Happy Reading
.......
Pada akhirnya James mau tidak mau mengikuti kemanapun Ayana pergi walaupun tadi mereka sempat berdebat tentang apa yang akan James lakukan ketika ia menjadi orang ketiga. Maksudnya orang ketiga disini adalah karena Ayana dan Gio mengobrol bagaikan sepasang suami istri dengan anak bernama Zo berada di gendongan Ayana. Wajah James cemberut dia di abaikan harusnya dia tidak boleh seperti ini, harusnya dia yang berada di samping Ayana.
"Minggir!" James Mendorong bahu Gio supaya pria itu menjauh dari samping Ayana nya. Ayana berhenti berjalan tujuan mereka saat ini adalah menuju lantai atas mall mereka akan makan dan mengantar Zo bermain.
"James?!" Tanya Ayana dengan heran melihat sikap kasar James yang tak biasa.
"Aku tidak suka dia berada di sebelahmu! cepat kita makan dan pulang dan anak ini!" Tunjuk James ke arah Zo yang masih setia berada di gendongan Ayana.
"Berikan dia kepada ayahnya, kamu bukan ibu nya. Jika kamu mau kita bisa membuat anak lebih tampan dari anak ini!" Ucap James dengan jengkel. Ayana menghela nafas entah apa yang terjadi namun seperti nya dia tahu bahwa pria ini cemburu terhadap Gio dan Zo yang seakan-akan menguasai dirinya sedangkan dia? dia mengabaikan James.
Gio? Jangan tanya lagi dia sudah tidak tahan dengan tingkah James, ini sudah yang kesekian kalinya James merebut apa yang sudah menjadi miliknya harusnya Ayana akan menjadi miliknya Gio tidak akan menyerah kali ini.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil Pak James!" Tekan Gio yang membuat James melotot tidak terima dengan perkataan Gio.
"Ayana hanya ingin menemani Zo makan dan bermain, Ayana tidak keberatan akan hal itu lalu kenapa anda keberatan? Apa Ayana dan anda memiliki hubungan?!" Gio menyeringai puas kali ini ketika melihat wajah pias James, hah dia tahu pasti James hanya iri kepadanya karena Ayana begitu dekat dengan Zo harusnya James sadar bahwa Ayana tidak seperti wanita lain yang matanya hanya melihat kekayaan saja.
"Berhenti lah mencari perhatian dari gadis ku! kau tidak tahu apa-apa, Ayana adalah milik ku! Dan kau, kau dan bocah itu ingin merebutnya dari ku!" Ucap James dengan jengkel. Ayana meringis mendengar perkataan James oh Tuhan pria ini seperti bukan pria yang ia lihat di berita.
"James, aku hanya ingin mengantar Zo bermain dan makan jika kamu mau ikut tolong jangan membuat masalah!" Ucap Ayana kemudian dia melangkah masuk ke dalam mall. Harusnya dia tidak mengajak pria tempramen itu tadi tapi James yang memaksa ikut dengannya.
"Aku akan membuat mu tidak bisa berjalan jika kau dan anak itu masih saja ingin merebut Ayana dari ku!" Ancam James membuat Gio terdiam menatap tubuh kokoh James yang perlahan meninggalkan nya di sana.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ayana harus menjadi milik ku! Jika aku tidak bisa memiliki nya maka kau juga tidak bisa memiliki nya!" Ucap Gio, dia tidak percaya jika Ayana bisa dekat dengan anak Roy Alexander Smith.
Selama berada di mall Ayana hanya fokus menjaga Zo dia menemani anak itu bermain sampai puas sedangkan Gio dan James dua CEO tampan itu hanya membuntuti beberapa paparazi mengambil gambar mereka dan membuat berita. James berusaha menghalangi Gio yang ingin menghampiri Ayana dan memberikan wanita nya air putih dengan cepat ia memberikan air itu kepada Ayana nya.
"Jangan bermimpi untuk mendekati wanita ku!"
"Sepertinya peringatan saja tidak cukup untuk pria seperti mu ini." Lanjut James, dia yang sensian membuat Ayana yang mendengar nya merasa tidak enak hati.
"Bagaimana jika kita makan malam?" Tanya Ayana walaupun dia tahu kedua pria tampan ini tidak bisa akur namun dia berusaha mencairkan suasana.
"Zo mau makan Mam!" Ucap Zo dengan antusias membuat Ayana tersenyum dan menganggukkan Kepala nya.
"Sayang bagaimana jika kita cari makannya di bawah saja seperti nya disini tidak terlalu baik untuk anak-anak seperti Zo." Ucap James membuat Ayana terkejut karena panggilan tersebut.
"Ah.....ya--tentu saja, bagaimana Mas Gio?" Mendengar panggilan Mas yang dituju untuk Gio membuat James tidak Terima.
"Mas?! Sejak kapan kamu manggil dia seperti itu, aku tidak suka sayang. Panggil dia Gio saja!" James merajuk bagaikan anak yang ingin membeli mainan yang ia sukai, Gio? Jangan di tanya dia senang Ayana memanggilnya dengan sebutan Mas baru kali ini dia merasa sangat ingin terbang.
"Baiklah kita akan makan di lantai bawah, Ayo!" Gio dan Ayana mengabaikan James yang bertingkat seperti itu seharian ini dia seperti bukan dirinya. Gio merasa jika James sudah di rasuki setan, tidak mungkin seseorang yang kejam dan tidak punya hati bisa merajuk seperti itu apa lagi hanya karena Ayana memanggilnya Mas. Bukankah sapaan Mas itu adalah panggilan hormat jadi Gio rasa tidak ada yang salah toh Ayana sendiri yang memanggilnya seperti itu bukan dia yang memaksa Ayana seperti James yang memaksa kehendaknya.
Ayana memesan beberapa menu untuk mereka dia seakan-akan terjebak di antara dua pulau. James yang cemburu melihat kedekatan Ayana dan Gio sedangkan Gio hanya bisa menahan senyumnya saja, jika sudah seperti ini dia tidak tahu siapa yang salah.
"James makan! Aku sudah memesan kan nya jangan seperti itu." Tegur Ayana lagi membuat James tidak bisa menolak nya dia makan walaupun hatinya sangat dongkol.
"Zo suka makanannya Mam, lain kali kita makan disini lagi ya." Ucap anak itu membuat mata Ayana menatap nya dengan lembut walaupun dia masih berusia dua puluh tahun namun Ayana sangat penyayang terhadap anak-anak terlebih dia tahu bagaimana hidup tanpa ibu dan Ayah namun Zo harus bersyukur karena masih ada Gio yang mau menjaganya walaupun Ayana tahu bahwa Gio sibuk di kantornya.
"Tidak ada lain kali!" Ucap James membuat Zo terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Mam kenapa Om itu tidak suka sama Zo?" Pertanyaan Zo membuat Ayana gelagapan.
"No no no..... jangan dengarkan perkataan Om itu ya.... Om itu hanya kelelahan makanya dia berbicara seperti itu." Ucap Ayana menenangkan anak kecil tersebut. James memang ada-ada saja bagaimana bisa dia berbicara seperti itu kepada anak kecil.
Setelah itu Ayana bercengkrama bersama Zo sedangkan Gio dan juga James hanya diam kedua nya tidak akur tentu saja. James yang cemburuan sedangkan Gio pria itu hanya diam saja karena melihat kebahagiaan Zo, baru kali ini dia melihat anak dari kakaknya senang dan bisa berbaur dengan orang di sekitarnya. Melihatnya seperti ini saja Gio bahagia dia berterima kasih kepada Ayana karena sudah memberikan kebahagiaan kepada Zo walaupun Ayana hanya orang luar dan baru saja di kenal oleh dia dan juga Zo namun Gio yakin Ayana adalah wanita baik yang bisa menjadi ibu untuk Zo.
.........