Bab-22

1081 Words

"Kamu kenapa, sih?" tanya Mori. Risih diperhatikan dengan intens oleh Anca yang tidak bergerak dari posisinya; berlutut. Anca membasahi bibir bawahnya, kemudian menggeleng, lalu berdiri dengan tangan terulur ke rambut Mori. Melihat tangan Anca yang bergerak ke arah kepalanya, Mori reflek menepis tangan itu dan menatap Anca horor. "Rambut kamu berantakan," kata Anca seolah dapat membaca kekalutan Mori. Tanpa berkata-kata lagi, kedua tangan Anca terulur melepas ikatan rambut Mori dan merapikan rambut perempuan itu serta menyisirnya menggunakan jari. Kini posisi Mori benar-benar seperti buah simalakama. Maju kena, mundur ya terjungkal. Tanpa sadar Mori menahan napas saat d**a Anca tepat di depan wajahnya sedang lelaki itu mengikat rambutnya. Tadinya Mori ingin menolak dan segera menjauh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD