Emma tidak menyangka kalau Elliot akan menjemputnya seperti sekarang. Pagi-pagi lelaki itu datang ke rumah dengan mengendarai sebuah mobil. Tidak seperti biasa, Elliot sebenarnya lebih suka berjalan kaki kemunian menaiki bus, tetapi kali ini ia ingin berduaan dan berangkat bersama dengan gadis yang baru saja menjadi kekasihnya."Hey!" panggil Elliot dan tersenyum menatap wajah bingung Emma. Pasti gadis itu kaget karena kedatangannya yang tiba-tiba ini.
"Kenapa tidak bilang ingin menjemput, Elliot? Pantas saja semalam kau menanyai jadwal kuliahku." Emma mengembungkan pipinya kesal karena menadapati hal yang sangat mengejutkan seperti ini.
Elliot segera mengangkat bahu acuh tidak acuh dan hal itu membuat sang gadis mencubit lengannya.
"Bukankah biasanya tidak pernah naik mobil? Kenapa sekarang pakai mobil?" tanya, Emma. Masih berusaha menyelidiki ada angin apa sang kekasih datang seperti seorang kekasih yang ada di drama romantis.
"Sudahlah, masuk saja."
Elliot membukakan pintu mobilnya untuk Emma dan setelah berada di dalam mobil, ia kembali membantu Emma memasang sabuk pengaman.
"Aku kira kau tidak bisa menyetir?"
Emma menatap mata sehitam arang itu dengan ekpresi bingung dan sebenarnya terlihat campur aduk antara memerah malu juga kaget, sementara itu Elliot menyeringai dan kemudian berbicara.
"Berdoa saja, agar kita selamat sampai di tujuan." Suara rendah Elliot membuat manik emerald sang gadis terbelalak.
"Elliot, jangan bercanda, ya!" seru Emma mulai kesal dan takut dengan apa yang diucapkan sang kekasih, dia bahkan belum menikah, Tuhan.
Mendengkus lucu, Elliot mengendikkan bahu sekali lagi, kemudian menjalankan mobilnya dengan baik dan benar hingga sang gadis terlihat mengembuskan napas karena merasa lega. Catat itu.
"Dasar menyebalkan!" kembali Emma mencibir Elliot yang kelihatan lihai dalam berkemudi. Ia cukup terkejut sebenarnya.
Melirik Emma yang duduk di sampingnya sebentar, Elliot tersenyum kecil, kemudian mengutarakan apa yang ada di benaknya.
"Jangan memikirkan yang aneh-aneh? Aku bahkan sewaktu remaja sering melakukan balap liar."
"Kau pamer atau apa, Elliot? Dan jangan diulangi lagi! Balap liar, ck. Itu berbahaya." Emma masih berbicara dengan nada sebal, ia dikerjai sedari tadi. Dan lihat saja bagaimana bangganya lelaki itu dengan kelihaian menyetir mobil.
"Tidak, jika orang itu ahli seperti aku." Suara santai itu membuat Emma hanya bisa mendesah dengan ekspresi geram.
Pada akhirnya Emma mengalah dan menatap jalanan yang ada di samping wajah dengan senyuman kecil di bibir, kalau dipikir-pikir dijemput ke kampus oleh pacar adalah sesuatu yang romantis, walau ia memiliki kekasih yang sering digosipkan aneh-aneh.
Beberapa saat setelah berkendara, mereka pun sampai di kampus, kemudian memarkirkan mobil dan berjalan bersama sambil asik mengobrol. Tidak memedulikan orang-orang yang menatap mereka iri dan benci. Khususnya untuk para gadis yang memandangi demikian rupa kepada Emma. Namun, Emma selalu belajar untuk tidak terlalu peduli kata-kata orang, seperti kekasihnya ini. Dan ia kembali tersenyum saat menatap kekasihnya yang sudah kebal sekali dengan sindiran orang-orang kurang kerjaan itu.
"Kenapa tersenyum sambil menatapku? Kau terpesona, ya?" tanya lelaki itu dengan senyuman sombong yang baru disadari Emma ketika mereka memutuskan untuk berpacaran.
Emma benar-benar kesal setengah mati kalau Elliot sudah menggoda dirinya.
Mereka baru sekitar satu minggu lebih berpacaran dan lelaki ini selalu berhasil menggodanya.
Mendudukkan diri di bawah pohon yang biasa Emma tempati itu, ia mengembuskan napas dengan perlahan karena merasa lega setelah mendengar berbagai komentar ini dan itu di sepanjang jalan, lagi pula di sini sangat nyaman dan tenang. Dan semenjak Elliot menjadi kekasihnya, mereka selalu duduk di sini berduaan jika mereka tidak ada jadwal atau telah selesai pertemuan di kelas.
"Elliot, terima kasih." Emma berucap tulus. Matanya berbinar cerah saat menatap lelaki itu.
"Seharusnya aku," ujar sang lelaki walau perkataannya selalu terkesan ambigu, tetapi entah mengapa Emma selalu mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan sang kekasih.
Elliot menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi Emma, menatap gadis itu dan menyandarkan punggung di batang pohon.
"Aku juga minta maaf karena kau jadi terseret-seret di dalam rumor-rumor murahan itu." Elliot menatap Emma dengan mata yang menggambarkan penyesalan.
Tentu si gadis tahu benar rumor dan gosip yang selalu saja mengelilingi Elliot, dan sekarang ia menjadi risih dengan tatapan-tatapan juga bisik-bisik yang selalu mewarnai harinya di kampus. Menjadi kekasih sang iblis tidak semudah yang ia kira, selain karena banyak yang menyukai Elliot karena ketampanannya, banyak juga yang merasa iri kepada Emma, dan karena hal itulah Emma menjadi terkena imbas dari hal ini. Bahkan ia juga pernah dikerjai, seperti sengaja dikunci di kamar mandi atau disiram jus saat membeli makanan di kantin.
Emma juga tidak mengetahui dari mana mereka tahu kalau ia sudah berpacaran dengan Elliot. Dan lagi, kenapa gosip itu menyebar dengan cepat, sampai-sampai ia menjadi sangat terkenal di penjuru kampus. Yang lebih parahnya, kedua sahabatnya itu selalu menyuruh Emma untuk membalaskan dendam mereka kepada Elliot.
Ia bingung harus berbuat apa, ia tidak akan mengkhianati Elliot karena entah sejak kapan ia sudah jatuh hati kepada lelaki dingin itu. Mungkin, semenjak mengetahui kalau lelaki itu sebenarnya baik. Bahkan, Elliot memindahkan bunga yang tumbuh jauh dari jenisnya itu dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya tumbuh.
"Hey!"
"Aduh!" Emma menatap tajam Elliot yang menggigit kecil ujung hidungnya perlahan, yang mana membuat ia menjadi terkejut dan Emma terbelalak setelah menyadarinya.
Elliot menggigit hidungku? Dasar pencari kesempatan! Batin Emma menggerang karena saking tidak bisa berkata-kata.
"Hm, apa yang kau lamunkan?" tanya Elliot dengan senyuman tipis, ia memandang sang gadis dengan tatapan jahil ketika mendapati pelototan dari mata berwarna emerald. Mendengkus dan tertawa kecil, ia bersumpah melihat bola mata hijau itu hampir melompat dari rongganya.
"Ini tidak lucu, Elliot. Kau menggigit hidungku!" Emma yang kesal mencubiti lengan Elliot, dengan wajah agak kesal, tetapi juga memerah karena malu.
"Aw! Untung saja aku tidak menggigit bibirmu." Laki-laki itu berujar dengan santai.
"Apa? Kau berpikir sampai ke sana, dasar mesum."
"Kau menggemaskan, tahu.” Hela napas terdengar, Elliot memandangi gadis yang masih bersungut-sungut itu.
Emma terdiam mendengar ucapan kekasihnya, dan kemudian ia merasakan kelembutan bibir Elliot yang menciumnya dengan pelan dan hati-hati. Senyuman lelaki itu terasa melebar, ketika ia membalas dan merangkulkan tangan ke leher sang kekasih.
***
Emma berjalan di lorong kampus dengan wajah masam. Telinganya serasa panas karena sedari tadi para mahasiswa dan mahasiswi yang berpapasan dengannya selalu menatap dan kemudian berbisik-bisik. Hal ini sangat menyebalkan. Belum lagi para gadis yang terang-terangan menyoroti dengan sinis atau cibiran pedas kepadanya hingga membuat Emma semakin merasa ingin menendang gadis-gadis penggosip itu.
Mengambil tindakan tidak peduli, Emma kemudian memakai headphone di telinganya dan menghidupkan musik dengan volume keras. Yeah, musik rock kesuakaan si gadis menutup telinga dari obrolan sampah para penggosip. Helaan napas pun ia hadiahkan kepada para penggosip itu. Mereka semua terlalu mengurusi urusan orang lain dan selalu mencari celah untuk menjatuhkan antara yang satu dengan yang lain.
Ia tahu, seluruh penjuru kampus pasti sudah mendengar gosip terpanas pekan ini. Emma akhirnya bisa menaklukkan pria yang paling diincar yang dijuluki sang iblis; Elliot.
Mengapa mereka selalu membicarakan orang lain? Kenapa mereka selalu sibuk mengurusi masalah orang lain? Menyebalkan!
Lirikan mata Emma mengarah ke pojok kanan yang ada di depannya, di sana ada sekumpulan gadis yang menggosip terang-terangan tentang dirinya dan hubungan antara ia dan Elliot.
Para penggosip itu pun menarik segala kesimpulan atas hubungan mereka. Perihal mengapa Elliot dan Emma bisa menjadi sepasang kekasih? Bahkan, telinga Emma yang sudah terlepas dari headphone bisa menangkap dengar bahwa gadis-gadis itu seenaknya mengatakan bahwa Emma sudah menjual tubuhnya kepada sang iblis.
Dasar tidak tahu diri. Sabar, Emma! Sabar! Mereka hanya iri kepadamu!
Gadis yang memiliki paras cantik dengan mata hijau itu pun menggerakkan kakinya dengan cepat dan masuk ke dalam kelas. Jurusan Filsafat.
Krekkk. Suara pintu yang berderit ketika dibuka, membuat semua yang tadinya sendang berbicara, kemudian langsung terdiam karena melihat kehadiran Emma di kelas.
Emma berjalan tak acuh dan langsung duduk di bangkunya. Melihat kedatangan sang sahabat membuat Irene dan Karin lantas mendatangi mejanya dan menanyakan bermacam-macam hal mengenai status percintaan Emma dengan Elliot.
"Emma, kau sedang menjadi hot topic pekan ini. Ya ampun, gadis mana yang akhirnya bisa menaklukkan sang iblis itu. Kau luar biasa." Irene kelihatan senang dan tidak memedulikan wajah masam Emma yang menatapnya dengan sebal.
"Kita harus merayakan ini! Akhirnya, Emma... hanya kau yang bisa menaklukkan Iblis itu, ini keberuntungan untuk kita, dan kau harus segera mempermainkannya seperti taruhan kita." Karin berbicara dengan lancar tanpa peduli sekarang mereka sedang duduk di kelas dan banyak yang mencuri dengar tentang obrolan mereka.
"Karin, Irene, dengar, ya! Aku serius dengan hubungan kami ini dan jangan berbicara yang aneh-aneh lagi, Elliot itu bukan iblis. Dan aku tidak akan mempermainkannya karena dari awal aku tidak pernah ikut dengan taruhan kalian itu." Lama-lama Emma menjadi terpancing dan meninggikan volume suara karena berang dengan ucapan teman-tamannya ini. Bahkan, Irene dan Karin malah merencanakan yang tidak-tidak atas hubungan mereka berdua.
"Ayolah, Emma! Jangan karena hanya kau yang berhasil menaklukkannya, jadi akhirnya kau yang tidak mau menjalankan rencana kita. Kau tidak setia kepada kami. Lagi pula, dari awal kita berencana menaklukkan sang iblis, atau... jangan-jangan kau sendiri yang malah terjerat dalam pesona Elliot yang mistrius dan gelap itu?" tanya Irene sambil menyeringai karena tidak menyangka kalau Emma tidak mau menjalankan rencana mereka.
"Itu benar, Emma. Sang iblis itu sudah banyak menyakiti hati para gadis di kampus ini dan ini adalah kesempatan kita untuk membalaskan rasa sakit hati itu." Karin kembali menimpali.
Emma yang melihat mereka sudah menjadi bahan tontonan para rekan sekelasnya, ditambah lagi bisik-bisik buruk tentang hubungannya dengan Elliot. Membuat ia menjadi tidak tenang dan marah kepada kedua gadis yang sudah dianggapnya sebagai sahabat.
"Kalian tidak mengerti, aku sudah bilang kita tidak berhak mengadili seseorang. Kalian egois!" Emma menggerakkan kakinya dan berjalan ke arah pintu. Ia sudah berang berada di kelas, belum lagi teman-temannya menyuruh melakukan hal-hal mengerikan kepada kekasihnya. Demi Tuhan, Emma tulus untuk menjadi kekasih Elliot dan ia tidak pernah menganggap taruhan itu ia terima.
Saat keluar dari gedung fakultasnya, Emma tercengang melihat mading (majalah dinding) yang ada di sampingnya itu. Pantas saja tadi saat ia menuju ke kelas banyak orang yang mengelilingi mading ini. Di sana ada semacam artikel tentang Elliot dan dirinya. Judulnya bahkan terpampang dengan jelas. 'Edisi ke tiga; ER, Kekasih Sang Iblis.'
Apa-apaan itu? Edisi ketiga, maksudnya sebelum ini ada artikel semacam ini yang menulis tentang diriku dan Elliot.
Emma mendekati mading dan kemudian membaca kertas yang tertempel di sana yang tertulis mengenai hubungannya dengan Elliot. Ada pula beberapa foto mereka saat bersama. Ia bahkan tidak pernah tau kalau ada orang jahil yang tidak bertanggungjawab melakukan hal ini dan ada fotonya segala, walau wajah mereka dikaburkan, tapi tetap saja ini sangat keterlaluan. Siapa yang tidak tahu tentang dirinya sekarang atau siapa yang tidak tahu dengan seorang pria yang dijuluki Sang Iblis?
Foto yang paling besar adalah saat dirinya dan Elliot yang tengah duduk berdua di sebuah pohon yang menjadi tempatnya biasa bersinggah untuk menenangkan diri, juga saat dirinya dan Elliot yang makan bersama di restoran mewah, kemudian foto ketika ia memeluk lelaki itu saat mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Ya, Tuhan! Ini sangat keterlaluan.
Merobek kertas yang tertempel itu, Emma kemudian membuangnya ke dalam tong sampah dengan alis berkerut tajam.
Melangkahkan kaki setelah mengembuskan napas untuk menenangkan emosi yang sempat naik, Emma memutuskan untuk kembali ke rumah karena benar-benar mengesalkan berada di kampus dengan orang-orang yang menjadikannya bahan pembicaraan.
Siapa yang berani membuat artikel semacam itu dan menyebarkannya di mading kampus? Apa jangan-jangan juga sudah ditempeli ke seluruh mading kampus?
Emma mengerut pelipis karena menjadi pusing seketika.
Kenapa menjadi serumit ini?
.
.
.
Bersambung