Loss.Jangan pernah merasa kalah akan perasaanmu, perjuangkan sampai kau tak lagi mengenal kata kalah.
Setelah tahu bahwa Mas Joko menyukainya, Peta berusaha menghindari om-om itu. Channy adalah alasan Mas Joko jatuh cinta padanya. Pertemuan pertama Peta dan Mas Joko adalah karena Chanella, si gadis batak yang gila itu.
"Lo kenapa bengong? Kita harus dan kudu ngebahas tentang Mas Yuyus!"seru Channy sambil merapikan rambutnya. Rambut itu berantakan karena terlalu banyak reaksi dari dirinya sendiri.
"Bahas apa, Cha? Bukannya udah jelas ya, Bu Ririn itu mantannya?"
"Wong jelas! Kita harus ajak admin kerja sama."
"Setuju Cha. Gue pengen sesuatu yang lebih. Contohnya foto Mas Yuyus waktu kecil. Waktu masih bocah, pasti gemes."seru Shava.
"Iya Shav, pasti uwuwu gitu deh."lanjut Dully.
"Apaan sih!"ucap Peta bete.
"Loh, bukannya lo juga suka Mas Yuy?"
Oke, Peta sedikit lupa dengan aktingnya. Wajar toh, manusia biasa.
"Iya, tapi bukannya itu agak gak bener ya?."ucapnya kemudian.
"Ya, kita coba dulu. Siapa tahu adminnya nyari diam-diam."seru Channy.
"Heh, kalian gak kapok-kapok ya. Kalau Mas Yuyus tahu, bisa di dropout kalian!"ucap Ammi tegas. Ammi memang manusia paling normal di kelompok ini.
"Itulah gunanya menjaga mulut. Kita tinggal berusaha agar Mas Yuyus gak tahu. Bener gak Shav?"tanya Channy sambil cekikikan.
"Bener Cha. I stand with you."
Channy tak main-main dengan ucapannya. Dia langsung mengirimkan pesan di channel Telegram Error 404. Dengan sapaan selamat malam dalam bentuk penghormatan.
Selamat malam miminnya Error 404. Request foto Mas Yuyus dong, waktu kecil atau gak waktu SMA. Makasih mimin ayang!
Begitulah cara Channy meminta tolong pada orang yang tak ia tahu pasti itu. Peta berusaha bertindak biasa saja. Ia yakin bahwa Ammi sedang mencurigainya. Cewek gila itu sungguh jahat. Entah sampai kapan agar ia bisa percaya pada Peta. Apakah sebenarnya ia tahu tentang peristiwa masa lalunya? Mereka juga berasal dari kampus yang sama. Pikiran Peta jadi tak tenang, begitu juga dengan pikiran Ammi. Mereka berdua saling mencurigai dalam diam.
POV AMMI
Gue curiga banget sama Peta. Bukan apa-apa, dia aneh banget. Dia seperti punya kepribadian ganda. Dalam setiap perkataannya seperti ada kebohongan besar. Sumpah ya, gue bukan orang yang suka suuzon. Lebih baik terlibat friendzone daripada suuzon. Kayak lagu siapa tuh? Duh gue lupa. Ok. Kembali ke MacBook, sorry laptop. Buktinya pertama kali ketemu sama Channy, gue biasa aja. Gak ada rasa-rasa pengen nyeri dikit gitu. Ketemu Shava sama si Dul, gue juga biasa. Tapi Peta aneh banget rasanya waktu ketemu Peta. Aura detektif gue langsung terpancar kuat. Melewati garis khatulistiwa. First, dia pura-pura bodoh. Gue tahu dia pinter banget. buat apa dia pura-pura bloon? Apakah dia tipe manusia yang down to earth? Entahlah. Second, dia kadang benci sama Mas Yuyus dan kadang suka. Gue gak tahu mana yang bener, keduanya tampak sama. Last, dia kadang senyum-senyum kayak psikopat. Ini masih kekhawatiran biasa.
Gue mah gak mau cari masalah. Tapi gue kepo banget sama Peta. Akhirnya kemarin malam gue cari-cari facebooknya. Gue tahu kok akun Instagramnya tapi fotonya gak lepas dari gambar pemandangan dan karakter game. Terakhir dia posting foto yang diambil waktu mata kuliah minggu lalu. Iya, foto sekelas. Itu satu-satunya foto manusia di Instagramnya. Aneh gak sih? Apakah dia tipe cewek yang ogah show up?
Akhirnya gue sampai ke akun Facebooknya tapi di private. Gue gak rela menambah pertemanan. Entar dia curiga. Kalau mau penasaran, jadilah invisible. Takutnya, kecurigaan diri sendiri malah menambah masalah. Misalnya, orang yang dicurigai ikut curiga sama kita. Big no! Jangan kasih panggung untuk baku hantam.
Akhirnya setelah kuliah hari ini, gue sengaja duduk disampingnya. Gue tahu dia sedang nunggu jemputan. Gue juga kepo siapa yang rela ngejemput dia tiap hari? Ah, kenapa gue jadi gini sih? Beneran, gue gak iri kok. Emang sih, siapa yang gak pengen di treat like a queen? Cuma orang b**o yang gak mau digituin. Gue juga mau lah. Tapi siapa yang mau ngelakuin itu sama cewek seperti gue? Kayaknya gak ada deh. Huhu, miris banget.
"Ammi, tumben lo belum balik?"tanyanya sambil terus bermain game di Nintendo Switch. Ternyata dia sekaya itu. Benda mahal itu bisa dibeli olehnya. Apalagi benda itu ia beri stiker mahal yang bikin iri. Lalu kenapa dia bohong ya, setahu gue dia pernah bilang kalau dia cuma tinggal di kos-kosan biasa. Apa dia mau membumi dengan cara melangit? Kata-katanya sih down to earth tapi raganya fly without wings. Asekkk!
"Lagi numpang wifi bentar."ucap gue. Hey, percakapan ini harus berlanjut. Nanya apa lagi ya. Ah, gue tahu! "Lo dijemput siapa By the way?”
"Teman gue, Mi."
"Owh, enak banget dijemput tiap hari."
"Hahaha, iya. Gue bayar soalnya."
"HAH?"
"Lo tahu gak, sejenis supir bulanan gitu."
"Gila! Lo beneran?" Jadi benar kalau dia kaya. Ok, gue lancarkan serangan bertubi-tubi. Mumpung ada kesempatan. "Ternyata lo sekaya itu ya? Kenapa lo bohong selama ini?"
Bodo tidak amat! Udah basah, nyebur aja sekalian. Tanyain terus sampai semua terkuak. Kalau ada yang mengganjal, bilangin. Daripada jadi mimpi buruk entar malam. Idih, amit-amit.
"Akhirnya lo tahu. Gue sebenarnya gak pengen ngasih tahu, karena gak enak sama kalian. Gue emang kaya, tapi itu semua murni dari hasil kerja keras gue."
Wajah Peta kelihatan gak enak waktu gue tuduh berbohong. Gue jadi merasa bersalah. Berarti selama ini gue udah salah paham sama dia. Berarti gue cewek paling gak sopan di dunia ini?
"Gue pernah jujur sama seseorang kalau gue punya uang banyak. Gue kerja di perusahaan besar, gue kerja sebagai freelancer, dan lo tahu apa yang gue dapat? Gue cuma dimanfaatkan!"
Baiklah. Peta bukan manusia seperti yang gue pikirkan selama ini. Gue sadar bahwa beberapa manusia punya trauma pada toxic friendship. Peta mungkin salah satu yang mengalami hal itu. Dia hanya gadis polos tak berdosa yang gue curigai. Betapa jahatnya gue.
"Maaf ya Ta, gue gak bermaksud apa-apa. Gue ngerti perasaan lo. Mulai sekarang gue gak bakal ngungkit itu lagi. Lo bisa jaga rahasia lo sama gue. Gue pastiin, teman-teman yang lain gak bakal tahu kalau lo kaya."ucap gue dengan sigap. Gue gak mau bikin dia tambah sedih. Setidaknya gue menghibur dia.
Manusia harus mau mengaku dosa. Itulah yang gue lakukan. Dikasih kesempatan buat sadar, ya sadar dirilah. Jangan jadi bebal si pembawa petaka.