Aku sengaja keluar paling akhir. Agar Pak Raphael tidak menungguku. Biar dia kira, aku sudah pulang duluan. Aku sengaja keluar barengan sama office girl yang lain. Harusnya, jadwal pulangku sore tadi. Ini terpaksa setelah Isya' baru keluar. Bukan aku tak khawatir dengan keadaan Mas Ari, tetapi .... Saat aku masih tergelut dengan pikiran sendiri, dari belakang sana tampak sorot lampu mobil dan bunyi klakson. Aku langsung menduga kalau itu adalah Pak Raphael. Siapa lagi kalau bukan dia? "Rin!" Aku membalik badan. "Mas Ari?" Dia menghampiri. "Kamu sudah enakan, Mas?" Kulihat dia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sudah tampak rapi dengan jaket bombers hitam. Wajahnya juga tampak berwarna lagi. Tidak seperti kemarin malam saat demam di kontrakan. "Ayo, pulang! Mama sudah nunggu kamu.

