Kehidupan Istana Clementine berubah total sejak Ares menginjakkan kaki di sana demi mempedulikan kondisi aneh Aelin. Hampir seluruh pelayan digantikan dengan yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang berwatak sama seperti pelayan sebelumnya yang tidak menghormati Aelin. Sesuai perintah Ares, Darcie Anglo dihukum mati sebagai hukuman atas tindak korupsi, tidak hormat dan kinerja buruknya selama melayani Aelin.
Seluruh kemurkaan Ares menjadi titik perubahan besar yang tidak akan dilupakan oleh semua orang. Kaisar itu ternyata peduli pada putri sulungnya yang telah lama ditinggalkan di Istana Clementine. Tentu saja, hal-hal semacam itu tidak boleh dibicarakan berlarut-larut oleh siapa pun, termasuk Aelin. Kendati demikian, itu tidak akan menghalangi Aelin untuk tidak membicarakannya bersama Saga akibat rasa keheranan yang luar biasa. Sampai detik ini, dia masih tidak bisa percaya Ares melakukan itu semua demi dirinya.
Contoh nyatanya adalah Saga ditunjuk untuk menjadi penyihir kekaisaran berkat jasanya ‘menyembuhkan’ Aelin. Oleh karena itu juga, penyihir aneh dan tidak sopan itu kini dipandang sebagai teman bermain Aelin juga karena selalu mengunjungi sang Putri di Istana Clementine.
“Ini enak sekali. Kalau pelayan datang, minta lagi.”
Air muka Aelin keruh menatap Saga kecil duduk di hadapannya asyik melahap kukis cokelat favoritnya. Berpakaian serba hitam dengan jubah merah khas penyihir kekaisaran, Saga tampil dalam wujud anak kecil seusia Aelin, menipu semua orang. Sekarang lelaki itu dikenal sebagai penyelamat hidup Aelin dan dijuluki sebagai Penyihir Jenius karena tidak ada satu pun penyihir yang dapat menyembuhkan Aelin selain dirinya. Mengetahui penyebabnya pun tidak. Aelin berterimakasih, namun dia tetap tidak menyukai sikap Saga yang arogan dan menyebalkan.
“Sebelum itu, tolong jelaskan kenapa kau akhirnya menetap di sini,” cibir Aelin dongkol.
“Aku menghabiskan seluruh kekuatanku untuk menyembuhkanmu tapi kau belum sembuh total sehingga aku diangkat menjadi penyihir kekaisaran agar dapat—”
“Bukan yang itu! Alasan aslimu! Mengapa kau tiba-tiba tertarik untuk masuk ke dalam lingkup kekaisaran, aku tahu kau bukan penyihir biasa yang setara dengan penyihir-penyihir kekaisaran!”
Saga bersandar, masih memakan kukis, menyeringai. “Kenapa kau sangat peduli pada hal itu? Kau hampir mati dan itu belum berakhir, kau pikir kesaksianku tentang kondisimu hanyalah bualan?”
Bibir Aelin mengerucut. “Yah, kau tidak memiliki alasan untuk sepeduli itu padaku. Maksudku, setelah kau ‘menyelamatkanku’ kemarin, kau tidak memiliki kewajiban untuk menetap di sini sebagai penyihir kekaisaran dan pergi sesuka hatimu.”
“Alasanku tidak penting. Aku berpenampilan kecil begini juga bukan karena kemauanku. Kekuatanku benar-benar terkuras setelah membereskan aliran manamu yang kacau itu.”
Aelin mengerjap cepat. “Aku benar-benar memiliki kekuatan sihir?”
“Semua orang memilikinya,” dengus Saga. “Dan sepertinya ayahmu lumayan menyayangimu, huh.”
Aelin terdiam.
“Kau tidak tahu bagaimana satu bulan berjalan selama kau masih tidur. Dia seperti orang kesetanan, memanggil seluruh penyihir di penjuru negeri dan dari luar demi dirimu yang tidak kunjung bangun,” Saga tersenyum sombong. “Harus kuakui juga bahwa mereka semua tidak berkompeten karena tidak bisa mengetahui apa yang terjadi padamu. Menyembuhkan adalah kasus lain.”
Mendengar Ares menyayanginya masih menjadi hal yang tabu di telinga Aelin. Dia menolak untuk percaya meski pada hari itu dia mendengar betapa murkanya Ares kepada penyihir kekaisaran. Pria itu juga bertindak jauh kepada Saga demi memastikan penyihir itu tidak bersikap macam-macam pada Aelin. Sampai akhirnya mengangkat Saga menjadi penyihir kekaisaran guna mempercayakan kondisi mana Aelin padanya. Jika Ares tidak begitu peduli, ia tidak akan bertindak sejauh itu hanya untuk Aelin.
Aelin masih tidak bisa percaya.
“Kau sebenarnya ingin kabur, bukan?” seloroh Saga datar membuat Aelin terkesiap kaget. “Kau ingin sembunyi sampai tidak ada yang bisa menemukanmu. Ingin keluar dari istana.”
“Ti—tidak. Apa yang kau bicarakan….”
“Kau juga sangat membenciku, bukan? Kau ingin aku segera menghilang dari pandanganmu, bukan? Tidak ingin melihatku lagi?”
Aelin menggeleng kaku. “Tidak, tidak, tidak. Aku tidak sejauh itu!”
“Hmph, harus kau ketahui luar istana tidak seindah yang kau bayangkan. Kehidupan di sana lebih keras dari pada di sini.”
Bibir Aelin menipis. “Tidak perlu kau katakan pun aku sudah tahu.”
Kepedulian Ares saat ini tidak bisa menjamin kehidupan Aelin akan berjalan aman sampai akhir. Pria itu masih bersikap ambigu. Ia tidak menemui Aelin lagi usai Aelin membuka mata. Secara simpel menurunkan beragam perintah mengenai pelayan tak berkompeten, mengangkat Saga menjadi penyihir kekaisaran, dan menempatkan beberapa kesatria di Istana Clementine. Batang hidungnya tidak terlihat lagi di Istana Clementine seolah segala kemurkaannya hanyalah khayalan semua orang.
Keambiguan itu menjadi pegangan Aelin saat ini agar tidak langsung percaya pada perubahan sikap Ares. Tujuan akhirnya tetap sama, kabur dari istana.
“Saga, kau bilang aku memiliki mana, bukan? Bisakah itu digunakan untuk mewujudkan sihir?” tanya Aelin.
“Ah, karena kau adalah Sinclair tapi kau tidak bisa menggunakan sihir?” tukas Saga kasual membuat Aelin ingin memukul wajah arogannya. “Jangan khawatir, ada beberapa Sinclair yang bernasib sama sepertimu tapi pada akhirnya tetap menjadi sosok penting di Neuchwachstein.”
Aelin mengernyit, skeptis. “Begitukah? Bukankah Sinclair selalu dianugerahi kekuatan sihir yang hebat. Alasan itu juga yang membuat Sinclair menjadi pewaris takhta.”
Saga melengos. “Aku memahami kekhawatiranmu, tapi sihir tidak sesimpel itu. Butuh waktu dan kesiapan dari pemiliknya. Jika memang sudah saatnya itu pasti akan keluar dengan sendirinya meski kau hanya berleha-leha.”
“Tapi—”
“Aku tidak akan mengajarimu. Ayahmu memberiku pesan agar menjauhkanmu dulu dari segala sihir, aku pun berpikir demikian.”
Aelin mencebik dongkol. “Pelit.”
Saga melengos lagi seraya menggeliat merenggangkan sendi tubuhnya. Wajah arogannya kini menyorotkan kebosanan. Manik emasnya yang tajam itu mengamati seisi kamar Aelin sebelum kemudian menatap pemiliknya yang berwajah polos.
“Tidakkah kau merasa bosan hanya diam di sini?” cetus Saga.
Bahu Aelin mengedik. “Aku tidak tertarik keluar dari area Clementine.”
“Kau tidak ingin bertemu dengan adikmu?”
“Untuk apa—HUH?!”
Aelin melotot kaget melihat dirinya tiba-tiba saja berada di balik semak-semak dan pepohonan rindang. Kepalanya menoleh kanan-kiri, menemukan dirinya tidak lagi berada di kamarnya melainkan taman bunga yang dinaungi rumah kaca. Panik segera menjalari diri Aelin karena tidak mengenal tempat asing tersebut, batinnya menyumpah serapahi Saga yang seenaknya memindahkan dirinya ke tempat antah berantah.
“Kira-kira hari ini Ayah akan menemuikuku tidak, Jane?”
Aelin terkesiap, buru-buru bersembunyi di balik semak-semak. Mata peraknya menyelinap mencari sumber suara tersebut, lantas sedikit terbelalak menemukan gadis kecil sedang berdiri di dekat air mancur. Begitu cantik dan menggemaskan dengan surai pirang dan mata perak, tidak salah lagi ia adalah sang Putri Mahkota, Arnemesia.
Tokoh yang paling dibenci oleh Aelin.
TO BE CONTINUED