Happy Reading
.......
Apartemen yang Ayana singgahi sungguh sangat mewah ini dia yakin tempat ini adalah tempat para orang kaya tinggal.
"Ayo Mam." Zo menarik tangan Ayana untuk masuk ke dalam lif.
"Zo pelan-pelan nanti bisa jatuh!" Tegur Gio kepada anaknya tersebut. Zo seakan-akan mendapatkan ibu nya kembali, raut bahagia di wajahnya tak bisa di bohongi lagi bahwa ia sangat membutuhkan kasih sayang dari ibu nya.
"Zo sudah tidak sabar untuk merasakan masakan Mam." Ucap anak kecil tersebut membuat Gio tak enak hati karena sudah merepotkan gadis cantik yang Zo panggil Mam.
"Silakan masuk, maaf ya berantakan. Bibi yang biasa membersihkan apartemen sedang sakit jadi yah seperti ini lah keadaannya!" Jelas Gio, tempat ia dan Zo tinggal memang berantakan karena Zo sangat susah di bilangin ketika ia sudah selesai dengan mainannya.
"Tidak apa-apa Pak." Gio tersenyum canggung ketika Ayana kembali memanggilnya Pak.
"Tidak usah terlalu Formal, Panggil saya Gio saja." Zo mengajak Ayana ke arah dapur sedangkan Gio mengganti bajunya dengan yang lebih santai, setelah itu dia juga mengganti baju Zo. Ketiganya seperti keluarga bahagia, dengan Ayana sebagai inu yang menyiapkan makanan untuk mereka. Ayana tak hanya memasak Spaghetti dia juga memasak sup dan masak cumi pedas manis. Untuk di dalam kulkas semua lengkap membuat Ayana mudah untuk mendapatkan inspirasi memasak pada sore hari ini.
Ayana cukup lama di apartemen tersebut dia tak pernah berfikir bahwa kegiatannya sore ini membuat seorang pria tampan dari keturunan Smith mengamuk tak terkendali di dalam ruangannya. James menemukan bukti itu dari media sosial Gio, pria itu meng-upload foto nya bersama dengan Ayana dan juga seorang anak lelaki kecil sekilas orang-orang akan salah paham bahwa mereka adalah keluarga yang bahagia. James tak terima, dia tidak habis pikir bagaimana bisa Ayana mengenali pria tersebut.
James langsung menelpon Adam, tidak menunggu lama Adam langsung mengangkat sambungan telepon dari sahabatnya itu.
"Tumben, ada perlu apa?" Tanya Adam dia tak mengira bahwa kali ini dia akan menahan emosi cukup lama kepada James.
"Masih bertanya?!" Nada suara James kali ini membuat Adam langsung berdiri tegak.
"Ada apa? apa kali ini ada masalah serius yang membuat mu seperti ini?" Lagi-lagi pertanyaan Adam membuat James ingin berteriak, dia kesal, marah, cemburu bercampur menjadi satu sungguh jika saja dia ada di bandung sekarang maka James akan menendang lutut Adam sehingga dia tak bisa berdiri dengan tegak lagi.
"Apa kau tidak membuka pesan yang ku kirim di w******p?!!" Adam dengan cepat membuka w******p nya dan melihat gambar yang James kirim.
"Lantas apa hubungan nya dengan ku?" Tanya Adam dengan bingung, kebingungannya membuat James marah.
"Bukankah aku menyuruh mu untuk memantau Ayana?!! Lalu kenapa dia bisa sedekat ini dengan pria itu hah?!!" Pada akhirnya Adam mengerti akan kemarahan James sejak tadi. Namun Adam masih tidak mengerti apa maksudnya bukan kah dia sudah memantau Ayana di cafe? lalu pantau apa yang James inginkan?
"Aku sudah memantaunya, bukan kah hanya itu saja. Jangkauan ku hanya ada di cafe selepas itu ya aku lepas tangan!" Jelas Adam tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Aaarrgghhh.....dasar, bagaimana bisa aku memiliki teman yang seperti ini. Please Adam aku ingin kau memantau dan menjaga Ayana aku tak ingin dia berdekatan dengan pria lain namun ini? dia bahkan berada di apartemen pria b******k itu aku tak suka dia hanya milik ku!"
"Kamu kira aku membuntutinya sampai kosan nya hah?! aku masih memiliki rasa sopan santu dan malu James!"
"Jangan suruh aku melakukan hal-hal gila James, cukup dengan memantaunya saja itu sudah melanggar privasi seseorang!"
"Aku akan ke bandung malam ini!" Setelah mendengar penjelasan Adam, James baru menyadari sesuatu. Dia menyukai Ayana namun dia menyuruh Adam untuk menjaga Ayana. Memang hal ini sangat merepotkan Adam bahkan Adam tak ada sangkut pautnya dengan perasaan James terhadap Ayana namun pria tersebut masih mau membantu James. Akan tetapi James seakan tak menyadari posisinya harusnya dia yang berjuang dan menjaga Ayana bukan teman nya. Kali ini dia sangat keliru.
Adam terdiam, dia tak marah hanya kesal saja kepada James. Bagaimana bisa James menyuruhnya membuntuti Ayana dua puluh empat jam hal ini sangat mustahil sungguh Adam tak bisa menebak jalan pikir James. Walaupun ia pernah menyukai seorang wanita namun Adam tidak seperti James, dia tidak menyuruh siapapun untuk menjaga wanita yang ia sukai tersebut. Adam sendirilah yang turun tangan untuk memberikan perhatian dan memulai pendekatan bersama wanita tersebut.
James keluar dari dalam kamarnya dengan membawa koper miliknya, semua keluarga menatap James tidak lupa dengan Rexa. Inez melihat putra sulungnya tersebut, dia menghampiri James.
"Mau kemana James?" Tanya Inez matanya melihat ke arah Jam di dinding, jam tersebut menunjukkan pukul sembilan malam namun anaknya tiba-tiba keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper.
"Ada masalah di perusahaan yang berada dibandung Mom, James harus berangkat ke sana malam ini." Jelas James membuat semua orang menatap ke arah James.
"Apakah tidak bisa besok pagi saja James?" Tanya Roy
"Tidak bisa Dad, ini cukup parah. James akan segera kembali jika sudah selesai." James mencium ibu nya dan berpamitan dengan ayah dan kedua adik nya. James hanya menatap Rexa sekilas lalu ia keluar dari mansion mewah keluarganya. Dia menggunakan jet pribadi agar bisa sampai dengan cepat di bandung. Demi Ayana dia akan melakukan apa saja dan sudah satu bulan dia tak melihat gadis itu ini adalah waktu yang tepat.
Rexa masuk ke dalam kamarnya, dia tidak bisa seperti ini terus. Dia akan menyusul James besok ya dia harus melihat gadis yang membuat James harus pergi pada malam hari ini, apakah gadis itu lebih kaya darinya? atau lebih sexy dari dirinya? Rexa menjadi penasaran dengan bentuk dan rupa gadis jalang yang berani mengambil James dari dirinya.
Rexa membereskan semua barang-barangnya dia tidak akan kembali ke mansion ini apabila James belum menjadi miliknya dia akan kembali ke sini jika James sudah menjadi miliknya. Merasa semua barangnya tidak ada ketinggalan Rexa memilih istirahat dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu.
Di sisi lain, setelah mengantarkan Ayana pulang Gio merasa jika Ayana sangat cocok untuk menjadi ibu Zo. Memikirkannya saja membuat Gio tersenyum, dia harus mengenal lebih dekat Ayana lagi. Apakah dia harus berkencan? Tapi itu hanya untuk anak-anak SMA saja namun bila di pikir-pikir apa salahnya dia mengajak Ayana untuk berkencan.
.........
Please Tap Love yaa....