"Ayah kalian mencoba mencuri tanahku," ucap Qing Lang, suaranya berat dan kejam. "Maka malam ini, tubuh kalian yang akan membayar upeti itu."
Qing melangkah mendekati putri Menteri Kebudayaan, seorang gadis perawan yang terus menangis memohon ampun. Tanpa peringatan, tangan kekar kaisar mencengkeram wajahnya dan melayangkan tamparan keras berkali-kali. PLAK! PLAK! PLAK! Sudut bibir gadis itu pecah, dan pipinya yang mulus seketika memar kebiruan. Kepalanya pening di bawah dominasi brutal.
Belum sempat gadis pertama pulih dari rasa sakit, Kaisar Qing berbalik ke arah putri Menteri Pertanian yang tergantung lemas. Dengan tatapan sadis yang meluap, jemari kasar Qing mencengkeram kedua p*ting payud*ra gadis bangsawan itu dengan tenaga dalam murni yang menghancurkan. Sambil menariknya dengan putaran gila penuh kebencian, KRETEK! CRASH! Jeritan histeris yang memekakkan telinga menggema saat kedua p*ting dada gadis itu terputus dari dagingnya, menyemburkan darah segar yang mengalir deras membasahi perutnya.
Kaisar Qing tertawa puas melihat genangan darah tersebut. Gairah brutalnya kian memuncak. Ia beralih ke putri Menteri Pertahanan, yang tubuhnya paling ranum namun paling ketakutan.
"Kau ingin tahu bagaimana rasanya dihancurkan dari dalam, seperti yang ayahmu coba lakukan pada kekaisaranku?" desis Qing.
Gadis itu menggeleng histeris, namun Qing langsung memaksa kedua paha perawan itu terbuka lebar.
"Naira, ini tidak seperti yang kau pikirkan," Adrian buru-buru bangkit dari kursinya, namun Naira sudah mundur beberapa langkah, matanya berkaca-kaca menahan air mata kekecewaan yang mendalam.
"Saya bangun karena kedinginan, mencari Anda ke mana-mana," suara Naira bergetar, "dan saya menemukan Anda di sini, berduaan dengan Karin, di malam ketika ayah saya sedang kritis?"
"Naira, dengarkan aku dulu," Adrian melangkah mendekat, namun Naira semakin mundur.
Richard mengacak-acak rambutnya. Ia frustasi. Pikiran kotor tentang karyawan Divisi Pemasaran itu terus saja menghinggapi. Tubuh polos wanita itu begitu indah. Kulit putih bersih tanpa cela,payudara besar dengan puting pink kecoklatan, pinggang ramping dengan garis lembut di bagian selakangan,serta pantat mulus tanpa noda yang begitu padat. Semua keajaiban itu terekam jelas dalam ingatan Richard,meskipun ia melihatnya tak terlalu lama dalam ketidaksengajaan. Lelaki normal mana yang tak ingin merengkuh tubuh seindah itu? Baru kali ini Richard merasakan ketertarikan hebat pada lawan jenis. Padahal semua orang tahu,pria berusia awal tiga puluhan tersebut gila kerja. Ia tak peduli apapun,termasuk pada wanita.