Mobil berhenti tepat di halaman depan rumah besar keluarga Alexandra. Lampu teras menyala temaram, menyingkap sosok Stella yang tengah duduk di kursi rotan, memeluk kedua lengannya sendiri karena udara malam yang dingin. Mecca segera meraih tasnya, lalu membuka pintu tanpa menunggu. Ia melangkah cepat, wajahnya datar dan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Harvin. “Mecca?” panggil Stella heran begitu melihat kakaknya muncul lebih dulu. Namun Mecca sama sekali tidak menggubris. Ia berjalan lurus melewati adiknya, masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun. Pintu utama tertutup cukup keras, menandai jelas ketidaksabaran sekaligus kekacauan hatinya. Stella sempat terdiam, menoleh penuh tanya, hingga matanya menangkap Harvin yang baru turun dari mobil. Ekspresinya kontan berubah, kaget seka

