Kini aku dan Embun berada di dalam sebuah ruangan yang disebut sebagai ruangan mediasi. Jangan tanyakan bagaimana kondisi hatiku saat ini, aku merasa sedih dan lesu. Tidak pernah terbayangkan olehku jika kami akan berada di tempat ini dalam proses perceraian. Kami tidak hanya berdua di sini, ada seorang pria yang merupakan seorang mediator yang menemani kami. Dia memperkenalkan namanya dengan ramah dan sopan padaku dan Embun. "Selamat siang Pak Rudi, Bu Embun. Saya di sini sebagai mediator, pak Rudi dan Embun." Pria berusia 40 tahunan itu mulai melakukan tugasnya untuk menjadi jembatan antara aku dan Embun agar bisa berdamai, sebelum memasuki sidang perceraian kami yang pertama. Dia mulai bertanya tentang permasalahan yang kami alami. Embun yang lebih dulu berbicara tentang permasalahan

