Sudah dua jam Afifah baru sadar, ia menangis dipelukan Aika dengan hati pilu. Seolah sekujur tubuhnya kehilangan jiwa. Sungguh hatinya tak tenang. "Jangan nangis, Fah. Lebih baik sekarang kita ke Kantor polisi menemui Barra. Sigit juga sudah menelpon pengancara Barra." Aika menggelus punggung wants itu agar lebih tenang. Afifah mengangguk melepaskan pelukannya. Dia perlahan menghapus air matanya. Cinta itu memang sulit dimengerti, disaat mulai menerima kesalahan, justru takdik seakan berlomba menguatkan cinta mereka dengan cara menguji mereka. Dan perempuan itu, Hanya berharap semua akan baik-baik saja. Dimana dia bisa melakukan kemauan dengan sikap gengsi dan egonya. "Ayo! Jangan buang waktu." Mereka berdua pun pergi menggunakan mobil Aika. Afifah jadi merasa bersalah, Karena ia pern

