Part 5

1245 Words
‍‍‍‍‍‍"Nola lucu banget sih." Tahu-tahu Mommy sudah berada di dekat Nola dan mencubit pipi Nola gemas. Tatapannya terlihat sangat berbinar. Pun dengan senyumannya yang begitu manis. Menenangkan perasaan Nola. Nola menyengir manis. Menunjukkan gigi putihnya yang rapi. "Makasih, aunty." Mommy mencubit hidung mancung Nola pelan. "Aduh, jangan panggil aunty dong. Panggil saja mommy." Nola mengerjap pelan. "Mommy? Artinya ... Ibu? Nola 'kan sudah punya ibu," katanya sembari melirik ibunya yang duduk di sampingnya. "Nah, sekarang, ibu Nola bertambah satu lagi." Kikik mommy. Wanita cantik itu terlihat sangat senang karena sejak dulu sangat memimpikan punya anak perempuan. Hanya saja, rahimnya terpaksa diangkat setelah melahirkan Nathan. Membuat harapannya pupus. Dan, kehadiran Nola mampu mengobati luka dalam hatinya. Akan lebih membahagiakan kalau Nola menerima lamaran anaknya. Pasti sangat menyenangkan bisa memiliki menantu perempuan seperti Nola. Manis dan menggemaskan. Nola manggut-manggut paham. "Berarti, mulai sekarang uang jajan Nola akan bertambah?" Semua orang tertawa mendengar pertanyaan polos Nola. Apalagi Nola mengucapkannya dengan mata berbinar. Seolah baru saja memenangkan lotre. Mommy memeluk Nola gemas. "Iya, La. Mulai sekarang uang jajan Nola akan bertambah. Pokoknya kalau Nola menginginkan sesuatu, bilang saja ke mommy. Mommy pasti langsung memberikannya padamu." Nola melirik Nathan sekilas. "Dan, Pak Nathan akan menjadi kakak laki-laki Nola?" Nathan menghentikan tawanya dan menatap Nola datar. Bisa-bisanya Nola bertanya demikian di saat dia ingin meminang Nola sebagai istri. Sakit tapi tak berdarah. "Oke, oke. Sepertinya kita langsung ke inti saja ya?" Tawa Daddy melihat ekspresi nelangsa Nathan. "Ide bagus daripada Nola semakin salah paham." Balas ayah ikut tertawa melihat ekspresi Nathan. Pada akhirnya, kedua keluarga itu memulai pembicaraan serius. Nola yang biasanya tidak peka akan keadaan sekitar, mendadak merasa sedikit peka. Ia merasa orang-orang di sekitarnya sangat serius sehingga membuatnya tak berani bersuara. Yang bisa dilakukannya hanya lah melihat semua ekspresi orang seraya menerka-nerka. "Bagaimana denganmu Nola?" Nola mengerjap kaget lantaran ditanya secara mendadak. "Nola mau menerima lamaran Nathan? Nola mau menjadi calon istri Nathan?" Nola memainkan jemarinya gugup. "Iya, ayah. Nola mau." Semua orang tersenyum bahagia mendengar jawaban Nola, terutama Nathan. Saking bahagianya, ia terus tersenyum lebar. "Sekarang, pakaikan lah cincin ke jari manis masing-masing." Nola dan Nathan menerima kotak cincin dari orangtua mereka. Lalu, keduanya duduk saling berhadapan. Nathan terus saja menatap Nola lurus. Enggan mengalihkan pandangannya ke arah lain sedangkan yang ditatap mengerjap lucu. "Jangan menatap Nola seperti itu, Pak. Nola jadi takut." Bisiknya namun dapat didengar oleh semua orang. Lagi-lagi tingkahnya membuat mereka tertawa. "Memangnya aku menatapmu bagaimana?" Tanya Nathan iseng. "Seperti ini..." Nola menatap Nathan lurus. Mempraktekkan tatapan Nathan padanya. Nathan menutup wajahnya gemas seraya berusaha menahan tawa. 'kenapa dia sangat menggemaskan?' Batinnya. "Kalau dilihat-lihat, ternyata kalian sangat cocok ya." Komentar ibu. "Iya dong. Mereka sangat cocok. Ah, aku jadi gak sabar menunggu kelulusan Nola." Sahut mommy. "Cepat lanjutkan sesi pasang cincinnya." Celetuk ayah dan Daddy bersamaan. Satu pemikiran! Nathan menjauhkan tangannya dari wajah. Lantas menatap Nola lembut. "Kemarikan tangan kirimu, La." Melanjutkan kembali rencana semula. Nola menurut. Menyodorkan tangan kirinya ke arah Nathan. Langsung disambut oleh Nathan dengan lembut. Nathan memasangkan cincin ke jari manis Nola dan melayangkan kecupan singkat di sana. "Mulai sekarang Nola resmi menjadi tunangan Nathan. Nola dilarang dekat-dekat dengan pria lain. Mengerti?" Meskipun tak paham sepenuhnya akan maksud ucapan Nathan, Nola tetap mengangguk. "Iya, pak." "Astaga anak ini! Masih jadi tunangan sudah posesif." Nathan mengabaikan perkataan mommynya dan terus tersenyum manis ke arah Nola. Tergambar begitu jelas di matanya tentang seberapa besar obsesi dan cintanya pada Nola. Tatapan yang mampu membuat Nola merasa terbebani tanpa sadar. **** Hari kedua kuliah di semester 3 ... Nola sangat bersemangat. Saking semangatnya, ia melupakan kejadian tadi malam. Mungkin akan terlihat aneh kenapa seorang mahasiswa bisa sangat bersemangat tiap kali masuk ke kelas di saat mahasiswa lainnya akan bahagia kalau kelas ditiadakan. Nola sangat bersemangat karena dulu ia tak sebebas sekarang. Dulu ia mempunyai riwayat penyakit yang cukup parah sehingga mengharuskannya homescholling. Gadis cantik itu tak pernah mengenyam pendidikan seperti siswa normal pada umumnya. Dimana bisa masuk kelas dan bertemu teman-teman setiap harinya. Tertawa, bercanda ria, atau pun membuat tugas bersama. Nola selalu terkurung di rumah. Bersama guru, orangtua, dan obat-obatnya. Sangat menyedihkan, bukan?! Maka, wajar saja bukan kalau sekarang Nola sangat bersemangat tiap kali menyambut pagi normalnya ... Belajar di universitas, di tempat terbuka. Dimana ada banyak orang. "Pagi, Lia!" Sapa Nola ceria pada teman pertamanya sekaligus teman dekatnya. Banyak yang ingin berteman dengannya, tapi Nola hanya nyaman berteman dengan Virlia. Akan tetapi, bukan berarti Nola menghindari yang lainnya. "Pagi, Nola." Nola meletakkan tasnya di atas meja dan menatap Virlia semangat sedangkan Virlia menggelengkan kepala heran melihat tingkah gadis itu. "Nola bawain Lia sandwich. Lia mau?" "Tentu saja mau. Kebetulan aku belum sarapan." Nola mengambil kotak makanan dari tas dan memberikannya ke Lia. "Tadi, saat makan, Nola ingat Lia. Jadi Nola bawain deh. Jangan lupa habisin ya Lia. Nanti sandwichnya nangis loh kalau gak dihabisin." Virlia tersenyum geli mendengar kecerewetan Nola. Namun, senyumnya mendadak pudar kala melihat cincin yang tersemat di jari manis Nola. "Bentar, bentar. Kok kamu pakai cincin sekarang? Tumben banget." Nola menatap cincin di tangannya seraya tersenyum. "Nola disuruh pakai cincin ini terus." jawabnya polos. "Siapa yang menyuruhmu memakai cincin?" tanya Virlia penasaran. "Pak Nathan." Virlia melotot kaget. "Hah?! Kok bisa?!" Nola menggaruk pipinya canggung melihat tatapan menuntut sahabatnya. "Kata Pak Nathan, kami sudah bertunangan. Makanya Nola gak dibolehin lepas cincin ini. Apapun alasannya." Virlia menutup mulut kaget. Hampir saja ia berteriak karena terlampau terkejut mendengar berita besar itu dari Nola. "Sejak kapan kamu dan Pak Nathan bertunangan, La? Kok baru cerita sekarang?" "Baru tadi malam. Pak Nathan datang ke rumah Nola dan melamar Nola. Sebenarnya, Nola ingin menceritakannya tadi malam pada Lia tapi Nola ketiduran. Maaf ya?" Pinta Nola memelas. Virlia memijit pangkal hidungnya gemas. "Pak Nathan lamar kamu tadi malam?" tanyanya memastikan. Nola mengangguk kuat. "Iya." "Kok kamu Nerima lamaran Pak Nathan? Kan kamu baru ketemu dia sehari?" Virlia bertanya tak habis pikir. "Karena ayah dan ibu menyuruh Nola menerima lamaran Pak Nathan. Kata ayah dan ibu, Pak Nathan orang baik dan akan membahagiakan Nola." Virlia menatap Nola datar. Antara kasihan dan juga turut bahagia. Kasihan karena Nola begitu polos dan menurut begitu saja pada perkataan kedua orangtuanya dan bahagia karena Nathan sangat tampan dan layak dijadikan suami Nola. Setidaknya, ia belum pernah mendengar kabar buruk tentang Nathan. "Hmm. Semoga kamu dan Pak Nathan bahagia." Gumam Virlia sebelum melahap sandwich pemberian Nola. "Pagi, Nola cantik." Sapa Yasa. Laki-laki paling playboy di kelas. Sudah mengincar Nola sejak semester satu tapi belum kunjung berhasil mendapatkan Nola karena rayuannya tak pernah mempan pada gadis polos itu. "Pagi juga, Yasa." "Sama seperti hari-hari sebelumnya, senyuman Nola sangat manis dan membuat jantungku berdebar." Goda Yasa seraya menyentuh dadanya sedangkan tatapannya terus tertuju lurus pada Nola. "Yasa oh Yasa. Jangan ganggu Nola lagi karena dia sudah ada yang punya. Nanti pawangnya ngamuk, baru tahu rasa." Celetuk Virlia. Yasa menatap Virlia tak percaya. "Jangan ngadi-ngadi! Nola gak mungkin punya pawang." "Kalau gak percaya, tanya aja langsung sama orangnya." Ketus Virlia. Yasa menatap Nola menuntut, seakan meminta klarifikasi. "Yang dikatakan Virlia cuma kebohongan belaka 'kan, La? Virlia mengatakan itu cuma untuk membuatku mundur 'kan, La? Supaya Virlia gak perlu cemburu lagi tiap kali melihatku bersamamu." "Idih! Najis!!" Jerit Virlia heboh mendengar kepercayaan diri Yasa yang selangit. "Diam dulu, sayang. Aku tahu kok kalau tujuanmu mengatakan itu karena cemburu melihat kedekatanku dengan Nola." Cengir Yasa. Virlia melotot dan hendak melemparkan tasnya ke wajah menyebalkan Yasa tapi kedatangan dosen membuatnya mengurungkan niat. -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD