bc

Merajut Luka Hati

book_age16+
12.9K
FOLLOW
133.3K
READ
second chance
sensitive
independent
confident
drama
bxg
female lead
office/work place
office lady
sacrifice
like
intro-logo
Blurb

Hidup itu pilihan, katanya?

Namun, itu tidak berlaku semuanya untuk Fatima.

Pernikahannya bersama dengan Abian, terancam akan goyah dan buyar, ketika suaminya itu memilih menikah kembali secara diam-diam dengan seorang wanita lain, yang bernama Nura.

Apakah Fatima, memilih bertahan atau melepas?

Sedangkan sang suami tidak ada keinginan untuk melepasnya juga.

"Aku gak akan ganggu hubungan baru kalian. Jadi, biarkan aku yang mundur untuk mengalah."

"Gak akan ada kata perpisahan antara kita," sanggah Abian dengan nada tegas tetapi dalam raut bersalah.

"Jangan egois. Aku bukan wanita yang sesabar itu," sahut Fatima dengan intonasi datar.

"Dari awal kita menikah, aku mencintai kamu. Dan selamanya akan tetap begitu. Kamu boleh membenciku. Tapi, aku gak akan pernah mengizinkan kamu pergi dariku."

"Kamu yang mulai lebih memilih menyakitiku, Biyan!"

Abian pun menghela napas lelah dan bersalah. "Maafkan aku," ucapnya lirih.

"Apa masih bisa dibilang cinta, kalau pada akhirnya mendua?" tanya Fatima, parau. Tidak bisa dipungkiri, bahwa jauh di relung hatinya masih bertahta cinta untuk Abian, suaminya.

"Aku mohon, bertahanlah demi aku dan anak-anak kita. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua kesalahan ini," ucap Abian memohon sambil mendekap erat kedua kaki sang istri.

Baiklah, jika itu demi kedua anak yang telah dilahirkannya, bertahan pun akan dilakukan dengan cara elegan oleh Fatima. Ia pun sudah bertekad akan melawan orang asing yang telah masuk ke kapal pernikahannya itu.

Ini bukan tentang poligami terselubung, tapi ini tentang sepandai dan setegar apa, seorang Fatima bisa merawat setiap lukanya tanpa harus mengalah, pergi.

Bukankah mempertahankan hak milik adalah hak setiap pasangan yang sah?

chap-preview
Free preview
1. Rahasia yang terkuak

"Mas!"

"Ya!"

"Ini berkas-berkasnya masih mau dikerjakan lagi?!!" seru Fatima ke suaminya, sambil melangkahkan kaki ke arah meja tanggung yang yang ada di kamar milik mereka.

"Udah kelar, Fa!" seru Abian balik.

Fatima pun tanpa bertanya lagi, bergegas membereskan kertas-kertas tersebut. Lalu kembali melirik ke arah pintu kamar mandi, yang di mana ada sosok suaminya sedang mandi di dalam sana. Sudah menjadi kebiasaan Abian jika hari libur untuk mandi lagi di siang hari. Menghilangkan rasa gerah di tubuhnya, itu jawaban Abian ketika Fatima bertanya di saat awal-awal mereka menikah delapan belas tahun yang lalu.

"Hari libur pun masih saja ngerjain kerjaan kantor," gumam Fatima sambil terus membereskan tumpukan berkas yang berada di meja kerja Abian.

Di saat pekerjaan beres-beresnya sudah selesai, dan saat itu pula Abian juga tampak keluar dari kamar mandi.

"Berkasnya udah aku bereskan menurut urutannya Mas," ucap Fatima sambil duduk di tepian ranjang tidur mereka.

"Makasih ya, Sayang. Akha sama Bia ke mana? Aku kok gak ada lihat dari tadi?" tanya Abian sambil membuka pintu lemari baju, lalu menarik selembar baju kaos dan celana pendek selutut miliknya, kemudian memakaikan ke tubuhnya.

"Gimana kamu mau lihat Mas. Kalau dari pagi kamu sibuk berkutat sama kertas-kertas itu," sahut Fatima. "Udah aku siapkan sekalian makan siangnya," sambungnya lagi.

"Kalian udah makan?"

"Aku sama Bia udah. Kalau Akha ada acara sama teman-temannya, berangkat jam sepuluh tadi," sahut Fatima.

"Tumben gak ada pamit ke ayahnya?" tanya Abian sambil berlalu ke meja rias, lalu tampak menyisir rambutnya.

"Aku bilang, kalau mau berangkat ya berangkat aja. Si Bagas temannya udah siap jemput," jawab Fatima.

Tampak Abian menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Mau di sini atau mau temani aku makan?"

"Aku ada janji mau kirim email tentang kerjaan ke Mita, Mas. Buat besok persiapan meeting,"

"Kok kamu yang buat?" tanya Abian sambil mengerutkan dahi.

"Mita dari kamis kemarin izin cuti. Terus hari ini juga masih ada acara keluarga juga. Lupa dia, kalau besok ada jadwal meeting dengan atasan. Ditambah aku juga paham sih sama bahan-bahan yang akan dirapatkan. Makanya aku bantuin dia," jelas Fatima.

"Jangan capek-capek. Ini hari libur masih aja mikir kerjaan teman."

"Kamu juga kerja dari pagi tadi. Padahal hari libur juga," jawab Fatima bernada meledek sambil membalikkan ucapan suaminya itu.

"Ya emang itu asli pekerjaan aku, Fa."

"Iya iya, tahu. Sana kalau mau makan," ucap Fatima sambil beranjak berdiri lalu berjalan menuju meja kerja milik suaminya itu.

Di saat Abian akan melangkahkan kaki ke arah pintu kamar, terdengar suara panggilan pada ponsel milik Abian yang berada di meja kerjanya itu.

Sekilas Fatima melihat, ada nama 'Ketua' tampak di layar ponsel tersebut.

"Ketua?" tanya Fatima dalam gumanan.

Baru ingin membuka bibirnya untuk bertanya, tiba-tiba saja tangan suaminya itu sudah meraih ponselnya.

Membuat Fatima terkejut, karena tingkah Abian yang begitu terlihat tergesa-gesa.

"Ketua siapa, Mas?" tanya Fatima sambil mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja itu.

"Atasan di kantor, Fa. Bentar ya, aku angkat dulu. Siapa tahu penting," jelas Abian.

"Aneh-aneh aja pakai nama ketua? Macam di negara mana saja," ledek sang istri.

Membuat Abian sedikit grogi, lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Biar kelihatan keren saja, Fa. Buat gaya-gayaan aja," sahut Abian sambil meringis malu. "Ya udah aku angkat dulu ya?" lanjutnya dan segera berbalik.

"Tumben dibawa pergi. Kalau orang kantor telepon biasanya juga santai aja diangkat di dekatku," ledek Fatima lagi dengan nada biasa-biasa saja. Bahkan kedua tangannya sudah mulai sibuk menyalakan laptop miliknya.

Sejenak Abian menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sang istri.

"Kamu 'kan mau ngerjain kerjaannya Mita. Takutnya suaraku ganggu kerjaan kamu," timpal Abian dengan nada rendah.

Fatima pun menyunggingkan senyum simpul.

"Oh. Ya udah buruan angkat sana, angkat. Bunyi terus itu loh HPnya, berisik. Takutnya penting juga nanti," tukas Fatima kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang suami.

Tanpa lama-lama Abian pun segera kembali melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut setelah menganggukkan kepala walaupun tanpa dilihat oleh istrinya itu, karena pada saat itu juga Fatima sudah kembali sibuk dengan layar laptopnya.

"Sejak kapan nama Pak Riyan berubah jadi ketua?" tanya Fatima dengan suara pelan sambil menggelengkan kepala, tetapi pandangan matanya tetap fokus ke arah layar laptop miliknya itu. "Ada-ada saja kelakuan," sambungnya dalam gumanan.

Namun sesudahnya itu Fatima pun kembali fokus pada pekerjaannya itu.

***

Mereka bertiga tampak sudah bersiap akan melakukan makan malam, yaitu Fatima, Akha anak pertamanya dan Fabia anak keduanya. Tanpa Abian.

"Ayah ke mana, Bun?" tanya Akha sambil menyendokkan nasi putih itu ke piringnya. Akha bertanya begitu karena jam lima lebih tadi baru pulang ke rumah. Hingga ia pun tidak sempat bertemu dengan sang ayah.

"Katanya ada urusan Kak. Ditelepon tiba-tiba gitu tadi sama atasannya," jawab Fatima sambil mengambilkan sayur untuk putri bungsunya.

"Perasaan sekarang-sekarang ini, Ayah jadi sering keluar tanpa kita ya Bun?" sela Fabia pelan dalam tanyanya.

Dan sejenak membuat Fatima mengurungkan tangannya untuk mengambil ikan gembung goreng. "Bahkan Bia rasa-rasain, Ayah juga jadi jarang pamit sama Bia kalau mau pergi. Kayak bukan ayah," sambung Fabia mengeluh sambil menghela napas pelan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.

"Mungkin karena ada pekerjaan Ayah yang semakin banyak, Dek." Fatima pun berusaha membujuk sang putri agar tidak terlalu memikirkan sang ayah.

Fabia adalah putri bungsu yang dari ia bayi sudah sangat lengket dan dekat dengan ayahnya itu. Dan bagi Abian pun, Fabia adalah putri kesayangannya.

"Ayah loh jadi manager udah dari sangat lama, Bun. Masa baru-baru sekarang sibuknya. Biasanya juga kalau mau ketemu sama siapapun selalu bawa Bia," ucap Fabia masih mencoba mengeluh dan protes tentang sang ayah.

"Dek," panggil Akhalana akhirnya, yang sedari awal hanya mendengar dan memperhatikan perbincangan antara bunda dan adiknya itu.

Mendengar panggilan sang kakak, Fabia pun mendengkus pelan tanda kali ini tidak ingin setuju dengan sang kakak.

"Kak Akha mau bilang 'kan? Kalau Bia udah gede, udah besar. Jadi gak boleh manja lagi ke Ayah," sela Fabia dengan bibir yang dimajukan beberapa mili. "Baru juga empat belas tahun," sambungnya lagi.

"Bukan begitu maksud Kakak. Sekarang makan dulu. Mungkin perusahaan tempat Ayah bekerja makin berkembang dan maju. Jadi, Ayah pun sebagai bawahan juga semakin banyak dilimpahi tanggung jawab dan tugas. Bia pun juga sudah ABG sekarang. Gak selamanya harus membuntuti ke manapun Ayah pergi," jelas Akha dengan nada lembut. "Sekarang disuap dulu makanannya. Kasihan Bunda udah masak sebanyak ini, kalau cuma dianggurin."

Fatima pun tampak mengembangkan senyum simpul. Bahagia mempunyai anak sulung laki-laki yang selalu perhatian dan sabar dalam menghadapi sifat manja adiknya itu.

"Udah ... dengerin dulu kata-kata kakaknya, Sayang. Makan dulu. Nanti setelah makan, Bia bisa coba telepon Ayah. Okey?" bujuk Fatima.

"Emangnya boleh Bun?" tanya Fabia sambil melirik ke arah Akhalana.

"Boleh. Bia 'kan putri Ayah."

"Lagian, yang kasih kerjaan ke Ayah itu tega amat ya Bun. Ini 'kan hari libur. Harusnya jangan diganggu-ganggu gitu anak buahnya. Mengganggu waktu free buat keluarganya aja," ucap Fabia masih dengan nada kesal. Namun tangan kanannya mulai menyuapkan makanan ke arah mulutnya itu.

"Nanti kalau Ayah pulang, Bia tanyakan aja langsung," sela Akha sambil meraih segelas air minum lalu meneguknya dengan perlahan.

"Paling juga, Ayah pulang kita udah bobok, Kak."

"Besok pagi," putus Akha akhirnya.

"Oh ya. Besok 'kan Bia berangkat sekolah sama Ayah. Nanti di jalan, Bia mau ajak ngomong deh."

"Begitu juga boleh," tukas sang kakak.

Dan akhirnya mereka kembali fokus pada hidangan yang ada di piring mereka masing-masing.

"Kakak besok ikut Bunda atau bawa motor sendiri?" tanya Fatima sambil melemparkan pandangan ke arah si sulung.

"Motor aja Bun. Besok salesai sekolah, Akha masih ada rapat osis. Takutnya Bunda jadi tambah sibuk juga besok di kantor, kalau harus bolak balik jemput Akha."

"Baiklah. Semoga besok tante Mita udah mulai masuk kerja. Biar Bunda enggak harus gantikan tugasnya lagi,"

"Artinya?" tanya Bia sambil mengunyah daging ikan goreng.

"Artinya, Bunda bisa pulang cepat."

"Dan semoga Ayah juga bisa pulang cepat."

"Mau ngapain memangnya, Dek?" tanya Akha menyela.

"Mau Bia ajak nonton drama," jawab Fabia dengan entengnya.

"Jangan diajak nonton drama lagi. Ajak Ayahnya mengaji gitu loh. Kakak lihat-lihat kalian juga jarang ngaji berdua, sekarang."

"Iya. Sama Kakak juga gak bisa?" tanya Fabia.

"Bisa saja, tapi setelah Kakak pulang dari masjid. Mau?" tawar Akha sambil kembali meraih gelas minumnya.

"Tapi masih enakan sama Ayah."

"Anak Ayah. Apa-apa sama ayah jadinya," cibir Akha sambil mendorong piringnya agak ke tengah, karena sudah selesai makan.

"Biar. Kakak juga gitu. Apa-apa sama Bunda juga," balas Fabia dengan cibiran juga.

"Udah udah. Bia, selesaikan dulu makanannya. Nanti bawa langsung ke wastafel. Bunda mau cuci yang ada dulu ini," sela Fatima melerai.

"Biar Akha saja, Bun. Bunda istirahat aja duluan."

Fatima pun mengangguk tanda setuju, dan tidak lupa memberikan seulas senyum hangat untuk sang putra.

"Baiklah. Bunda ke kamar dulu ya. Mau coba telepon Ayah kalian, apa Ayah sudah makan apa belum?"

"Iya Bun," jawab Akhalana dan Fabia kompak.

***

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat. Namun kedua mata Fatima belum mau diajak untuk pejam. Pesan singkat yang ia kirim untuk sang suami pun masih berupa tanda centang satu. Salahnya lagi, Fatima juga tidak mempunyai nomor atasan suaminya itu. Pembahasan tentang pekerjaan apa kiranya, hingga sampai memakan waktu yang begitu sangat lama.

Bolak balik Fatima pun tampak merebahkan tubuhnya, lalu kembali terbangun seperti orang bingung. Kemudian tampak mencoba menghubungi kembali nomor telepon milik suaminya tersebut.

Lagi-lagi masih di luar jangkauan. Hanya suara operator yang menjawabnya.

"Sebenarnya ke mana dan kenapa sih Biyan ini? Kok enggak bisa dihubungi terus daritadi?" tanya Fatima pada dirinya sendiri.

Bukan hanya karena faktor curiga, tetapi lebih merasakan khawatir jika ada sesuatu rintangan atau musibah yang menghambat perjalanan suaminya untuk pulang ke rumah. Karena baru sekali ini, Abian bertingkah tidak biasanya.

Karena kelamaan berpikir yang berlebihan, akhirnya hal itu pun membuat Fatima merasakan haus.

Sampai di ruang makan yang juga menjadi satu dengan dapur miliknya, ia pun segera meraih gelas berukuran sedang lalu menuangkan air mineral dari dispenser.

Setelah meneguk beberapa kali, kedua telinganya pun tampak mendengar ada suara mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya.

Sudah pasti bisa diduga, itu adalah suara mobil milik Abian, suaminya.

Fatima pun melirik ke arah jam dinding yang terpasang di dinding dapur itu. Sudah pukul setengah sebelas lebih tujuh menit. Fatima pun tampak menggelengkan kepala, takjub. Tidak seperti biasanya, suaminya itu sampai lupa waktu begitu.

Walaupun banyak hal yang ia pikirkan, dengan langkah pelan Fatima pun beranjak menuju pintu utama ruang tamu.

Saat membuka daun pintu tersebut, bertepatan juga sosok suaminya sudah berada di depan pintu itu, yang sepertinya akan bersiap membukanya dengan kunci cadangan yang ia bawa.

"Sayang, kok belum tidur?" tanya Abian ambigu dan spontan. Namun sangat terlihat jelas di wajahnya aura keterkejutan. Tidak menyangka jika sang istri sudah menyambutnya di depan pintu rumah.

"Kamu juga Mas. Enggak biasanya kamu pulang terlambat ke rumah. Dan gak biasanya juga ponsel kamu itu sama sekali gak bisa dihubungi?" tanya balik Fatima tanpa jeda dan basa basi. Bahkan memilih berdiam diri di ambang pintu sambil bersedekap, hingga membuat Abian mengurungkan langkahnya.

Alhasil membuat Abian menghela napas berat lalu tampak menyugar helaian rambut-rambutnya itu.

"Kita masuk dulu ya, Fa. Kita omongin di dalam. Gak enak kalau ada tetangga yang kebetulan lewat, dengar suara kita," bujuk Abian dengan suara lebih pelan.

Fatima pun melepaskan dekapan kedua tangannya dan segera berbalik badan, setelah memejamkan mata beberapa saat kemudian ia pun mengembuskan helaan napas itu untuk menahan kekesalan dan emosinya.

Tidak biasanya ia seemosi ini kepada suaminya itu.

Di belakangnya, Abian segera menutup pintu rumah mereka dan menguncinya. Lalu menyusul langkah istrinya tersebut.

"Apa yang kamu pikirkan, saat aku terlihat marah ketika kamu pulang sangat-sangat terlambat begini?" tanya Fatima ketika mereka sudah berada di dalam kamar, dan Abian pun sudah menutup rapat pintu kamar mereka.

Abian lalu melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya. "Kamu berhak marah. Itu wajar, karena aku sudah membuat kamu menunggu sampai selarut malam ini."

"Bukan hanya soal aku yang menunggu. Apa kamu lupa kalau punya anak perempuan, yang selalu terbiasa dengan kehadiran kamu. Apa kamu ingat? Mulai kapan kamu juga lupa untuk berpamitan pada Bia saat akan keluar rumah? Terus?

Sudah berapa kali kamu keluar rumah di luar jam kerja sampai lupa juga untuk mengajak Bia?

Mas gak tahu 'kan? Yang bagi kamu itu hal sepele hal remeh, tapi hal itu juga yang udah berhasil membuat Bia berpikir macam-macam tentang kamu," ungkap Fatima dengan panjang lebar bahkan terdengar lebih formal. Dan Abian paham, itu adalah cara berbicara Fatima di saat dalam kemarahan atau kesal.

Abian pun segera meraih tangan kanan Fatima lalu membawanya ke tepian ranjang tidur mereka.

"Maaf, udah buat kalian khawatir. Ponselku benar-benar low tadi," jawab Abian dengan nada pelan, lalu mengeluarkan sebuah benda persegi berwarna silver agak keabu-abuan yang memang dalam keadaan non aktif.

"Ada kerjaan apa sampai dibahas sampai semalam ini?" tanya Fatima mulai menurunkan intonasinya.

Abian pun sedikit tergagap, "proyek baru. Terus dilanjutkan ngopi-ngopi dan ngobrol macam-macam obrolan. Makanya sampai kami lupa waktu begini."

Tampak Fatima menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. "Kasihan anak gadis kamu. Uring-uringan sesorean," ucapnya sambil mengdengkus lelah.

"Besok biar aku yang antar Bia ke sekolah," putus Abian dengan cepat.

"Ya kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi Mas. Anak itu 'kan ususnya dari lahir udah nempel di kamu."

"Karena Bia anakku. Wajar kalau princesku itu jadi lengket," pungkas Abian dengan nada bangga.

"Makanya jangan dibikin uring-uringan lagi. Aku sama Akha yang pusing kasih penjelasan ke dia," tukas Fatima sedikit keki.

"Iya maaf. Besok biar aku yang kasih penjelasan ke Bia."

Sekali lagi Fatima pun mengembuskan napas pelan.

"Mau mandi gak?" tanya Fatima akhirnya membelokkan pembicaraan.

"Iya. Badanku kerasa gerah," sahut Abian lalu mengecup kening sang istri, baru kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

________

Beberapa minggu kemudian pun berlalu. Keadaan telah kembali seperti semula. Walaupun Abian masih sering pulang terlambat, tetapi ia tetap menyempatkan untuk memberi kabar kepada Fatima dan kedua anaknya, terutama Fabia putri sulungnya. Dan orang rumah pun selalu menerimanya dengan lapang hati, karena mereka juga mengerti bahwa Abian sekarang juga bukan karyawan biasa lagi.

"Bia," panggil Fatima di pagi itu, di depan pintu kamar putri bungsunya.

Tampak pintu tersebut terbuka dari dalam, "Apa Bun?" tanya Fabia yang sepertinya sedang bersiap-siap akan memakai kerudung sekolahnya.

"Sepatu olahraga Bia yang warna putih agak keabu-abuan ditaruh di mana?"

"Ada di rak sepatu, Bun."

"Gak ada barusan Bunda lihat. Hari ini ada senam bersama di kantor. Maksud Bunda itu mau pakai punya Bia saja," terang sang bunda.

"Kalau gak ada. Berarti masih tertinggal di mobil Ayah deh Bun. Lupa bawa turunnya kemarin,"

"Coba ambilkan, Bi."

"Aduh, jangan Bia deh Bun. Bia belum siap buku pelajaran juga. Kayaknya ada di bagian depan bawah dashboard deh Bun. Bunda ambil sendiri ya?" tawar Fabia sambil mengedipkan salah satu matanya, tanda merayu.

Fatima pun menghela napas sejenak, "baiklah."

Fabia pun segera mengecup pipi kanan bundanya, lalu setelah itu berbalik badan kembali masuk ke dalam kamarnya.

"Bia siap-siap lagi ya Bun."

"Iya."

Fatima pun tampak melangkahkan kakinya ke arah kamar, yang di mana ada Abian di sana.

"Mas," panggilnya ketika pintu kamar sudah ia buka sedikit lebar.

Dan di sana, di depan lemari baju, Abian sedang dalam menerima panggilan telepon, hingga membuatnya sedikit terkejut. Kemudian setelah berpamitan pada seseorang di ujung telepon sana, Abian pun segera memutuskan sambungan tersebut.

"Ya, Sayang?"

Fatima pun tampak menyandarkan punggungnya di sisi pintu lainnya, "kok kayak orang kaget gitu, Mas?" tanyanya menyelidik.

"Kamu tiba-tiba saja tadi buka pintunya. Untung handukku ini enggak lepas," jawab Abian sambil bercanda, sambil menunjuk ke arah handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Mau pinjam kunci mobilnya Mas. Ditaruh di mana?"

"Ada di buffet depan. Mau buat apa?"

"Kata Bia, sepatu olahraganya tertinggal di mobil kamu. Pagi ini mau aku pakai," jelas Fatima, yang dibalas anggukan oleh Abian.

"Ambil sendiri ya. Aku masih mau pakai pakaian dulu,"

"Iya."

Fatima pun berlalu dari ambang pintu kamarnya, setelah menutup kembali.

Rasanya sudah cukup lama, Fatima tidak memasuki mobil milik suaminya itu. Dikarenakan sudah memiliki mobil masing-masing. Bahkan jika ingin jalan-jalan bersama dengan kedua anaknya, Fatima pun selalu menyarankan agar memakai mobilnya saja.

Tampak sepatu sport milik Fabia terlihat di kolong bawah dashboard. Namun ada satu benda yang membuat Fatima mengerutkan dahinya.

Ada sebuah japitan rambut berwarna ungu tampak ada di sebelah sepatu Fabia itu. Perasaannya pun mulai tidak nyaman. Fabia selalu memakai kerudung jika keluar rumah, dan tidak pernah memakai japitan rambut. Lalu milik siapakah kira-kira benda ini? Tanya Fatima dalam hatinya.

Seperti ada sesuatu yang membisikkan pada hatinya, Fatima spontan membuka kotak dashboard. Di sana ada tumpukan lembaran berkas. Namun ada satu map berwarna biru yang menyita perhatiannya.

"Apa ini?" gumannya bingung, sambil membuka map biru tersebut.

Perasaannya pun semakin tidak menentu, ketika isi map tersebut selesai ia baca. Dan tanpa menunda waktu, Fatima pun membawa map beserta isinya itu keluar setelah itu menutup pintu mobil dengan hati yang berkecamuk.

Fatima segera menutup dan mengunci pintu kamar, dan melihat Abian sedang merapikan dasi pada kerah kemejanya di depan kaca rias.

"Ini apa Mas?" tanya Fatima tanpa basa-basi sambil melempar map tersebut di meja rias.

Seketika Abian pun menghentikan aksinya itu. Dan ada gurat terkejut di sana.

"Kamu ambil rumah baru? Ada berkas dataku di situ?"

"___" Abian pun tampak terdiam, seperti kehilangan semua kata-kata.

"Tapi ada satu yang mengganjal menurutku. Ada bagian informasi tentang data istri. Di situ memang memakai nama, tanggal lahir, dan jenis pekerjaanku. Tapi kenapa untuk nomor telepon bukan nomorku juga yang ditulis?" tanya Fatima tanpa basa basi lagi.

"It___"

Ucapan Abian pun terpotong, ketika ponsel miliknya berbunyi, dan ada nama 'ketua' muncul di layar ponselnya.

"Perasaan nama kontak ketua itu sering sekali ya menghubungi kamu?" tanya Fatima, sarkas.

"Mungkin ada kerjaan baru, Fa."

"Angkat di sini. Gak usah pakai menjauh. Makin hari makin bikin curiga kelakuan kamu itu, Mas."

Di saat akan menjawab panggilan tersebut, nada dering panggilan pun berhenti juga.

"Gak ditelpon balik?" tanya Fatima sarkas sambil memicingkan mata.

"Nanti saja, Fa. Nanti juga paling kirim pesan."

"Kalau gitu, sekarang jelaskan apa maksudnya dari isi map ini. Dari yang aku gak tau apa-apa tentang pengajuan kredit ini, dan kenapa nomor teleponnya bukan nomor punyaku juga? Apa kamu punya alasannya? Aku istri sahmu loh? Kok malah gak tahu apa-apa?"

Bukannya menjawab, Abian malahan terdiam sambil memandangi map yang telah ditemukan oleh istrinya itu.

"Boleh aku lihat HPnya?" tanya Fatima sambil menengadahkan telapak tangan kanannya ke arah Abian.

"Buat apa, Fa?" tanya Abian dengan suara pelan. Namun dengan bimbang akhirnya ia pun terpaksa menyerahkan ponsel miliknya itu.

Dengan cepat, Fatima langsung meraih benda tersebut, lalu membuka map dan mengambil lembar formulir yang berisi data mereka berdua.

Satu nomor yang membuatnya penasaran pun ia ketikkan di layar menu panggil. Saat dua belas digit nomor itu sudah selesai tertulis, muncullah nama 'ketua' di sana.

"Untuk apa nama bos kamu jadi nomor kontak dataku?"

Dan tetap saja, tak ada jawaban dari Abian.

Karena semakin penasaran, Fatima pun segera memanggil nomor kontak tersebut dengan menyalakan speakernya juga.

"Halo Mas Abi. Udah kangen lagi ya? Kok udah balik telpon lagi?" tanya seorang wanita dengan suara riang dari ujung telepon sana, ketika sambungan itu terjawab.

Dan Fatima pun seketika mematung antara terkejut, syok, dan tidak percaya.

"Halo, Mas Abi ... Sayang, kok diam? Nanti sepulang kerja langsung ke rumah lagi kan?" sambung wanita itu lagi.

.

.

Bersambung...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Imperfect Marriage

read
268.8K
bc

Kali kedua

read
184.2K
bc

Tentang Cinta Kita

read
136.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
114.9K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
216.2K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
5.7K
bc

Single Man vs Single Mom

read
86.1K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play