POV Nanda
Setelah semalaman berpikir akhirnya aku sudah mantap membuat keputusan, semoga saja keputusan ku benar. Aku tidak mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain.
Aku pun bergegas mandi dan bersiap menuju ke kampus.
Ketika melewati meja makan semua keluarga ku sudah duduk dimeja makan sambil menikmati sarapan mereka.
Aku baru ingat, hari ini ternyata ada pembayaran ekstra kukikuler, terpaksa aku harus ikut duduk bergabung dan meminta uang pada ibuku, padahal niatnya aku mau langsung pergi saja, malas rasanya berlama-lama ada diantara mereka, mereka sudah terlalu asing bagiku.
"Bu, Nanda mau minta uang 200.000 buat bayar iuran ekstra kulikuler." Kataku setelah duduk beberapa menit.
"Loh bukan nya kamu dapat beasiswa ? Kok harus bayar lagi ?" Tanyanya ibuku.
"Yang di cover beasiswa itu cuma uang iuran, kalau untuk kegiatan - kegiatan kampus yang lainnya nggak di cover." Jelasku.
"Kamu fokus belajar aja, nggak usah ikut kegiatan-kegiatan yang nggak bermanfaat, yang nggak ada hubungannya dengan kuliah kamu." Jawab ibuku lagi.
"Semua kegiatan ekstra kulikuler pasti ada manfaatnya bu." Jawab ku sedikit ketus
"Kamu nggak usah buang - buang uang untuk kegiatan -kegiatan yang nggak jelas, yang nggak ada hubungannya dengan pelajaran." Kata ibu sedikit membentak.
"Iya nak, kamu fokus saja belajar, nanti nilai kamu turun dan nggak dapat beasiswa lagi, terus ayah harus membayar uang kuliah kamu. Sambung ayahku.
Ya Allah sakitnya hati ini, segitu perhitungannya mereka terhadap ku, seandainya kami berasal dari keluarga yg kekurangan aku akan maklum. Tapi kenyataannya kami berasal dari keluarga yang bisa dibilang menengah keatas. Ayahku seorang pengusaha mebel dan Ibuku seorang Manager di perusahaan besar, menguliahkan 10 orang pun uang mereka nggak akan habis.
Tapi mengapa mereka begitu perhitungan padaku ? seolah takut uang nya akan habis kalau membiayai kuliahku.
"Ayah, ibu aku hanya meminta uang 200.000 buka 200 juta, mengapa susah sekali bagi kalian memgeluarkan uang untuk ku ? Sedangkan untuk dia (sambil menunjuk adikku) kalian begitu royal." Jawab ku emosi.
"Bukan seperti i..." belum selesai ibu bicara aku langsung memotong pembicaraannya.
"Aku sudah telat, aku mau pergi dulu, Assalamu'alaikum". Kata ku sambil berdiri dari kursi dan berjalan keluar.
Aku mengendarai motor ku sambil menangis, untung saja kaca helm ku lumayan gelap, jadi tak ada orang yang tahu kalau aku lagi menangis.
Aku kembali mengingat semua perlakuan orang tua ku. Disaat adikku dibelikan telepon pintar dengan logo apel sepotong yang mempunyai kamera tiga boba yang harganya 20 jutaan, aku cuma dibelikan telepon pintar android yang harga 2 jutaan dengan alasan uang mereka tidak cukup untuk membeli dua telepon pintar yang sama. Lagi-lagi aku disuruh mengalah karena katanya aku kakak jadi aku harus mengalah sama adikku. Sungguh alasan yang penuh kebohongan untuk menutupi ketidak adilannya padaku. Padahal walaupun mereka beli 100 unit sekalipun tabungan mereka nggak akan habis.
Sejak aku kuliah pun aku harus mengendarai motor butut untuk ke kampus, sedangkan adikku diantar oleh sopir dengan mobil mewah. Alasan nya karena kampus ku jauh, padahal hanya berjarak kurang lebih 2 KM dari sekolah Ninda adikku.
Tak terasa motor ku sudah memasuki gerbang kampus, setelah memarkirkan motor aku langsung menuju ke kelas, ternyata Whika sudah datang.
"Hey masih pagi matanya kok udah sembab gitu ? Kamu habis begadang atau habis nangis ?" Tanya Whika sambil menatap ku penuh selidik.
"Aku habis nangis, ada drama tadi sebelum aku ke kampus." Jawab ku jujur.
"Drama apa lagi ? Pasti orang tua kamu yah ?" Tanya nya lagi.
"Siapa lagi kalau bukan mereka, padahal aku cuma minta duit 200 ribu buat bayar iuran ekstara kulikuler, tapi mereka bilang aku nggak usah buang-buang duit untuk hal yang tidak penting" Jawabku lirih.
"Ya ampun segitunya yah orang tua kamu, padahl 10 kali lipat dari yang kamu minta pun pasti mereka mampu. Yah sudah nanti aku yang bayarin deh." Jawabnya prihatin.
"Nggak usah, nggak enak ngerepotin kamu terus." Kata ku merasa tak enak.
"Santai aja, Kayak sama siapa aja sih." Jawabnya lagi sambil menarik hidung ku.
Obrolan kami terhenti ketika Dosen memasuki kelas. Walaupun hati ku lagi galau aku tetap harus berkonsentrasi belajar, aku tidak mau urusan keluarga mempengaruhi nilai-nilaiku.
Tak terasa dua jam berlalu, jam istirahat pun tiba, aku memilih duduk di taman kampus saja, rasanya nggak ada selera untuk makan.
"Ke kantin yuk." Ajak Whika
"Kamu aja deh, aku males, nggak lapar juga, aku mau ke taman aja" Jawabku.
"Yah udah deh kita ke taman aja, sebenarnya aku juga belum lapar sih, tapi singgah ke kantin bentar yah buat beli minuman dan cemilan." Katanya lagi.
"Ok." Jawabku singkat.
"Jadi gimana Nan ? Kamu udah buat keputusan belum ?" Tanya Whika ketika kami sudah duduk di bangku taman.
"Gimana yah, awalnya aku udah yakin buat nolak 0m Reza, tapi gara-gara drama tadi pagi aku jadi berpikir, apa sebaiknya aku terima aja yah ? Biar 0m Reza bisa memenuhi kebutuhan aku, malas rasanya harus mengemis minta uang sama orang tua ku, itupun belum tentu dikasih." Jawab ku masih sedikit ragu-ragu.
"Terima aja, jalani aja dulu, kalau nanti ditengah jalan kamu nggak sreg, kamu minta putus aja, kan kalian baru pacaran, bukan menikah." Jawab Whika meyakinkanku.
"Yah sudah aku mau, terus bagaimana dengan 0m Reza ? Apa dia mau ? Secara aku anak dari temannya, aku juga nggak secantik kamu." Tanyaku
"Pasti mau lah, tunggu yah aku telepon kak Reza, kita janjian untuk ketemuan." Jawabnya penuh semangat.
Tak lama menunggu, sambungan telepon tersambung. Whika sengaja menloudspeaker teleponnya supaya aku juga bisa mendengarnya.
"Halo, iya Whika ada apa ?" Tanya 0m Reza ramah
"Kakak sibuk nggak ? Maaf mengganggu yah kak, Whika cuma mau ngajakin kakak buat ketemuan, kira-kira kakak punya waktu nggak ?" Tanya Whika
"Nggak apa-apa Whuka, kakak nggak sibuk kok, kalau sebentar sore bagaimana ? Kebetulan sebentar kakak ada meeting di Restaurant XY, dekat sama kampus kamu kan ?" Jawab 0m Reza
"Oh iya kak, kalau gitu di Cafe XY jam lim sore yah". Kata Whika, setelah 0m Reza mengiyakan, Whika lalau mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan telepon.
~~~~~~~~
Setelah jam mata kuliah terakhir selesai, kami pun bersiap-siap menuju Restaurant yang telah di tentukan oleh 0m Reza. Tak lupa kami memakai make up tipis-tipis dulu biar keliatan lebih segar dan cantik.
Perjalanan menju ke Restaurant XY memakan waktu 10 menit, bertepatan dengan kami tiba, meeting 0m Reza dengan clientnya pun sudah selesai.
0m Reza lalu mengajak kami duduk di ruang VVIP yang ia gunakan meeting tadi, tapi sebelumnya sudah bersihkan oleh salah satu petugas Resturant.