Happy Reading......
........
Sinar matahari yang sudah muncul sejak pukul setengah enam pagi membuat Ayana mau tak mau harus bangun. Hari ini dia akan berangkat kerja pada pukul sepuluh ini masih tersisa beberapa jam untuk beristirahat namun dia baru saja mengingat jika Mbak Elva akan pergi bekerja pagi ini. Ayana bangun dari kasurnya dia bersiap-siap untuk memasak hari ini dia ingin membuat masakan simple.
"Ay hari ini Zara akan kesini."
"Jam berapa Mbak? Kok Zara gak kasih tahu Ayana sih!" Ucap Ayana dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Katanya Jam lima sore, Zara mau kasih kejutan buat kamu tapi Mbak sudah memberitahu kamu terlebih dahulu."
"Pasti anak itu akan marah nanti." Lanjut Mbak Elva sembari tertawa ketika melihat wajah marah adiknya.
"Kalau begitu aku akan memasak banyak pagi ini, jika dia sudah tiba maka dia bisa memanaskan nya saja. Aku pulang pukul delapan malam." Jelas Ayana, kemudian dia mulai memasak beberapa sayuran dan tidak lupa membuat cake.
Di lain sisi James tiba di apartemennya tubuhnya sangat lelah namun ia harus bersiap-siap untuk menghampiri Ayana di tempat kerjanya.
"Roni, tolong siapkan mobil. Kamu akan berangkat ke kantor terlebih dahulu saya masih ada urusan di luar." Roni hanya melaksanakan perintah dari atasannya. Sebelum Roni berangkat naik taxi dia terlebih dahulu menyiapkan Jas yang akan di gunakan oleh James. Walaupun pekerjaannya seperti ini namun gajih yang di berikan oleh James sangat besar oleh sebab itu Roni bertahan walau bagaimanapun sikap James terhadapnya. Tapi jika dipikir-pikir lagi selama ia bekerja bersama anak pertama dari keluarga Smith ini dia tak pernah mendapatkan ejekan maupun di rendahkan baik oleh James maupun keluarganya.
James keluar dari dalam kamar mandi kemudian dia mengambil setelah yang sudah Roni sediakan, sekitar jam sepuluh pagi ia keluar dari apartemen. James tidak sempat untuk makan mungkin nanti ia akan makan di cafe milik Adam. Di dalam mobil James memutar musik entah kenapa ketika akan bertemu dengan Ayana ia merasa hatinya senang, pikirannya adem dan tidak seperti saat ada Rexa di dekatnya. Mengingat tentang Rexa membuat James merasa gregetan dengan wanita itu karena tidak mau pergi bahkan setelah James menceramahinya.
Dari pada memikirkan wanita itu lebih baik ia bertemu dengan Adam terlebih dahulu, ada beberapa hal yang harus ia bahas dengan temannya tersebut. Yah walaupun tadi malam ia memarahi Adam namun tetap saja dia membutuhkan temannya itu. Jika kalian bertanya tentang Brayen entahlah James juga tidak tahu dimana anak itu sekarang James lebih dekat dengan Adam karena hanya pria [ itu yang dapat membantunya.
Tiba di depan Cafe milik Adam, James langsung masuk dia tidak melihat Ayana dimana pun Apakah gadis itu ijin bekerja hari ini atau telat? James naik ke lantai atas saat dia sudah di depan ruangan Adam tiba-tiba telinganya mendengar sesuatu yang tidak asing.
"Aaahh----Ada--adammm....." Suara desahan itu membuat James membelakkan matanya. Adam? melakukan hal tak senonoh di cafenya?
"Yes babyy....." Suara desahan yang saling bersahutan membuat James muak, mau tak mau dia harus menunggu pria b******n itu selesai dengan kegiatan tak berfaedahnya, bahkan ini baru jam sepuluh bagi lantas nafsu setan yang mana yang mampu merasuki Adam yang terlihat seperti good boy.
Sekitar dua puluh menitan waktu James menunggu selama itu dia merasa sangat bosan apalagi dia selalu mendengar suara-suara b******n yang ada di dalam ruangan tersebut. James memainkan ponselnya dengan bosan tak lama suara sepatu dari arah tangga masuk ke dalam ruangan Adam terdengar. James mendongak melihat siapa yang datang ke ruangan pria b******n ini.
Mata James membulat, dia terdiam tidak menyangka setelah satu bulan tidak bertemu dengan Ayana gadis itu banyak berubah yang paling menonjol adalah penataan rambutnya yang awalnya hanya lurus dan di ikat biasa kini rambutnya di curly di bagian ujungnya tampak sangat cocok dengannya.
"Ayana!" Suara maskulin milik James terlebih dahulu menyapa Ayana membuat Ayana mau tidak mau menyahut sapaan itu namun suara dari dalam membuat Ayana terdiam.
"Aaahh---fas--terr babyhhh!" James hampir saja mendobrak pintu yang ada di sampingnya ketika suara itu terdengar. Suasana antara dirinya dan juga Ayana menjadi sangat canggung.
"Bagaimana jika kita menunggu di lantai bawah?!" Tanya James menyadarkan Ayana dan mau tidak mau ia harus turun ke lantai bawah. Niatnya ke ruangan Adam adalah untuk memberikan laporan penjualan selama satu bulan ini namun sepertinya waktu sedang tidak berpihak kepadanya.
James menarik kursi untuk Ayana agar gadis itu bisa duduk bersama dirinya, namun Ayana menolak dengan halus.
"Tidak terima kasih, Saya harus kembali bekerja Pak." Jame mengepalkan tangannya saat mendengar Ayana memanggilnya Pak untuk kesekian kalinya.
"Apakah tidak bisa sebentar saja? Aku bahkan terburu-buru dari bali hanya untuk menemui mu." Ayana terdiam, dia tengah berpikir untuk apa James mendatangi nya? Apa ada hal penting yang perlu pria itu bicarakan.
"Maaf, apakah ada hal penting yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Sekali lagi James harus bisa menahan emosinya, dia yakin Ayana tidak seformal ini kepada b******n Gio ketika mereka mengobrol.
"Tentu saja, bagaimana bisa kamu melupakan hal yang pernah terjadi pada malam itu." Mata Ayana menatap James, dia tidak menyangka jika James kembali mengungkit sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka.
"Ta--tapi itu hanya kesalahan, saya tidak ingin mengungkitnya ataupun meminta pertanggung jawaban anda!" Sebenarnya Ayana merasa sangat miris terhadap dirinya sendiri karena kecerobohannya ia melepaskan sesuatu yang berharga yang ada di dirinya.
"Kesalahan? " James tak habis pikir dengan wanita seperti Ayana, jika wanita lain maka sudah meminta pertanggung jawaban dari nya namun ini? Sial! James ingin Ayana memohon kepadanya agar mereka bisa menikah.
Ayana tidak menyadari jika nada bicara James menahan emosi, Ayana tidak ingin menyalahkan pria ini atas kelalaiannya dia mungkin masih berumur 20 tahun namun Ayana tahu mana kesalahannya sendiri dan mana kesalahan orang lain.
"Saya harus kembali bekerja." Lalu Ayana langsung bergi ke dapur, dia seakan bebas dari lobang buaya ketika sudah jauh dari tempat James duduk. Jantungnya berdetak dia merasa tidak biasa, selama tidak bersama dengan James rasanya dunia Ayana baik-baik saja namun disisi lain dia selalu memikirkan pria itu.
James menatap kepergian Ayana, harusnya dia tak perlu berbasa-basi lagi tentang niatnya yang kembali ke Bandung. Dia harus bisa membawa Ayana bertemu kedua orang tuanya toh sekarang umurnya sudah dua puluh lima tahun sudah waktunya dia untuk memiliki keluarga sendiri.
.......