****
Kilau cahaya menyilaukan mata Wang Qi Qi, gadis yang tengah meringkuk di atas ranjang besar mencoba mengenyahkannya dengan menutupi wajahnya. Gadis itu meraba selimut, menutupi tubuhnya yang terasa sangat dingin dan beku. Sepertinya pagi sudah menyambutnya kali ini.
Sebuah tangan menghalangi matanya dari kilauan cahaya, tangan besar itu sangat pengertian padanya. Dalam sekejap ia kembali tertidur dengan nyaman. Entah sudah berapa lama hingga akhirnya Wang Qi Qi membuka matanya untuk segera bangun.
Mengerjapkan mata berkali-kali, Qi Qi berusaha mempertegas obyek yang tengah ia amati. Terkesiap saat ia melihat Lie Tang Shi tengah satu ranjang dengannya, wajah gadis itu memerah malu, "Kau-,"
"Rupanya Anda sudah bangun Yang Mulia," gumamnya pelan lalu beranjak bangun dan membungkuk hormat. Pria itu kembali pada penampilan semula, pria dengan surai kelam dan manik mata hitam yang mempesona.
Wang Qi Qi mengedarkan pandang, matanya membelalak ketika mengetahui fakta bahwa sekarang ia tengah berada di gedung Tingsong. Gedung yang diperuntukkan untuk sang Panglima, Lie Tang Shi. Sebelum gadis itu bertanya lebih jauh, ia kembali mengamati tubuhnya dengan wajah cemas. Sesaat ia bernapas lega, ia tidak menemukan dirinya dalam keadaan telanjang. Rupanya kekhawatiran sang Ratu dapat terbaca oleh Lie Tang Shi. "Anda aman Yang Mulia jadi Anda tidak perlu berpikir macam-macam pada hamba."
Wang Qi Qi mendengkus lalu turun dari ranjang, kakinya yang jenjang terjuntai ke tanah. Di sana, di samping ranjang Lie Tang Shi mengamatinya dengan begitu seksama. Melihat Wang Qi Qi kesulitan dalam merapikan rambut panjangnya yang hampir setumit, sebagai seorang pelayan Lie Tang Shi segera mendekat. Pria itu tanpa canggung meraih rambut Wang Qi Qi dan menyisirnya penuh kelembutan.
"Kau seorang panglima, tak sepantasnya kau menyentuh rambutku. Apakah kau tidak takut jika kehilangan wibawamu?!" ucap Wang Qi Qi pelan.
Lie Tang Shi berhenti menyisir rambut, ia lalu mendekatkan bibirnya di telinga Wang Qi Qi, "Jangan lupa, aku adalah suamimu."
Sekali lagi Wang Qi Qi terbungkam, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Gadis bermanik hitam itu merasa mual dengan pengakuan Lie Tang Shi. Tadi malam pria berparas tampan itu baru saja menyiksanya dan saat ini saat ia baru bangun ia kembali menyiksanya dengan menegaskan tanda kepemilikannya.
"Hamba akan merasa sangat berterimakasih jika Yang Mulia mau mengakui hamba sebagai pelayan Yang Mulia," imbuhnya dengan nada bangga lantas melanjutkan menyisir rambut Wang Qi Qi hati-hati.
Gadis bermanik hitam sama sekali tak menolak, ia membiarkan saja sang Panglima menyematkan jepit rambut di kepalanya dan merapikan pakaiannya yang lusuh sisa semalam.
"Sebaiknya Yang Mulia kembali beristirahat, lihatlah Anda terlihat sangat pucat. Biarlah Tabib memberikan obat stamina untuk Anda." Lie Tang Shi terdengar sangat perhatian.
"Aku harus kembali ke kediamanku," putus Wang Qi Qi pelan lalu beranjak berdiri dari ranjang. Gadis itu melangkah ke pintu, bersiap membuka pintu lebar-lebar. Namun sebelum sang Ratu melewati pintunya, Lie Tang Shi segera menangkap tubuh Wang Qi Qi yang mendadak ambruk ke lantai.
Meski kejadiannya sangat cepat, keduanya hanya tertegun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga akhirnya Lie Tang Shi meraih tubuh Wang Qi Qi dan menggendongnya. Tak peduli gunjingan di luar, sang Panglima terus menggendong gadis itu di depan dadanya. Melalui berbagai lorong dengan tenang dan mengenyahkan beberapa mata yang menatapnya penuh tanda kutip.
"Apakah ini baik untuk reputasiku?" gumam Wang Qi Qi pada dirinya sendiri.
Meski nyaris tak terdengar, Lie Tang Shi mampu merasakan kegudahan Wang Qi Qi setelah mendapati beberapa orang menatapnya dengan cara aneh. Lie Tang Shi tersenyum simpul dan terus menggendongnya hingga ke kediaman Lily Naga milik sang Ratu.
"Jangan cemaskan reputasi Anda Yang Mulia, hamba yang menjadikan Anda ratu maka hamba sendiri yang akan bekerja untuk Anda."
****
Ada hal aneh yang selalu ia rasakan ketika bersama Lie Tang Shi, pria bermanik dingin itu kendati menawarkan segala bentuk ketakutan dalam dirinya namun ia tidak menampik jika Lie Tang Shi-lah yang selalu membuatnya merasa aman dan terlindungi. Entah kenapa pria itu tidak henti-hentinya membuatnya muak sekaligus kagum karena kegigihannya.
Senja itu, Wang Qi Qi memperhatikan beberapa berkas laporan dengan ditemani secawan teh hijau di depannya. Ia terlalu bosan menjalani hidup yang seperti ini hampir setiap hari. Menoleh sejenak ke arah kolam, Wang Qi Qi kembali mengingat masa lalunya yang mustahil akan ia lupakan sampai sekarang.
Wang Luo Yun.
Ah, nama itu terlalu menyakitkan untuk ia ingat. Nama yang mengubah hidupnya 180° dari yang dahulu. Kenapa nama itu begitu menyakitkan di otak Wang Qi Qi?
Kenapa Lie Tang Shi justru memenjarakannya dan tidak menghukum mati?
Kepala Wang Qi Qi berdenyut, ia menyesap teh hijaunya sesaat lalu memejamkan matanya yang begitu lelah.
Empat tahun yang lalu......
"Wang Luo Yun, kau harus menerima keputusan Kaisar. Kau harus terima bahwa Wang Qi Qi adalah penerus tahta selanjutnya setelah sang Kaisar turun tahta," hibur Ibu selir sembari menepuk-nepuk bahu Wang Luo Yun agar bisa berlapang d**a.
Menggeram kesal, Wang Luo Yun mengibaskan tangan sang Ibunda lalu beranjak berdiri, "Sampai kapan pun aku tidak akan menerimanya, Ibu. Aku adalah putra pertama kaisar dari selir, Wang Qi Qi seorang perempuan, ia tidak pantas menjadi kaisar wanita."
"Tapi Wang Qi Qi lahir dari rahim ratu, kau tetap tak bisa menggoyahkan keputusan Kaisar."
"Bagaimanapun aku tetap tidak akan menerima Wang Qi Qi. Malam sebelum penobatannya, aku Wang Luo Yun bersumpah akan membunuhnya dan membantai siapa saja yang menghalangiku merebut tahta. Aku akan menghabisi seluruh klan Wang dan berdiri menjadi seorang kaisar untuk selamanya."
Sumpah sang Kakak pada Wang Qi Qi benar-benar terjadi. Malam itu malam yang dingin namun penuh kemeriahan karena esok hari adalah hari penobatan Wang Qi Qi menjadi ratu wanita pertama di Negeri Peng Lan. Semua kebahagiaan lenyap seketika saat Wang Luo Yun datang secara tiba-tiba membawa bala bantuan dan beberapa prajurit yang setia kepadanya. Malam yang harusnya indah berubah menjadi malam yang mencekam penuh darah dan tubuh terkoyak.
Wang Qi Qi gemetar bukan main tatkala kakaknya, Wang Luo Yun menebas kepala ibunya dan membantai ayahnya sendiri tepat di depan kedua bola matanya.
Ekspresi takut itu membuat Wang Luo Yun tak bisa berhenti tertawa, ia begitu menikmatinya hingga tak ada perasaan berdosa dari wajahnya yang tampan.
"Kemarilah Adikku yang manis, Kakak merindukanmu. Sudah lama kita tak berdekatan 'kan?" goda Wang Luo Yun seraya tersenyum melecehkan.
Wang Qi Qi mundur beberapa langkah, dirinya merasa jijik ketika melihat Wang Luo Yun bermandikan darah kedua orangtuanya. Merasa terancam, Wang Qi Qi meraih pedang yang tergantung di dinding kamarnya. Dengan gemetar jemari lentik itu mengarahkan pedang ke hadapan Wang Luo Yun. Pria itu kembali tertawa melihat ketakutan Wang Qi Qi.
"Adik yang manis, pedang tidak cocok untukmu. Kau lebih pantas menjadi wanita lemah, bagaimana kalau kau menjadi istriku saja dan melayani segala keperluanku? Aku rasa itu pilihan yang bagus daripada kau harus mati sia-sia seperti ratu dan kaisar," gumam Wang Luo Yun sembari mendekat.
"Kau gila, Kakak! Kau benar-benar gila. Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa?" tangis Wang Qi Qi terus berusaha waspada.
Tawa Wang Luo Yun menggelegar, "Karena aku ingin menjadi kaisar dan untuk mewujudkan keinginan itu aku harus menghancurkan semua klan Wang."
Tubuh Wang Qi Qi mendadak lemas, ia tidak menyangka dibalik sikap diam kakaknya begitu berambisi pada singgasana Kerajaan Peng Lan. Wang Qi Qi terkesiap tatkala Wang Luo Yun memukul tangannya hingga pedang itu terpental jatuh. "Kau benar-benar lemah Wang Qi Qi."
Gadis itu tak bisa melarikan diri tatkala dengan sigap Wang Luo Yun meraih tangannya dan menggenggamnya begitu erat. Bagai binatang sembelihan, Wang Qi Qi diseret dengan paksa dan kasar. Wang Qi Qi meronta, ia mencari senjata apa saja yang bisa ia gunakan untuk melukai sang Kakak. Belati, ia menemukan belati dan tanpa pikir panjang ia menggores tangan Wang Luo Yun. Pria itu melepaskannya, menggeram marah karena tangannya terluka.
Wang Luo Yun benar-benar murka, ia meraih wajah Wang Qi Qi dan menamparnya berkali-kali. Gadis itu tak berdaya ketika darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
"Kau memang pantas dibunuh, Wang Qi Qi. Tapi sebelum aku melakukannya, aku tidak akan melewatkan bunga mekar di depanku begitu saja," ungkapnya dengan nada murka.
Ketika ucapan itu jatuh, Wang Qi Qi seakan mau runtuh. Ia meronta sekuat tenaga ketika Wang Luo Yun berusaha untuk memperkosanya. Gadis itu dengan sisa-sisa tenaganya, menendang Wang Luo Yun dari hadapannya. Ia harus lari.
Wang Qi Qi yang polos terus berlari dengan tubuh babak belur, gadis itu menahan perih di tubuhnya akibat luka. Dalam pelariannya tak sedikit anak panah yang melesat mengenai punggung putihnya. Kakinya yang telanjang dengan pakaian hampir robek, Wang Qi Qi bertahan untuk tetap sadar meskipun darah menggenangi tubuhnya.
Satu lembar kain.
Hanya satu lembar kain yang masih menempel di tubuh sintal Wang Qi Qi.
Malam itu malam yang panjang dan gelap gulita. Kakinya yang putih jenjang harus rela dilumuri darah saudara-saudaranya. Tak kalah tragis, tubuh ayu itu terkoyak penuh dengan luka gores yang begitu berat.
Tubuh Wang Qi Qi seakan mati separuh, ia sama sekali tak bisa bergerak. Mengandalkan sisa tenaganya yang mungkin tidak ada separuh, ia merayap mencari dukungan sekitar.
"Kau memang keras kepala Wang Qi Qi," celetuk seseorang di hadapan Qi Qi yang tergeletak lemah dengan tubuh penuh darah.
Gadis itu berusaha membuka matanya yang kabur, ia menatap sosok itu dengan kosong. Malam ini mungkin hari terakhirnya tinggal di dunia jadi untuk apa ia harus berdebat tak berguna dengan pria tersebut.
"Jika kau mau kau bisa bekerjasama denganku, Wang Qi Qi," tawarnya lagi dengan santai.
"Aku tidak butuh penawaran apa pun. Siapapun kau, pergi dari hadapanku!" kata Qi Qi dengan suaranya yang lemah.
Gadis itu merayap, menyeret tubuhnya yang lemah untuk bersembunyi dari orang-orang yang ingin membantainya, membantai generasi terakhir keluarga Wang.
"Pikirkan sekali lagi, kau perlu menerima dan aku-, aku akan segera menyelesaikannya," iming pria itu tak kalah manis dari secawan madu.
Wang Qi Qi tak menjawab, ia justru muntah darah dan napasnya tercekat di tenggorokan. Jemarinya yang menggapai-gapai berhenti sejenak, sampai mati pun ia tidak akan meminta bantuan pada siapa pun apalagi pada pria yang tidak ia kenal dan tidak tahu darimana asalnya.
"Segera katakan keputusanmu, katakan ya dan aku akan menyelamatkanmu," desaknya mulai tak sabar.
"Sampai napasku berhenti aku tidak akan menerima bantuan siapa pun. Pergilah! Biarkan aku membusuk di sini," suara bebal itu terdengar tanpa rasa takut, meskipun begitu tak bisa dipungkiri bahwa airmata tetap keluar dari persembunyiannya.
Menghela napas, pria tak dikenal itu berbalik. Sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali bergumam, "Jika itu maumu aku tidak akan pernah menolongmu lagi."
Satu langkah, dua langkah.
Tak ada seruan minta tolong dari bibir Wang Qi Qi, gadis ini benar-benar ingin mati. Jengah karena diabaikan oleh gadis ini, sang Pria tak punya cara lain selain memaksanya.
Berbalik badan ia dengan cepat melangkah menuju ke arah Wang Qi Qi, berjongkok sebentar sebelum akhirnya ia mengeluarkan selembar kain dari dalam hanfunya.
Jemari kekarnya terulur meraih jemari lunglai gadis di hadapannya. Tanpa ragu ia meneteskan darah segar keturunan terakhir generasi Wang di atas kain. Sang Pria tersenyum, dengan puas ia menggulung kembali kain itu sambil berdiri, " Mulai detik ini aku akan melindungimu dan melayanimu."
Suara gaduh langkah para pembunuh terdengar mendekat, tanpa menoleh telinga pria itu sangat waspada. Dengan sekali kibas dan tanpa berbalik, pria tersebut menghantam balik musuh-musuh nona barunya.
Suara debaman terdengar begitu nyaring diikuti dengan teriakan para pembunuh yang melewati ajalnya begitu cepat.
Tersenyum tipis sang Pria kembali bergumam, "Akan kukembalikan setiap darah yang tercecer dari tubuhmu, akan kukembalikan setiap kekecewaan yang menguar dari jiwamu. Aku akan menjadi pelayanmu seumur hidupku dengan satu syarat, saat bulan purnama terakhir, saat itulah aku memegang kendali. Akan kubuat kau berada di bawahku, mengambil nyawamu dan membuatmu mengerti bahwa hidupmu jauh lebih buruk daripada kematian macam apa pun."
Lamunan masa silam terputus tatkala sebuah kecupan manis mendarat di salah satu pelupuk matanya yang terpejam, Wang Qi Qi segera membuka mata dan-,
Lie Tang Shi tersenyum, ia menipiskan jarak wajah mereka seraya mencondongkan badan. Wang Qi Qi tak berkedip, dengan mata phoenixnya gadis itu menembus mata Lie Tang Shi dalam-dalam.
" Tenanglah, ada aku di sini. Masa lalu tidaklah berdosa maka ampuni saja. Jangan khawatir, selama aku di sisimu biarkan pria ini yang akan menenangkanmu."
*****