia akan mengerjar satu cewek berkali kali,” Balas Anggika.
“Ada saatnya dia akan mengerjar pasangannya berkali kali, bahkan mungkin dia akan mempertaruhkan hidupnya untuk wanitanya.” Balas Cheril sungguh misterius membuat Anggika bergelidik ngeri.
“Ahhh udah deh, mending ke kelas aja, enggak usah ngomongin Elthan lagi,” Anggika tentu saja mengalihkan pembicaraannya, kalau terus terusan ngomongin Elthan pasti banyak orang yang menguping lalu di sebarin, apa lagi saat ini di koridor banyak sekali mahasiswa lalu lalang.
***
Siang ini kampus Spindler University kedatangan tamu istimewa, siapa lagi kalau bukan Kezia Natarina pemilik kampus ini, bahkan tujuannya bukan ruangannya di Gedung khusus Dosen dan karyawan, melainkan di fakultas bisnis, hal ini langsung membuat sebagian bahkan hampir semua mahasiswa heboh sendiri, terkecuali Cheril, dia tentu sedang asik di perpustakaan, tadi Anggika mengajaknya makan siang namun dia menolak, Cheril tadi sudah makan sebelum kuliah jadi dia masih cukup kenyang.
Kezia berjalan jalan di temani beberapa Dosen fakultas bisnis, sebenarnya Kezia tidak ada maksud apa apa kecuali dia ingin melihat siapa perempuan yang berhasil menolak anaknya.
Kezia juga mengelilingi kantin, dia melihat anaknya Elthan sedang duduk bersama teman temannya dan juga dua perempuan, satu Anggika dia sudah kenal, sedangkan yang satunya Kezia enggak tau mungkin nanti dia akan mencari tau, sepertinya cewek itu tidak ada disini.
Tempat terakhir yang Kezia kunjungi adalah perpustakaan, di siang begini cukup lenggang, bahkan hanya ada satu dua mahasiswa sedang membaca buku, atau hanya sekedar duduk duduk saja.
Dari semua wanita disini tidak ada yang cukup menarik perhatian Elthan, Kezia sebagai ibu dari Elthan tentu tau bagaimana kriteria wanita yang di incar anaknya, tapi tunggu, disana di dekat jendela, Kezia menemukannya.
Kezia mengambil tempat duduk didepan perempuan muda yang sibuk menulis bahkan dia tidak menyadari jika Kezia duduk di depannya, jika saja tidak ada deheman dari salah satu Dosen mungkin Cheril tidak akan mendongak.
Baik Kezia dan Cheril sama sama kaget, Cheril kaget melihat Keiza duduk di hadapannya sedangkan Keiza kaget melihat Cheril di perpustakaan.
“Selamat siang Nyonya Kezia.” Sapa Cheril terlebih dulu, beruntung dia bisa mengendalikan diri dengan cepat.
“Selamat siang anak muda, Siapa nama kamu?, Sedang membaca buku?,” Tanya Kezia ramah.
“Saya Cheril, iya sedang membaca buku,” Jawab Cheril.
“Buku tentang apa kalau boleh saya tau?,” Tanya Kezia lagi.
“Ini buku tentang bisnis di era digital, dengan skala internasional.” Jawab Cheril takut takut, dia keceplosan memanggil Kezia tante bisa berabe.
“Ohhh,,, apa anda mahasiswa baru disini? Semester berapa? .” Tanya Kezia lagi.
“Iya, saya pindahan dari Queen’s University Of Business Kingston, saya di semester tiga.” Dalam hati Cheril dia menyumpah serapahi Kezia, padahal Kezia sendiri sudah tau jika Cheril pindahan dari Kanada kenapa harus di perjelas sih.
“Emmm.. kalau begitu selamat belajar, maaf saya menggaggu waktu belajar anda,” Cheril hanya mengangguk, bersyukur Kezia cepat pergi dari sini, jika tidak mungkin Cheril yang pergi melarikan diri dari Kezia.
Berita tentang Kezia yang duduk di perpustakaan sedang berbicara dengan Cheril langsung menyebar, bahkan Elthan dan Ethaan pun sama sama mendengar berita itu, namun Ethaan tidak bisa menemui Cheril segera dia sedang kuliah mungkin hingga jam tiga, sementara Elthan dia segera bergegas ke perpustakaan, entah apa yang dilakukan Mommya di fakultas bisnis, tapi kenapa bisa bersama Cheril, Elthan tidak ingin Cheril kenapa kenapa apa lagi Mommynya itu mampu melakukan hal di luar dugaannya, Elthan tidak ingin Cheril celaka.
Elthan dan teman temannya sampai di perpustakaan namun Mommynya sudah tidak ada, dan Cheril dia sedang duduk di kursi dekat jendela.
“Cheril, kamu baik baik aja?,” Tanya Anggika.
“Gue enggak papa kok, emang kenapa?.,” Cheril heran dengan keberadaan Anggika, Bryan, Zio, Elthan dan satu cewek yang berdiri disamping Elthan,
“Tadi Tante Kezia, eehhh salah Ibu Kezia kenapa menghampiri lo?,” Tanya Anggika.
“Cuma tanya aja sih buku apa yang gue baca, terus tanya juga semester berapa, sama nama juga, udah habis itu pergi,” Jawab Cheril cuek, bahkan dia sudah fokus pada bukunya lagi,
“Seriusan Ibu Kezia hanya nanya begitu, enggak ada yang lo sembunyikan kan?,” Tanya Brian kali ini.
“Enggak lah, emang Cuma itu aja kok.” Jawab Cheril lagi. Mereka berempat menghela nafas lega, untung Kezia tidak melakukan hal hal yang aneh lagi.
Tapi Elthan masih penasaran apa yang membuat Mommynya datang ke kampus mendadak seperti ini, pasti ada yang di sembunyikan Mommynya, jangan sampai dia kecolongan lagi.
Kezia duduk di ruang kerjanya bersama Elthan, tadi Kezia sempat menghubungi Elthan agar menemuinya di ruang kerjanya.
“Apa yang Mommy inginkan?.” Tanya Elthan.
“Enggak ada, hanya mampir aja,” Jawab Kezia santai sambil menikmati ice chocolatenya, walau sudah tua Kezia masih aja doyan cholate.
“Mom jangan bercanda, Elthan enggak suka,” Balas Elthan.
“Mommy hanya lewat, sekaligus berkunjung, apa salahnya sih, awalnya Mommy ingin cari tau siapa wanita yang nolak kamu, tapi kamu udah punya gandengan baru jadi Mommy batalin deh,” Akhirnya Elthan tau juga maksud kedatangan Mommynya.
“Ups,, keceplosan deh,,,” Ucap Kezia.
“Udah mending Mommy pulang, Elthan juga mau pulang,” Kezia mengangguk.
“Boleh, tapi Mommy yang bawa mobil kamu,” Elthan seketika langsung geleng geleng kepala, dia tidak ingin Kezia mengemudikan mobilnya lagi, tau enggak sih kalian kalau dulu zaman Kezia masih muda dia suka balapan mobil dan itu sampai sekarang masih terjadi walau hanya mengendarai mobil di jalan raya dengan kecepatan diatas rata rata itu sudah membuat kedua anaknya dan suaminya jantungan.
“No Mom,, Elthan enggak mau di hukum Daddy lagi,” Elthan langsung menyembunyikan kunci mobilnya di saku celananya, jangan sampai Kezia mendapatkan kunci mobilnya.
“Yaudah Mommy bareng Ethaan aja,” Kezia masih santai, tohhh dia masih memiliki satu anak laki laki lagi.
“Ethaan masih ada kuliah sampai sore, belum lagi dia ke lab, Mommy yakin mau nungguin?,” Tanya Elthan lagi.
“Ada supir, Mommy bareng supir aja,” Kezia meninggalkan ruangannya, terlebih dulu dibandingkan Elthan yang masih duduk di sofa, Elthan ingin rebahan sebentar jika saja Kezia enggak masuk kedalam ruangannya lagi.
“Ayo pulang,,, Mommy lupa kalau udah nyuruh sopir pulang,” Ucap Kezia lesu.
Elthan segera bangkit dari duduknya, jangan sampai Mommynya marah lalu ngadu sama Xander, bisa di potong uang jajannya.
Kezia benar benar mengemudikan mobil Elthan, sementara Elthan hanya duduk manis disampingnya, awalnya Elthan ingin mengemudikan mobilnya, tapi Kezia merengek seperti anak kecil di parkiran, beruntung hanya satu dua orang lewat, Mommynya memang malu maluin, untung sayang, kalau enggak mungkin udah Elthan tinggal di parkiran.
***
Ethaan baru saja menyelesaikan tugas dari Dosennya, ini sudah jam empat sore, mau bertemu Cheril mungkin dia sudah di asrama, mending dia pulang kerumah saja, sambil mencari tau apa yang Mommynya lakukan di fakultas bisnis tadi siang, jangan sampai Mommynya membuat ulah lagi.
Ethaan sampai di rumahnya, dia melihat Daddynya sedang meminta dompet Elthan, ada apa lagi nih?.
“Ethaan, mana creditcard kamu, sama kunci mobil,” Nah apa lagi sekarang, batin Ethaan.
Ethaan menyerahkan kunci mobilnya, juga creditcard miliknya pada Xander, padahal dia sendiri enggak tau apa yang terjadi.
“Kenapa?.” Tanya Ethaan ketika Daddynya sudah pergi, kini mereka berdua sedang duduk di sofa ruang keluarga lantai satu mansion milik Xander.
“Mommy bikin ulah lagi, kamu tau tadi siang Mommy mengendarai mobil aku, terus di jalan ketemu Daddy, tentu saja Mommy bilang kalau aku membolehkan Mommy mengemudikan mobilnya padahal aku sudah melarangnya berkali kali, tapi aku juga malu melihat Mommy merengek kaya anak kecil di parkiran, jadi aku kasih deh, enggak taunya ketemu Daddy.”Ethaan hanya menghela nafas, memang nasib mereka seperti ini, kalau satu berbuat salah maka satunya ikut menanggung, agar mereka bisa saling merasakan yang namanya kebersamaan, itu yang di bilang Kezia waktu mereka kecil.