CEO,s Heart 04

2027 Words
Ametta terus berjalan dan mempercepat langkahnya berharap dirinya bisa mengejar sean yang entah pergi kemana, Aku harus bertemu dengan nya Aku harus menemukan nya Kalimat itu seperti mantra yang mengiringi langkah Ametta. Disalah satu lorong Ametta bertemu dengan carlos yang tampak sedikit terkejut melihatnya dan Ametta mengabaikan ekspresi nya dan tidak peduli, Ametta berjalan menghampiri Carlos. "Dimana dia.?"tanya Ametta membuat Carlos mengerutkan kening nya "dimana Sean, aku yakin kau pasti tahu bukan." tanya Ametta sekali lagi yang akhirnya membuat Carlos mengerti. " saya rasa Mr.stefanus menuju kamar nya" "Berapa nomor kamar nya, cepat beritahu aku.!" Ametta seakan tidak sabar ingin bertemu dengan Sean dan memaksa Carlos untuk segera mengatakan di mana Sean berada. "3025" setelah menyebutkan angka dimana kamar Sean berada Ametta langsung berlalu namun ucapan carlos kembali menghentikan nya. "tuan james____" "urus saja tuanmu dan katakan terimakasih atas makan malam nya" ucap Ametta dengan nada sinis nya yang hanya membuat Carlos mengedipkan mata nya dan melihat kepergian ametta yang carlos sadari pasti akan menuju kamar dimana tempat Sean. "ah aku sudah menebak nya pasti akan sepeti ini." ucap carlos seakan prustasi menyadari kejadian apa yang akan terjadi lalu tugas apalagi yang akan tuan nya berikan, carlos menghembuskan nafas kasar nya, harus nya bos nya itu memberikan gajih tambahan untuk memata matai kisah cinta ametta dan kekasih nya, Mengurus semua pekerjaan dan jadwal padat james membuat carlos kadang tidak bisa menjalani kehidupan normal yang dia inginkan di tambah dengan tugas baru yang harus dia pikul, kadang carlos berfikir di umur berapa dia akan menikah dan menemukan tambatan hati jika setiap hari dia hanya sibuk mengurusi orang lain dan mengabaikan kehidupan nya sendiri, tapi bagai mana lagi semua ini takdir nya, Carlos memerlukan pekerjaan ini, bahkan bisa di bilang menjadi orang kepercayaan seorang James Walker pasti impian banyak orang tanpa melihat seberapa banyak tugas yang harus mereka pikul dan mereka pertanggung jawabkan. Baiklah kita lupakan tentang Carlos dan kembali ke seorang Ametta Sanders yang kini sedang berjalan lebih tepat nya sedikit berlali menuju kamar 3025. Di belokan lorong Hotel Ametta melihat Sean yang hendak masuk kedalam kamar dan Ametta harus cepat menghentikan nya. "Sean.!!!" teriak Ametta membuat sean yang hendak mengulurkan tangan nya untuk menarik hendle pintu terhenti dan menatap ke arah nya dengan tatapan terkejut. Sean hendak mengabaikan Ametta namun Ametta langung mengancam nya. "jika kau berani masuk, aku bernjaji besok pagi kau akan mendapatkan berita tentang kematianku.!!" ancam Ametta membuat Sean berhenti kembali dan menarik tangan nya, Sean akhir nya berbalik menatap Ametta dan Ametta langsung berjalan menghampiri nya Plak Suara tamparan yang nyaring memenuhi lorong Hotel yang sepi, bahu Ametta naik turun karena nafas nya memburu, tangan nya memerah dan pasti terasa sakit karena menampar wajah lelaki yang dia cintai, tamparan yang pasti sangat menyakitkan tapi bagi Ametta itu semua belum seberapa dengan rasa sakit yang dia rasakan sekarang. Sean memegang pipi nya yang memerah dan menatap ke arah Ametta dengan tatapan sedih, ya hanya tatapan itu yang bisa dia berikan bukan tatapan kesal marah karena telah di tampar seorang Ametta, "you i***t, f*****g guy, kau tega berkata seperti tadi hah, kau mencampakan aku, kau tidak mengenalku." maki Ametta sambil memukul d**a Sean dengan keras, Ametta benar benar marah dan rasa nya ingin sekali membumuh lelaki dihadapan nya sekarang ini, Sean mencekal kedua lengan Ametta dan menghentikan nya namun Ametta terus meronta seakan pukulan yang dia berikan belum puas membayar rasa sesak yang dia rasakan, "im sorry" bisik Sean akhir nya menghentika rontaan Ametta, Ametta menangis dan menyandarkan kening nya pada d**a Sean. "kau jahat, kau mengbaikanku dan pergi dariku, setelah itu kau pura -pura tidak mengenalku, apa salahku hem." ucap Ametta dengan suara serak dan air mata yang kini sudah membasahi pakaian Sean. "I'm sorry," kata itu lagi yang mampu Sean ucapakan untuk menenangkan Ametta, Sean mememeluk Ametta erat dan mengelus punggung nya berharap Ametta bisa segera tenang, "echem." deheman seseorang membuat Sean tersadar dan menatap seorang tamu Hotel yang melewati nya dengan tatapan seakan berkata sedang apa kalian berpelukan di lorong Hotel, kata itu yang Sean tangkap dari tatapan orang itu. "Metta____" "Jangan panggil aku seperti itu.!!" kesal Ametta memotong ucapan Sean dan memukul dadanya beberapa kali. "Babe, sepertinya kita harus masuk dahulu sebelum semua orang meneperhatikan kita" ulang Sean mengganti panggilan nya, karena memang seperti itu biasa nya dia memanggil seorang Ametta. Ametta menarik dasi Sean dan menghapus air matanya, setelah nya dengan gaya yang masih elegan Ametta berbalik dan terlebih dahulu masuk kedalam kamar yang akan di tempati Sean. "Benar benar seorang Ametta Sanders" gumam Sean dengan senyum di bibirnya, kemudian Sean megikuti Ametta untuk masuk. Ceklek Sean menutup pintu kamar dan berbalik, Sean melihat Ametta yang tengan berdiri dan melihat padatnya kota Los angeles di malam hari dari balik kaca tebal pembatas. Perlahan Sean melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Ametta, rasa rindu selama tiga hari yang Sean pendam seakan hendak meledak, Sean seakan tidak sanggup untuk tidak menarik Ametta dalam pelukan nya mencurahkan semua rasa rindu nya namun dirinya harus menahan  saat fakta melintas di dalam fikiran nya, ya memang harus seperti itu yang harus dia lakukan, dari awal Sean tahu bahwa hubungan nya dengan seorang Ametta tidak akan berjalan lancar, hanya karena bermodalkan nekad Sean bisa bertahan sampai selama ini. "Babe" ucap Sean membuat Ametta langsung berbalik menghadap kearah nya dengan mata yang memerah dan berkaca -kaca. Oh god jangan memberikan ku eksfresi seperti itu babe batin Sean seakan frustasi, dirinya tidak sanggup melihat Ametta seperti sekarang. "katakan padaku, kenapa kau melakukannya..?" tanya Ametta dengan nada tajam. "ini semua demi kebaikan kita" jawab Sean, karena memang seperti itu, semua keputusan yang dia ambil sudah dia fikirkan matang matang, semua demi kebaikan semua orang meskipun harus mengorbankan perasaanya sendiri dan mungkin juga menyakiti Ametta, toh itu tidak akan berlangsung lama fikir Sean, Ametta akan langsung mendapatkan pengganti yang lebih sempurna dari dirinya bahkan jauh lebih sempurna, seorang pewaris besar yang juga di warisi paras yang jauh lebih tampan darinya, semuanya bisa Ametta dapatkan bahkan mungkin setelah mereka menikah Ametta akan langsung lupa dengan dirinya, untuk itu Sean sangat mantap mengambil keputsan ini. "Kebaikan siapa yang kau bicarakan hah.?" tanya Ametta membuyarkan lamunan Sean, Sean menatap mata bulat Ametta yang menampilkan api kemarahan. "jawab aku kebaikan siapa yang kau maksud, apa kebaikanmu hah" bentak Ametta "bukan seperti itu, ini demi kebaikan kita babe, aku tahu kau akan di jodohkan dengan pewaris Walkers dan menurutku itu memang yang terbaik untukmu." kilah Sean mencoba membenarkan pemikiran yang sudah Ametta tangkap. "hanya aku yang berhak menentukan yang terbaik untuk diriku sendiri, bukan kau atau bahkan siapapun, hanya aku yang merasakan nya jadi berhentilah bersikap seperti ini" "Babe____" "apa kau benar -benar mencintaiku,kenapa dengan mudah kau menghindariku hah, apa karena ancaman si kakek tua itu iya,? dia pasti menemui mu bukan, apa saja yang dia katakan, apa kau di ancamnya, iya, katakan padaku cepat, seharusnya kau menceritakan semuanya padaku dan kita bisa mencari solusinya bukan malah mengehindariku selama tiga hari ini, secara tidak langsung kau menyerah Sean, kau menyerah pada diriku dan juga cinta kita, apa kau tidak memikirkan semua itu hah, cepat jawab aku.!!" "sejak awal aku memang sudah menyerah Metta." jawab Sean membuat Ametta bungkam dan menatap lekat mata Sean. "a- apa maksud mu.?" tanya Ametta seakan tidak percaya apa yang barusan Sean katakan padanya. "sejak awal aku memang sudah menyerah dengan hubungan kita ini, kau terlalu jauh untuk aku gapai Metta, kau" Sean menjeda kalimat nya, kerongkongan nya mendadak sakit dan lidahnya  mendadak kelu seakan berat sekali melanjutkan kata -kata yang harus dia ungkapkan. "Kau terlalu berbeda denganku" lirih Sean membuat Ametta mencengkram tangan nya kuat, apa barusan yang dia dengar,? selama dua tahun hubungan ini mereka memang sering bertengkar tentang perbedaan status tapi sekalipun Sean tidak pernah menunjukan eksfresi dan dengan lantang menyebutkan bahwa dirinya seakan menyesal telah menjalin kasih dengan dirinya selama ini, dan apa yang barusan Ametta dengar dan lihat Ametta benar -benar melihat penyesalan di mata Sean, apa benar Sean menyesal telah membuang -buang waktunya selama dua tahun ini bersamanya. "lalu apa arti dua tahun kebersamaan kita selama ini.?" tanya Ametta mencoba menegarkan dirinya "ini sudah ambang batasku Metta, aku sudah tidak bisa bertahan lagi, aku___mungkin aku sudah lelah dengan semua ini" Apa katanya lelah batin Ametta. "lebih baik kau melepaskannya dan tidak terlalu lama menjeratnya dengan hubungan kalian itu,karena itu akan membuatnya semakin terluka" Tiba -tiba saja kata kata kakeknya terlintas di benak Ametta, apakah benar yang di katakan Sebastian bahwa dirinya akan sangat kejam jika masih bersikeras mempertahankan Sean untuk hubungan ini. "kau akan menyerah begitu saja.?" lirih Ametta "selama dua tahun ini aku berjuang bersama mu, aku bertahan dengan hububgan kita karena aku mencintaimu" "jadi sekarang kau sudah tidak mencintaiku.?" "karena aku mencintaimu aku ingin melepaskanmu bersama orang yang lebih pantas bersamamu, dia lebih pantas mendampingimu Metta" "Hanya aku yang berhak menilai siapa yang pantas berada disisiku Sean, hanya aku."bentak Ametta "dan bagiku hanya kau yang pantas Sean, kau yang aku cintai, apa kau tidak mengerti diriku hem,"lanjut Ametta sambil berjalan mendekat ke arah Sean dan menatap manik matanya dalam. "baiklah, kita anggap kita baik -baik saja malam ini, kita bisa melanjutkan hari kita esok dan aku akan mendapatkan teror dari kakek sekaligus calon suamimu itu dan aku akan terus memlertahankan mu dan mereka juga mempertahankan keputusan mereka, begitu sampai akhir kisah cinta kita, begitu___ itu yang ingin kau dengar,"jelas Sean dengan gusar mencoba memberi pengertian kepada Ametta. "kisah cinta kita tidak akan berasil Metta, semuanya salah dari awal, dan jika kita memaksakan semuanya akan berakhir buruk untuk diriku dan juga kau, cobalah mengerti," lirih Sean sambil memegang bahu Ametta dengan erat "Aku mencintaimu, sangat, tapi kakekmu juga sangat menyayangimu, keluargamu ingin kau mendapatkan yang terbaik cobalah mengerti mereka, aku tidak ingin egois dengan memilikimu dengan cara seperti ini, jika kau memang di takdirkan untukku semua akan kembali padaku Ametta, dirimu dan juga hatimu dengan sendirinya akan kembali padaku."jelas sean kali ini dengan suara lembutnya menjelaskan apa yang sebenarnya pada Ametta. Dan Ametta juga tidak menyangkal semua perkataan Sean, semuanya memang benar, mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk mereka, lagi pula Ametta tidak bisa membantah perintah kakeknya lalu apalagi yang harus dia pertahankan, Sean dengan berat hati sudah rela melepasnya hanya satu mungkin yang harus Ametta lakukan yaitu menerima kenyataan pahitnya, dia benar -benar harus menikah dengan James. Menyadari kenyataan yang harus dia lalui air mata Ametta kembali jatuh, kali ini dirinya benar -benar tidak bisa menahan tangis nya, Ametta memeluk Sean erat dan menangis sejadi -jadinya, dia benar -benar harus melepskan cintanya, dia harus melepaskan Sean. Sean memeluk Ametta erat, tubuh gadisnya gemetar hebat, tangisnya pecah dan itu membuat nya merasakan sakit, namun akan semakin menyakiti mereka berdua jika Sean memilih untuk mempertahankan hubungan mereka "Aku mencintaimu Ametta, sampai kapanpun kau anugrah terindahku, aku hanya ingin yang terbaik untuk wanita yang ku cintai, jadi yakinlah pada pilihan kita" ucap Sean mencoba menguatkan Ametta dan juga dirinya sendiri "lalu bagaimana denganmu, apa kau tidak merasakan sakit melepaskanku.?" tanya Ametta masih dengan memeluk Sean erat "bohong jika aku berkata tidak,kau juga tahu aku bahkan hampir gila selama tiga hari ini karena mencoba menghindarimu dan mencoba untuk melupakanmu namun aku sadar jika aku egois mungkin kita akan lebih sakit lagi dari pada sekarang."jawab Sean membuat Ametta mendongak dan menatap wajah Sean, Sean memang tidak menangis seperti dirinya tapi dari sorot matanya yang memerah Ametta bisa merasakan kepedihan yang juga dia rasakan, Sean juga pasti merasakan sakit yang sama seperti dirinya. "I love  you Sean" bisik Ametta "I love you more" jawab Sean, Sean mengangkat tangan nya dan meraih tengkuk Ametta, untuk terakhir kalinya ya Sean berjanji untuk terakhir kalinya izin kan dia memberikan salam perpisahan untuk cintanya ini. Sean menarik Ametta semakin dekat dan menyatukan bibir mereka, rasa rindu selama tiga hari ini Sean luapkan, Sean memagut bibir Ametta dengan lembut menyalurkan semua perasaan Cinta yang dia rasakan, begitupun dengan Ametta, Ametta membalas ciuman yang Sean berikan, mencoba menggerakan bibirnya seirama dengan Sean, menikmati rasa cinta yang Sean berikan untuk yang terakhir kalinya, Mencoba mengingat kenangan indah yang selama dua tahun ini mereka lalui bersama meskipun selalu ada pertengkaran namun mereka masih bisa mengatasinya karena rasa cinta yang mereka miliki namun mungkin yang Sean katakan benar, jika yang tidak seharus nya di pertahankan lebih lama mungkinkan lebih menyakitkan mereka berdua bahkan orang banyak dan Ametta pun tidak ingin semua itu terjadi, mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk hubungan mereka. Ametta mengalungkan lengannya dan semakin menarik Sean untuk memperdalam ciuman mereka, ya ciuman perpisahan mereka yang akan selalu Ametta dan Sean ingat, 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD