BAB 18

1049 Words
Arne tidak bisa berhenti memikirkan hari di mana dia bertemu dengan Saga. Dia tidak bisa melupakan kearoganan penyihir itu dan menduga-duga bahwa Saga berbohong padanya perihal kondisi Aelin. Sebab, pasalnya Aelin terpantau baik-baik saja pada kira-kira sepuluh hari sejak usaha Arne mendatangi Istana Clementine. Arne tahu dia tidak seharusnya memata-matai kakaknya sendiri namun tak ada pilihan selain itu, dia hanya berusaha mengetahui apa yang seharusnya dia ketahui. Arne pun sesungguhnya tidak mengerti mengapa dirinya dilarang dekat-dekat dengan Aelin. Jadi, pada kesempatan minum teh bersama Ares kali ini, Arne akan berusaha memberanikan diri untuk bertanya. Selama menunggu kedatangan Ares, Arne ditemani oleh Jane di taman rumah kaca Istana Hampstead. Dia tidak begitu berani bersitatap dengan wanita itu usai pelanggaran yang dia lakukan di Istana Clementine. Jane memang tidak mengatakan apa pun, namun Arne takut sebenarnya ia telah mengetahui pelanggaran Arne tapi memilih diam menunggu waktu yang tepat untuk menegaskannya. Sudahkah Arne berkata betapa kerasnya Jane? Mari berpikir positif dengan tidak perlu menduga-duga apa pun, batin Arne sebelum kemudian mengalihkan muka ke kanan menatap hamparan bebungaan. Di hari terakhir pertemuan Arne dengan Saga, penyihir itu tidak melakukan apa pun selain mengantarnya kembali ke Istana Hampstead. Ia tidak berbicara apa-apa lagi hingga auranya terkesan menyuruh Arne untuk melakukan hal serupa. Tembok yang ia bangun terasa tinggi, ia tidak ingin berdekatan dengan Arne sama sekali. Arne sempat memikirkan apa alasannya hingga berujung pada spekulasi bahwa Saga memang membencinya entah atas dasar apa. Apakah menjadi Putri Mahkota, alih-alih Aelin yang memilikinya, tampak salah di mata Saga sehingga dirinya dibenci? Entahlah. “Seluruh berkah dan kesejahteraan untuk Neuchwachstein dan Kaisar Ares.” Suara sapaan Jane memecahkan Lamongan Arne. Buru-buru gadis itu turun dari kursi untuk memberikan salam serupa kepada sang ayah yang baru saja tiba bersama Dion. Dalam pandangannya, Ares tidak berubah sama sekali. Wajahnya masih memasang ekspresi khasnya yang tidak berekspresi dengan sorot mata berjuta penghakiman. Seorang Kaisar sempurna yang harus Arne jadikan panutan sebagai figur pemimpin agar dirinya tidak mengecewakan selaku Putri Mahkota. Ares dan Arne duduk di meja teh usai tata krama sapaan yang merepotkan. Teh dan kudapan segera disajikan di meja oleh tangan dingin Jane yang handal. Tiada suara antara sepasang ayah dan anak tersebut, seperti biasa. Ares dengan wajah datarnya seolah terkesan tidak tertarik menghadiri sesi minum teh ini, bahkan mulai terlihat terpaksa melakukannya. Entahlah, mungkin hanya perasaan Arne yang berlebihan. “Aku sangat senang Ayah dapat menemaniku minum teh setelah sekian lama kita tidak sempat melakukannya,” ujar Arne membuka topik dengan wajah manis nan polosnya yang khas. “Bagaimana kabar Ayah?” “Biasa saja,” jawab Ares datar, tiada keramahan di dalamnya, sambil meraih cangkir teh dan mulai menyesapnya. “Bagaimana pendidikanmu?” Arne menganggap usai menyesap beberapa teguk teh rosela. “Baik-baik saja, Madame Edwin berkata aku terus mengalami peningkatan sehingga mudah baginya untuk mempercepat proses mengajar.” “Baguslah.” Percakapan yang tidak pernah berubah. Ares selalu menanyakan kabar pendidikan Arne di setiap pertemuan mereka seolah-olah itu lebih penting dibandingkan kabar Arne. Ares terkesan tidak tertarik menyelami diri Arne, tidak tertarik mendengar kabar sehari-hari Arne tentang bagaimana hari-harinya berlalu dan apa yang dia rasakan selama itu. Awalnya, Arne tidak begitu memikirkannya karena Ares memiliki sejuta beban dan masalah yang perlu dipikirkan karena dirinya seorang Kaisar. Namun, lambat-laun rasa mengerti itu mulai terkikis karena ketidakpedulian Ares mulai melukainya. Terlebih lagi, tiba-tiba saja Ares bersikap begitu peduli pada Aelin setelah sekian lama mengabaikannya. Arne tidak bisa memikirkan apa pun selain Ares mulai menyukai Aelin melebihi dirinya. Dan jauh dalam lubuk hati Arne, dia tidak ingin itu terjadi. “Kudengar, kau pergi ke Istana Clementine.” Jantung Arne merosot begitu saja mendengar ucapan Ares. Dia menatap pria itu, mengalihkan muka dari teh rosela di tangannya, sontak bertemu dengan mata perak Ares yang menyorotkan ketajaman penuh penilaian padanya. Arne tahu manik itu sama dengan miliknya tetapi selalu terasa menakutkan untuk menatapnya. “E—Eh? Ayah dengar dari siapa...?” tanya Arne, berusaha keras menutupi kegugupan dan ketakutannya. “Dari mana aku tahu itu tidak penting,” beber Ares dingin seraya menyandarkan diri di kursi, matanya sedikit menyipit, “yang penting adalah kau melanggar aturan dan berusaha menutupinya.” Arne melirik Jane yang berdiri tidak jauh di belakang Ares, wanita itu memasang ekspresi yang sama, begitu dingin juga menghakimi. Apakah itu dari Jane? Tapi, Jane tidak mungkin bermain belakang seperti itu karena ia juga tidak ingin Arne tertangkap basah di mata Ares. Lalu, siapa? “Apa yang ingin kau lakukan? Kau sudah mulai berani melawan perintahku?” Arne segera meletakkan cangkir dan menggeleng keras. “Tidak, tidak seperti itu! A—Aku tidak sengaja berjalan terlalu jauh dari area Istana Kaisar hingga tanpa sadar memasuki area Istana Clementine. Aku tidak bermaksud melanggar perintah Ayah sama sekali!” “Lebih baik kau tidak berpikir untuk berusaha membohongiku,” tukas Ares dingin, kian memicu keringat dingin membasahi kening Arne. “Apakah memang perlu bagiku untuk menjelaskan mengapa kau tidak boleh ke sana, huh? Seharusnya kau dapat menduganya sendiri, kau memiliki otak pintar, bukan?” Arne mengangguk kaku. “Ya, Ayah tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti itu semua.” Sungguh? Bahkan sekarang Ares juga ikut melindungi Aelin? Memang tidak terang-terangan, namun sikap Ares terkesan demikian, mirip seperti perilaku Saga tempo hari. Ada yang disembunyikan oleh Ares perihal Aelin. Dan itu ditutupi oleh alasan bahwa Pangeran dan Putri tidak diperkenankan menginjakkan kaki di Istana Clementine. Mungkin itu bukan alasan, namun ada lagi alasan lain yang tidak Ares lontarkan. Ini jelas bukan saat yang tepat untuk menanyakan mengapa dirinya tidak boleh mendekati Aelin. Ares sudah terlebih dahulu menegaskan bahwa itu terlarang bahkan sebelum Arne memiliki kesempatan untuk bertanya. “Sekali lagi aku mendengar kau pergi ke sana, tidak peduli itu disengaja atau tidak, aku tidak akan membiarkanmu,” tegas Ares bernada final. “Anggap kau beruntung hari ini.” Arne menunduk pada tehnya, kalah telak. “Baik, Ayah. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mungkin bukan sekarang waktu yang tepat. Arne memang berkata tidak akan mengulanginya lagi, namun dia benar-benar tidak bisa tinggal diam begitu saja. Dia harus tahu apa yang terjadi antara Ares dan Aelin. Lagi pula, dia berhak tahu, bukan? Arne tidak ingin perubahan besar antara ayah dan kakaknya berdampak buruk baginya. Dia tidak ingin tersisihkan. Ya, Arne juga menyadari bahwa dirinya egois. Dan, dia tidak peduli. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD