“Aelin!”
Sayup-sayup, Aelin mendengar sebuah suara bariton memanggilnya berulang kali. Suara itu seolah berusaha menariknya kembali ke kesadarannya sehingga dia turut berusaha membuka mata. Buram, namun terlihat sebuah bayangan seorang lelaki berambut hitam berada tepat di atas wajahnya. Mengerjap beberapa kali sampai kelopak matanya terbuka sepenuhnya, pandangan buram Aelin mulai sirna. Lantas, bayangan seseorang di atas wajahnya berubah menjadi lebih jelas.
Saga.
“Aelin, kau sudah sadar?”
Aelin terdiam sejenak usai pandangannya menjadi lebih jelas. Mata perak gadis itu bertemu tatap dengan mata emas Saga yang mengamatinya bersorot khawatir juga lega. Detik itu, meski pikirannya kosong, Aelin menyadari ekspresi kelegaan di wajah Saga adalah ekspresi baru yang pernah dia lihat di sepanjang hidupnya. Lelaki itu tampak sangat senang dan bersyukur dalam menatap Aelin hingga Aelin cukup terpaku melihatnya.
“Saga…?”
Saga sedikit terperanjat mendengar suara Aelin. Dia sedikit maju, kian memperpendek jarak di antara mereka. “Ya, aku di sini. Kau baik-baik saja?”
Aelin mengerjap pelan. “Saga? Kau benar-benar Saga yang asli?”
Saga mengernyit bingung. Matanya memicing sebelah. “Huh? Tentu saja, memangnya ada berapa Saga—”
“Saga!”
Tanpa aba-aba, Aelin bangkit memeluk Saga. Kedua lengannya merengkuh leher lelaki itu seerat mungkin hingga Saga membatu begitu saja. Tanpa diketahui oleh Aelin, wajah Saga memerah padam akibat campuran terkejut dan malu atas tindakan mengejutkan gadis tersebut. Bagaimanapun, Saga berusaha menekan ledakan syok sekaligus dorongan refleknya untuk mendorong Aelin dari tubuhnya. Ia tidak membalas pelukan gadis itu akibat canggung juga bingung.
“Aelin? Apa yang kau lakukan?” tanya Saga bernada pelan, nyaris seperti bisikan.
“Syukurlah kita baik-baik saja. Syukurlah…!” ujar Aelin di tengkuk leher Saga, kian menyembunyikan wajahnya di sana, membuat lelaki itu sedikit merasa geli.
Meski dirundung bingung dan malu, tak dapat dipungkiri kebahagiaan menyelimuti d**a Saga disertai kehangatan yang menyenangkan. Suatu titik di dadanya yang terasa menyakitkan sebelumnya pun perlahan terasa disembuhkan. Terbuai oleh buaian kehangatan tersebut, perlahan tangan kanan Saga menepuk punggung Aelin beberapa kali sebagai balasan atas rengkuhannya. Tetapi, mereka tetap saja tertahan di posisi sangat canggung dan kaku.
Ketika Saga hendak mengulurkan tangan kirinya untuk memeluk Aelin, tiba-tiba saja gadis itu mendorong Saga, menghentikan pelukan mereka. Bak maling tertangkap basah, Saga panik menyembunyikan gelagat sebelumnya. Sementara, Aelin menatap lelaki itu masih dengan binar senang yang sama.
“Bagaimana dengan Kuro? Dia pingsan sebelum kami tertimpa reruntuhan!” tanya Aelin lalu menoleh kanan-kiri mencari keberadaan si Nekomata.
“Dia baik-baik saja,” jawab Saga, menghela napas kecil. “Sekarang sedang berlarian berburu tangkapan untuk makan malam.”
Kedua tangan Aelin berhenti menyentuh pundak Saga seraya mengembuskan napas lega. “Syukurlah, aku benar-benar bersyukur. Entah apa yang akan terjadi….”
Ya, entah apa yang akan terjadi jika Saga tidak kembali tepat waktu. Aelin tidak akan duduk di hadapannya sekarang, melainkan mendekam di penjara kekaisaran sedang menunggu ajalnya tiba. Kuro mungkin akan terabaikan dari para kesatria sehingga tak akan turut dibawa bersama Aelin, namun dibiarkan sekarat secara mengenaskan di reruntuhan gua. Mereka bertiga tidak akan berada di sini sekarang.
Saga kembali sendirian.
Sebuah hal yang perlu disyukuri melihat Aelin selamat. Betapa berharga eksistensi gadis itu dalam hidup Saga. Betapa berharga pertemanan yang telah terjalin. Betapa berharga segala kenangan yang mereka ukir bersama. Entah sejak kapan, Saga menghargai itu semua lebih dari apa pun. Seorang anti sosial yang membenci manusia seperti dirinya tak disangka akan bersikap seperti itu lagi setelah sekian lama.
Benar-benar Putri Bodoh merepotkan, batin Saga.
“Eh? Kau tersenyum, Saga?”
Saga mengerjap cepat, tertarik dari lamunan yang tidak dia sadari. Pupilnya bergerak cepat kembali fokus pada Aelin yang kini menatapnya terkejut sekaligus terkesima. Sontak, pipinya kembali bersemu karena malu.
“Tidak, kau berkhayal,” sanggah Saga mentah-mentah, berbohong demi mempertahankan harga dirinya.
Aelin terkekeh, telunjuk kanannya menusuk-nusuk pipi tirus Saga. “Jangan berbohong. Aku melihatnya dengan jelas. Apa yang kau pikirkan sampai-sampai tersenyum selebar itu, hm? Menggemaskan sekali.”
“Kubilang tidak berarti tidak, Putri Bodoh.”
“Apakah kau sesenang itu melihatku kembali sadar? Padahal kau selalu mengoceh berkata bahwa aku adalah Putri yang merepotkan dan cerewet.”
Mata emas Saga melirik sinis. “Tentu saja aku senang, Bodoh.”
Raut usil Aelin seketika berganti menjadi terkejut. Telunjuknya berhenti menusuk pipi Saga dengan gelagat sangat canggung. Benaknya mencerna ucapan Saga dengan sangat lambat, hampir tidak mempercayai apa yang gendang telinganya tangkap. Sungguh, dia tidak menyangka Saga akan mengiyakan celetukan usilnya. Lantas, setelah diiyakan, mengapa Aelin harus merasa secanggung ini?!
“Saga—”
“Siapa yang akan kuusili dan kuledek tak bisa memasak jika kau tidak ada, huh?”
Seluruh rasa canggung Aelin sirna dalam sekejap. Atmosfer mendebarkan yang sebelumnya menghiasi pun retak begitu saja.
“Ah, begitu? Kau hanya perlu korban tak berdosa untuk kejahilanmu? Begitu? Berharap padamu memang selalu salah!” geram Aelin seraya membuang muka dengan raut cemberut, membuat seringai khas kembali menghiasi wajah Saga.
Saga menyentil jidat Aelin. “Berhenti bertingkah kekanakan.”
Mengabaikan Saga, mata perak Aelin mengamati keadaan sekitar lalu terkesima mengetahui dirinya sedang berseberangan dengan sebuah sungai besar. Entah berada di mana, tetapi suasana hutan beserta sungai sangatlah teduh dan sejuk. Suasana alam benar-benar menyenangkan, tidak seperti Hutan Leadale yang dihantui beragam ancaman karena adanya satwa liar berbahaya.
Aelin menoleh ke Saga, matanya kembali berbinar. “Saga, kita berada di mana sekarang?”
“Hutan Leigami, wilayah The Eternity Forest,” jawab Saga seraya duduk bersandar pada pohon dengan kaki terbujur.
Mata Aelin membulat. “The Eternity Forest? Kita sudah berada di wilayah itu?!”
“Begitulah. Tetapi, kita masih jauh dari Kerajaan Tempest. Kerajaan terdekat di sini adalah Yurazania dan Nemesis. Aku yakin kau tidak ingin coba-coba berkunjung ke sana.”
Aelin mengerjap polos. “Kenapa?”
Saga melirik datar. “Itu adalah kerajaan kaum Werebeast dan Dwarf.”
Seketika, bulu kuduk Aelin meremang mengingat apa yang dia ketahui tentang kedua ras tersebut. Werebeast adalah ras manusia setengah binatang, mereka dikenal sebagai individu yang sangat emosional. Mereka terobsesi dengan kekuatan sehingga selalu mudah mengajak duel ras-ras lain yang dianggap menarik. Sementara, Dwarf dikenal sangat mudah tersulut emosi karena sikap perfeksionisnya. Mereka tidak begitu menyukai kedatangan ras lain di wilayah mereka. Saga benar, Aelin tidak akan pernah coba-coba berkunjung.
Aelin memalingkan muka ke sungai, tersenyum lebar. “Yah, setidaknya kita telah berhasil keluar dari wilayah The Liberty Region. Mereka tidak akan bisa memasuki The Eternity Forest.”
“Dan kuharap tidak ada hal-hal merepotkan sampai kekuatanku cukup pulih.”
Aelin menoleh, tersenyum kecil. “Ya, jangan berpisah dariku lagi, Saga.”
Saga spontan membuang muka dengan gelagat sealami mungkin, entah mengapa merasa malu. “Ya, terserahlah.”
Dan, Aelin terkekeh renyah.
TO BE CONTINUED