Bab 7—Tamu Negeri Seberang

1708 Words
**** Masih belum bisa menguasai keadaan, Wang Qi Qi termangu akan adanya Lie Tang Shi di hadapannya. Darimana pria itu datang? Kenapa dunia ini sempit sekali? Setiap Qi Qi pergi ke suatu tempat, pria tersebut selalu bisa menemuinya. Senyum yang ia tawarkan tergolong mampu membius hati siapa saja yang melihat. Wang Qi Qi menundukkan kepala, ia tidak ingin terlena pada setiap tingkah polah sang Panglima. "Kenapa kau ada di sini? Aku tidak memanggilmu," ketus Wang Qi Qi berpura-pura menekuni beberapa laporan yang ada di hadapannya. "Hamba mohon pamit Yang Mulia," jawabnya tenang sambil menegakkan punggung kembali. Wang Qi Qi tak mengatakan apa pun, ia menatap kertas laporan dan terus berusaha membacanya. Gadis itu mengenyahkan keberadaan Li Tang Shi hingga sekian lama. "Ada pemberontakan di gunung Yang Dong, hamba harus segera menanganinya Yang Mulia," lapor Li Tang Shi seraya menatap wajah ratunya dengan seksama. Tak ada jawaban dari bibir tipis Wang Qi Qi, hal itu membuat Li Tang Shi kembali mengulang ucapannya, "Maka dari itu hamba pamit dan memohon ijin untuk membawa beberapa pasukan menuju ke Gunung Yang Dong." "Pergilah!" Akhirnya setelah menunggu hampir setengah hari, Li Tang Shi mendapatkan ijin dari ratu Peng Lan. Pria itu menunggunya dengan sabar, setelah mendengar jawaban ia segera membungkuk dan bergegas. Kenapa Wang Qi Qi tak segera memberinya jawaban? Kenapa juga ia terkesan mengulur-ulur waktu? Karena setiap jawaban Ya dari bibir Wang Qi Qi akan dinilai sebagai tugas dan setiap tugas yang berhasil dilakukan akan menghasilkan upah. Maka dari itu Wang Qi Qi malas untuk menjawabnya. Sebelum Li Tang Shi benar-benar pergi, dayang istana datang tergopoh-gopoh menghampirinya. Setelah membungkuk hormat, ia segera mengutarakan maksud kedatangannya. "Yang Mulia Tetua istana ingin bertemu dengan Anda." Wang Qi Qi menoleh, ia hanya mengangguk mempersilakan agar dayang segera membawa sang Tetua ke hadapannya. Tak lama kemudian orang yang dimaksud datang lantas menghormat. "Hidup Yang Mulia Ratu," sapanya dengan hormat. Wang Qi Qi mengangguk, ia menatap Tetua itu penuh rasa segan. "Tetua istana ada berita apa hingga kau datang menemuiku secara pribadi?" tanya Wang Qi Qi dengan rasa minat yang luar biasa. "Yang Mulia, hamba membawa selembar surat dari negeri seberang untuk Anda," jawab Tetua istana membungkuk lantas menyodorkan segulung kertas ke hadapan Wang Qi Qi. Gadis itu terdiam sejenak, mata phoenixnya melirik Li Tang Shi yang belum juga beranjak dari sampingnya. Mengalihkan tatapan, Wang Qi Qi meraih gulungan kertas itu dari tangan sang Tetua. Dengan hati-hati ia membukanya, membaca, dan mulai memahami isi suratnya. "Kang Wu Jie akan datang, Tetua. Aku harap istana bisa menyambutnya dengan suka cita," ungkap Wang Qi Qi seraya menggulung kembali kertas tersebut dan meletakkannya di atas meja. Sang Tetua tersenyum, ia membungkuk sekali lagi. Usia yang sudah renta tidak menyurutkan niatnya untuk terus mengabdi pada Negeri Peng Lan. "Yang Mulia ini kabar bagus, Pangeran Kang adalah pemuda yang tampan dan tangguh. Sebentar lagi Negeri Bei Zhou akan menobatkannya menjadi maharaja. Akan sangat menguntungkan jika Yang Mulia berjodoh dengan beliau." "Apa?" Wang Qi Qi merasa tidak mengerti. "Yang Mulia, Anda dengan Pangeran Kang Wu Jie sudah saling mengenal sedari kecil. Hamba yang hina ini sudah terlalu banyak makan garam, dari gerak-geriknya hamba bisa menilai jika Pangeran Bei Zhou menaruh hati pada Yang Mulia," jawab sang Tetua seraya tersenyum simpul. Sekali lagi melirik ke arah Li Tang Shi yang bersikap tenang, ia mulai merasa tidak nyaman akan keberadaannya. Pria itu tidak boleh tahu tentang hubungannya dengan Kang Wu Jie. "Panglima." "Ya Yang Mulia." Li Tang Shi membungkuk. "Kenapa kau tak segera berangkat? Kau memang panglima sekaligus pengawal pribadiku tapi kau tak boleh melalaikan tugas utamamu. Apa kau ingin kerajaanku runtuh hanya karena kau terlambat mencegah mereka?" Wang Qi Qi menginstruksi dengan panjang lebar. "Hamba mohon ampun Yang Mulia. Hamba akan segera berangkat," ujar Li Tang Shi lalu membungkuk penuh hormat pada ratunya. Pria itu bergegas melangkah pergi, sebelum ia meninggalkan Wang Qi Qi jauh-jauh ia menyempatkan diri melirik ke arah Tetua istana. Entah apa yang ada di benaknya saat ini, hanya dia sendiri yang tahu. Setelah bayang Li Tang Shi hilang dari hadapannya, Wang Qi Qi kembali menatap Tetua istana dengan wajah penuh minat. "Tetua, aku harap kau tidak berkata yang bukan-bukan. Aku dan Kang Wu Jie hanya sebatas kawan, kami tidak memiliki hubungan khusus jadi berhentilah mengira yang tidak-tidak." "Yang Mulia, hamba ini sudah banyak mengenal rasa. Pangeran Kang Wu Jie menaruh perasaan pada Anda tapi Anda tidak menganggapnya serius. Yang Mulia, Pangeran Kang Wu Jie pantas bersanding dengan Anda." "Tetua..." "Yang Mulia, ini hanya perkataan dari orangtua renta ini. Yang Mulia Anda sudah 16 tahun sudah waktunya Anda memikirkan masa depan Anda dan juga Negeri Peng Lan. Sebagai orangtua hamba hanya mengarahkan, Yang Mulia." Wang Qi Qi terdiam, ia tak ingin menjawab kendati dalam pikirannya ia terus memikirkan. Bagaimanapun ia tengah terikat kontrak dengan Li Tang Shi, ia tidak mudah untuk segera memutuskan. "Tetua...jangan katakan hal itu lagi. Aku dan Kang Wu Jie hanya berteman tidak lebih. Dia akan datang, sambutlah kedatangannya dengan meriah." " Baik Yang Mulia, hamba mohon undur diri," patuh Tetua sambil membungkuk hormat. Pria tua itu tersenyum simpul, ia tahu bahwa Wang Qi Qi tengah bingung akan perasaannya. Selama ini ia tidak pernah didekati pria mana pun, wajar saja jika ia merasa bimbang dan cemas. Sesaat setelah sang Tetua pergi, Wang Qi Qi menghembuskan napas berat. Kenapa sang Tetua berkata demikian? Kenapa ia menyiram minyak ke dalam api? Menggelengkan kepala Wang Qi Qi mencoba menepis perasaannya. Kang Wu Jie hanyalah teman, kendati ia dahulu begitu mengaguminya tapi sekarang-, ah, bagaimanapun dia tetaplah teman. **** Arak-arakan pasukan kuda Kang Wu Jie telah sampai di gerbang utama Kerajaan Peng Lan. Pasukan itu dipimpin oleh kuda putih yang ditunggangi pria tampan, Kang Wu Jie. Setelah 10 tahun tidak bertemu kini nyata di depan mata bagaimana ketampanan Kang Wu Jie begitu menggoda. Pria umur 18 tahun itu melempar senyum pada Wang Qi Qi yang kini tengah menyambutnya di depan aula istana. Turun dari punggung kuda dengan anggun, Kang Wu Jie berjalan mendekati gadis berpakaian merah tanpa melepas senyumnya yang tampan. "Yang Mulia Qi Qi, bagaimana kabar Anda?" sapanya dengan nada formal tanpa lupa untuk sedikit membungkukkan badan. Wang Qi Qi tersenyum manis, senyum yang jarang ia perlihatkan pada sembarang orang. Hanya pada teman masa kecilnya-lah ia mau berbagi senyumannya tersebut. "Kau tidak perlu formal padaku, Kang Wu Jie. Jangan biarkan pertemuan ini terhalang kedekatannya hanya karena kau bersikap formal padaku," celetuk Wang Qi Qi menimbulkan suara kekehan pelan dari bibir Kang Wu Jie yang tipis indah. "Bagaimana keadaanmu Wang Qi Qi? 10 tahun tidak bertemu banyak yang berubah darimu." "Aku-," "Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika pemberontakan itu terjadi pada negerimu, Wang Qi Qi. Aku merasa bersalah karena selaku sahabat masa kecil aku tidak datang membantumu. Aku turut prihatin mengenai Wang Luo Yun yang-" "Aku tidak ingin mengingatnya lagi, Pangeran Kang Wu Jie. Aku bersyukur karena dibalik kisah naasku itu masih ada seseorang yang menolongku dan setia kepadaku," ungkap Wang Qi Qi dengan air muka sedikit berubah jadi masam. Bagaimana tidak, ia mengatakannya sembari membayangkan Li Tang Shi. Pria yang bersedia menolongnya meskipun pada akhirnya dia selalu meminta upah berkali-kali lipat. "Oh...maafkan aku Qi Qi," sesalnya sangat mendalam. Wang Qi Qi kembali mengulas senyum, ia hanya mengangguk dengan mata phoenix yang berbinar indah. Tercekat sesaat akan kecantikan teman masa kecilnya, Kang Wu Jie hampir kehilangan harga dirinya. Ia segera berpura-pura mengalihkan perhatian ketika Wang Qi Qi secara tiba-tiba menatapnya. "Apa kau lelah? Para dayang sudah mempersilakan kediaman Wulong untukmu." "Terimakasih Qi Qi tapi aku masih ingin menikmati keindahan di sini. Jika kau berkenan dan memiliki waktu luang, maukah kau menemaniku untuk sekadar jalan-jalan?" pinta Kang Wu Jie menatap dalam ke arah Qi Qi. Gadis itu balas menatapnya sama dalam, rupanya rasa kagum masih mengisi jauh dalam relung hatinya. Kenapa jika dengan Kang Wu Jie ada perasaan aneh dalam dadanya? Apakah karena ia orang baik sehingga rasa kagum itu perlahan melipir dan kembali ke asalnya? " Dengan senang hati, Kang Wu Jie." Jawaban Wang Qi Qi membuat Kang Wu Jie hampir melonjak kegirangan. "Ah...kau memang kawanku yang baik," puji Kang Wu Jie lalu kembali tersenyum. Wang Qi Qi lalu melangkah terlebih dahulu menuju ke taman istana, sebagai penunjuk jalan Wang Qi Qi harus bersikap ramah apalagi pada teman yang 10 tahun tidak pernah bertemu. "Aku dengar sebentar lagi kau akan diangkat menjadi raja, benarkah itu?" tanya Wang Qi Qi mencairkan suasana yang begitu kaku. "Ah...kebetulan ya, ayahku sudah memasuki masa tua dan aku tidak memiliki saudara jadi mau tak mau aku harus melanjutkan pemerintahan ayahku. Selama 10 tahun ini Ayah dan Ibuku mendidikku dengan sangat ketat bahkan di usiaku yang ke-13 aku harus mengikuti pendidikan dibawah pengawasan pendeta. Kau tahu hidupku terasa sangat panjang kala itu," cerocos Kang Wu Jie. Sambil terus menelusuri taman bunga Peony yang berwarna-warni, Wang Qi Qi mencoba tersenyum tulus. Dibandingkan kisah Wu Jie, kisahnya lebih tragis dibanding apa pun. Mengingat kembali masa lalu membuat wajah Qi Qi menjadi suram bak awan hitam. Perubahan air muka gadis cantik itu membuat Kang Wu Jie sedikit khawatir, ia takut kalau-kalau ada ucapannya yang salah dan tanpa sengaja menyakiti hati Qi Qi. "Qi Qi kenapa kau diam? Apa aku salah mengucap sesuatu?" Kang Wu Jie bertanya-tanya. Wang Qi Qi menghentikan langkahnya, ia berbalik ke arah Kang Wu Jie lalu tersenyum manis, "Aku tidak apa-apa, Wu Jie." "Qi Qi bolehkah aku tinggal beberapa hari di sini? Ini adalah pengembaraanku yang terakhir. Setelah beberapa hari di sini aku akan kembali ke Bei Zhou dan menjalani penobatanku sebagai raja. Setelah aku menjadi raja aku tidak mungkin bisa kemana-mana lagi jadi-," "Tentu saja boleh, kau adalah tamu di negeriku dan aku dengan senang hati akan menerimamu sebagai tamuku Kang Wu Jie," tutur Wang Qi Qi lalu mengangguk setuju. Sekali lagi Kang Wu Jie tersenyum, mereka melanjutkan perjalanan mereka di taman hingga akhirnya pria tampan itu memetik bunga Peony warna kuning dan disodorkan ke arah Wang Qi Qi secara tiba-tiba. Tak cukup peka, gadis itu tak kunjung meraihnya melainkan menatap Kang Wu Jie dengan mata penuh tanda tanya. Belum sempat Wang Qi Qi bertanya, Wu Jie mengerti akan arti tatapan tersebut. Perlahan ia kembali tersenyum lantas mengatakan maksudnya, "Untukmu. Aku harap ini bunga terakhir yang kuberikan pada seorang gadis. Wang Qi Qi, terimalah! Semoga di kemudian hari kita benar-benar berjodoh." ****///***** Tap lovenya ditunggu ya. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD