Part 7

1014 Words
Diskusi selesai. Kelompok penyaji kembali ke tempat semula. Seperti biasa, Nathan memberikan apresiasi pada kelompok yang tampil. "Jangan lupa buat tugas dan kumpulkan tepat waktu." Peringat Nathan di akhir perkuliahan. "Baik, pak." Sahut semuanya kompak. Nathan memasukkan laptop ke dalam tas dan keluar dari kelas tanpa mempedulikan tatapan memuja dari para mahasiswi. Wajahnya memang sangat tampan hingga mampu membuat para perempuan terpesona. Jangankan mahasiswi, dosen perempuan pun juga terpesona tiap kali melihat ketampanannya. Sayangnya, Nathan terlalu cuek pada keadaan di sekitarnya. Dia tak akan pernah menanggapi dan menganggap perempuan lain ada karena terlampau nyaman dalam dunianya sendiri. Tentunya sebelum kehadiran Nola di dalam hidupnya sebab semenjak kehadiran Nola ... Nola lah dunianya. Segala sesuatu tentang Nola tak bisa diabaikannya. Nathan terus melangkah menuju parkiran dengan pikiran yang terus tertuju pada Nola. Gadis cantik yang mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Pria tampan itu hendak masuk ke dalam mobil, namun niatnya terhenti seketika kala melihat siluet tubuh seseorang yang sangat dikenalinya. Tatapannya menajam. Berjalan mendekat untuk memastikan. Bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman manis melihat itu memang sosok yang dipikirkannya. Nola. Jantungnya berdebar melihat betapa mungilnya tubuh gadis itu dari belakang. Sangat pas jika berada dalam pelukannya. Mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Menepuk pundak Nola dan duduk di samping gadis itu. "Kenapa belum pulang?" Nola menoleh ke arahnya. Langsung disuguhkan dengan wajah imut Nola yang terlihat sedang sedih. "Kenapa?" Nathan bertanya heran. "Pak Gio ada urusan mendadak sehingga gak bisa menjemput Nola sedangkan ponsel ayah dan ibu Nola gak bisa dihubungi." Adunya. Nathan menghela nafas lega karena berpikir Nola sedih akibat diganggu seseorang. Yah, siapa tahu Nola dibully di kampus ini. Nola itu sasaran empuk untuk para pembully lantaran terlalu lugu dan lemah. "Ohh begitu. Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu pulang daripada di sini sendirian. Kau pasti bosan, 'kan?" Nola mengangguk penuh semangat. "Makasih, pak." Gadis cantik itu berdiri, berjalan mengikuti Nathan tanpa merasa canggung sedikit pun lantaran sudah tertanam di dalam otaknya Nathan orang baik. Nathan melambatkan langkahnya kala melihat Nola tertinggal jauh di belakangnya. Kaki Nola ternyata terlalu pendek dibandingkan kakinya. Nathan tertawa pelan memikirkan hal itu. "Bagaimana kuliah hari ini?" "Lancar, pak. Nola bisa memahami semua penjelasan dosen." "Baguslah kalau begitu." "Pak Nathan kenapa pulang? Gak ada jadwal mengajar lagi ya?" "Iya. Jadwal mengajarku sudah selesai tapi pekerjaanku di kantor masih ada. Aku harus ke kantor setelah ini." "Memangnya pak Nathan gak capek ngajar di kampus dan kerja di kantor?" "Sebenarnya capek tapi mau bagaimana lagi. Aku harus bekerja keras supaya bisa memberikan kehidupan nyaman untukmu." Kekeh Nathan sedangkan Nola mengerjap pelan. "Gitu ya, pak." Gumamnya manggut-manggut. Nathan menggelengkan kepala heran melihat reaksi Nola. Ia pikir tadinya Nola akan malu dan blushing tapi ternyata biasa saja. Entah Nola yang tidak paham maksud ucapannya atau Nola yang memang biasa saja mendengar ucapannya karena tak punya perasaan sedikit pun. Agak nyesek memikirkan Nola tak memiliki perasaan serupa padanya tapi Nathan akan berusaha. Nathan akan berusaha membuat Nola jatuh cinta padanya sehingga enggan menatap pria lain atau pun menjauh darinya. Pasti akan sangat menyenangkan kalau hal tersebut terjadi. Membayangkannya saja, Nathan sudah bahagia. Oke. Sekarang Nathan akan memulai perjuangannya untuk mendapatkan hati Nola. Pertama-tama, ia akan memperlakukan Nola dengan manis dan gentle layaknya tindakan pemeran utama pria di dalam film-film, yaitu membuka pintu mobil untuk gadisnya. Namun, sebelum niat Nathan terwujud, Nola sudah lebih dulu membukanya dan masuk ke dalam mobil. Nathan tertohok. Baru langkah awal tapi sudah gagal. Bagaimana kedepannya? Apakah ia juga akan selalu gagal? Nathan menggeleng kuat. Mengenyahkan pemikiran pesimisnya. Masih terlalu awal untuk menyimpulkan sesuatu, bukan? "Pak Nathan kok gak masuk dalam mobil?" Tanya Nola mengagetkan. Nathan menatap mata polos Nola. "Ah, iya." Buru-buru mengelilingi mobil dan masuk ke dalamnya. Mulai menghidupkan mobil dan menjalankannya. "Sekarang aku sangat lapar. Bagaimana kalau kita makan siang dulu, La?" Mencuri pandang ke arah wajah manis Nola. "Baik, pak. Nola juga lapar." Ringisnya. "Kamu ingin makan apa, La?" Nola mengetuk dagunya seraya berpikir keras. Tingkahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Nathan, membuat Nathan ingin memeluk Nola gemas namun ditahannya karena tak ingin membuat gadis itu terkejut. Nathan ingin melakukannya perlahan-lahan daripada terburu-buru. "Mie ayam aja, pak. Nola udah lama gak makan mie ayam." Nathan mengerutkan kening mendengar jawaban tunangannya. "Gak boleh." Nola menoleh dan menatap Nathan kaget. "Kenapa gak boleh, pak?" "Mie ayam gak baik bagi kesehatan, La." Jawab Nathan lembut supaya Nola paham. Nola mengerucutkan bibir kesal. "Pokoknya Nola pengen makan mie ayam." Ambeknya. "La." Peringat Nathan lembut. "Ya udah. Nola gak jadi makan. Nola pengen pulang aja." Gadis cantik itu membuang pandangannya ke arah luar jendela dengan pipi mengembung. Tingkah merajuk Nola membuat Nathan menghela nafas pasrah. "Oke. Kali ini aja, Nola boleh makan mie ayam tapi janji ya setelah ini gak akan mie ayam lagi." Memilih mengalah karena masih ingin bersama Nola. Sangat disayangkan jika melewatkan kesempatan berduaan dengan Nola. "Iya, pak. Nola janji." Sahut Nola penuh semangat. Kembali menatap wajah Nathan. "Oh ya, memangnya orangtuamu membolehkanmu jajan sembarangan di luar?" Selidik Nathan. Nola menggaruk pipinya canggung. "Gak boleh, pak." "Tapi kenapa kamu membangkang larangan orangtuamu? Gak takut dimarahi?" Nola menatap Nathan memelas. "Habisnya Nola pengen banget, pak. Janji ya pak gak cerita ke ayah dan ibu Nola?" Hati Nathan langsung luluh seketika melihat tatapan memelas nan menggemaskan Nola. "Pak Nathan mau kan menjaga rahasia Nola?" Nola menyatukan kedua jari telunjuknya dengan wajah tertekuk sedih sehingga Nathan tak bisa lagi menahan perasannya. "Huh, baiklah." "Janji, pak?" Tuntut Nola. "Iya, Nola sayang." Nola menghela nafas lega karena rahasianya tetap aman. "Kamu sering jajan sembarangan di luar?" "Sesekali doang kok, pak. Biasanya Nola jajan kalau Lia ngajak." "Lia tau kamu gak boleh jajan sembarangan?" "Tau, pak." "Lalu, kenapa dia masih mengajakmu jajan sembarangan?" "Katanya Lia kasihan lihat Nola gak bisa makan-makanan enak. Lia pengen Nola juga ngerasain semua makanan yang dirasakannya." Jawaban polos Nola membuat Nathan sedikit tersentuh. Ia tahu selama ini Nola selalu terkurung di dalam rumah sehingga tak bisa merasakan kehidupan normal seperti remaja pada umumnya. Apapun tentang Nola pasti akan sangat diperhatikan. Baik itu makanan, lingkungan, atau pun pola hidup. Yah, untunglah ada Lia yang membuat Nola merasakan sedikit 'kebebasan'. -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD