Chapter. 14

1340 Words
Happy Reading ........ Di sisi lain, James meremas rambutnya dengan kasar. Selama satu bulan ini dia kurang tidur karena gangguan yang datang dari Rexa, wanita itu tak ada malunya menjadi benalu untuk nya setiap hari. Contohnya saat ini Rexa berpura-pura sakit dan mengatakan kepada Inez bahwa dia ingin ikut bersama James ke kantor, dengan berbagai cara ia lakukan sampai Inez mengijinkan nya. "Berhenti menggeliat seperti belatung di dekat ku Rexa!" Tegur James dengan keras membuat Rexa terkejut. Matanya berkaca-kaca, dia menatap James seakan pria itu melakukan kesalahan karena telah membentak nya. Namun James tak luluh sama sekali, dia merasa jijik jika Rexa melakukan hal itu. Jika Ayana yang melakukannya James pasti akan sangat suka. "Berhentilah menjadi tuli Rexa aku sudah memperingatkan mu. Apakah kurang jelas, di mansion tak ada yang menyukai mu bahkan aku jijik jika kau berada di dekat ku dengan jarak sedekat ini!" Akhirnya James mengeluarkan unek-unek nya. "Aku benar-benar membencimu bahkan tak ada pikiran sama sekali untuk mengundang mu ke Indonesia perbuatan mu di masa lalu sungguh mengecewakan ku Rexa! Jadi sebelum aku benar-benar muak aku harap hari ini atau malam ini kamu sudah mengangkat kaki dari mansion keluarga ku!" "Sekarang kau bisa keluar, berhenti berpura-pura orang-orang menyadari nya!" Wajah Rexa memerah merasa malu, dia merasa tak ada harganya sama sekali. Pengusiran yang di lakukan James saat ini sungguh menyakiti hatinya. Ini bukan pengusiran yang pertama yang James katakan kepadanya, ini yang kesekian kalinya namun Rexa tak pernah mau mendengar pengusiran itu dia menutup telinganya karena dia ingin menjadi nyonya di rumah keluarga Smith. "Tapi aku mencintaimu James!" Akhirnya Rexa tak bisa lagi menyembunyikan perasaan nya. James tak terkejut dia sudah mengetahui hal tersebut. "Cinta? apa kau tahu arti yang sesungguhnya dengan kata itu Rexa?!" James serasa ingin sekali mencekik wanita ini sampai kehabisan nafas. Dia tak perduli lagi jika Rexa mencintainya kenapa dulu Rexa mencelakai adiknya? Jika karena cemburu kenapa harus melakukan hal itu. Rexa terdiam mendengar pertanyaan James dia tidak mengetahui arti cinta yang sesungguhnya namun jika melihat James bersama wanita lain Rexa merasa cemburu. "Aku tidak akan lagi berdiam Rexa, sekarang aku minta berhenti untuk menjadi wanita rendah yang mengemis meminta perhatian dari ku!" "Tapi James aku mencintai mu, aku tidak bisa melihat mu bersama orang lain." Suara Rexa tercekat mengungkapkan betapa ia tergila-gila terhadap James. "Tapi aku tak perduli, aku mencintai wanita lain!!" Setelah mengatakan hal itu James langsung pergi meninggalkan Rexa yang terdiam dia tak menyangka jika pada akhirnya James sudah menemukan seseorang yang ia cintai. Rexa tak bisa menerima hal ini harusnya James hanya mencintainya saja. ...... Di tempat lain Ayana tengah sibuk berbelanja di supermarket hari ini dia memilih untuk libur, sudah sejak satu bulan ini dia tak pernah mengambil libur. Ketika sedang berbelanja Ayana tak sengaja menabrak seorang anak kecil, ini tak ia sengaja karena anak itu juga berlari-larian dan Ayana tak melihat nya. "Hai maafkan kakak ya...kamu tidak apa-apa?" Tanya Ayana dengan lembut dia melihat anak laki-laki ini seperti berusia lima tahun. "Zo tidak apa-apa kak." Suaranya yang lucu membuat Ayana menjadi gemas seketika, dia sebenarnya tak terlalu suka dengan anak kecil namun anak ini terlalu gemas untuk ia lewatkan. "Lain kali Zo tidak boleh lari-lari ya." Ucap Ayana "Iya kak." Anak bernama Zo itu terus menatap Ayana yang membuat Ayana merasa salah tingkah, Ayana akui anak ini tampan sepertinya keturunan blasteran. "Zo! Kamu kemana saja hah Papah cari kamu dari tadi!" Omel seorang pria kepada anak yang bernama Zo tersebut. Anak itu langsung menundukkan kepalanya dia merasa takut kepada sang ayah. "Maaf Pah." Cicit anak tampan itu yang membuat Ayana merasa gemas melihat interaksi antar anak dan ayah itu. "Lain kali Papah akan menitipkan mu di rumah nenek jika kamu masih nakal seperti ini!" Melihat Zo yang terdiam dan tak berani membantah ayahnya Ayana langsung menengahi keduanya. "Maaf Pak, tapi dia hanya tak sengaja." Ucap Ayana, dia terpesona sejenak saat pria tersebut menatap nya dengan mata hitam pekatnya. Jiwa kepemimpinan nya sangat terlihat Ayana merasa jika pria ini seumuran dengan James. Ayana memejamkan matanya sejenak saat tiba-tiba dia membandingkan antara James dan pria ini. "Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan Zo." Ucap pria tersebut. "Tidak apa-apa Pak." Zo melihat ke arah Ayana lalu memeluk nya dengan tiba-tiba. "Mamah!" Ucap nya dengan pelan, Ayana tak tahu maksudnya dia terkejut tadi anak ini memanggilnya kakak lalu sekarang? dia memanggilnya dengan sebutan yang sangat sakral. "Maaf ya.... Zo memang seperti itu dia selalu merindukan ibu nya. Ibunya meninggal setelah melahirkan nya lima tahun silam." Jelas pria itu dengan cepat ketika melihat wajah Ayana yang kebingungan. Tubuh Ayana langsung rileks ketika mendengar penjelasan dari Ayah Zo. "Tidak apa-apa, kalau begitu aku pergi ke kasir duluan ya." Namun ketika Ayana akan berjalan Zo tak melepaskan pelukannya dari pinggang Ayana. "Mam jangan pergi lagi, Zo rindu sama Mam!" Nada suara nya yang cukup tak terlalu Ayana pahami membuat dia kesulitan, namun dia tahu jika anak lelaki ini sangat merindukan sosok seorang ibu di ke hidup nya. "Zo..... kita harus pulang ini sudah mulai sore." Tegur Pria tersebut kepada anaknya dia merasa kasian terhadap anak itu walaupun dia jarang menghabiskan waktu bersama dengan nya namun dia tahu betapa Zo sangat merindu kan ibu nya. "Tidak, tidak mau.... Zo mau makan bersama Mam." Ayana tersenyum sejenak, anak ini sungguh sangat lucu dia terlihat seperti pria dewasa sekarang ketika mengatakan hal itu. "Baiklah Mam akan menemani mu makan, tapi Mam harus bayar ini terlebih dahulu." Jelas Ayana kemudian Zo melihat barang yang Ayana beli. "Boleh Mam bayar ini terlebih dahulu?" Tanya Ayana lagi dan pada akhirnya Zo menganggukkan Kepala nya. Ayana mengambil beberapa barang lagi sebelum ia pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. "Aku akan membayar barang-barang yang kamu beli." Tiba-tiba pria yang tak Ayana ketahui namanya itu langsung mengambil keranjang belanja nya. "Tidak perlu Pak, saya akan membayarnya sendiri." Tolak Ayana. "Biar saya saja ya..... ngomong-ngomong jangan panggil saya Pak, nama saya Gio Atmajaya dan anak saya bernama Zoey." Akhirnya Ayana mengetahui nama pria tampan tersebut. "Kalau boleh tau siapa nama mu?" Tanya Gio kepada gadis di hadapannya tersebut. Sejak tadi ia meneliti gadis ini sekilas ia bisa melihat jika gadis ini mirip sekali dengan almarhum kakaknya yaitu ibu Zo. Zo bukan anaknya akan tetapi dia adalah keponakan Gio. Ayahnya menikah lagi dan tak ingin membawa Zo bersamanya alhasil Gio yang merawat anak ini bersama dirinya. "Ayana Pak." Ucap Ayana "Pak Gio tak perlu membayar belanjaan saya." Sambung Ayana lagi ia merasa tak enak jika belanjaannya di bayar orang lain. "Tidak apa-apa Ayana." Kemudian Gio mengambil keranjang Ayana dan membawanya ke kasir tak lupa ia membawa miliknya juga. Hari ini memang jadwal Gio membeli beberapa stok makanan untuk di apartemen miliknya, ia dan Zo tinggal di sana sementara rumahnya di renovasi. "Mam Zo mau makan spaghetti." "Baiklah nanti Mam masak untuk Zo, apa Zo mau?" Tanya Ayana. "Mau Mam, Zo mau... Zo belum pernah makan masakan Mam." Ayana terdiam, dia bisa merasakan jika anak ini butuh kasih sayang ibu. Ayana pernah merasakannya tapi ia yakin anak ini lebih menderita darinya karena sudah di tinggal sejak lahir. "Siap Bos.... Mam akan masak untuk Zo." "Wah apakah Mam bisa masak Sup ayam juga?" Tanya nya dengan kata-kata yang agak sulit Ayana mengerti. "Tentu saja Sayang." Kemudian tidak lama setelah itu Gio menghampiri keduanya. "Pah, Mam akan masak spaghetti untuk Zo dan juga sup ayam." Ucap nya dengan antusias. "Zo..... kamu tidak boleh makan spaghetti dulu ya." Wajah Zo langsung berubah murung ia mengangguk pasrah tak bisa membantah ayahnya lagi. Ayana melihat itu dia menatap Gio. "Mungkin sepiring spaghetti tidak apa-apa, aku akan masak untuk nya." Ucap Ayana membuat Gio tak enak hati. Pada akhirnya dia mengijinkan anak nya itu makan spaghetti buatan Ayana. Ketiganya pergi ke apartemen Gio, karena Ayana akan masak di sana, Gio meminta maaf karena sudah merepotkan Ayana. Namun Ayana merasa itu semua tak membuatnya report karena ia hanya ingin mewujudkan apa yang Zo inginkan. Tanpa mereka sadari sejak tadi Adam melihat interaksi ketiganya dan ia tak lupa memberitahukan James tentang hal yang ia lihat. ........ Guys tapi love nya dong, makasih ya^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD