Part 4

1217 Words
‍‍‍‍Cinta pandang pertama. Begitu banyak yang tidak mempercayai akan adanya cinta pandang pertama lantaran terlalu aneh dan terkesan mustahil. Banyak orang bertanya-tanya mengapa bisa jatuh cinta pandang pertama di saat seseorang bahkan belum mengetahui sifat lawan jenisnya. Awalnya Nathan juga demikian. Termasuk ke dalam golongan orang tidak percaya akan adanya cinta pandang pertama. Menurutnya terlalu ambigu, kekanakan, dan mustahil. Namun, pertemuannya dengan Nola langsung mematahkan pemikirannya dan membuatnya menjilat ludah sendiri. Ia mengalami jatuh cinta pandang pertama, pada mahasiswinya. Berawal dari tabrakan di tangga tanpa unsur kesengajaan. Untuk pertama kalinya Nathan merasa terpesona pada perempuan dan enggan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena sosok itu begitu menggemaskan serta memiliki suara merdu. Suara yang menggetarkan hatinya. Menanamkan keinginan untuk selalu mendengarnya. Pandangannya tak bisa lepas dari sosok tersebut. Seakan ada magnet di dalam tubuh gadis itu. Perasaannya kian berdebar, senang, obsesi, dan ingin memiliki saat melihat Nola memasuki kelas yang akan diajarnya. Perasaan tersebut menghantarkannya pada keinginan gila. Sangat gila malah, yaitu mengikat Nola ke dalam kehidupannya supaya gadis pencuri hatinya tak bisa kabur kemanapun. Keinginan gila tersebut makin menguat kala melihat Arkana mendekati Nola. Rasa takut dan cemburu membelenggunya. Ia merasa terancam oleh kehadiran Arkana. Takut didahului. Nathan menghela nafas gusar seraya meraup wajahnya kasar. Pikirannya kacau balau. Lantas, memutar kursinya. Menghadap ke arah jendela yang menyajikan pemandangan seluruh kota. Cuaca begitu cerah, gedung-gedung terlihat mencakar langit, dan kendaraan berlalu lalang seperti semut. Untuk kesekian kalinya, ia menghela nafas panjang. Seakan memiliki banyak beban hidup. Tok tok tok! Pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar, membuatnya memutar kembali kursi. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangannya. "Maaf, tuan. Saya ingin menyerahkan berkas yang Tuan minta tadi," katanya langsung tanpa basa basi. Sembari menyodorkan sebuah map ke Nathan. Nathan menerimanya dengan senyuman puas. "Kerja bagus." Laki-laki itu menunduk hormat. "Terima kasih, tuan. Saya undur diri dulu." Nathan mengangguk. Setelah bawahannya pergi, pria tampan itu segera membuka map yang diberikan tadi dengan perasaan berdebar. Mata tajamnya tak pernah lepas dari lembaran kertas. Senyuman tipis terkadang menghiasi bibirnya tiap kali membaca informasi tentang Nola. Hal yang paling membuatnya tersenyum lebar adalah fakta tentang orang tuanya dan orang tua Nola yang bersahabat. Itu berarti akan memudahkan langkahnya memiliki Nola. Nathan mengambil ponsel dari saku jas nya. Kemudian, mengirim pesan ke mommy nya. Nathan: Mom, aku ingin melamar Nola Utami. Anak sahabat mommy. Malam ini juga! Mom pasti bisa membantuku 'kan? Nathan mengetukkan jemarinya di atas meja seraya menunggu respon sang mommy tak sabaran. Tatapannya terus tertuju pada layar ponsel. Mom: PULANG SEKARANG JUGA! Nathan tersenyum geli melihat balasan ngegas sang mommy. Sudah ia duga! Nathan: Iya, mom. Aku pulang sekarang juga. Tanpa buang-buang waktu, Nathan pun langsung meninggalkan kantor. Tempatnya bekerja sebagai Direktur. Yah, selain menjadi dosen. Dia juga menjadi direktur di perusahaan. Sibuk memang namun ia menyukai kesibukannya. Karena menurutnya, lebih baik sibuk bekerja daripada membuang-buang waktu berharganya. **** "Kamu serius ingin melamar Nola?" Cerca mommy sedari tadi. Masih syok mendengar pernyataan Nathan, anak tunggal kesayangannya. "Iya, mom. Aku serius." Jawab Nathan lelah. "Kamu menyukainya?" "Iya, mom. Bukan hanya menyukainya, tapi juga mencintainya." Mommy memicingkan mata curiga. "Apa yang membuat jiwa gay mu menghilang sehingga bisa mencintainya?" Nathan memijit pangkal hidungnya frustasi. "Harus berapa kali ku bilang, mom? Aku ini bukan gay. Aku masih normal!" Mommy menatap Nathan mengejek. "Tapi, buktinya selama dua puluh lima tahun hidup, kamu gak pernah berpacaran. Kamu bahkan belum pernah mengenalkan perempuan pada mommy." "Astaga, mom. Sebelumnya aku gak berpacaran karena belum menemukan perempuan yang tepat saja. Tapi ... sekarang aku sudah menemukannya. Aku sudah menemukan perempuan yang tepat. Makanya aku ingin melamarnya karena berpacaran saja gak cukup bagiku. Aku ingin mengikatnya ke dalam hubungan yang lebih kuat." Jelas Nathan panjang lebar. Mommy manggut-manggut mendengar penjelasan Nathan. "Ternyata kamu bisa juga cerewet kayak gini. Mommy pikir selama ini kamu anaknya pendiam." Komentarnya. Nathan menghela nafas panjang. "Bukan itu pokok permasalahannya, mom." Mommy menyengir. "Haha. Baiklah, baiklah. Mommy akan membantumu melamar gadis itu. Tapi, bagaimana kalau dia menolakmu?" Tanyanya menakut-nakuti. Nathan menatap mommy memelas. "Jangan membuatku takut, mom." Mommy terbahak. Kemudian, menepuk-nepuk pundak Nathan gemas. "Tenang saja. Mommy yakin dia akan menerima lamaranmu karena dia anak yang patuh pada orangtua." "Nah, sekarang bersiaplah. Mommy sudah mengirimkan pesan pada sahabat mommy sejak tadi. Dia pasti juga sedang mempersiapkan anak perempuan kesayangannya." Kikik mommy. Nathan tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolnya kagum mendengar kegesitan sang mommy. "Mommy memang paling the best." Mommy menyibak rambutnya songong. "Iya dong!" Nathan menggelengkan kepala heran melihat tingkah laku mommy. "Oh ya, mommy sudah beritahu Daddy 'kan?" Bertanya memastikan. "Tentu saja sudah. Mana mungkin mommy telat memberitahukan moment membahagiakan ini ke Daddy mu." "Baguslah kalau gitu." Gumamnya pelan. "Hi, my wife! I'm home. Give a warm hug to your husband." Tiba-tiba saja seorang laki-laki paruh baya muncul di dekat keduanya seraya merentangkan kedua tangannya. Lelaki itu tak lain tak bukan Daddy Nathan. Mommy berdiri, berlari menghampiri Daddy, dan memeluknya erat. "I Miss you, dad." Daddy mengeratkan pelukan mereka sembari melayangkan kecupan berulang kali ke kening wanita yang dicintainya. Sementara itu, Nathan hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah alay keduanya. Setiap hari selalu saja disuguhkan oleh tingkah alay keduanya. Mulai dari kecil hingga sekarang. Akan tetapi, Nathan tak pernah terbiasa melihat tingkah keduanya. Daripada melihat pemandangan itu lebih lama, Nathan pun memutuskan meninggalkan kedua pasangan tersebut. Nathan lebih memilih bersiap-siap mendatangi rumah calonnya daripada menonton keromantisan orangtuanya lebih lama. Langkah besar Nathan menggema di dalam rumah besar itu. Terutama saat berjalan menaiki tangga. Di pertengahan tangga, Nathan melirik ke bawah dan masih melihat kedua orangtuanya berpelukan manja. Nathan tersenyum tipis. "Mungkin kah nanti aku dan dia akan seperti itu juga?" Lirihnya. Ah, Nathan jadi sedikit berharap. Pasti menyenangkan bisa melakukannya bersama Nola. Mengenyahkan pemikirannya, Nathan pun langsung berlari ke kamar. Kemudian, langsung mempersiapkan dirinya untuk nanti malam tanpa melewatkan satu bagian pun. Pria tampan tersebut benar-benar ingin tampil sempurna di hadapan Nola supaya gadis pujaannya terpesona dan enggan menolak lamarannya. Hingga tiba lah saat yang dinanti-nantikan Nathan. Malam menjemput. Dia dan kedua orangtuanya sudah berada di depan pintu rumah Nola. Siap melamar Nola. Gugup dan cemas sedikit menghantuinya. Namun, ia berusaha terlihat biasa saja supaya kedua orangtuanya tak melihat kelemahannya. "Kamu yakin ingin melamarnya sekarang? Yakin akan diterima olehnya? Masih ada waktu untuk mundur dan menyelamatkan dirimu dari pedihnya sebuah penolakan," kata Daddy menakut-nakuti Nathan. Bagaimanapun Nathan menyembunyikan perasaannya, masih tetap terlihat ke permukaan. Nathan tegang, raut wajahnya datar tanpa ekspresi, dan tatapan matanya tampak kosong. Terlihat jelas sedang memikirkan banyak hal. Jarang sekali pria paruh baya itu melihat Nathan bersikap demikian. Makanya ia tertarik menggoda Nathan. "Heh! Mana bisa mundur sekarang. Mommy sudah terlanjur memberitahu orangtuanya. Akan sangat memalukan bagi keluarga kita kalau mendadak membatalkannya." Mommy berkacak pinggang sehingga membuat Daddy meringis. "Bercanda, mom." Mommy mendengus. Lantas mengetuk pintu rumah Nola. Sementara itu, Nathan kian tegang. Bahkan ia menahan nafas tanpa sadar. Suara pintu terbuka dari dalam semakin membuat Nathan tegang. Saat pintu terbuka seluruhnya, rasa tegang nan dirasakannya langsung sirna seketika kala melihat wajah polos Nola yang terkejut melihatnya. "Pak Nathan?" Reaksi kaget Nola sangat terlihat imut di matanya, membuatnya gemas dan ingin mencubit pipi gadis pujaannya. "Pak Nathan kenapa ke sini? Nola ada salah apa, pak?" Wajah panik dan pertanyaan polos Nola membuat Nathan tertawa pelan sedangkan kedua orangtua Nola menepuk jidat gemas melihat kepolosan anak mereka. -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD