Part 3

993 Words
"Nola! Cepat ceritain hubungan kamu dan Pak Nathan." Tuntut Virlia Tidak sabaran saat Nathan sudah pergi. Nola mengerutkan keningnya heran. "Kan sudah Nola bilang tadi, Lia." "Yakin hanya hubungan itu? Tapi kok aku merasa kamu punya hubungan spesial dengan Pak Nathan?" "Spesial bagaimana? Perasaan biasa aja, Lia." Virlia memutar bola mata malas mendengar jawaban polos Nola. "Aish. Sudahlah." "Hei, boleh gabung di sini?" Tanya seseorang menginterupsi obrolan mereka. Nola melihat ke asal suara dan tersenyum manis saat melihat si empunya suara. Arkana Rajendra, teman sekelasnya. "Boleh." Sahutnya. "Eh, Arka jangan duduk di sini." Cegatnya saat melihat Arkana hendak duduk di sampingnya. Arkana mengerutkan kening heran. "Kenapa tidak boleh?" "Karena udah ada yang menyewa terlebih dahulu." Kikik Virlia. Arkana mengerjap heran. "Hah?" "Pak Nathan yang duduk di sini terlebih dahulu." Jelas Nola. Wajah Arkana tampak masam seketika sedangkan Nola tidak menyadari hal itu. Hanya Virlia yang menyadari kekecewaan Arkana. Virlia mendesah di dalam hati. Sahabatnya itu sangat cantik dan menggemaskan sehingga banyak yang berebutan. Berbeda dengan dirinya yang berwajah pas-pasan. Kadang Virlia merasa minder berteman dengan Nola karena di samping Nola, dia merasa menjadi gadis yang paling jelek di muka bumi. Sejauh itu memang perbandingan mereka. Pernah dulu sekali Virlia ingin menjauh dari Nola tapi dia tidak tega melihat wajah murung Nola. Pada akhirnya, dia kembali mendekati Nola dan mengabaikan perbedaan mendasar mereka. "Ehm, namamu Virlia, 'kan?" Virlia tersentak kaget mendapati pertanyaan mendadak Arkana. "Iya." Sahutnya cepat. "Boleh aku duduk di sampingmu?" Arkana yang begitu sopan. "Boleh." Arkana berterima kasih dan duduk di samping Virlia. Lagi-lagi gadis itu mendesah di dalam hati. Kalau bukan karena Nola, dia tidak akan pernah bisa duduk berdekatan dengan pria tampan seperti Arkana, Nathan, dan yang lainnya. Kadang gadis itu ingin berwajah cantik seperti Nola tapi apalah daya. "Lia, nanti jadi ke toko buku?" Tanya Nola akibat melihat Virlia terdiam. "Iya." "Kalian mau ke toko buku juga? Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita berangkat bareng?" Serobot Arkana. "Boleh." Sahut Nola antusias karena mendapatkan teman pergi lainnya. "Hei, kenapa wajahmu kesal begitu? Kamu tidak suka aku ikut dengan kalian?" Tanya Arkana pada Virlia. Nola juga menatap Virlia. "Arkana tidak boleh ikut ya, Lia?" Tanyanya heran. "Boleh kok. Boleh." "Tapi kenapa wajahmu terlihat ke--" "Diam deh!" Potong Virlia cepat. Nola hendak berbicara tapi Nathan lebih dulu datang. "Wah, makasih, pak." Nola tersenyum lebar setelah menerima teh esnya. "Ya." "Kenapa dia juga berada di sini?" Tanya Nathan dengan alis terangkat. "Memangnya tidak boleh, pak?" Tanya Arkana terdengar sedikit menantang. Nathan terdiam. Ingin sekali dia meneriakkan kata tidak boleh tapi dia masih belum ada hubungan dengan Nola. Tentu akan terlihat sangat aneh jika dia melarang seorang pria untuk mendekati Nola. "Kenapa kalian tatap-tatapan? Kalian tidak mau makan?" Tegur Nola memecahkan situasi menegangkan di antara mereka. Nathan dan Arkana membuang pandangan ke arah lain. Namun di dalam hati mereka sama-sama menyumpahi. **** Malam harinya, Nola didandani oleh ibunya. Entah untuk apa. Saat bertanya, ibunya itu hanya menjawab, "Nanti kamu juga akan tahu." Nola tentu penasaran tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu apa yang akan terjadi ke depannya karena tidak biasanya sang ibu mendandani dirinya. Belum lagi, ibunya terlihat sangat bersemangat. Gadis cantik itu menatap pantulannya di cermin kala sudah selesai berdandan. Wajah cantiknya dipoles dengan make up natural sehingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik sedangkan tubuhnya dibalut oleh sebuah dress putih selutut. Nola sedikit kagum melihat bayangannya sendiri karena ia bisanya tidak pernah berdandan. Biasanya dia pergi ke kampus hanya memakai bedak padat dan lipstik. Tidak pernah memakai blush on, eyeliner, maskara, dan semacamnya. "Ya ampun. Anak ibu cantik sekali. Ibu jadi fall in love deh." Puji ibunya. Nola tersenyum malu. "Makasih, Bu." Ibu Nola tersenyum gemas. "Kalau saja kamu tidak sedang memakai make up, pasti ibu akan mencubit pipimu." Kekehnya. Nola hanya mengerjap polos. "Ya sudah. Kita turun dulu. Siapa tahu mereka sudah datang." "Mereka siapa, Bu?" Nola kembali penasaran. "Nanti kamu juga akan tahu." Jawaban itu lagi. Membuat Nola semakin penasaran saja. Namun, Nola tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan ibunya. Nola keluar dari kamar bersama sang ibu. Mereka langsung menuju ruang tamu. Di sana sudah ada ayah Nola. Ayah Nola tampak sedang membaca koran. Nola langsung menghampiri sang ayah dan duduk di samping ayah yang sangat dicintainya itu. "Sebenarnya siapa yang akan datang, ayah?" Tanyanya penasaran. Bibirnya mengerucut kesal karena terlampau penasaran. Ayah menurunkan korannya. Menatap Nola penuh senyuman. "Ada orang yang ingin melamarmu, sayang." "Ayah!! Kenapa kamu memberi tahunya?! Nanti tidak akan menjadi kejutan lagi dong." Omel Ibu. Ayah tertawa geli. "Jangan gitu. Kasihan Nola yang sudah penasaran tingkat dewa." "Huh, mau bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur." Nola berdehem canggung. "Melamar Nola untuk apa, Ayah?" Tanyanya memastikan. "Tentu saja untuk dijadikan istri, sayang. Masa untuk dijadikan pembantu sih." Sahut Ayah lalu terbahak. "Istri?" Nola melongo kaget. "Iya, anak ayah satu-satunya yang paling ayah cintai." Sahut Ayah gemas. "Tapi kan Nola masih kuliah, ayah. Mana mungkin bisa menjadi seorang istri." Heran Nola. "Kalian tidak langsung menikah tapi bertunangan dulu. Lagipula ayah juga tidak akan mengizinkanmu menikah sebelum lulus kuliah." "Oh begitu." Nola manggut-manggut. "Kamu mau menerimanya sebagai tunangan, La?" "Harus mau dong, Yah! Dia itu termasuk pria yang langka di dunia! Udah tampan, kaya, dan tidak pernah main wanita. Pasti Nola akan bahagia hidup dengannya di masa depan." Serobot Ibu. Nola menatap Sang ibu penasaran. "Siapa pria itu, Bu? Apakah Nola kenal dia?" "Kenal. Kamu mau kan menerimanya?" Tanya ibu memastikan. "Nola pasti mau selama ayah dan ibu yang memilihkannya. Nola tidak ingin membuat ayah dan ibu kecewa." Sahutnya apa adanya tapi mampu membuat kedua orangtuanya bahagia. "Tenang saja, La. Kamu pasti akan hidup bahagia bersamanya." Ucap orangtuanya memastikan. Nola mengangguk patuh. Beriringan dengan itu, bel rumah pun berbunyi. "Ah, itu pasti mereka. Ibu akan membukakan pintunya dulu," kata ibu penuh semangat. Langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. Nola menunggu dengan tidak sabaran. Ia ingin melihat calon suaminya. Apakah terlihat baik atau tidaknya. Matanya melotot dan mulutnya ternganga lebar melihat sosok tamu yang sangat dikenalinya. "Pak Nathan?" -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD