Subjects and objects. Aku itu seperti subjek yang menjadikanmu objek. Untuk segala sesuatu dalam hidupku, aku selalu melibatkanmu.
Ammi tampak kesal harus menjalani kelas hari ini. Ia sangat benci pada Mas Yuyus, ya, sejak dosen itu menyombongkan diri begitu hebat. Ia hendak naik lift menuju lantai tiga. Tas ransel yang berisi laptop, buku dan jaket itu tampak besar dan berat. Ia bertemu Rama dan Shava yang baru saja tiba dan ikut menunggu.
"Wah, lo berdua bareng?"
"Iya. Tadi kita ketemu di stasiun."ucap Shava.
"Kirain jadian."seru Ammi.
"Heh, gak mungkinlah. Gue udah punya loh, Mi."
"Punya apa? Punya status jomblo?"ledek Ammi.
Candaan itu memang menghibur, tapi ada hati yang terluka dan tak terlihat. Mereka sampai di kelas yang sudah mulai ramai. Ammi tak lagi mencurigai Peta sedikitpun. Otaknya berhasil dicuci hanya dengan cerita bohong yang dilontarkan oleh cewek itu. Semua orang menunggu Mas Yuyus yang kemungkinan akan telat datang. Dia sangat pantas dijuluki Mister Delay.
"Dosen dengan predikat doyan telat!! Kesal banget gue!"keluh Ammi.
"Kalau itu gue setuju sih. Dia lama-lama nyebelin."balas Channy.
"Jadi lo udah benci sama dia kan, Cha?"
"Belum lah. Tetap aja, kalau gue lihat mukanya, gue gak bisa benci sama dia. Dia terlalu tampan untuk dibenci."
"Orang gila!"
Tak berapa lama, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Mas Yuyus datang dengan setumpuk kertas hasil kuis minggu lalu. Ia seakan berada diatas awan. Ia tak sabar menantikan wajah kecewa para mahasiswa. Tiba saatnya dia mempermalukan orang-orang bodoh di kelas ini. Itu memang keahliannya.
Ponsel channy bergetar karena ada pesan masuk dari Peta.
Pelita : Cha, doi udah dtg?
Chanella : Udah barusan. Lo dimana, Ta? Entar lo disindir lagi.
"Kenapa Cha?"tanya Ammi.
"Peta telat Mi. Dia kayaknya trauma sama Mas Yuyus."
"Hahaha, biarin aja. Biar dia sadar dan lama-lama benci sama doi."
Mas Yuyus membuka laptopnya dan mencari slide yang akan diajarkan hari ini. Ia butuh beberapa menit untuk memulai semuanya agar tak ada interupsi selama pembelajaran. "Baik, sebelum kita mulai pelajaran hari ini, saya mau membagikan hasil kuis kalian."
"Aaahhhhh!!!"
"Ga usah pak, gausah dibagi."
"Jadiin bungkus gorengan aja mas."
"Ada yang merasa dapat nilai bagus? Atau jangan-jangan kalian gak bahas sampai di rumah?" ucapnya lagi. "Jangan langsung dilupain dong. Nanti sehabis saya bagi, kita bahas bareng-bareng ya."
Ketukan pintu berhasil mengalihkan pandangan matanya. Seorang gadis cantik masuk ke dalam kelas. Pelita Inera Lestari. Ia datang dengan wajah baru yang berhasil mempesona siapa saja. Setelan dress warna light cyan, sneakers putih, rambut dicurly dan wajah full make up tapi masih dalam batas wajar. Kelihatannya dia baru menghadiri sebuah acara. Ia langsung masuk dengan wajah tertunduk. Ia tidak suka terlalu diperhatikan. Rasanya semua mata tertuju padanya. Bisikan-bisikan yang menggoyahkan iman dan mental terdengar dari semua orang yang melihatnya. Terutama dari kaum lelaki. Mas Yuyus pun tak berkutik. Dia hanya diam tanpa sindiran. Mungkin dia juga kaget dengan penampilan baru Peta. Peta duduk di kursi yang masih kosong tepat disamping Channy.
"Hmm, baiklah. Saya akan bagikan kertas ujian kalian ya. Hanya satu orang yang berhasil dapat nilai sempurna, 100."
"Woah, siapa itu woy?"
"Kurang ajar tuh yang dapat 100."
"Otaknya bagi-bagi dong!"
Histeria komentar dari seluruh penghuni kelas terdengar. Mas Yuyus membagikannya dengan memanggil nama satu-persatu. Hingga tiba giliran Peta. Peta ingin menghancurkan kertas ujiannya itu. Kenapa keseriusannya berbuah hal seperti ini. Ia yakin Mas Yuyus memperhatikannya begitu dalam. Dosen itu pasti kaget sekali, orang yang dapat nilai sempurna itu adalah dirinya.
"Selamat ya untuk Pelita. Saya tidak menyangka kamu dapat nilai sempurna. Saya sudah bikin soal yang tingkat kesulitannya di atas rata-rata. Atau memang soalnya semudah itu?"
"Engga mas, susah beneran ey!"
"Kalau soalnya semudah itu, akan saya buat susah di UTS nanti."ucap Mas Yuyus.
"Jangan mas. Nilai saya cuma 50. Tega sekali!"
"Bukan begitu, saya cuma membandingkan dengan nilai Pelita."
"Tapi mas, harusnya dilihat dari nilai rata-rata kan? Nilai rata-rata kelas jadi penentunya."ucap Ammi tegas. Walau dia dapat nilai 80, tapi ia tidak terima nilai tertinggi dijadikan dasar pemilihan soal.
"Iya, saya mengerti. Namun kalian harus sadar, nilai 100 sangat mendongkrak nilai rata-rata kelas. Nilai tertinggi kedua saja cuma 85. Oleh karena itu, kalian rajin latihan. Baik, sekarang kita akan membahas kuis kemarin."
Bangsat!!
Pelita merasa tak tenang. Ia takut teman-temannya kesal padanya. Atau ia akan dimusuhi? Ternyata tidak. Level pertemanan di masa dewasa tak sehina itu. Sudah tidak zaman menjatuhkan orang lain dengan alasan konyol.
"Lain kali, lo ajarin gue ya, Ta. Gue cuma dapat 60."keluh Channy.
"Masih lumayan itu Cha. Makanya lo jangan pacaran mulu. Suhendi aja dapat nilai bagus loh."
"Ish, dia mah emang pinter Mi."
"Kenapa lo gak minta diajarin Suhendi?"tanya Peta.
"Dia ngajarinnya bloon. Tiap diajarin gue gak pernah ngerti. Oh ya Ta, lo kenapa cantik membahenol gitu sih? Lo sadar gak sih, cowok-cowok di kelas ini terpesona."seru Channy.
"Bener banget. Lo kenapa dandan sih? Lo mau dapet perhatian dari yang di depan sono?"tanya Ammi.
"Ihh, engga dong. Tadi kantor gue ulang tahun, jadi manager gue suruh dandan yang cantik. Tadinya gue mau balik dulu ganti baju tapi gak sempet. Keburu telat."
Mas Yuyus berdehem agar tak ada lagi suara bising. Ia menjelaskan jawaban kuis yang sebenarnya. Mas Yuyus menjelaskan dengan sangat detail. Ia bilang bahwa jawaban Peta memang benar, tapi ada penyelesaian yang lebih mudah dan simple. Peta mendengarkannya dengan seksama. Ia kepikiran ucapan Channy, ia menoleh kebelakang untuk melihat teman sekelasnya. Tibalah matanya bertatap tatapan dengan mata Mas Joko. Cowok itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Peta jadi salah tingkah. Ia membalasnya dengan senyuman manis yang palsu. Hidup Peta memang penuh dengan kepalsuan.
Ia langsung mengalihkan padangan karena merinding. Haruskah ia mengumumkan bahwa ia udah punya Benny? Tapi keinginannnya untuk mendapatkan Pangeran Simanjuntak belum sirnah. Cowok macho itu benar-benar tipe ideal Peta. Tinggi, putih, senyuman manis dan ramah.
"Ta, lo kenapa kayak mau kondangan anjir?"ledek Alfa. Alfa, Arri dan Rama memang tipikal cowok yang suka berkomentar. Sungguh mereka tak tertarik dengan penampilan feminim Peta? Sepertinya tidak. Mereka punya tipe cewek idaman yang sulit dijangkau oleh cewek seperti Peta.
"Ya emang."
"Masa sih?"sahut Rama.
"Yoai Ram. Gue abis dari ulang tahun kantor."
"Lo bisa banget deh diajak jadi pacar sewaan."ucap Arri bercanda.
"Heh bacot lo. Berani bayar berapa lo Ri?"ucap Channy.
"Gue mau aja sih, tapi diatas 100 juta."
"Hillih!!!!"seru mereka serempak. Seru, menarik dan menyenangkan. Ternyata punya banyak teman begini rasanya. Peta yang tadinya pura-pura, kini semakin mendalami peran dengan perasaannya yang sebenarnya. Ia tak tahu bahwa perbuatannya selama ini tak bisa dihapus dari daftar dosa.