Bentrokan di Bawah Cahaya
Udara di Museum Kesenian Ananta terasa tebal, dipenuhi debu halus yang menari-nari dalam berkas cahaya matahari yang menyelinap masuk dari jendela-jendela tinggi. Aroma kayu tua, pernis, dan sedikit bau cat minyak yang sudah berabad-abad menjadi ciri khas tempat ini. Bagi Aluna Paramita, ini adalah aroma dedikasi.
Aluna berdiri di tengah Ruang Utama, mengenakan blazer linen krem dan celana panjang hitam, siluetnya yang terstruktur tampak kontras dengan kekacauan terencana di sekitarnya. Tangan kanannya memegang scroll rencana cetak biru, tangan kirinya memegang tape measure yang baru saja ia gulung. Ia tidak datang ke sini untuk bernostalgia; ia datang untuk merevitalisasi.
Proyek renovasi Museum Ananta adalah kontrak paling bergengsi yang pernah ia dapatkan. Museum berusia seabad ini butuh napas baru—sistem pencahayaan modern, struktur yang diperkuat, dan tata ruang yang lebih dinamis. Aluna, arsitek muda yang sangat logis dan detail, adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Ia melihat bangunan sebagai masalah yang harus dipecahkan, bukan kuil yang harus dipuja.
"Kita perlu memulai pembongkaran non-struktural di sayap timur sesegera mungkin," ucap Aluna, tanpa menoleh, kepada mandor konstruksi di belakangnya. "Dinding yang memisahkan Galeri Barok dan Neoklasik akan dibongkar total untuk menciptakan ruang pameran terbuka. Kita harus..."
"Anda berencana untuk menghancurkan dinding pembatas itu?" Sebuah suara berat, dalam, dan asing memotongnya.
Aluna berbalik dengan gerakan cepat, raut wajahnya yang fokus berubah menjadi ketidaksenangan profesional. Di ambang pintu masuk utama, berdiri seorang pria.
Pria itu adalah antitesis sempurna dari lingkungannya. Bukan dalam arti dia tidak serasi, melainkan karena ia menyatu dengan terlalu sempurna, seperti patung kuno yang tiba-tiba hidup. Ia mengenakan kemeja katun gelap yang digulung lengannya hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat. Vest kulit yang dipakainya terasa kuno, tetapi bukan imitasi. Dikelilingi cahaya redup museum, ia tampak seperti bayangan yang baru saja melangkah keluar dari bingkai foto vintage.
Yang paling mencolok adalah matanya. Cokelat gelap, tajam, dan penuh intrik, mata itu menatap Aluna seolah ia baru saja merusak sebuah karya seni tak ternilai.
"Saya Aluna Paramita, Arsitek Kepala untuk proyek renovasi ini. Dan ya, dinding itu akan dihilangkan," jawab Aluna, nadanya dingin dan resmi.
Pria itu melangkah masuk, setiap langkahnya mengikis jarak di antara mereka. Ia tinggi—jauh lebih tinggi dari yang Aluna perkirakan—membuatnya harus sedikit mendongak. Di lehernya tergantung kamera Leica lama yang kulitnya telah usang, bukan aksesori, melainkan perpanjangan tangannya.
"Dan atas dasar wewenang apa Anda memutuskan untuk melenyapkan batas arsitektur yang telah berdiri selama seratus tahun?" tanya pria itu, tanpa basa-basi.
"Wewenang dari kontrak, Tuan," balas Aluna, tanpa gentar. Ia mengangkat scroll cetak biru di tangannya, seolah itu adalah perisai. "Rencana ini disetujui oleh yayasan dan direksi museum. Dinding itu adalah penambah ruangan belaka, bukan bagian struktural asli, dan menghalangi aliran ruang pameran. Kami menyebutnya 'revitalisasi'."
Pria itu tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang lebih menyerupai predator yang sedang menilai mangsa daripada ekspresi keramahan. Itu bukan senyum manis; itu adalah janji bahaya.
"Revitalisasi," ulangnya, kata itu terdengar seperti penghinaan di lidahnya. Ia mendekat satu langkah lagi. Kini, Aluna bisa mencium aroma rempah yang samar dari kulitnya, mungkin sisa perjalanan jauh. "Saya tidak ingat Direksi menyetujui penghancuran sejarah. Dan, saya harus memperkenalkan diri. Saya Ravian Ananta."
Nama itu menghantam Aluna seperti pukulan tak terduga. Ravian Ananta. Pewaris, sang fotografer, pengembara yang baru kembali, dan—yang paling penting—pemilik museum ini.
Aluna menarik napas, mengatur ulang pertahanannya. Ia tahu Ravian baru saja mengambil alih museum dari pamannya, tetapi ia berasumsi Ravian hanyalah nama yang disematkan pada dokumen. Ia tidak menyangka ia akan menjadi tembok penghalang di hari pertamanya.
"Tuan Ananta," Aluna mengangguk singkat. "Selamat datang kembali. Semua kontrak saya ditandatangani dan disahkan dengan persetujuan penuh dari yayasan sebelum Anda mengambil alih. Museum ini butuh fungsi, bukan sekadar relik yang dipajang."
"Museum ini adalah memori, Nona Paramita. Dan memori tidak membutuhkan sentuhan dingin modernitas Anda," balas Ravian, suaranya kini melunak sedikit, tetapi intensitas matanya tidak berkurang. Ia menggeser fokusnya, bukan lagi ke matanya, tetapi ke bibir Aluna selama sepersekian detik, sebelum kembali lagi ke matanya. Pergeseran singkat itu menciptakan denyutan aneh di perut Aluna.
"Biar saya tunjukkan sesuatu," Ravian berbisik, lalu berbalik, berjalan menuju sebuah panel kayu tua yang tersembunyi di sudut gelap. Aluna, didorong oleh rasa ingin tahu profesional, mengikutinya.
Ravian menyentuh panel itu dengan kelembutan yang kontras dengan sikap kasarnya tadi. "Dinding ini dibangun oleh kakek buyut saya. Setiap retakan, setiap noda pernis, menceritakan kisah. Jika Anda membongkarnya, Anda tidak hanya membuka ruang pameran. Anda merobek kanvas waktu."
Aluna melihat ke panel itu, lalu ke wajah Ravian. Di bawah cahaya yang kusam, garis rahangnya tampak tajam, dan ada sedikit guratan kelelahan di bawah matanya, menjadikannya tampak semakin memesona dan sulit dijangkau. Pria ini bukan hanya menentang renovasi; ia sedang berduka.
"Saya menghargai sentimen Anda, Tuan Ananta," ujar Aluna, berusaha menjaga suaranya tetap profesional dan stabil, meskipun ia merasakan kedekatan Ravian yang mulai mengganggu ketenangannya. Ia melipat lengannya, menciptakan jarak psikologis. "Namun, saya tidak dibayar untuk menjaga sentimen. Saya dibayar untuk memastikan warisan ini bertahan seratus tahun lagi."
Ravian memutar tubuhnya sepenuhnya, kini berjarak hanya beberapa inci dari Aluna. Gairah yang ia bicarakan mengenai bangunan itu seakan meluap dan terfokus sepenuhnya pada Aluna.
"Dan saya dibayar untuk menghentikan tangan dingin arsitek modernis yang berpikir bahwa cahaya neon lebih berharga daripada cahaya alami yang telah menyentuh lukisan-lukisan ini selama puluhan tahun," balasnya, suaranya begitu rendah sehingga Aluna harus sedikit memajukan kepalanya untuk mendengarnya.
Mata mereka terkunci. Biru-kelabu Aluna, yang biasanya sekeras baja, kini bertemu dengan cokelat gelap Ravian yang berkilauan seperti lava di bawah bayangan. Ini bukan lagi perdebatan profesional. Ini adalah pertarungan kemauan. Atmosfer di sekitar mereka mulai menipis, memadat menjadi ketegangan murni.
Aluna merasakan panas menjalar di pipinya, percampuran antara amarah dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya—rasa penasaran yang intens terhadap pria arogan ini.
"Kalau begitu," kata Aluna, nadanya menantang, "mari kita lihat apakah Anda mampu menghentikan saya, Tuan Ananta. Karena saya tidak pernah gagal menyelesaikan proyek saya."
Ravian tersenyum sekali lagi. Kali ini, itu bukan senyum sinis. Itu adalah senyum gembira. Kegembiraan atas sebuah tantangan yang baru dimulai.
"Itu adalah janji yang menarik, Nona Paramita. Saya akan menikmati prosesnya," balas Ravian, lalu ia memajukan tangan kanannya yang besar, telapak tangannya sedikit kasar. "Selamat datang di medan perang, Aluna."
Aluna menggigit bibir bawahnya, kemudian menerima uluran tangan itu. Kontak mereka singkat, tetapi kejutan kecil dari sentuhan mereka—kerasnya telapak tangan Ravian dan kehangatan yang mengalir—cukup untuk membuat jantung Aluna tersentak. Itu adalah kontak pertama dan terakhir yang disengaja dalam pertemuan mereka, dan itu meninggalkan jejak yang tidak disukai Aluna.
Setelah melepaskan genggaman, Ravian hanya mengangguk, mengambil langkah mundur, dan kembali ke ambang pintu masuk, meninggalkan Aluna sendirian dengan cetak birunya, di tengah-tengah Ruang Utama yang kini terasa jauh lebih kecil dan panas.
Aluna menatap ke pintu masuk yang kini kosong. Ia bisa merasakan tatapan Ravian bahkan setelah ia menghilang.
Api dan Es. Dingin dan Gairah. Ia telah bertemu dengan rivalnya, dan ia tahu betul bahwa proyek ini akan menjadi jauh lebih sulit—dan jauh lebih menarik—daripada yang pernah ia bayangkan.