9. Konsep Keluarga Bahagia

1711 Words
Manic itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang perlahan masuk ke pupilnya sembari berusaha menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya desah nafas lega keluar dari balik hidung kecilnya. “Setidaknya mereka menolongku dengan cepat.” “Akhirnya anda bangun juga, Aliana.” suara itu lantang, berasal dari sosok tinggi besar yang duduk di sofa dengan segelas kopi dan ponsel di tangan kanannya. “Terima kasih.” ucap Aliana pelan, “Tapi kalau boleh saya tahu, apakah saya dirawat karena keracunan makanan dan makanan yang dimaksud itu cookies?” “Yah, Anda benar.” “Kalau begitu bukan saya saja yang keracunan tapi Askara juga?” Aliana yakin bocah yang suka makan makanan manis itu pasti tergiur untuk memakan cookies berbentuk panda itu. “Iya, tapi anda tak usah khawatir! Tuan muda sudah siuman sekarang dan mungkin bisa langsung pulang nanti.” “Syukurlah.” desah Aliana lega, “Tapi bagaimana dengan wanita kurus itu?” “Dia kabur sesaat setelah memberikan cookies itu pada kalian.” terang Marvel, “Tidakkah Kamu tahu Nona Aira juga sempat diberikan cookies yang sama.” sudut manic Marvel memincing, menunggu respon dari gadis diatas brankar sana. “Oh ya? Bukankah nona Aira bilang kalau wanita kurus itu dia tolong karena dia kasihan padanya?!” manic lembut itu membulat, “Lalu bagaimana keadaan nona Aira?” “Dia baik-baik saja karena dia tidak memakannya.” “Oh.” angguk Aliana paham sebelum hening kembali menguasai, “Tuan…” jari kecil itu sedikit mencengkram selimut guna memberinya sedikit keberanian untuk bicara, “Apakah kita sedang di rumah sakit Guna Sehat?” “Ya.” “Kalau begitu, bisakah anda membantu saya sebentar saja?” Aliana menatap wajah Marvel sendu, penuh permohonan, “Tidak lama, hanya beberapa menit saya mohon.” Marvel sepertinya bukanlah sosok pria yang terlalu keras hal ini terbukti dengan langkah kakinya yang konstan seiring dengan dorongannya pada kursi roda yang diduduki oleh Aliana. Keduanya naik ke lantai 2 menelusuri lorong- lorong rawat inap sebelum akhirnya berhenti di salah satu ruangan. “Tuan Dave yang memindahkan ibu anda ke ruangan ini.” ucap Marvel saat Aliana menolehkan kepalanya kebelakang dengan alis mengerut bingung. Jemari pria itu membuka pintu dan mendorong kursi roda Aliana untuk semakin dekat dengan sang ibu. “Gunakan waktu yang saya berikan sebaik mungkin.” “Iya, terima kasih sekali.” angguk Aliana dengan senyum. Pintu tertutup, meninggalkan Aliana dan sang ibu hanya berdua di ruangan itu. Hening, hanya suara- suara alat- alat medis yang menancap di tubuh ringkih sang ibulah yang menemani gadis malang itu. Secara perlahan, genangan telaga itu menumpuk, berebut ingin keluar dari balik manic Aliana yang teramat rapuh. “Hai, Ibu! Ibu apa kabar?” jari yang sudah bebas infus itu perlahan terulur, menggenggam jemari sang ibu yang terasa sedingin es, “Apakah ibu baik- baik saja selama Aliana tinggal?” dan membawanya ke bibir untuk diciumi dengan sayang. “Maafkan Aliana telah membuat ibu sendirian di tempat mengerikan seperti ini.” “Maafkan Aliana yang tidak mampu menjaga ibu dengan baik.” “Maafkan Aliana karena belum mampu menjadi anak hebat untuk ibu, menjadi pelindung ibu.” bibir itu tergigit, menahan tangis yang sedari tadi dia tahan. Dulu sekali Aliana berjanji setakut apapun dengan keadaan yang terjadi, dia tidak akan menangis di depan wanita paruh baya itu. Dia harus menjadi Aliana yang kuat, Aliana yang bisa diandalkan sang ibu. “Ibu harus cepat sehat! Ibu harus cepat sehat supaya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Ibu Aliana rindu.” Aliana membawa telapak tangan rapuh itu ke pipinya. “Waktumu sudah usai.” pintu terbuka, menampilkan wajah Marvel dengan ekspresi datarnya. “Iya.” angguk Aliana penuh senyum pedih. Sementara di sudut lain ruang VVIP rumah sakit itu, Askara yang terus- menerus merengek minta pulang pada akhirnya diijinkan oleh dokter namun berbagai pertimbangan dari dokter akhirnya bocah itu bisa pulang keesokan harinya setelah serangkaian pemeriksaan usai dilakukan. “Mau makan pakai apa?” tanya Bella setelah berhasil mengusir para maid dari dapur bersihnya, meraih appron berwarna hitam dan memakainya. “Askara mau Bolognaise!” jawab bocah yang duduk di depan meja dapur dengan kursi makan yanng tadi Aira ambilkan untuknya. “Ok.” angguk wanita itu, “Lalu kalau Aira?” manic cantik itu menoleh pada Aira, menatap gadis yang sedari tadi diam disamping sang adik, “Aira mau makan apa?” “Ya?” manic itu berkedip selama sepersekian detik sebelum akhirnya seulas senyum terbit di bibir mungilnya, “Karena Askara mau makan spagetti kalau begitu Aira mau steak saja.” gadis itu lantas menolehkan kepalanya pada Askara, “Jadi kita bisa join kalau makan nanti, Ok?” “OK!” angguk Askara semangat. “Bagus kalau begitu kalian berdua duduk tenang, biar Mama mencoba masak.” perintah Bella dengan spatula di tangannya. “Askara mau minum apa?” tidak ada salahnya kan kalau Aira bertanya pada adiknya itu. “Askara mau Alpukat pakai kental manis tidak mau tambah gula.” “Iyuh kurang manis sih tapi terserah kamulah!” Aira lantas bangkit dari duduknya, membuka tempat penyimpanan buah dan mengambil beberapa buah alpukat, “Mama mau juga?” “Samakan dengan Askara, ya.” ucap wanita itu dengan senyum manisnya membuat Aira langsung menundukkan wajahnya dan tersenyum senang. “Aira, Coba lihat apakah tingkat kematangannya sudah sesuai dengan seleramu?” Bella memanggil sang putri yang sedang menuang jusnya kedalam gelas membuat remaja itu mendekat pada sang ibu. “Aira maunya medium saja dan sepertinya sebentar lagi.” “Ok.” Bella kembali sibuk dengan steak-nya, “Oh ya coba cicipi rasa spaghetti ini apakah sudah pas.” Tanpa diminta dua kali, Aira meraih garpu dan mengambil sedikit spagetti diatas panci dan memasukkannya dengan semangat ke dalam mulut, “Sudah enak. Sip!” puji gadis itu dengan mulut penuh dan jempol terangkat, “Aira bantu taruh di piring ya.” remaja itu membuka rak dan menempatkan spaghetti disana lalu meletakkan tepat di depan Askara. “Yey, bolognaise Askara sudah jadi.” bocah itu hendak meraih garpu namun langsung dihentikan sang ibu, “Eit, punya kakak belum siap sayang.” “Yah.” bibir kecil Askara cemberut namun senyumnya kembali mekar saat melihat Aira meletakkan jus permintaannya. “Minum itu dulu.” “Iya.” tanpa diminta dua kali bocah itu melakukan perintah kakaknya bertepatan dengan siapnya steak permintaan sang kakak. “Sekarang kalian boleh makan.” ucap sang Mama dengan melepaskan appronnya dan meminum jus buatan Aira. “Coba buka mulut.” Aira memotong steak-nya dan menyodorkannya kearah Askara yang langsung masuk ke dalam mulut kecil bocah itu, “Steak buatan mama enak!” ucapnya dengan bibir penuh, “Kakak coba makan lagi spaghetti-nya!” keduanya berakhir dengan saling suap satu sama lain diiringi dengan tawa menggema. “Mama tidak mau mencicipi juga?” Aira memotong steak-nya dan menyodorkannya kearah sang mama sambil menatap sang Mama penuh harap. Tanpa diduga Bella membuka mulutnya, menerima suapan sang putri, membuat Aira tersenyum lebar. "Steaknya enak, kan?" manic remaja itu berbinar. "Iya Mama tahu. Apapun buatan Mama pasti enak." senyum Bella sombong sebelum membuka mulutnya lagi, kali ini minta spagetti pada Askara. "Makan steak ini." Aira memotong steak dan menyuapkannya ke sang adik. "Apa yang sedang kalian makan?"suara itu datang tiba-tiba tanpa mereka bertiga sadari, "Sepertinya enak." Dave berjalan mendekati Bella dan mengecup kening istrinya singkat. "Mama masak untuk kami, Pa. Rasanya enak! Papa mau coba Bolognaise Askara?" "Boleh." Dave membuka mulutnya dan Askara langsung menyuapi sang Ayah. Pria itu mengunyah dengan ekspresi berlebihan sembari tangan terangkat, "Mama pintar masak ternyata. Ini enak." "Dari dulu Mama sudah pintar masak, hanya saja tidak punya waktu untuk itu." "Kalau sekarang sudah bisa buat seperti ini untuk anak-anak berarti sudah punya waktu, kan?" Dave menatap wajah sang istri, membuat Bella berdehem dengan keras, "Akan kucoba atur waktunya." "Bagus." senyum Dave singkat sebelum beralih ke sang putri minta disuapi steak. "No! Kalau semua minta steak Aira, Aira makan apa?" bibir gadis itu cemberut membuat sang Ayah menjitak kepalanya pelan. "Sakit." tajuknya manja membuat cemoohan spontan keluar dari bibir sang Mama, "Hentikan Aira, manja seperti itu bukanlah karaktermu." "Papa." tajuk Aira semakin menjadi namun sayang rajukannya itu malah dihadiahi tawa oleh semua. Aliana yang sedari tadi mengintip di balik dinding bersama beberapa orang maid terseyum melihat mereka pasalnya ini adalah kali pertama dia melihat keluarga itu berkumpul dan bahagia seperti itu. "Andai waktu bisa diputar, mungkin aku juga bisa bahagia seperti mereka." bathinnya berbisik perih. Dan tanpa terasa malam berganti dengan cepat, sinar bulan enggan muncul di langit setelah hujan sejak sore, sudah berguling ke sana kemari namun Aira sama sekali tidak bisa tidur, dengan kesal dia bangkit dari atas ranjang. "Apa aku coba tidur dengan mama dan papa saja? Semoga Mama mengijinkan." ragu itu pasti ada terlebih Bella mulai baik pada Aira baru dalam hitungan hari terakhir tapi apa salahnya untuk dicoba. Dengan membawa bantal, gadis itu keluar dari balik kamar, berjalan beberapa langkah hingga akhirnya berhenti di kamar Askara yang sedikit terbuka. Aira mengintip kedalam dalam dan mendapati sang Mama sedang menidurkan sang adik. 'Coba saja.' bathin remaja itu berbisik sebelum akhirnya membuka pintu dan menampilkan senyum manisnya pada sang Mama yang ternyata masih belum tidur. "Bolehkah Aira tidur dengan kalian?" suara itu amat pelan, penuh permohonan. "Ayo sini." Bella menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang Aira disebelah kirinya. "Terima kasih, Ma." dengan semangat gadis itu berbaring, menghadap sang Mama dengan senyum lebarnya. "Tidak bisa tidur, kan?" "Iya."angguk Aira pelan. "Sini Mama peluk." Bella membuka lengannya membuat Aira langsung masuk kedalam dekapan hangat sang ibu. "Sekarang tidur. Jangan sampai terlambat sekolah hanya karena kesiangan, Ok?" Bella mengelus surai lembut sang putri. "Iya."angguk Aira didada sang Mama dengan senyum yang tak luntur. Tidak butuh waktu lama, manic Aira terpejam dipeluk kantuk karena rasa hangat dan nyaman. "Yah sepertinya aku juga harus tidur sekarang."ucap Bella dengan uapannya yang datang bertubi-tubi hingga berakhir menyusul dua buah hatinya yang juga telah lelap terlebih dahulu. Kamar Askara yang biasanya hanya ditiduri oleh bocah itu sendiri kini terdapat dua orang yang ikut berbagi ranjang dengannya. Ketiganya sudah lelap dalam gelap, amat terasa sunyi dengan suara nafas beraturan yang saling sahut menyahut mengiringi malam. Dan detik itu juga, tepat di jam 1 dini hari, ponsel yang Bella yang wanita itu letakkan diatas balas samping tempat tidur berbunyi, menandakan sebuah pesan singkat masuk kedalamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD