Di salah satu warung pinggir jalan, Nola menikmati mie ayam bersama Nathan. Gadis cantik itu tampak begitu bersemangat melahap makanan tersebut disertai oleh wajah berbinar bahagia bak anak kecil.
Tingkahnya hanya bisa membuat Nathan geleng-geleng kepala. Terlalu bersemangat dan lahap seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Namun Nola tetap terlihat sangat menggemaskan meskipun rakus begitu.
"Pelan-pelan makannya, La."
Nathan tertawa kecil melihat mie ayam Nola sudah hampir habis sedangkan miliknya masih utuh lantaran belum disentuh sedikit pun. Rasanya ia sudah kenyang walaupun cuma melihat Nola makan.
Pria tampan itu tersentak kaget kala melihat Nola tersedak. Buru-buru mengambil segelas air putih dan menyodorkannya ke Nola. "Minum dulu, La."
Nola menerima tanpa suara dan langsung meneguk minuman hingga tandas. Mata gadis cantik itu tampak memerah sedangkan tangannya mengurut lehernya yang terasa perih.
"Sakit." Rengeknya pelan.
Nathan menghela nafas panjang. Tak tega melihat Nola kesakitan. "Ayo minum lagi airnya supaya tenggorokanmu gak sakit lagi."
Nola menerima air putih yang disodorkan Nathan dan meneguknya lagi. Begitu terus sampai tenggorokannya membaik.
"Lagipula, kenapa kamu melahapnya terburu-buru? Kalau saja gak kayak tadi, kamu gak akan tersedak, Nola." Omel Nathan.
Gadis cantik itu menyeka air matanya pelan. "Habisnya Nola lapar banget, pak. Apalagi mie ayamnya enak." Renggutnya.
Lagi-lagi Nathan menghela nafas. "Lain kali jangan diulangi lagi."
Nola mengangguk patuh tanpa berusaha membantah. "Oh iya, mie ayam pak Nathan masih banyak. Bapak gak makan? Gak suka mie ayam, ya?" Tanyanya kala tersadar.
"Kalau pak Nathan gak suka mie ayam, sini buat Nola aja hehe."
Nathan menatap Nola datar. Bisa-bisanya gadis itu menyengir bodoh meminta jatah mie ayamnya setelah tersedak dan merengek kesakitan. Lantaran terlalu gemas, ia pun menyentil kening Nola pelan.
"Jangan aneh-aneh, La. Aku gak akan membiarkanmu makan mie ayam lagi. Memangnya kamu gak kapok setelah mengalami kejadian tadi?"
Nola mengerucutkan bibirnya seraya menatap Nathan memelas. "Jangan larang Nola makan mie ayam seenak ini, pak. Lagian bukan salah mie ayamnya membuat Nola kesakitan tapi salah Nola yang gak berhati-hati, pak."
"Jadi, kamu tahu kalau kamu salah?" Nathan memicingkan matanya.
"Tahu, pak." Jawabnya polos.
"Lalu, kalau salah kamu harus melakukan apa?"
Nola mengernyit bingung. "Minta maaf ke mie ayam?"
Nathan menepuk jidatnya tak habis pikir. "Sudahlah. Lupakan saja pertanyaanku tadi."
Nola menggaruk pipinya.
"Ah iya, kalau di luar kampus, panggil saja aku 'Kakak'. Jangan panggil 'pak'." Nathan kembali ke mode serius. Dari tadi, telinganya gatal mendengar panggilan pak dari Nola. Berasa dirinya menjadi p*****l!
Si gadis berwajah imut itu malah mengedip heran seraya menggaruk kepalanya. "Pak Nathan 'kan dosen Nola? Kenapa Nola dilarang panggil pak di luar kampus?"
Tanpa di sangka, Nathan mengenggam tangan Nola lembut dan perlahan sedangkan tatapannya begitu dalam dan penuh kasih sayang. "Karena aku tunanganmu, La. Calon suamimu. Gak bagus kalau panggil 'pak' ke tunanganmu di luar kampus. Jadi, panggillah aku kakak."
Nola manggut-manggut mengerti. Percaya begitu saja pada ucapan Nathan. "Gitu ya, pak, eh kak."
Nathan tersenyum manis. Senang mendengarnya. Lantas mengusap puncak kepala Nola gemas. "Bagus, bagus. Mulai sekarang biasakanlah memanggilku begitu." Dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Nola.
"Gadis pintar." Kekeh Nathan memuji lagi sembari mengelus puncak kepala Nola.
"Loh, ada Pak Nathan dan Nola. Kok bisa kalian berduaan di sini? Kalian ada hubungan apa?!"
Nathan dan Nola refleks menoleh ke asal suara. Di belakang mereka, berdiri Arkana yang terlihat tercengang. Menatap mereka secara bergantian.
Arkana berdiri resah. Menunggu jawaban keduanya dengan harap-harap cemas.
"Tunangan."
Tubuh Arkana membeku seketika mendengar jawaban Nathan. Dunianya terasa hancur saat itu juga. Belum sempat berjuang tapi ia sudah kalah satu langkah.
"Nola tunanganku, calon istriku!" Tekan Nathan tanpa mempedulikan raut wajah hancur lawan bicaranya.
Arkana berusaha menata perasaannya. Lagipula masih tunangan, belum menjadi suami ... Begitu pikirnya.
"Ohh. Kalau begitu, saya pergi dulu, pak." Untuk sekarang, ia lebih memilih melarikan diri daripada melihat pemandangan yang membuat hatinya panas.
"Hati-hati di jalan, Arka. Jangan ngebut-ngebut. Nanti terjatuh dan terluka."
Arkana tersenyum manis mendapatkan perhatian dari Nola. Semakin yakin dengan asumsinya.
Masih banyak kesempatan baginya untuk memiliki Nola karena Nola baru bertunangan, belum menikah.
Sebelum jalur kuning melengkung, Arkana akan tetap berusaha dan berjuang!
"Baiklah. Aku akan mengingat perkataanmu."
Nathan mengepalkan tangan kesal melihat tunangannya perhatian pada pria lain.
Kecemburuan menyelimutinya namun ia tak bisa berbuat apa-apa pada Nola karena tidak ingin membuat tunangannya ketakutan.
Dan ... Pada akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas panjang seraya berusaha bersabar.
Setelah merasa perasaannya lebih baik, baru lah Nathan menatap Nola. "La."
"Iya, pa-- eh- kak?"
Nathan menangkup wajah Nola pelan. "Jangan dekat dengan pria lain, jangan menatap pria lain, dan jangan memberikan perhatian pada pria lain." Bisiknya lembut sedangkan Nola mengernyit heran.
"Memangnya kenapa, kak? Bukannya Nola harus bisa berbaur dengan semua orang supaya bisa punya banyak teman? Dan, memangnya Nola gak boleh perhatian ke teman sendiri? Bukannya sesama teman itu harus saling perhatian?"
"Bukan begitu maksudku, La. Kamu boleh berteman sesukamu tapi jangan berteman dengan laki-laki. Berteman saja dengan perempuan karena laki-laki itu mengerikan. Kamu gak akan tahu apa yang mereka pikirkan tentangmu." Berusaha menakut-nakuti Nola.
"Laki-laki itu mengerikan?" Beo Nola kaget. "Tapi, ayah gak mengerikan. Ayah baik ke Nola. Ayah selalu sayang ke Nola." Bantahnya.
Nathan memberi jarak di antara mereka. "Maksudku, laki-laki selain keluargamu."
"Pak Nathan juga baik. Gak mengerikan." Bantah Nola lagi.
Namun, bantahannya memberikan tamparan cukup keras bagi pria itu. Tanpa sadar, ia telah menjadi sosok mengerikan bagi Nola.
Nathan tertawa keras. "Bercanda, La."
Nola memiringkan kepalanya dan mengedipkan mata polos melihat tawa manis Nathan. "Oh, kakak sedang bercanda."
Pria tampan itu mencubit pipi Nola gemas. "Iya. Makanya gak usah serius gitu wajahmu, La."
"Nola, tunggu aja aku di dalam mobil. Aku akan membayar makanan kita terlebih dahulu."
Nola mengangguk patuh.
Mereka bangkit dari kursi dengan tujuan berbeda.
"Sial! Sial! Hampir aja aku lepas kendali." Umpat Nathan dalam hati setelah Nola pergi.
Kenapa begitu sulit bagi Nathan menahan diri saat melihat Nola memberikan perhatian ke pria lain?
Nathan ingin dirinya saja yang diperhatikan oleh Nola. Tidak bisakah Nola melihatnya saja?
Apa yang harus dilakukan Nathan supaya Nola hanya memperhatikannya saja? Haruskah ia mengurung Nola?
"Ini kembaliannya, pak," kata penjual membuyarkan pikiran absurd Nathan tentang Nola.
"Makasih." Nathan keluar dari warung setelah mengambil uang kembaliannya dan pikiran tadi kembali menghantuinya.
"Gila!" Ia memukul kepalanya sendiri, guna mengenyahkan pemikiran satu itu.
-Tbc-