5. Sang Nyonya (18+)

1640 Words
"Apa kau tidak bisa menjawab pertanyaan saya?" Nada itu semakin tajam diikuti dengan langkah kaki berbalut hells yang semakin mendekat ke arah Aliana, "Apa yang kau lakukan di ruang kerja suami saya? Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?" "Maaf nyonya saya..."Aliana menggigit bibirnya, bingung harus menjawab apa saat ini karena jika dia jujur sekalipun, Aliana yakin sang Nyonya tidak akan percaya. "Bingung mengarang cerita apa?" sudut bibir berpoles lipstik merah semakin mengeram, "Apa kau mau mencuri?” “Tentu saja tidak, Nyonya! Saya bukan orang seperti itu!” suara Aliana langsung naik satu oktaf, mengelak dengan tegas tuduhan yang keluar dari wanita cantik bersetelan broken white itu. “Kau berani menggunakan nada tinggi pada nyonyamu?! Waw!” manik coklat berhias bulu mata lentik itu mengerjap kaget, "Kamu tidak takut pada saya?!" “Maaf nyonya, bukan saya bermaksud membentak anda tapi saya benar- benar tidak melakukan hal itu.” “Siapa yang akan percaya kata-katamu?! Kau seorang babysitter yang tugasnya mengasuh anak dan area ini bukanlah wilayahmu!” wanita itu mempertajam ucapannya, “Sepertinya saya harus segera laporkan ini pada yayasan tempatmu berasal supaya kamu bisa langsung ditarik dari rumah saya.” "Tapi Nyonya..." alis Aliana sedikit mengerut bingung pasalnya yayasan mana yang dimaksud sang nyonya atau mungkin sang tuan mendaftarkan namanya di yayasan tertentu untuk memperkuat alibi. “Bella?!” gema suara tegas nan tajam itu langsung menghentikan pergerakan wanita bernama Bella itu, “Apa terjadi sesuatu?” langkah kaki berbalut sepatu warna hitam itu mendekat, membuat Aliana langsung menundukkan kepalanya dalam karena sorot tajam penuh ancaman dari sang tuan seolah membakar dirinya. “Dave, aku mau melaporkan babysitter satu ini pada yayasan penyalur karena dia telah lancang masuk ruang kerjamu tanpa izin. Bisa jadi dia mencuri sesuatu dari dalam sana, kan?!” “Tidak perlu!” Dave langsung mengambil ponsel dari jemari wanita yang bernama Bella itu dan mematikan sambungan teleponnya, “Saya yang tadi memintanya untuk mencari sesuatu di dalam.” “Kamu menyuruhnya? Kamu sedang tidak mencoba melindunginya, kan?” manic itu memincing dan disambut seulas senyum amat tipis dari bibir pria bernama Dave itu. “Untuk apa saya melindunginya? Memangnya dia siapa?” alis hitam lebat itu naik sebelah sebelum akhirnya menatap Aliana yang diam dengan kepala tertunduknya, “Kau, kembalilah ke ruanganmu!” “Baik Tuan.” angguk Aliana patuh dan secepat kilat langsung pergi dari hadapan sang Tuan dan Nyonya. "Dave!" "Apa, hm?" "Bagaimana bisa kamu selonggar itu pada orang yang baru bekerja di rumah kita?!" “Dia tidak akan berani macam-macam. Sekarang kemarilah!” tangan itu terbuka lebar, "Apa kau memotong jatah pelukan hari ini hanya karena babysitter itu?" "Ck." decak keluar dri balik bibir berpoles lipstik merah darah itu sebelum akhirnya mendaratkan tubuhnya kedalam pelukan besar Dave. "Biasanya kamu tegas sekali dengan semua pegawai kita tapi pada gadis tadi kenapa kau sangat hati-hati sekali?" "Bisakah kita sudahi topik babysitter tadi?" jemari besar Dave terangkat, mengelus surai madu Bella dengan lembut. "Baiklah Tuan Dave." Dan Bella semakin menyamankan posisinya dalam pelukan sang suami. "Bella..." "Hm?" “Bukankah kau bilang ada urusan penting di Singapura, kenapa cepat sekali pulang?” Bella Amertha Kusuma pergi ke Singapura tadi pagi dan sekarang di jam sembilan malam sudah pulang ke Jakarta. “Urusan cepat selesai disana jadi untuk apa berlama-lama di negara orang.” “Itu bagus." seringai Dave kecil sebelum menyusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghindu aroma parfumnya yang samar sebelum mengulurkan lidahnya, menjilat lembut tengkuk lembut itu. "Dave!" nafas Bella tercekat, maniknya secara perlahan terpejam dengan jemari secara naluriah menelusuri d**a bidang Dave sebelum akhirnya mendorong jauh pria itu. "Apa, hm?" manic hitam itu berkabut, jemari kasarnya yang tidak sabar kembali berkelana, meremas bagian menonjol sang istri dengan gerakan memutar. "Kau tahu kita sedang di luar? Bagaimana kalau ada yang melihat?" "Lalu apa masalahnya? Ini rumah saya." ucap Dave sengau dengan menggesekkan bagian depannya yang sudah menonjol, "Lihat, dia ingin pulang ke sarangnya." kedua jari Dave dengan Kasar menangkup bagian belakang Bella, mendorong paksa bagian menggiurkan untuk lebih dekat dengan intimnya. "Mesum." "Saya pria dan itu wajar." Dave kembali menjatuhkan wajahnya di tubuh sang istrinya, menghisap bagian atas tubuhnya yang menonjol akibat tekanan tubuh keduanya sedangkan sebelah jarinya menelusuri bagian belakang tubuh Bella, menarik turun resleting gaun wanita itu. "Kita ke kamar sekarang!" dengan cepat Bella menarik wajah Dave. "Siap, nyonya!" Dalam satu sentakan Bella langsung berada dalam gendongan koala sang suami dengan bibir saling melumat sepanjang jalan. "Brak!" Pintu ditutup kasar dengan ujung kaki. Dengan keras Dave menekan tubuh Bella di dinding, mengecupi setiap inchi tubuh wanita itu dengan tidak sabar. "Ingat jangan tinggalkan tanda apapun, Dave!" satu tangan Bella menjambak surai legam Dave, memperingatkan pria itu. "Ya, saya tahu." ucap Dave dengan seringainya sebelum jarinya beraksi untuk merobek gaun tipis yang membungkus tubuh Sexy itu sekaligus menurunkan "Bagaimana mungkin wanita yang sudah melahirkan masih bisa selangsing ini?" Dave merendahkan tubuhnya, mengecupi perut datar Bella, memuja bagian dimana buah hatinya pernah bersemayam selama 9 bulan. "Itu rahasia wanita." desah Bella dengan jari meremas rambut Dave karena bibir pria itu kini sedang bermain dengan puncak coklatnya. "Dave!" pekik Bella semakin keras saat jari pria itu bermain kasar di bagian bawahnya yang sudah membanjir. "Siap untuk kebagian inti?" tanpa rasa bersalah Dave mendongakkan kepala. "Lakukan sekarang!" tanpa diminta dua kali Dave langsung membawa Bella ke ranjang, membanting tubuh wanita yang tak berpenutup itu dengan pandangan tak sabar. Dengan cepat jari Dave membuka seluruh kain yang membalut tubuhnya hingga menampilkan pemandangan tubuh berototnya yang pas disegala sisi. "Come to Mama, Baby." pandangan Bella nakal saat menatap intim Dave yang berdiri tegak. Tanpa malu Bella membuka lebar kakinya dengan sebelah tangan bermain di intinya yang basah. "Yes, Bella." seringai Dave yang langsung menubruk sang istri dan menyatukan tubuh keduanya. Desah dan erangan mengalun di ruang kedap suara itu, Dave terus melakukan tugasnya dengan semangat sedangkan Bella menerima dengan pasrah. Permainan mereka berlangsung selama beberapa saat sampai klimaks menghampiri. "Huft." desah keduanya mengalun kasar dengan pandangan menatap langit kamar yang temaram. "Dave?" Bella langsung menolehkan kepala, menatap Dave yang tiba-tiba bangkit dari atas ranjang, berjalan ke kamar mandi dan keluar dalam keadaan segar dan rapi. "Mau kemana?" “Hari ini adalah pengiriman pertama pabrik rokok yang telah saya akuisisi itu. Jadi saya ingin mengawasi prosesnya secara langsung.” “Harus sekarang?" Bella menatap Dave dengan alis mengerut, dia merasa seperti p*****r yang ditinggal setelah pelanggannya puas. "Kalau bukan sekarang mau kapan lagi?" "Baiklah, Pulang jangan terlalu malam dan hati-hati di jalan." “Hm.” Dave lantas menghampiri Bella, mengecup kening wanita itu sekejap sebelum keluar dari balik kamar untuk menuju meja bar yang mana Marvel sudah menunggunya sedari tadi. "Jadi bagaimana?" “Kris sudah menelepon saya beberapa menit yang lalu.” “Apa katanya?” “Nyonya benar-benar pergi ke Singapura dan beliau benar-benar menemui rekan sesama desaigner-nya disana.” “Yakin hanya itu.” sudut alis Dave naik, seolah dia tidak begitu percaya dengan apa yang baru saja di dengar. "Ya, hanya itu." Marvel berdehem sejenak, mengamati ekspresi sang tuan yang sama sekali sulit ditebak, “Maaf Tuan jika saya lancang berbicara seperti ini pada anda. Saya tahu anda benar-benar mencintai Nyonya tapi apakah anda tidak merasa amat keterlaluan dengan sikap possesive yang anda lakukan akhir-akhir ini? Tidakkah anda merasa sudah sangat cukup dengan menempatkan Kris sebagai PA beliau?” “Marvel.” Dave mengalihkan pandangannya pada pria berbaju hitam disampingnya, “Saya rasa apa yang saya lakukan wajar dilakukan oleh seorang suami pada istri yang teramat dia cintai. Dan asal kau tahu, Istilah saling percaya pada pasangan itu hanya mitos belaka, Marvel.” ucap Dave dingin sebelum masuk kedalam mobil yang telah dibukakan oleh Marvel sebelumnya. “Ya, terserah pemikiran anda, Tuan Dave. Saya hanya bisa memberikan saran yang baik sebelum semuanya terlambat.” desah Marvel singkat sebelum pria itu masuk kebalik kemudi yang membawa mereka menuju pabrik. Sementara itu, Aliana yang berhasil kabur dari situasi aneh tadi langsung menutup pintu kamarnya dengan perlahan dan berdiri ditengah-tengah kamar sempit itu dengan pandangan berpendar kesegala sisi sebelum akhirnya menangkap satu salah satu kamera CCTV yang setia menguntitnya selama 10 hari terakhir ini. "Tidak cukup dengan memberikan bodyguard menyeramkan, tuan itu juga mengawasiku seperti ini. Hidupku tak ubahnya seperti seorang tawanan yang menyedihkan." Aliana lantas membaringkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. "Sudah cukup lama aku disini dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi ibu. Apakah beliau baik-baik saja? Apakah mereka merawat ibuku dengan baik atau tidak? Atau mungkin ibu sudah membuka mata dan kini beliau sedang kebingungan karena aku tidak ada disampingnya?" "Oh Tuhan, aku mau ibuku sekarang!" Aliana menutup kedua matanya dengan telapak tangan, menyembunyikan tangis yang secara perlahan mulai keluar dari balik ceruknya disertai dengan isak yang teramat lirih, "Aku mau bertemu ibu! Aku mau menemani ibu seperti dulu. Aku mau ibuku disampingku!" Aliana tidak tahu bagaimana situasi diluar sana karena dia tidak diizinkan memegang alat komunikasi apapun dan tidak boleh pergi kemanapun tanpa perintah mupun izin dari pria laknat itu. Aliana tahu dia bersalah tapi apakah pria itu tidak punya hati sampai tega melakukan hal ini padanya? Apa pria itu tidak punya sedikit rasa kasihan padanya? Baiklah, mungkin Aliana memang bukan siapa-siapa tapi seharusnya pria itu cukup punya hati pada sosok Ibu Aliana yang kini tengah terbaring di rumah sakit seorang diri. "Memangnya siapa kamu, Aliana? Bahkan jika kau menangis darah sekalipun, Tuan Laknat itu tidak akan mau mengizinkanmu untuk menemui ibumu. Kamu yang bodoh Aliana. Kamu sendiri yang memulai semua permainan ini. Ini hukuman untukmu! Ini adalah karma yang harus kamu tanggung." Aliana terus menangis sepanjang malam, menahan sesak dalam hati atas kerinduannya pada sang ibu, sembari berdoa pada Tuhan semoga ibunya hadir dalam tidurnya yang gelap, mengecup dahinya lembut dan memeluknya erat dalam tidur seperti yang selalu wanita paruh baya itu lakukan dulu. "Ibu, Aliana sayang ibu." dan pada akhirnya manic kelam itu tertutup bersama dengan gelapnya malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD