Sesuai dengan permintaan yang james inginkan, dengan susah payah carlos mengatur pertemuan pertama antara atasannya dan calon istrinya itu, meskipun carlos harus menerima beberapa kali penolakan namun dengan bantuan kakeknya sendiri yaitu sebastian akhirnya mau tidak mau Ametta harus menyetujui pertemuan mereka.
Sebuah mobil Bugatti veyron berhenti di depan sebuah gedung perhotelan yang sangat terkenal di los angels, tentu saja bisa kita tebak siapa pemilik hotel mewah yang satu ini jika bukan hotel yang berada di bawah naungan Walker's.
Kemewahannya sudah bisa di rasakan saat baru saja memasuki lobi hotel, yang sudah menyuguhkan kesan klasik yang mewah dengan beberapa patung artistik di setiap sudut bangunan, lampu kristal besar tergantung tepat di tengah menambah kesan keindahan, namun mata semua orang teralihkan saat seorang Ametta memasuki hotel, siapa yang tidak mengenalnya, seorang ametta model cantik yang kini tengah berjalan dengan anggun dibalut dengan busana mewah dan elegan rancangan desainer ternama menambah kesempurnaan yang dia miliki.
Ametta terus berjalan dengan gaya angkuhnya mengabaikan tatapan kagum dan beberapa tatapan yang bertanga tanya . Hal seperti itu seperti sudah menjadi makannannya sehari hari. Ametta sudah kenyang dengan tatapan memuja dari orang orang yang memandangi nya.
Tiba di tengah lobi hotel, Carlos datang menghampiri ametta dan menunduk sesaat sebagai rasa hormat.
"selamat malam miss.Sanders tuan sudah menunggu anda, silahkan.!" ucap carlos dengan hormat dan membiarkan ametta berjalan terlebih dahulu, Carlos mengambil alih perannya saat sampai di depan lif dan mulai memencet tombol dimana restoran tempat mereka akan bertemu
Ting
Tidak butuh waktu lama pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk, dan itu menjadi penyesalan carlos, seharusnya dia memilih lift yang berbeda.
Berada berdua di ruangan sempit bersama seorang Ametta membuat dirinya tidak nyaman bahkan hanya untuk bergerak sedikitpun, aura di dalam lift penuh dengan aura Seorang Ametta, dia benar benar terlihat seperti ibu tiri yang hendak memangsa anak angkatnya, bahkan tidak ada senyum sedikitpun semenjak kedatangannya dan carlos bisa menebak alasan apa yang membuat seorang Ametta terlihat kesal dengan penampilan cantik,
Ting
Akhirnya pintu lift terbuka membuat carlos bisa menghembuskan nafas lega nya.
"silahkan.!" ucap carlos mempersilahkan Ametta kembali berjalan di depannya, Ametta sudah biasa keluar masuk restoran mewah tapi untuk sekelas walker's Ametta juga turut memuji kemewahan yang hotel ini berikan,ya sangat sepadan untuk dirinya berada di tempat seperti ini.
Ametta terus berjalan sampai ke sebuah pintu yang ternyata menuju ke lantai paling atas Hotel walker.
Ternyata james memilih rooftop dinner untuk makan malam mereka, carlos membukakan pintu kaca didepan Ametta, udara segar malam hari langsung menerpa ametta yang langsung melangkah mendekat menuju sebuah meja yang sudah dihiasi beberapa lilin. Lalu dimana lelaki itu fikir ametta, ametta melihat sekitar yang sudah dihiasi lampu lampu cantik, dan dari atas sini juga ametta bisa melihat pemandangan malam seluruh kota Los angeles.
"Selamat malam Miss. Sanders" ucapan seseorang yang menyapa Ametta dengan suara berat dan seksinya membuat Ametta berbalik dan langsung berhadapan dengan seorang James Alfred walker.
Untuk sesaat ametta terpaku pada mata beriris abu di hadapannya, Ametta memang mengetahui james tapi tidak pernah sekalipun bertemu langsung dan ini kali pertama untuk mereka bertemu secara langsung.
"aku harap tubuhmu cukup kuat menahan dingin kota los angeles malam ini." ucap james membuat ametta tersadar dan melihat penampilan dirinya.
Sial
Kata itu terucap di hatinya, saat ini ametta memakai gaun hitam tanpa lengan dan hanya melilit seputar dadanya, gaun hitam panjang dengan belahan mencapai atas lututnya.
Seharusnya dia tidak memilih tempat terbuka seperti ini untuk makan malam batin ametta sedikit meringis.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan udara dingin" ucap ametta tanpa senyum sedikipun.
Dan menampilkan wajah cantik dan angkuhnya mebuat james hanya menatapnya tanpa ekspresi,
Ametta berbalik dan menatap kembali ke arah meja yang sudah tertata dengan sempurna.
Kreet
James menarik kursi sebelah ametta dan mempersilahkannya duduk, masih dengan gaya elegannya ametta duduk di kursi yang james tarik, setelahnya james memutari meja dan duduk tepat di depan ametta.
Untuk beberapa saat tidak ada obrolan di antara mereka.
Beberapa pelayan datang untuk menghidangkan beberapa makanan.
Masih dalam suasana hening ametta tidak peduli dengan tatapan yang james berikan padanya, dia memilih untuk memakan hidangan di depannya,
"aku rasa akan lebih sempurna jika malam ini di iringi sebuah musik bukan." ucap james membuat ametta menatap ke arahnya
"terserah apa yang ingin kau lakukan." jawab acuh ametta karena sekarang ini dirinya hanya ingin makan malam ini cepat selaesai, makan malam romantis dengan seorang pria tampan dengan tempat yang mendukung tentu saja impian semua wanita bukan, tapi sayangnya Ametta kali ini sedang tidak dalam suasana yang membuat hatinya berbunga bunga.
Dirinya benar benar di buat kesal karena kekasihnya Sean menghilang entah kemana, bahkan selama tiga hari ini sean tidak bisa di hubungi, bahkan ametta sudah mencari ke studio tempat sean biasa menyelesaikan musiknya tapi nihil, bahkan beberpa teman dekatnya tidak mengetahui keberadaan sean, itu saja sudah membuat ametta kesal apalagi di tambah paksaan kakek nya untuk bertemu dengan james, lengkap sudah kekesalannya kali ini
Ametta hampir saja tersedak saat suara alunan piano mulai menerjang pendengarannya,
Piano
Bahkan ametta tidak menyadari di sekitar mereka terdapat sebuah piano, ametta mengedarkan pandangannya, dia sangat hafal betul aransemen musik piano yang tengah dia dengar saat ini.
Ametta beranjak dari duduknya dan hendak melihat siapa yang membawakan musik ini namun suara james terlebih dahulu menghentikannya.
"apa ada sesuatu miss, Sanders" tanya james dengan suara tenangnya.
"siapa dia.?"tanya Ametta, karena pemain piano itu terhalang, ametta tidak bisa dengan jelas melihat seseorang di balik piano tersebut
"Hanya seorang pianis yang carlos siapkan."Jawab james
"aku tanya siapa pianis itu.?" tanya ametta sekali lagi kali ini dengan nada tingginya,
James meletakan alat makannya dan menatap ke arah ametta
"jika kau penasaran kau bisa menghampirinya dan lihat sendiri, apa permainan musiknya sangat indah sehingga membuatmu penasaran.? Jika iya kita bisa menjadikan nya pengiring di hari pernikahan kita nanti."ucap james dengan senyum mengejek nya dan itu membuat ametta malah semakin kesal, ametta membalas tatapan tajam james dan kembali mengalihkan pandangan nya pada seseorang yang tengah memainkan piano, ametta tidak mungkin salah, dia, dia pasti orang yang selama tiga hari ini membuat mood nya berantakan, ametta hafal betul dari setiap nada yang dia mainkan, dan juga perasaan saat mendengarkan nya, ada rasa familiar yang menjalar hatinya,
Dengan jantung berdegup kencang ametta berjalan mendekat ke arah piano, perlahan rambut sang pianis terlihat, turun ke dahi dan kali ini ametta bisa dengan jelas melihat wajah sang pianis
Deg
Ternyata benar dia Sean, rasa rindu menjalari diri ametta, amarah yang sudah dia persiapkan selama tiga hari ini menguap entah kemana saat wajah sean terlihat, dia menutup matanya sambil menghayati permainan pianonya.
"sean." gumam ametta lebih terdengar bisikan dan tentu saja sean tidak bisa mendengarnya.
"Sean." ucap ametta kembali, kali ini dengan suara yng sedikit bergetar, Ametta tidak tahu harus mengatakan apa pada sean, dia masih sangat mencintai kekasihnya itu, dan ametta juga sudah menyetujui pernikahan yang kakeknya atur.
Lalu apa yang harus ametta katakan pada sean, memutuskannya.
Ametta menggelengkan kepala nya saat kata putus terlintas di kepala nya
Tidak aku tidak bisa melakukan nya batin ametta.
"Sean" kali ini dengan suara nya yang di buat setenang mungkin, kali ini ametta yakin sean bisa mendengar nya
"Sean" ametta kembali memanggil sean namun lelaki itu terlihat seperti menulikan pendengaan nya atau terlalu menghayati perminan pianao nya.
Brakk
Ameta menggebrak tuts piano membuat sean membuka mata dan menghentikan alunan piano yang sedang dia mainkan.
Sean mendongak menatap ametta dengan mata berkaca kaca dan nafas memburu, sean hafal betul jika kekasih nya itu, ah sean bahkan meralat apakah wanita di hadapan nya ini masih pantas dia sebut sebagai kekasih.
Namun satu hal yang sean tahu seorang Ametta sekarang sedang dalam amarah.
"apa kau tidak mendengarku" ucap Ametta namun sean masih diam dan hanya menatapnya.
"kemana saja kau selama ini hah, aku mencarimu, kau bahkan mengabaikan semua pesan dan telepon ku, apa kau sengaja menghindari ku"ucap ametta dengan nada tinggi dan menggebu.
"Maaf."hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut sean dan itu malah membuat seorang ametta semakin tersulut emosi, ameta menarik tuxedo depan sean sehingga membuat sean berdiri sangat dekat dengan ametta, ametta mendongakan kepala nya karena perbedaan tinggi antara mereka, dengan mata memerah dan berkaca kaca ametta menatap tajam ke arah sean.
"apa kau sengaja mengabaikanku, apa salahku hah" kali ini suara ametta terdengar seperti bisikan namun penuh penekanan dan itu membuat hati sean bagai tertikam benda tajam, sean tidak bermaksud mengbaikan wanita yang dia cintai ini tapi alasan yang selama ini juga menjadi keributan di hubungan mereka yang membuat sean harus melakukan semua ini kepada Ametta.
"Jawab aku.!" bentak Ametta sambil mencengkram tuxedo sean.tampak sean sudah hendak membuka mulutnya untuk menjawab semua pertanyaan Ametta namun sebuah tangan terulur menarik tangan ametta yang mencengkram tuxedo sean..
ametta berbalik begitu pun sean yang mengarahkan pandangan nya pada James yang kini sudah berada di belakang ametta
"Apa kau mempunyai masalah dengan nya.?" ucap James yang di tukkan pada Ametta.
Ametta seakan tersadar dengan keadaan nya sekarang, kini dua lelaki tengah berada tepat di dekat nya, lalu apa yang harus dia katakan pada sean dan juga james.
"Kau terlihat marah pada pianis ini, apa kalian saling mengenal.?" tanya james kembali,
Berfikirlah i***t, maki ametta pada dirinya sendiri
Kau mencintai Sean bukan jadi jelaskan padanya bahwa kau benar benar mencintai nya, abaikan perjodohan konyol itu, kau bisa hidup bahagia dengan sean. Itu kata gadis batin seorang Ametta Sanders. Namun kepala ametta seakan terhantam benda berat sehingga pendengarannya seperti berdengung saat Sean dengan mudah tidak mengakuinya
"Maaf anda salah, kami tidak saling mengenal" ucap sean dan iu sontak mebuat ametta menatap karah nya dengan mata melebar
Apakah dirinya salah dengar atau apakah sean benar benar mengatakan nya, dia mencampakann seorang Ametta
"Ah aku kira kau mengenal calon istriku ini, karena aku rasa dia mempunyai masalah denganmu, atau mungkin dia salah mengenali orang, maaf kan dia mungkin karena udara dingin di sini jadi dia sedikit______" kata kata james terpotong saat ametta membuka suara
"Apa yang kau maksud.?"bisik ametta sambil menatap ke arah sean
"Maaf miss___"
"Jangan panggil aku seperti itu,"bentak ametta dengan suara tinggi, dirinya sekarang benar benar sudah berada di puncak kemarahan nya, ametta kembali menarik tuxedo yang sean kenakan dan mencengkram nya erat
"Katakan apa yang kau maksud tidak mengenalku hah" bentak Ametta yang kini sudah tidak bisa membendung air matanya lagi dan itu membuat sean benar benar seperti orang jahat, biasanya sean akan luluh jika ametta memasang raut sedihnya apalagi ini dengan dirinya menitkkan air mata membuat sean benar benar ingin menarik ametta kedalam pelukkan nya dan berkata maaf, maafkan kebodohanku, namun itu hanya bayangan nya saja, sean melirikan pandangan nya ke arah james di mana lelaki yang memperkenalkan ametta sebagai calon istrinya itu. Sean memang sudah mengetahuinya sejak tiga hari lalu dimana kakek Ametta yaitu sebastian mendatanginya dan memperjelas semuanya.
"Honey kau menakutinya, lepaskan dia" ucap james lembut tapi terdengar seperti ejekan untuk ametta, James menarik pinggang ametta agar mundur dan mendekat ke arahnya membuat cengkraman ametta pada sean kembali telepas dan dengan santainya james mencium bahu Ametta yang terekspos dengan jelas dan itu membuat ameta membulatkan matanya beberapa detik dirinya seakan kehilangan kesadaran,
"Maaf sepertinya aku sudah tidak di butuhkam lagi, selamat menikmati makan malam kalian" kata kata sean menarik kembali kesadaran Ametta, sean berbalik dan berjalan meninggalkan ametta dan James.
Ametta sadarlah dasar gadis bodoh, lihat kekasihmu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanmu gadis batin ametta seakan menamparnya kembali kedunia nyata dan tersadar jika sean sudah berjalan jauh dan kini hilang di balik pintu.
Ametta harus segera memperjelas semuanya dan mengejar sean, namun langkahnya terhenti saat james menarik kembali lengannya dan membuat ametta jatuh dalam pelukan james.
"Don't touch me, damn it" bentak ametta dengan tatapan membunuh ke arah james
"Baiklah kali ini aku akan melepaskanmu." ucap james dan benar melepaskan cengkraman nya pada ametta ametta berbalik namun baru beberapa langkah james kembali bersuara.
"aku melepaskan mu agar kau bisa menyelesaikan urusanmu dengan mantan kekasihmu itu"ucapan yang james lontarkan membuat langkah ametta terhenti kembali,
Dia tahu, batin ametta ya tentu saja dia dengan mudah akan mengetahuinya, jika bukan karena dia mencari tahu sendiri pasti karena kakek tercintanya, seorang pewaris Walker's tidak mungkn sebodoh itu bukan fikir ametta.
Ametta tidak menjawab, dia terus melangkahkan kakinya, dia harus menemukan sean dan memperjelas semuanya, ametta tidak ingin hubungannya berakhir seperti ini, dia tidak ingin cintanya lepas dengan cara seperti ini, jika saja dia tidak bisa memperbaiki semuanya setidak nya bukan perpisahan yang seperti ini yang ingin ametta mau, kenangan bersama sean terlalu banyak dan terlalu indah jika harus berakhir tanpa penjelasan dan terkesan sad ending, ametta tidak ingin semua itu terjadi pada kisah cintanya.