Suasana di dalam kelas terasa sangat mencekam. Suasana heboh dan ceria sebelum Bu Dena masuk lenyap begitu saja. Menyisakan ketegangan.
"Karena kalian udah kenal ibu, langsung belajar saja ya." Bu Dena tersenyum. Namun senyumannya tampak seperti senyuman malaikat maut di mata para mahasiswa.
"Yasa, apa mata kuliah kita hari ini?"
Yasa terhenyak dan menelan salivanya kasar. Kaget menjadi sasaran pertama dari dosen paling killer yang pernah dikenalnya. "Apresiasi Prosa Indonesia, Bu."
"Apa arti apresiasi, Virlia?"
Virlia menegakkan tubuhnya seraya berusaha menggali ingatannya tentang materi yang dibacanya tadi pagi. "Penghargaan atau penilaian terhadap sesuatu, Bu."
"Jadi, arti apresiasi prosa apa?"
"Penghargaan atau penilaian terhadap suatu cerita, Bu."
Virlia berusaha bersikap biasa saja kala melihat senyum aneh muncul di bibir Bu Dena. Entah mengapa ia merasa seperti melihat senyuman mengejek. Sudah sering diperlakukan seperti itu tapi tetap saja dia tak bisa terbiasa. Rasanya ingin kabur saja dari kelas.
"Nola, apa benar jawaban temanmu?"
Nola meremas jemarinya gugup. "Benar, Bu."
"Kalau benar, apa alasannya?"
Nola melongo. Otaknya mendadak blank mendapati pertanyaan mematikan Bu Dena karena pada dasarnya Nola tak tahu apa-apa. Ia tak sempat belajar karena tadi malam, seluruh perhatiannya disita oleh kedatangan Nathan. Dosen yang mendadak melamarnya dan menjadi tunangannya.
"Apa alasanmu mengatakan kalau yang dikatakan temanmu itu benar?"
Bu Dena menatap Nola lurus sehingga Nola semakin gugup dan blank. "Alasannya karena jawaban Lia benar, Bu."
Semua orang di dalam ruangan tertawa kencang mendengar jawaban polos Nola sedangkan yang ditertatawakan menggaruk tengkuk canggung.
Bu Dena menghela nafas panjang. Kemudian, memperbaiki letak kacamatanya. "Iya. kalau jawaban Lia benar, apa alasannya?"
Nola mengerjap berulang kali. Berpikir keras dalam diam. "Karena jawaban Lia gak salah, Bu."
Untuk kedua kalinya semua orang di dalam kelas tertawa. Salahkan saja jawaban Nola yang sangat menggelitik perut mereka.
Nola melirik teman-teman sekelasnya. Heran kenapa semuanya tertawa mendengar jawabannya di saat ia merasa jawabannya tidak mengandung humor. Ia serius!
Bu Dena tersenyum pasrah. "Kamu memang sangat pintar, Nola." Ingin marah dan berteriak, tapi Bu Dena tak tega memarahi Nola yang lugu.
Sementara itu, Nola tersenyum malu-malu. Salah mengira perkataan Bu Dena sebagai pujian, padahal aslinya ucapan sarkas. "Makasih, Bu hehe."
Bu Dena mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bisa depresi dia jika meladeni Nola lebih lama. Ah, salahnya juga bertanya ke Nola di saat sudah tahu bahwa Nola anaknya sangat polos dan lola.
Salahkah Bu Dena berharap Nola sedikit berubah di semester 3 ini?
"La, nanti pulang sekolah jalan yuk." Bisik Yasa kala Bu Dena sibuk menghidupkan infokus.
Nola menaruh jari telunjuknya di depan bibir. "Sttt!" Bisiknya sehingga membuat Yasa tertawa tertahan.
"Lucu banget sih calon pacar aku." Bisiknya.
Lagi-lagi Nola mengisyarakatkan supaya Yasa diam. Namun, bukannya diam, Yasa malah makin menggoda Nola.
Hal tersebut membuat Bu Dena terganggu.
"Yasa, ingin belajar di sini atau belajar di luar?" Tanya Bu Dena seraya tersenyum manis.
Senyuman yang sangat menyeramkan di mata Yasa dan anak-anak lain. 'mampus' batin Yasa merutuki diri sendiri.
Yasa menunduk. Pura-pura fokus pada bukunya sedangkan Nola menatap Yasa prihatin. Padahal Nola sudah memperingati Yasa, tapi pria itu mengabaikan peringatannya.
"Infokusnya rusak. Nola dan Virlia, ambil infokus lain." Titah Bu Dena.
"Baik, Bu."
"Jangan lama-lama."
Nola beranjak dari kursinya. Mengikuti Virlia. Di saat menawarkan diri membawa infokus, Virlia menolaknya karena tahu tubuh Nola lemah.
"Hari ini, kita berdua sial banget deh. Menjadi sasaran Bu Dena." Keluh Virlia setelah jauh dari kelas.
Nola mengangguk setuju. "Nola takut sama Bu Dena. Bu Dena nyeramin."
Virlia bergidik ngeri membayangkan sesi tanya jawab beberapa detik yang lalu. Dirinya serasa akan di eksekusi kalau tak bisa menjawab. "Apalagi aku. Takut banget."
"Kenapa ya Bu Dena semenyeramkan itu? Kenapa Bu Dena gak sebaik Bu Lilis?"
Nola menoleh ke Virlia karena tangannya di senggol. "Jangan bahas dosen lagi. Nanti kita ditandai dan menjadi mahasiswa abadi."
Nola mengangguk patuh tanpa bertanya banyak hal.
"Pstt, ada Pak Nathan tuh." Goda Virlia.
Nola mengerjap dengan polosnya dan celingukan mencari keberadaan sosok tunangannya. "Mana?"
Virlia menghela nafas pasrah. Dia lupa kalau Nola tidak seperti gadis pada umumnya, yang malu-malu kalau bertemu seseorang spesial.
"Udah lewat."
Nola ber-oh ria.
"Aku saja yang masuk untuk mengambil infokus baru. Kamu tunggu saja di sini, oke?"
Nola mengangguk patuh lagi. Terus memandangi punggung Virlia hingga menghilang di balik pintu.
Gadis cantik itu berjongkok. Kemudian menangkup wajahnya bosan.
Nola tak suka sendirian. Dia merasa kesepian saat sendirian. Mengingatkannya pada kehidupannya selama beberapa tahun belakangan ini.
Karena memiliki tubuh lemah dan sering sakit-sakitan, Nola tidak bisa pergi ke sekolah seperti anak-anak normal pada umumnya. Nola selalu berada di rumah. Melakukan segala sesuatu di rumah.
Meski memiliki orang-orang baik yang menyayanginya, tapi tetap saja Nola merasa sepi dan hampa tanpa seorang teman.
Nola sangat ingin pergi ke sekolah dan memiliki teman supaya bisa melakukan segala hal bersama.
"Kenapa di sini, La?"
Sentuhan di puncak kepalanya membuat Nola mendongak.
Wajah tampan penuh senyuman Nathan langsung menyambutnya.
"Kenapa gak masuk ke kelas?" Nathan berusaha menahan rasa gemasnya kala melihat wajah polos nan menggemaskan Nola.
"Nola dan Lia disuruh ambil infokus, pak." Jawab Nola pelan.
"Trus, dimana temanmu? Kenapa kamu malah sendirian di sini?"
"Lia di dalam, pak. Lagi ngambil infokus."
Nathan mengulurkan tangannya ke arah Nola. "Berdiri lah. Nanti kakimu sakit."
Nola menyambut uluran tangan Nathan tanpa ragu.
"Bosan menunggu ya?"
Nola mengangguk penuh semangat. "Kok Pak Nathan tahu?"
Nathan tertawa kecil. "Karena ekspresi wajahmu menunjukkannya begitu jelas."
Nola menangkup kedua belah pipinya kaget. "Masa sih, pak?"
Nathan menyingkirkan tangan Nola perlahan dan membelai pipi Nola lembut. "Iya. Lihatlah wajahmu ini. Begitu mudah terbaca."
Nola mengedip polos. "Memangnya di wajah Nola muncul tulisan, pak?"
Nathan menatap Nola gemas. Oh astaga! Kenapa calon istrinya sangat menggemaskan?
Ingin sekali rasanya Nathan mengurung Nola di dalam rumahnya supaya bisa menikmati wajah imut Nola sepuasnya. Bolehkah dia melakukannya?
Nathan menggelengkan kepalanya cepat sebelum pemikiran tadi menguasainya. Jangan sampai ia melakukannya dan mendapatkan kebencian Nola.
"Pak Nathan sakit kepala?" Cetus Nola polos.
Nathan meluruskan tatapannya ke Nola sembari menggeleng pelan.
"Lalu, kenapa Pak Nathan geleng-geleng kepala?"
Nathan menatap Nola intens. "Karena kamu sangat lucu dan menggemaskan."
"Nola lucu dan menggemaskan?" Beo gadis itu heran. Merasa jawaban Nathan tak nyambung dengan pertanyaannya.
Nathan tersenyum geli seraya mencubit hidung mancung gadis pujaannya. "Iya." Pria tampan itu mengecup punggung tangan Nola tanpa terduga. "Aku pergi mengajar dulu. Sampai jumpa lagi, αγαπητός."
Nola menggaruk kepalanya heran sembari terus menatap kepergian Nathan. "Apa yang dikatakan Pak Nathan? Nola gak paham."
Bahasa yang diucapkan Nathan terdengar sangat asing di telinga Nola. Seumur hidup, belum pernah ia mendengar bahasa tersebut.
Nola terus larut dalam pemikirannya. Otaknya bekerja keras memikirkan arti ucapan Nathan karena sangat penasaran.
"Nola!! Yok balik kelas! Udah dapat nih infokusnya." Teriak Lia tepat di telinga Nola.
Nola menoleh kaget ke arah Virlia. "Loh, sejak kapan Lia keluar?"
"Sejak kamu melamun dan bergumam gak jelas."
Nola meringis melihat ekspresi malas temannya dan bergegas menyusul Virlia yang berjalan lebih dulu. "Lia, tunggu Nola."
-Tbc-