bc

Denting Hujan di Antara Kita

book_age4+
2
FOLLOW
1K
READ
family
HE
second chance
kickass heroine
doctor
drama
sweet
bxg
lighthearted
campus
city
actor
like
intro-logo
Blurb

Shen Li kembali ke Lincheng, tapi takdir belum selesai dengannya. Di rumah sakit, ia bertemu lagi dengan Xuan Zhan. Pria yang dulu menghancurkan hatinya. Dingin, nyaris tak tersentuh, tapi tatapannya menyimpan rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Antara luka lama dan kerinduan yang tak terucap, Shen Li harus memilih: menjauh untuk melindungi diri atau menghadapi rasa yang sama kuatnya dengan sakit yang pernah ia alami.

chap-preview
Free preview
1– Pulang ke Kota Hujan
"Kadang, pulang bukan tentang tempat. Tapi tentang keberanian untuk menatap luka yang belum kering." --- Langit sore berwarna kelabu, tapi tak lama hujan tipis turun perlahan. Tiap tetesan bagai gema kenangan yang lama tertahan, samar, tapi sulit untuk dihapuskan. Shen Li terdiam, menatap titik-titik air di kaca, pikirannya mengembara diselingi kegelisahan yang mulai merayap masuk. Kereta berhenti di stasiun kecil yang begitu akrab sekaligus asing. Enam tahun bukan waktu yang sebentar, cukup lama untuk membuat perubahan, tapi tidak untuk mengaburkan sisa kenangan disetiap sudut kota. Shen Li turun bersama penumpang lain, tidak ada yang mengenali sosoknya dibalik masker hitam dan topi putih. Bahwasannya penyanyi kegemaran mereka hadir di antara kerumunan awam. Jauh dari hingar-bingar konser, Shen Li menarik koper kecil bergerak meninggalkan stasiun seorang diri. Aroma tanah basah seketika menyerbu, hangat dan menyengat, seperti menyentuh kembali kenangan. Udara kampung halamannya masih sama seperti dulu, sedikit lembap dengan aroma bunga kamboja dari halaman rumah-rumah tua. Dadanya terasa sesak. Suasana yang dulu membuatnya ingin pergi kini menegaskan satu hal, ia tak bisa selamanya lari. --- Di ujung jalan, rumah itu masih sama. Berdiri kokoh meski termakan usia. Pagar putih mulai mengelupas catnya, bunga melati di sudut halaman, dan suara lonceng angin bergetar lembut tertiup angin sore. Di balik jendela, tirai tipis bergerak perlahan. Rumah ibunya. Shen Li menatap lama. Ada rasa takut aneh di dadanya, bukan takut tidak diterima, hanya saja ia tak tahu harus bersikap di depan ibunya. Menarik napas panjang, Shen Li mulai menekan bel perlahan. Tidak ada jawaban. Sunyi, tidak ada tanda-tanda seseorang akan mendekat. Sekali lagi, dan masih tidak ada. Shen Li ragu dan mulai memikirkan ulang. Apakah rencananya ini akan gagal di awal? Apakah semua perjalanan ini akan berakhir sia-sia? Sebelum pikirannya mengembara kian jauh suara langkah kaki menginterupsi. Tak lama pintu pun terbuka, wajah yang sudah lama tak ia lihat kini muncul di balik pintu. Nyonya Zhang Hua. Wanita paruh baya yang tampak lebih tua beberapa tahun dai usianya. Shen Li menatap gugup mata cekung ibunya, lingkar hitam menghiasi bawah mata, guratan lelah menggantikan senyum hangat yang dulu sering Shen Li lihat. Tatapan itu berhenti sejenak di wajah Shen Li, lalu beralih, seperti berusaha menghindar. “...Kau pulang juga akhirnya.” Suara nyonya Zhang terdengar datar, tapi terselip keragu-raguan. Seperti pintu yang setengah terbuka. “Ma,” ucap Shen Li pelan, menunduk sedikit. Ada hormat, rindu, dan penyesalan. Tapi ia menahan diri tidak ingin terburu-buru. Ibunya hanya mengangguk ringan, memberi izin. Tidak ada pelukan, tidak ada kata-kata hangat. Hanya keheningan yang tebal. Shen Li tidak terkejut, ia telah mengantisipasi hal sebelumnya. Kendati demikian, Shen Li tetap merasakan fluktuasi emosi dalam d**a yang kemudian naik ke kerongkongan. Ia melangkah masuk. Menghirup aroma rumahnya, tanah basah, kayu tua, bunga melati, dan beberapa aroma yang hanya dimiliki rumah orangtuanya. Semua hal itu memanggil kenangan yang telah lama terkubur. Ia tersadar, rumah ini masih tetap sama bahkan setelah sekian lama. Hanya dirinyalah yang telah berubah. Nyonya Zhang bergerak menuju dapur, mengeluarkan set teko teh tanpa berkata-kata. Shen Li diam-diam mengikuti. Tangan mereka berdua dekat, tapi tidak saling menyentuh. Suara sendok menabrak gelas terdengar lebih keras dari yang seharusnya. “Aku… pulang,” kata Shen Li, sedikit lebih tegas, mencoba menjembatani jarak itu. Ibunya hanya menoleh, menatap sekilas ke arah Shen Li, lalu kembali fokus ke teko teh. Tidak ada kata lain. Tapi tatapan itu, meski dingin, menyimpan perhatian yang tak terucap. --- Ketika tirai malam telah diturunkan, Shen Li duduk di kamar lamanya. Menatap lurus pada dinding dengan cat putih gading, lebih tepatnya pada deretan potret lamanya ketika di sekolah menengah, visinya bergeser pada gantungan not musik kecil di dekat jendela, masih sama. Shen Li bergerak menyentuh permukaannya yang mulai berdebu, membangkitkan memori yang hangat tapi pahit. Gantungan itu hadiah dari Xuan Zhan. Nama itu masih terasa asing, tapi akrab. Seolah baru kemarin ia mendengar suaranya memanggilnya lembut. “A Li, jangan jalan terlalu cepat.” Dan seolah baru kemarin juga, semuanya berakhir di bawah langit kelabu, dengan kata-kata yang tak sempat tersampaikan. Ia memejamkan mata, menghembuskan napas pelan. Suara hujan di luar jendela justru membuat kenangan itu semakin jelas. Lucu, pikirnya, bagaimana waktu bisa berjalan sejauh ini, tapi satu nama tetap membekas di d**a tanpa ampun. --- Pagi hari di rumah sakit Shen Li berdiri di depan kaca rias sederhana di ruang tunggu rumah sakit. Tanpa topeng, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Sorot mata lelah, tapi tetap tersenyum tipis. “Lili, kau yakin tak masalah tampil di sini?” tanya Han Yun Fei, manajernya, lembut. Shen Li menoleh, menanggapi dengan senyum hangat. “Tak apa, Jie jie. Aku hanya ingin cepat selesai. Tapi… terima kasih sudah ada di sini.” Ia merapikan rambut sedikit, menyesuaikan lengan jasnya. Profesional, tapi tidak dingin. Han Yun Fei mengangguk, menepuk bahu Shen Li ringan. “Kau selalu siap, Lili. Aku tahu itu. Hanya jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.” Shen Li tersenyum lagi, lebih tulus. “Aku tahu. Aku akan berusaha.” Saat manajernya pergi, Shen Li menatap cermin sekali lagi. Meski nantinya tertutup topeng, ia ingin setiap nada dan lirik yang dinyanyikan tetap tulus untuk dirinya, dan mereka yang selalu mendukungnya. Ruangan acara amal kecil itu hangat, penuh suara alat musik yang pelan, dan aroma antiseptik tebal. Shen Li melangkah masuk, mengenakan topengnya. Dunia di hadapannya kabur sebagian, sebagian lagi tertutup oleh kenangan. Ia duduk di depan mikrofon, lampu redup menyorot panggung kecil. Nada pertama Hujan di Pagi Hari mengalun pelan, lembut, dan menyayat hati. Setiap lirik seperti serpihan masa lalu yang tak pernah hilang. Tepuk tangan terdengar samar ketika lagu berakhir. Shen Li menunduk sopan, hendak turun. Tapi langkahnya terhenti. Seseorang masuk. Lelaki berjas putih, membawa map pasien. Ia berhenti di ambang pintu. Tatapannya terpaku. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti berputar. Tatapan mereka saling bertubrukan. Shen Li menunduk sedikit, berusaha menciptakan jarak. Tapi bahkan lewat topeng, Xuan Zhan mengenalinya sosoknya. Ia berjalan pelan, hati-hati, seolah takut mimpinya akan lenyap. “…A Li?” Suaranya hampir berbisik. Shen Li menggenggam mikrofon lebih erat. Jantungnya berdegup cepat. Bukan takut, tapi karena kenyataan waktu ternyata tidak mengubah segalanya. Ia menatapnya sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Maaf, Dokter. Anda salah orang.” Langkahnya tenang, tapi hatinya bergetar. Xuan Zhan terpaku, matanya mengikuti setiap gerakan. Suara itu, meski samar, terdengar familiar dan memanggil sesuatu yang logika tak bisa jelaskan. Kadang, kebenaran hanya butuh satu tatapan untuk mengingat segalanya. --- Hujan semalam menyisakan udara lembab di sekitar rumah sakit. Shen Li berjalan perlahan, menjaga napas dan detak jantungnya. Di sudut ruangan, Xuan Zhan masih berdiri, diam, tapi penuh makna. Tatapannya tidak pernah benar-benar pergi. Dari belakang panggung kecil, Han Yun Fei muncul dengan langkah ringan, senyum lembut menenangkan. “Lili, apa istirahatmu sudah cukup? Semua orang sudah menunggu.” Shen Li menoleh sebentar, menyesuaikan topeng, napas tetap teratur. Senyum tipis muncul sopan, tapi tegas. “Ya... aku akan segera kembali,” ucapnya pelan. Ia menepuk mikrofon sekali, memastikan instrumen siap. Manajernya mundur beberapa langkah, tatapannya tetap penuh perhatian. Ia tahu Shen Li memilih profesionalisme di atas segala hal, tapi matanya menyimpan kekhawatiran yang lembut. Shen Li mengangguk. Profesional, terkendali. Namun jarinya meremas kabel mikrofon, halus, gugup. Di ujung lorong, Xuan Zhan mencondongkan tubuh. Map bergeser di tangannya. Matanya mengikuti Shen Li, seakan takut kehilangan sosok itu sekali lagi. Shen Li menatap jendela berembun. Bayangan mereka memantul, dua hati yang saling mengenal, namun memilih diam. Ia menarik napas panjang, menegakkan bahu, lalu melangkah kembali ke panggung. --- Saat Shen Li menunduk pada mikrofon, hujan di luar mengetuk kaca, pelan, berirama, seperti memanggil sesuatu yang belum siap ia dengar. Di kejauhan, ia menangkap bayangan putih Xuan Zhan masih berdiri, tak bergerak, seolah menunggu keberanian dari masa lalu. Untuk sepersekian detik, Shen Li menoleh. Bukan untuk memandang, hanya memastikan dirinya masih mampu berjalan lurus. Tapi ia melihatnya, sepotong tatapan yang pernah ia kenal yang dulu membuat hatinya pulang tanpa ia sadari. Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan kembali menatap panggung yang harus ia hadapi. Namun di antara denting hujan dan lampu redup, satu kesadaran muncul pelan. Beberapa pertemuan tidak terjadi tanpa alasan. Dan meski ia ingin berpaling, hatinya tahu, ini bukan terakhir kalinya ia melihat Xuan Zhan. ---

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.9K
bc

Too Late for Regret

read
352.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
149.6K
bc

The Lost Pack

read
464.1K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook