"Apa kamu yakin orang seperti ini bisa membantuku?" Aira menatap skeptis pada Jessica.
"Tentu saja. Kapan aku pernah gagal menuruti permintaanmu?" ucap Jessica santai sembari menyesap Lattenya.
"But, seriously?! Just look at her! Aku memintamu mencarikanku orang sungguhan yang tangguh bukan orang-orangan sawah yang terbang saat kena angin!" Aira menghina sosok yang duduk tenang disamping Jessica itu secara terang- terangan, “Yang ada babu sialan itu akan langsung membanting tubuhnya saat tahu apa yang terjadi nantinya!”
"Come on, Aira! Wanita ini tidak seburuk itu!” ucap Jessica sembari melirik sosok yang sedari tadi menundukkan wajahnya itu, “Aku sudah menyeleksinya secara langsung sebelum kubawa kehadapanmu jadi jangan khawatir karena orang ini pasti tahu apa yang harus dia lakukan."
"Ok. Kupegang ucapanmu." Aira lantas mengeluarkan amplop coklat dari balik tas kecilnya dan mengangsurkannya ke depan Jessica yang diterima gadis itu dengan senyum teramat lebar saat melihat lembaran warna merah didalamnya dan tanpa malu,Jessica langsung menghitung lembaran yang dia dapat di depan umum. "Senang berbisnis dengan sahabat sepertimu dan jangan sungkan untuk minta tolong lagi padaku, Ok!”
Pertemuan di Caffe tidak berlangsung lama, Aira yang kini mengemudikan mobil hitamnya bersama sosok kurus itu akhirnya berhenti di halaman kediaman Kusuma.
“Aku percaya ucapan Jessica, jadi mainkan peranmu mulai sekarang.” ucap Aira singkat sebelum gadis itu keluar dari balik pintu mobil diikuti oleh sosok kurus itu.
“Aira, Siapa dia?” langkah kaki berbalut sepatu kets itu langsung dihadang oleh tubuh tinggi besar milik Marvel, “Kamu tahu bukan kalau kita dilarang membawa orang asing masuk.”
“Maaf tuan.” suara lirih dan bergetar itu mulai keluar dari bilik mulut wanita kurus yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu “ Nona ini tadi menolong saya di jalan. Nona kasihan pada saya yang sudah kehilangan tempat tinggal dan tidak punya apapun lalu dengan baik hatinya Nona berniat membantu saya dengan cara mempekerjakan saya di rumah ini.”
“Dengar sendiri apa yang dia katakan?” sudut bibir Aira naik sebelah, “Aku berniat membantunya karena dia tunawisma.”
“Dan tidak tahu latar belakangnya?! Bukankah itu suatu tindakan yang ceroboh! Bagaimana jika hal yang tidak diinginkan terjadi nanti?”
“Selain kaku ternyata orang sepertimu juga tidak punya hati, ya.” Aira mencemooh, “Kalau terjadi sesuatu, itu sudah menjadi tanggung jawabku.” sinis Aira sebelum melangkahkan kakinya kedalam diikuti sosok kurus yang entah siapa namanya itu.
“Kakak sudah pulang?” lagi dan lagi suara memuakkan itu menyapa Aira lengkap dengan sosok Babysitter yang setia mengikutinya.
“Apa kau tidak punya mata untuk melihatku sudah ada di rumah atau tidak?” manic Aira berputar malas.
“Maaf. Askara hanya ingin bertanya saja pada kak Aira.” bocah itu meremas gundam yang ada di tangannya.
“Pertanyaan dari bocah sepertimu itu tidak penting.”
“Oh ya, Askara punya mainan baru dari mama. Apa Kak Aira mau bermain bersama Askara?”
“Heh bocah siap juga yang mau main denganmu. MALES!” ucapan Aira yang menyakitkan itu membuat wajah ceria Askara langsung mendung, secara perlahan bocah itu menundukkan wajahnya.
“Askara, sebaiknya kita kembali ke kamar, yuk. Kan Askara harus mandi sore.” Aliana langsung merentangkan tangannya disertai seulas senyum lembut untuk menenangkan Askara.
“Ayo Aunty.” jari kecil Askara langsung terulur dan keduanya langsung pergi meninggalkan Aira.
“Heh!”
“Iya, Nona.”
“Kau lihat wanita yang bersama dengan bocah tadi? Dia adalah sasaranmu. Lakukan tugasmu dengan rapi dan setelah itu pergi dari rumah ini tanpa ketahuan oleh siapapun.”
“Baik Nona.”
Setelah berucap demikian Aira naik ke lantai atas, membersihkan diri dan duduk di meja rias, mengambil beberapa perawatan kecantikan untuk diaplikasikan ke wajahnya, "Hah, setelah ini, bye bye babu sialan! Kau tidak akan berani bertingkah lagi. Mulutmu yang lancang itu akan berbusa lalu kejang dengan mata melotot." seringai Aira licik
"Apakah ini ulah nona?"
"Ups! Aku ketahuan ya. Itu pelajaran kecil untukmu."
"Ampun nona. Saya lancang telah membuat Nona marah. Saya janji. Saya akan menurut pada semua perintah Nona dan saya akan tutup mulut dengan penyebab insiden ini terjadi dan juga saya berjanji tidak membela anak kecil sialan itu lagi. Saya mohon Nona."
"Tidak membela si anak kecil sialan? Itu bagus, kamu saya lepaskan." Tawa Aira keras sembari mengatakan skenario dalam otaknya jika rencananya berjalan lancar.
"Satu lalat akan berhasil ditaklukkan. Tinggal lalat-lalat yang lain." Senyum Aira lebar pada cermin sebelum akhirnya keluar dari balik kamar untuk makan malam.
Dan makan malam berjalan seperti biasa dan tidak perlu diceritakan lebih rinci karena hal itu hanya membuat Aira kesal setengah mati ditambah lagi dengan si babu yang memperlakukan Askara seperti putra mahkota.
"Argh!" Aira berteriak tertahan dalam kamar.
Sementara itu Aliana masuk kedalam kamar Askara dan mendapati bocah manis itu sedang mencari buku pelajaran yang akan dia bawa besok sekaligus akan mengerjakan PR.
"Ada PR apa?"
"Matematika aunty." Askara membuka bukunya dan seperti yang sudah sudah Aliana membantu bocah itu belajar.
Tok!Tok!Tok!
Pintu terketuk lalu tak lama kemudian sang nyonya rumah masuk kedalam kamar sang putra dan Aliana yang tahu bahwa dirinya harus segera keluar langsung pamit undur diri.
"Sedang belajar apa sayang?"
"Belajar Matematika dan sekarang Askara sudah di nomor 3."
"Ehm, coba Mama lihat. Oh sini Mama ajari." Itulah percakapan singkat yang Aliana dengar sebelum gadis itu menutup pintu
"Hai, kamu Aliana, kan?" Wanita kurus yang tadi dibawa sang nona menyapa Aliana saat gadis itu pergi ke dapur hendak memotongkan buah sebagai teman belajar.
"Ah, iya saya Aliana." senyum gadis itu tipis, "Anda sedang membuat apa?"
"Oh ya tadi Nona minta dibuatkan cookies dan ini adalah resep baru dariku?"wanita itu menyerahkan cookies yang baru matang dan masih ada di atas loyang, "Mohon dicicipi untuk memastikan Nona Aira suka atau tidak nantinya."
"Ehm!" manic kelam Aliana membulat dengan bibir terseyum kagum, "Ini enak sekali. Bolehkah aku minta untuk Askara juga karena dia mungkin akan suka?"
"Tentu saja." wanita itu lantas memberikan Aliana toples, "Ini. Tadi sudah saya siapkan duluan untuk Tuan muda." Aliana meletakkan cookies itu di meja, mencari cangkir untuk teh sang nyonya, setelahnya gadis itu kembali ke atas dan mengetuk pintu kamar Askara kembali.
"Maaf, Nyonya. Saya bawakan cookies sebagai teman Askara belajar."
"Wah." manic polos Askara melebar senang, "Terima kasih, Aunty."
"Sekarang kamu bisa pergi." usir Bella dan Aliana meringis maklum.
"Setelah makan cookies, jangan lupa gosok gigi, Ok. Mama tidak mau gigi rapi Askara bolong dan ada ulatnya nanti."
"Iya Mama." angguk Askara patuh.
Aliana keluar dari kamar Askara dan berpapasan dengan si pembuat cookies yang sepertinya hendak mengetuk pintu kamar Aira dan gadis itu hanya tersenyum kecil dan kembali turun ke bawah.
Sedangkan Aira yang pintu kamarnya diketuk, langsung bangun dari aksi main ponsel sambil rebahannya, remaja itu menatap wanita suruhannya dengan alis menukik.
"Saya buatkan cookies untuk Nona." wanita itu meletakkan toples serta s**u coklat diatas meja belajar.
"Siapa yang memintamu untuk membuatkanku cookies? Saya tidak membayarmu untuk melakukan hal ini."
"Tidak ada. Ini hanya inisiatif saya saja. Dan apa yang saya lakukan ini untuk anda ini gratis, Nona."
"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, bukan ini tugas utamamu."
"Iya nona, Saya mengerti." angguk wanita itu.
"Kalau begitu keluar sana." jemari itu mengibas ke udara, mengusir orang suruhannya seperti lalat. Dengan patuh wanita itu keluar dan berjalan menuju dapur untuk membereskan semua peralatannya tadi.
"Jadi bagaimana, Apakah Tuan Muda suka dengan cookiesnya?" wanita itu langsung menodong Aliana dengan pertanyaan saat mereka bertemu di dapur.
"Sepertinya suka." senyum Aliana tipis sembari mencuci gelas yang tadi dia pakai untuk minum.
"Oh ya, cookies yang tadi kubuat masih sisa." satu toples wanita itu suguhkan di depan Aliana.
"Ehm, apa sebaiknya kita bagi dengan para bibi-bibi yang lain supaya mereka juga ikut merasakan juga?"
"Sisa cookiesnya hanya segini dan jumlah kita terlalu banyak. Jika ada yang tidak kebagian justru kita yang tidak enak nanti."
"Iya juga." Aliana lantas membuka toples dan mengambil satu untuk dimakan. Ekspresi gadis itu tidak bohong bahwa kue buatan sang assistant baru sangat enak, "Aku yakin jika kamu membuka toko pasti akan laris manis. Dalam cookies ini ada aroma s**u yang kuat tapi saat dimakan tidak terasa eneg sama sekali."
"Mau buka toko kue dengan modal dari mana. Untuk bertahan hidup saja susah."
"Maaf, ya." ringis Aliana tidak enak hati.
Tanpa mereka berdua sadari mereka berbicara cukup lama bahkan satu toples cookies tanpa sadar telah Aliana habiskan seorang diri dan kini mereka sudah kembali ke kamar masing- masing setelah sebelumnya membersihkan dapur bersama.
Tubuh yang sudah segar setelah diguyur air dingin itu kini terbaring nyaman diatas ranjang dengan selimut membalut sampai d**a. Setelah mengangkat tangan berdoa pada Sang Maha Kuasa atas nama Ibunya, Aliana lantas memejamkan matanya dengan damai.
Aliana tidak tahu berapa lama dia tertidur saat keringat dingin mulai mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, jemarinya yang kecil secara cepat mencengkram perutnya yang terasa terbakar dan melilit hebat disertai dengan dentuman palu yang berebut memukul kepala kecilnya.
"Hugh!" dorongan lain itu terasa kuat dan Aliana yang tidak kuat berdiri karena seluruh sistem selnya terasa lemas, berjalan sekuat tenaga menuju kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya detik itu juga. Suara kesakitan itu terdengar semakin menyakitkan dan siksaan itu semakin lama semakin menjadi hingga membuat Aliana tidak kuat lagi menompang tubuhnya sendiri.
Dan membuat gadis itu berakhir pingsan di lantai kamar mandi yang dingin.
***
Alunan music itu mengalun di seluruh ruangan apartement mewah diiringi sayup-sayup suara manja yang mengikuti lirik yang terdengar. Langkah kakinya terlihat semangat mempersiapkan segala sesuatu yang akan dia bawa ke dalam, setelah semua beres, sosok itu langsung duduk di depan riasnya yang penuh dengan berbagai macam perawatan kulit.
Ting Tong!
Suara bel tidak biasa di pagi harinya yang tenang.
"Siapa sih?" Jessica yang sibuk dengan sisirnya langsung menggerutu sebal, "Jangan bilang si Aira yang mau sembunyi gegara tidak mau ketahuan di skors."
"Huft! Awas saja dia!" gadis itu langsung menuju ruang depan dan membuka kunci pintu tanpa melihat siapa tamu di baliknya.
"Heh..." bentakannya langsung tertahan dan tubuhnya langsung ditarik secara paksa membuat remaja itu bersiap membuka mulut kecilnya untuk berteriak namun dengan cepat jemari besar itu langsung membungkam bibirnya.
"Diam dan ikuti saya!"